Ayat tentang “Poligami” dan Komentar Saya

Oleh: Al Jupri

Surat An-Nisaa' (4)Ayat 3

Terjemahnya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. “ (QS. An-Nisaa’ : 3)

Kata guru saya, mulailah segala sesuatu yang baik dan benar dengan membaca “bismillah = basmallah”. Apalagi bila membaca ayat Al Qur’an di atas. Bersyukurlah bila Anda bisa langsung mengerti arti ayat Al Qur’an di atas tanpa membaca terjemahnya. Bilapun Anda tak bisa mengerti secara langsung, silakan dibaca terjemahnya.

Apa yang bisa Anda baca dari ayat Al Qur’an tersebut? Saya yakin banyak dari Anda yang sudah tahu bila ayat di atas merupakan ayat yang membolehkan seseorang (laki-lak) berpoligami, beristri lebih dari seorang. Saya yakin bahwa Anda akan sependapat, berdasar ayat tersebut, poligami itu syaratnya adalah bisa berlaku adil. Saya yakin juga, kebanyakan Anda, sependapat bila paling banyak seseorang itu boleh punya empat orang istri. Dan tentunya banyak lagi interpretasi lainnya.

Sebagai seorang “sufi”, tentunya saya pun boleh-boleh saja untuk mengomentari ayat Al Qur’an di atas bukan? Oh iya, mana ada seorang sufi yang mengaku-ngaku dirinya sufi. Yang saya maksud “sufi” adalah “sufi = suka nonton film (di TV)”. Ya, saya memang suka nonton film, tapi cuma di TV, itupun jarang-jarang. Hehe…

Baiklah, begini komentar saya (mohon maaf, karena mungkin komentar ini ngawur sifatnya, Anda boleh tak setuju!) Menurut hemat saya dan berdasar apa yang saya baca dari terjemah ayat tersebut, seorang lelaki diperintahkan untuk:

  1. Menikahi 2 wanita atau 3 wanita atau 4 wanita. Berdasarkan logika matematika (menggunakan prinsip disjungsi), perintah ini maknanya banyak. Perkataan 2 wanita atau 3 wanita atau 4 wanita bisa berarti: (i) 2 wanita saja; 3 wanita saja; 4 wanita saja; 2+3 = 5 wanita saja; 2 + 4 = 6 wanita saja; 3 + 4 = 7 wanita saja; (ii) 2 wanita dan 3 wanita dan 4 wanita, ditulis 2 + 3 + 4 = 9 (sembilan wanita untuk dinikahi)
  2. Menikahi seorang wanita saja jika TAKUT tak bisa berlaku adil. Kalimat inipun, berdasarkan prinsip implikasi matematis bisa diartikan begini, bila seseorang menikahi lebih dari seorang wanita, maka ia TIDAK TAKUT tak bisa berbuat adil.
  3. Menikahi 3 orang wanita saja; 4 orang wanita saja; 5 orang wanita saja; 6 orang wanita saja; 7 orang wanita saja; 8 orang wanita saja; 9 orang wanita saja; 10 orang wanita saja. (Yang bagian 3. ini berdasarkan bagian 1. dan bagian 2., berdasarkan prinsip konjungsi).

     

Demikian komentar saya, mengacu pada logika matematika. Sekali lagi yang perlu diingat adalah: Anda boleh tak setuju dengan komentar saya tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah, komentar tak sama artinya dengan tafsir. Jadi, apa yang saya tulis baru saja bukan penafsiran, melainkan komentar belaka.

Ya sudah, menurut Anda bagaimana?

Catatan:

* Implikasi itu apa? Sederhananya begini:

Misalkan p dan q masing-masing sebuah pernyataan. Maka, pernyataan yang berbentuk “Jika p maka q” disebut implikasi. Dan, perlu diketahui bahwa, pernyataan “Jika p maka q” itu sama artinya dengan pernyataan “Jika tidak q maka tidak p”.

Contohnya: “Jika hari ini hujan, maka saya memakai payung” ini adalah implikasi. Dan implikasi ini sama artinya dengan pernyataan “Jika saya tidak memakai payung, maka hari ini tidak hujan”.

**Semula saya akan bercerita tentang kisah seseorang yang melakukan poligami, tapi rasanya kurang etis bercerita tanpa ijin dari yang bersangkutan, saya kenal betul dengan yang ingin saya ceritakan itu. Menurut Anda bagaimana? Ya sudah, kapan-kapan saya akan cerita, tentunya dengan beberapa modifikasi. Setuju tidak nih?

