Tidak Kontekstual Tapi Realistik

Oleh Al Jupri

Sebuah kereta api yang panjangnya 1 kilometer melintasi terowongan yang panjangnya 1 kilometer. Jika kecepatan rata-rata kereta api itu adalah 1 kilometer per jam, berapa waktu yang diperlukan oleh kereta api itu untuk melewati terowongan?

Demikianlah satu teka-teki yang saya obrolkan dengan adik-adik saya beberapa waktu lalu. Ya,  obrolan saat kami berkumpul bersama sambil menonton satu acara TV yang, menurut pendapat sebagian orang, paling digemari kebanyakan masyarakat negeri ini. Tak lain dan tak bukan, acara yang dimaksud, adalah sinetron! :mrgreen:  Karena hanya sekedar ingin berkumpul bersama, saya pun terpaksa menontonnya.

Tapi sayang, karena pada dasarnya kurang menyukai sinetron, saya pun malas melihatnya dengan serius. Alhasil, karena bosan, saya pun mengambil buku yang memuat teka-teki tadi.

“Nih, ada teka-teki!” kata saya, sambil menyodorkan teka-teki tersebut kepada dua adik saya. Mereka  berdua langsung membacanya. Saat mereka membaca teka-teki tersebut, saya berharap mereka tertarik, mau menyelesaikannya dan mengabaikan sinetron yang sedang ditonton.

Lantas, apa yang terjadi? Apa komentar mereka?

Idiiiy, teka-tekinya enggak masuk akal!” kata adik pertama saya. Saya pun heran dibuatnya! Dalam pikiran, saya bertanya pada diri sendiri, “Tidak masuk akalnya di mana? Itukan teka-teki! Kenapa dia berkata seperti itu?” Sementara itu adik kedua hanya diam saja, seperti biasa. Diamnya dia bukan berarti tidak mau berpikir, malahan dia tampak  serius memikirkannya.

Enggak masuk akal bagaimana?” tanya saya, sekaligus mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran.

“Ya, masa ada kereta panjangnya 1 kilometer. Itukan enggak ada!” jelas adik saya.

“Ooo… itu! Ya, udah, sekarang coba cari jawabnya!” kata saya, sedikit memaksanya untuk mencari jawab teka-teki tersebut. Di samping itu, saya pun berpikir, pendapat adik saya tersebut sebetulnya keliru. Ya, kekeliruan yang umum terjadi dilakukan oleh kebanykan orang. Karena itu, saya berkewajiban meluruskannya. Selanjutnya, sambil menonton sinetron, kedua adik saya tadi berpikir mencari jawab teka-teki tersebut.

***

Menurut hemat saya, adik saya berpendapat bahwa teka-teki tersebut ‘tidak masuk akal’ karena dia belum pernah mengetahui adanya kereta yang panjangnya 1 km. Dalam konteks dunia pendidikan, permasalahan  teka-teki tersebut dinamakan teka-teki yang tidak kontekstual, khususnya bagi adik saya. Ya, tidak kontekstual karena di lingkungan sehari-hari, adik saya tidak pernah melihat adanya kereta yang panjangnya 1 km. Jadi, tidak ada dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dialaminya.

Dengan perkataan lain, menurut saya, teka-teki  matematika tadi sifatnya tetaplah masuk akal (realistik) tetapi tidak kontekstual! Masuk akal alias realistik karena dapat dibayangkan dan dipikirkan, tapi tidak kontekstual karena tidak ada di lingkungan sehari-hari orang tertentu.

Lantas, mungkin Anda akan bertanya, apa sih permasalahan yang realistik itu? Jawabnya, permasalahan realistik (khususnya dalam matematika) adalah permasalahan yang masuk akal. Ini berarti, permasalahan realistik tidak harus  permasalahan yang konkret ada di dunia nyata, tidak mesti sesuatu yang ada di sekitar kita, tetapi  cukuplah permasalahan yang dapat dibayangkan dan dipikirkan dalam pikiran kita. Itulah yang disebut permasalahan realistik, khususnya dalam pendidikan matematika, berdasarkan teori RME (Realistic Mathematics Education) yang pertama kali dikembangkan di negeri Belanda sejak 1970-an.

