June 16, 2007...7:26 am

Main-main dengan Bilangan

Jump to Comments

Oleh: Al Jupri

Awalnya saya akan bercerita tentang si Tom. Cuma saya lagi males ngarang-ngarang ceritanya. Padahal, banyak sekali yang ingin saya ceritakan tentang si Tom itu. Banyak kejadian yang dulu pernah saya alami yang bisa saya modifikasi menjadi cerita si Tom, seperti cerita-cerita sebelumnya. Namun, setelah saya fikir-fikir, untuk tulisan ini, sepertinya akan lebih baik bila saya bercerita tentang diri saya saja secara langsung. Boleh kan? Saya harap, bagi pembaca yang rindu tentang cerita si Tom, bisa sedikit bersabar (wah ge er nih….).

Baiklah, begini ceritanya.

Kemarin, tepatnya hari Jum’at 15 Juni 2007, saya benar-benar baru merasakan lagi dengan sepenuh hati rasanya menjadi (maha)siswa beneran, menjadi (maha)siswa di salah satu universitas yang katanya termasuk terbaik di daratan Eropa, Utrecht University. Ya, benar-benar merasakan nikmatnya menjadi (maha) siswa. Padahal, saya sudah tercatat menjadi (maha)siswa sejak sekitar 2/3 tahun yang lalu (sejak 2006). Namun anehnya, baru kemarin saya menikmati lagi enaknya menjadi (maha)siswa itu. Kenapa bisa begitu?

Ya, kemarin saya berkonsultasi dengan pembimbing thesis saya. Walau bukan pertemuan pertama dengan sang pembimbing, tapi saya rasakan kemarin adalah hari yang spesial. Kenapa dikatakan spesial? Ya spesial, karena saya merasakan lagi betapa tak mudahnya menulis sesuatu itu, bahkan untuk hal-hal yang sepele, yang sebelumnya saya anggap sangat sederhana dan mudah. Yang saya fikir tak akan bermasalah.

Di hadapan sang pembimbing, saya dicecar dengan pertanyaan yang bertubi-tubi tentang yang saya tulis, pertanyaan yang sangat tajam, menukik, dan tak terfikirkan oleh saya sebelumnya. Mendapat pertanyaan-pertanyaan dari sang pembimbing, saya hanya bisa cengar-cengir, belum bisa menjawab. Tiap kali saya jawab, selalu dikejar dengan pertanyaan berikutnya yang tak kalah tajamnya.

Melihat mimik muka saya yang baru bisa cengar-cengir, sang pembimbing pun tersenyum-tersenyum saja, ikutan cengar-cengir juga. Ya pembimbing saya itu bisa saya katakan sangat baik. Sangat baik memperlakukan bimbingannya, sangat baik membantu kesulitan yang dibimbingnya, dan yang pasti sangat baik penguasaan matematikanya. Beliau benar-benar matematikawan beneran, yang kerjanya benar-benar untuk matematika.

Kalau dipikir-pikir agak aneh apa yang saya rasakan itu. Tak bisa menjawab pertanyaan pembimbing kok bisa merasakan kenikmatan dan kesenangan? Padahal, sebelumnya ketika menemui kesulitan-kesulitan pada perkuliahan tertentu bukan senang yang saya rasa, tapi sedih dan gak enak rasanya. Tapi, kemarin ketika saya tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sang pembimbing malah sebaliknya, saya senang, senang sekali. Tapi senangnya bukan senang biasa. Senang yang dicampur-aduk dengan kepusingan pikiran. Alhamdulillah, walau pusing tapi saya malah senang.

Setelah konsultasi beres, untuk melepas kepusingan, saya pun langsung ke perpustakaan. Yang terpikir oleh saya hanya mau duduk-duduk saja, melihat pemandangan alam di luar jendela perpustakaan, maklum perpustakaan yang saya kunjungi ini posisinya ada di lantai paling atas, lantai 7. Pemandangan yang cukup indah, enak dilihat, dengan pemandangan alam yang hijau, sangat bersih terawat.

Saya hanya duduk di tepi jendela, seperti orang melamun. Kemudian, saya perhatikan kanan-kiri, ada mahasiswa lain yang sibuk membaca. Ada juga yang sedang mengerjakan tugas sepertinya. Tak enak dengan yang mereka kerjakan, saya pun iseng-iseng mengambil buku dari rak perpustakaan. Yang saya ambil sih seambil-ambilnya, supaya ada buku yang saya pegang, biar tak kelihatan melamun di perpustakaan.

Setelah buku saya ambil, saya pun kembali ke tempat duduk semula, di tepi jendela. Suasana mendung di luar yang diiringi hujan rintik-rintik, ternyata bikin saya ngantuk sebenarnya. Sambil sedikit ngantuk, saya buka-buka buku yang saya ambil tadi. Buka sana-buka sini, balik sana-balik sini. Tak benar-benar saya baca, cuma dilihat-lihat doang.

Setelah dibulak-balik, dilihat-lihat. Eh, ada juga yang menarik. Saya fikir bisa saya ceritakan dan bagikan pada pembaca sekalian. Di salah satu halaman saya lihat ada bilangan-bilangan mengumpul, berkerumun. Saya berusaha perhatikan baik-baik, walau mata ini sedikit ngantuk. Cukup menarik! Kalau ingatan saya tak salah, seperti berikut ini yang saya lihat itu.

57 = (2×25) + 7

25 = (3×7) + 4

7 = (1×4) + 3

4 = (1x 3) + 1

Jadi,

1 = 4 – (1×3)

1 = 4 – (7 – (1×4))

1 = (2×4) – (57 – (2×25))

1 = (2 x (25 – (3x 7))) – (57 – (2×25))

1 = (4 x 25) – (2×3x7) – 57

1 = (4 x 25) – (2×3 x (57 – (2×25))) – 57

1 = (4 x 25) – (6 x57) + (12 x 25) – 57

1 = (16 x25) – (7×57)

Bagaimana wahai pembaca? Menarik bukan?

Sebenarnya, utak-atik bilangan seperti yang saya lihat itu, tak aneh, sudah pernah saya pelajari sebelumnya, di kuliah teori bilangan dulu. Tapi, ketika kemarin saya lihat hal semacam yang pernah saya pelajari dulu itu, ternyata baru saya rasakan menariknya itu kemarin. Terlambat ya?

Difikir-fikir, sambil melihat kerumunan bilangan tersebut, sepertinya matematikawan itu tak ada kerjaan ya?

Ya sudah, sampai di sini dulu ya. Lain kali, bila ada yang menarik, saya akan curhat lagi. Boleh kan? Mudah-mudahan walau cuma curhat, tetap bermanfaat.

16 Comments


Leave a Reply