38 Comments

Filed under Agama, Matematika, Matematika SMA, Pendidikan, Renungan, Sastra

38 responses to “Ayat tentang “Poligami” dan Komentar Saya

  1. kalau saya membaca ayat di atas, hal yang justru membuat saya tertarik bukanlah jumlah bilangannya tetapi kata/kalimat di dalam kurung. sedikit mengubah kata “menikahinya” menjadi “menikahkannya” atau “nikahilah” menjadi “nikahkanlah” akan sangat signifikan mengubah makna dari ayat ini.

    lalu ada kata “lain” yang juga berada di dalam tanda kurung yang menurut saya membuat makna kalimat dalam ayat di atas menjadi bias dan mengurangi konsistensi topik yang sedang dibahas di ayat tersebut dan menjadikan keterkaitan antara ayat ke-2 dan ke-3 (yang menurut saya saling berkait) hilang secara tiba-tiba.

    Al Jupri says: Gitu ya Pak?

  2. Menikahi seorang wanita saja jika TAKUT tak bisa berlaku adil.

    alias

    jika TAKUT tak bisa berlaku adil maka menikahi seorang wanita saja

    Ini adalah suatu implikasi, bukannya suatu biimplikasi sehingga :

    Jika menikahi seorang wanita saja maka (berarti) TAKUT tak bisa berlaku adil.

    TIDAK BISA BERLAKU…
    berarti juga jika seorang lelaki hanya menikahi seorang wanita itu bukan berarti dia TAKUT tidak berbuat adil TETAPi sangat mungkin kalau dia melakukan itu (menikah hanya dengan seorang wanita) karena dia TIDAK LAKU alias hanya ada satu wanita yang mau sama dia😀

    Al Jupri says: Setelah baca ini, rencananya mau berpoligami engga nih Om Deking? Hehe…

  3. *pijit-pijit kalkulator*

    mmh… kok jadi gitu ya?

    *masukin rss ke liferea*

    Al Jupri says: pijit-pijit aja terus Om Dehel….sampai ketemu OK?

  4. >> Menikahi 2 wanita atau 3 wanita atau 4 wanita.

    Misal jumlah istri x. Kalimat ini berarti:

    x = 2 ATAU x = 3 ATAU x = 4

    Berarti jelas dong kalau interpretasi x boleh 2+3=5 (dan yang lebih banyak lagi) salah. Misal x = 5. Berarti

    x = 2 bernilai salah
    x = 3 bernilai salah
    x = 4 bernilai salah

    berarti disjungsi dari semuanya salah. Berarti 5 istri nggak boleh.

    >> Menikahi seorang wanita saja jika TAKUT tak bisa berlaku adil. Kalimat inipun, berdasarkan prinsip implikasi matematis bisa diartikan begini, bila seseorang menikahi lebih dari seorang wanita, maka ia TIDAK TAKUT tak bisa berbuat adil.

    Salah, karena negasi dari “menikahi seorang wanita” adalah “menikahi 0 wanita (tidak menikah) atau lebih dari 1 wanita”🙂.

    Yang pasti, ini adalah “jika-maka” yang maknanya anjuran, bukannya implikasi yang menggambarkan realita. Sama seperti “jika pusing, istirahat di rumah”. Itu adalah anjuran, bukanlah pernyataan yang menggambarkan realita. Sebab pada kenyataannya ada orang yang pusing dan tidak istirahat di rumah.

    Al Jupri says:
    (1). x = 2 ATAU x = 3 ATAU x = 4 bisa di artikan begini: ” (2 digabung 3) lalu digabung dengan 4″; nah 2 digabung 3 bisa jadi 5, betul? Terus bila 5 digabung dengan 4 jadi 9, iya? 3 digabung 4 jadi 7, bener ga nih? Dst.
    (2). Misalkan menikahi seorang wanita itu adalah x = 1, maka negasi dari x = 1 adalah x tak sama dengan 1. Arti dari x tak sama dengan satu bisa dua kemungkinan, pertama: x kurang dari satu atau x lebih dari satu. Betul?

    (3). Ingat bahwa Al Qur’an adalah sebuah dalil. Saya klaim dalil itu sama dengan teorema dan ini nilainya BENAR (saya mengimaninya). Setuju?

  5. Iko

    Kalo bahas masalah poligami saya agak2 males,.. tp kali ini dibahas dalam segi matematikanya… walau rumit, tp menyenangkan…

    Al Jupri says: thank you

  6. betul Iko, dua ahli matematic tengah beradu argumen tentang poligami… bukankah alam adalah amatematik… halah… aku izin print susah memahami kata2 kang Deking nih… mesti di hayati deket hayati kali aja dia tertarik berpoli.. (tik maksudnya)

    Al Jupri says: Silakan diprint aja.