Mudah-mudahan, dengan uraian sederhana ini, para pembaca, khususnya yang bergerak di pendidikan matematika, dapat mengerti perbedaan antara permasalahan yang realistik dan permasalahan yang kontekstual dalam matematika. Hal ini perlu saya ketengahkan, karena saya sering mendapati banyak yang keliru tentang kedua istilah tersebut bahkan menganggap keduanya sama saja. Yang keliru tak hanya masyarakat awam saja, tetapi  mahasiswa calon guru matematika, guru matematika, calon doktor matematika, dan bahkan doktor yang bergerak dalam pendidikan matematika pun keliru mengenai keduanya.

======================================================
Ya sudah, segitu saja ya jumpa kita kali ini. Sampai jumpa di artikel mendatang.

Catatan penting banget: Artikel ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. Seseorang yang katanya selalu rindu dengan tulisan-tulisan saya. :D

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

33 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, News, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

33 responses to “Tidak Kontekstual Tapi Realistik

  1. Saya juga baru paham tentang bedanya realistik dan konstektual sekarang, Mas.
    Tadinya saya pikir permasalahan yang realistik itu permasalahan yang sesuai dengan kenyataan (realitas).🙂

  2. Kalau diprotes nggak masuk akal ganti aja teka-tekinya jadi begini:

    “sepuluh kereta api yang masing-masing panjangnya 100 meter…….”:mrgreen:

    Tapi soal di atas yang paling “nggak masuk akal” masak sih kereta api kecepatannya cuma 1 kilometer per jam, itu sih jalan kaki juga lebih cepet wakakakakak…..😆

  3. yeni

    1 jam……… bener g mz Jupri……..

  4. lambat bgt keretanya cmn 1KM/Jam😀
    ngomong2 denger2 berita nih katany Indo mo membangun Kereta Super cepat jalur Jakarta-Cirebon-Bandung…

    http://www.detiknew s.com/read/ 2010/01/06/ 165041/1272887/ 10/kereta- supercepat- jakarta-cirebon- bandung-hadir- tidak-lama- lagi

  5. Lalu jawaban teka-tekinya seharusnya bijimana pak? Kok sekedar ngobrol thok?

  6. Apakah jawabannya 1 jam pak?🙄😆

  7. Mariska suka bingung pak kalau sudah berhadapan dengan matematika, apalagi guruku galak banget.

  8. hasan eL kyubi

    klo beneran 1 jam kayak lagu st 12 ajah… haha,,,

  9. administrator

    2 jam dong…

    setelah 1 jam pertama seluruh bagian kereta berada di dalam terowongan. 1 jam setelahnya, seluruh bagian kereta sudah keluar terowongan

    OOT: Ini Taufiq Akbari Utomo, bukan administrator blog ini.

  10. 2 Jam, Oom😀

    Btw saya juga di bidang Pendidikan Matematika, tahun pertama… Sekarang jadi mengerti tentang itu😉

    Kalau vektor di R-4 dan sterusnya itu realistik bukan?

  11. OOT. Kenapa (sepengalaman saya) kebanyakan guru matematika di sekolah (terutama SMP dan SMA) itu galak? Pernah ada data statistiknya gak ya?

    • Ah itu kasuistik aj kalik pak…
      Guru MAtematika SD, SMP, dan SMU sy gak galak kok… Malah baek bgt mau ngasi les GRATISS di rumahny sambil disuguhi minuman😀

  12. jk

    aqu mo komen pa yach????…. semoga adik na bisa mberi jawaban yang masuk akal deh…. nggak kayak soal dari kakak na… he he he

  13. Selamat sore, pernahkah anda membayangkan hal-hal yang tidak benar atau melihat banyak hal dalam pikiran anda, yang sebetulnya anda tau bahwa itu tdk benar ? Itulah argumentasi ( pengembangan pikiran unt mereka-reka jawaban yang dikehendaki) Untuk itu jangan lagi bingung, krn kebingungan disebabkan oleh usaha-usaha manusia untuk mencaricari jawaban yang sebetulnya sudah ia miliki jika ia mengupayakan. Bingung bukan ???