  7. Hehehe, bagus tuh analisa Pak Agor dan tanggapan pemilik blog. Seru!

    Al Jupri says: Hehe juga.

  8. walah malah mumet saya membacanya.. tdk masuk dalam logika saya (ato emang saya yang telmi) he..e.. POLIGAMI + MATEMAMTIK = ? (apa ya?)
    Memang ada sebagain yang bisa dipecahkan dengan menggunakan rumus matematik ada juga yang tidak (menurut saya lho..?)
    Uang JAJAN-KOS dan kebutuhan Lain tiap bulannya kalau saya hitung secara matematik tidak dapat dan tidak mencukupi untuk kebutuhan 1 bulan. tetapi setelah saya jalani Ternyata CUKUP… ???!!!???

    Al Jupri says: Ternyata CUKUP? Berarti, mungkin, ada perhitungan matematis yang kurang tepat. Iya gitu ya?

  9. syarat nya jelas kok harus menikah dulu, masalah poligami itu masalah kemudian

    Al Jupri says: Ya betul!

  10. Ingat bahwa Al Qur’an adalah sebuah dalil. Saya klaim dalil itu sama dengan teorema

    Kenapa hanya sebatas teorema? Berarti Al Qur’an masih membutuhkan suatu pembuktian?
    Kalau untuk saya pribadi Al Qur’an kan berasal dari Tuhan yang sangat saya imani, yaitu Alloh. Bagi saya Alloh adalah suatu zat yang bersifat mutlak so bagi saya Al Qur’an malahan menjadi suatu aksioma yang tidak harus dibuktikan.
    Nah dari aksioma itu bisa diturunkan berbagai macam teorema lagi berupa aturan2 kehidupan, tata cara ibadah dll.
    Tentang kenapa Al Qur’an sangat perlu dipelajari..bukankah suatu aksioma juga perlu dipelajari supaya kita bisa menurunkan teorema2😀

    Al Jupri says: Teorema, sederhananya, berarti pernyataan benar yang perlu dibuktikan. Sedangkan aksioma, sederhananya, berarti pernyataan benar yang tak usah dibuktikan karena sudah jelas benarnya dari pernyataan itu sendiri (self evident).
    Contoh aksioma: keseluruhan lebih besar daripada bagian-bagiannya.
    Contoh teorem: “Jumlah dua buah bilangan ganjil adalah bilangan genap”.
    Bagaimana?

    Saya klaim dalil Al Qur’an itu sebagai teorema. Tentunya ada alasannya. Dalil Al Qur’an merupakan pernyataan benar. Kita perlu buktikan itu. Bagi kita yang mengimaninya, Al Qur’an itu benar, tinggal kita buktikan. Bila, kita yang beriman, dapat membuktikan Al Qur’an itu, secara akal sehat kita yakini, keimanan akan bertambah. Dalam membuktikan ini pun, seringkali tak langsung terbukti, perlu proses panjang berliku, hingga suatu saat, entah kapan, akan terbukti. Sedangkan, bagi yang tak mengimaninya juga boleh ikut membuktikan dalil Al Qur’an tersebut.

  11. salah tulis…

    suatu aksioma yang tidak HARUS dibuktikan

    Yang benar adalah…

    suatu aksioma yang tidak PERLU dibuktikan lagi (karena sudah terjamin kebenarannya)

    Al Jupri says: bisa dilihat tanggapan saya sebelumnya.

  12. bingung…..

    Al Jupri says: saya juga bingung…

  13. berdasarkan prinsip disjungsi dan konjungsi…walah kok jadi banyak banged….

    Al Jupri says: Bila arti kata “banyak” adalah lebih dari satu, maka Anda benar.

  14. >> (1). x = 2 ATAU x = 3 ATAU x = 4 bisa di artikan begini: ” (2 digabung 3) lalu digabung dengan 4″; nah 2 digabung 3 bisa jadi 5, betul? Terus bila 5 digabung dengan 4 jadi 9, iya? 3 digabung 4 jadi 7, bener ga nih? Dst.

    Kalau di matematika nggak bisa diartikan begitu🙂.

    Misal persamaan kuadrat (x – 1)(x – 2) = 0. Apakah himpunan penyelesaiannya?