  14. agus

    Bukannya kebalik Bang? Yang realistik itu yang sesuai dengan kenyataan kehidupan sehari-hari… sedangkan yang kontekstual adalah yang sesuai dengan akal/pikiran ….. coba baca RMI lagi… Jadi bingung aku… hehehe…

    • Yang saya pahami, dan saya pelajari di The Freudenthal Institute, pengertian realistik itu bisa bermakna dua: (i) yang konkret (yang ada di sekitar kita dan dapat dipahami; (ii) yang dapat dipahami akal pikiran (meski tidak ada di kenyataan).

      • Apakah pendapat dari The Freudenthal Institute adalah suatu pemahaman yang tidak dapat dibantah lagi?

        Tampaknya komentar dari Haryono juga menarik.

      • aan

        salam kenal..

        yang saya peroleh dari dosen2 saya, dalam matematika, antara concrete (konkrit) dan real (nyata) itu berbeda.

        misal kereta api :
        mungkin itu konkrit dan nyata bagi anak2 di jakarta (jawa), tetapi tidak konkrit untuk anak di maluku (yang belum pernah melihat kereta) walau itu nyata.

        sedangkan doraemon, mungkin ini tidak konkrit, tetapi nyata (real) buat anak-anak pencintanya.

        demikian pula dengan dongeng2, ini tidak konkrit, tapi nyata bagi anak2, sehingga dalam pendidikan realistik, media dongeng pun bisa dimasukkan..

  15. siti nurlaela mustaqim

    trus gmn buat anak2 biar lebih paham bedanya realistik n kontekstual y…….??????

  16. Teka-teki mengenai kareta api itu banyak juga di sampaikan oleh guru matematika kita di sekolah (guru selain di pulau jawa)……
    satu yang perlu kita pahami bersama bahwa ” realistik itu tidak selalu kontekstual tetapi kontekstual itu selalu realistik”.
    http://rangg4disa88.blogspot.com/

    • Sepertinya kata-kata Anda masuk akal.

      • ” Realistik itu tidak selalu kontekstual tetapi kontekstual itu selalu realistik” maksudnya adalah: Seperti teka-teki yang dikemukan di atas yaitu masalah kareta api, akan menjadi masalah realistik sekaligus masalah kontekstual bagi siswa-siswi yang ada di pulau jawa yang sudah mengenal dan melihat langsung kareta api, tetapi akan menjadi masalah realistik tetapi tidak kontekstual bagi siswa-siswi yang ada di luar pulau jawa yang tidak melihat langsung kareta api….

        contoh lain pula, Jika kita sebagai guru akan membangun sesuatu konsep kepada siswa dengan mengambil masalah tentang “salju”, maka “salju” jelas itu adalah masalah realistik, tetapi apakah akan menjadi masalah kontekstual untuk siswa-siswi di pulau jawa??? Jawabanyakan tentu Tidak… karena “salju” di Indonesia hanya ada di Irian Jaya.
        http://rangg4disa88.blogspot.com/

  17. Arif islami

    Salam knal aja

  18. pake donk… seru nich buat nanyain siswa ^_^

  19. amingkem

    2 jam lah gitu aja kok repot

  20. hahaha…. keretax mogok nih, mas kecepatanya cm 1km/jam…

    sesuai tekatekinya, menurut saya jawaban amingkem sesuai dengan apa saya dapat!!🙂

  21. Anonymous

    thanks banget buat admin dan Pak Haryono, info dari Anda membuat saya tidak lagi ragu untuk menyatakan bahwa realistik dan kontekstual adalah hal yang berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s