    Himpunan penyelesaiannya adalah:

    x = 1 ATAU x = 2

    Dengan menggunakan ‘logika’ mas, berarti 1 + 2 = 3 termasuk solusi dari persamaan kuadrat tersebut. Padahal…? (coba masukkan x = 3 ke persamaan kuadratnya)

    >> (2). Misalkan menikahi seorang wanita itu adalah x = 1, maka negasi dari x = 1 adalah x tak sama dengan 1. Arti dari x tak sama dengan satu bisa dua kemungkinan, pertama: x kurang dari satu atau x lebih dari satu. Betul?

    Iya betul negasinya ada dua kemungkinan. Yang perlu diingat, kalau dinegasikan kita nggak boleh milih-milih mana yang mau diambil, harus keduanya. Di postingan, Mas hanya memilih salah satunya (yang lebih besar saja).

    Misal x bilangan bulat positif (1, 2, 3, …). lalu ada pernyataan:

    x = 1

    Apa negasinya?

    Negasinya adalah “x = 2 ATAU x = 3 ATAU x = 4 ATAU …”. Dengan kata lain, negasinya adalah x > 1. Nah, kita nggak boleh kan hanya memilih salah satu saja dan mengatakan bahwa negasinya adalah, misalnya, ‘x = 2’.

    >> (3). Ingat bahwa Al Qur’an adalah sebuah dalil. Saya klaim dalil itu sama dengan teorema dan ini nilainya BENAR (saya mengimaninya). Setuju?

    Memang Al Qur’an dalil, tapi dalil tidak harus suatu deskripsi tentang perilaku alam semesta. Dalam hal ini, dalil di atas adalah suatu aturan yang orang bisa melanggarnya (dengan konsekuensi dosa tentunya). Jadi kita tidak bisa main2 logika dengan dalil tersebut dan menganggap bahwa kesimpulannya adalah ‘perilaku alam semesta/perilaku pria’.

    Al Jupri says: (1). Himpunan penyelesaian dari (x – 1)(x – 2) = 0 ; x bilangan real; adalah {x = 2 atau x = 3}. (2)Saya fikir, tentang negasi, apa yang dipilih Mas Agro R benar. Dan yang saya pilih juga benar. (3). Yang pasti, saya tidak bermain-main dengan apa yang saya tulis. Bila tulisan saya di atas dibaca lagi, eh ternyata itu cuma komentar saya saja. Bukan penafsiran, bukan apa-apa. Dan, saya tak mengklaim bahwa komentar saya benar adanya. Hehe…, sepakat untuk beda komentar bukan?

    Anyway, thank you ya atas komentar-komentarnya. Ditunggu komentar-komentar berikutnya….

  15. wesss…poligami juga bisa dihitung matematika juga ya🙂

    Al Jupri says: ???

  16. passya

    disederhanakan dong boss….. bukankah kebenaran itu sederhana? Konon operasi OR [ 2 atau 3 atau 4] selalu bernilai TRUE lho…. * ngaco ya gw😛 *

    Al Jupri says: Iya nih, tadinya saya akan menulis dengan saangat sederhana tentang ini. Tapi, jadinya begini. Mungkin, artinya, saya belum mampu menyampaikan ide dengan cara sederhana. Makasih ya atas komentarnya.

  17. # setuju dengan passa
    saya berkali2 datang ke artikel ini… njelimet. Artikel ini sangat menarik ada dua cara bisa untuk konsumsi kang Deking dan Agro Rachmatullah dll dan u selain mereka…
    Al Jupri says: “Iya nih, gemana ya saya menyampaikan materi ini secara enak. Enak dibaca (oleh orang lain), juga oleh saya sendiri. Saya juga merasa, tulisan saya yang satu ini terasa kaku. Tak mengalir. Kenapa ya jadi begini?”

  18. Sayapun setuju dengan passya, bahkan dalam operasi OR salah satu nilai saja yang tepat (2 saja, 3 saja, atau 4 saja)sudah berarti betul. Kenapa harus diperumit dengan ditambah-tambah, malah kesan logikanya jadi operasi AND. Betul tak pak guru?? ….. *halah jadi tambah mumet*

  19. DiN

    Saya ada satu pertanyaan.. dalam ayatnya ditulis “.. mantsaa, wa tsulasaa, warubaa..”
    Kenapa ‘wa’ yang biasa diartikan ‘DAN’, dalam ayat tersebut diartikan ‘ATAU’?
    Kalau ‘DAN’, konsekuensi matematisnya bagaimana?

    Al Jupri says: Saya bicara menurut pandangan matematis nih ya… Kalau ‘wa’ diartikan ‘DAN’ maka konsekuensinya adalah bahwa seorang lelaki itu wajib beristri 2 + 3 + 4 = 9 orang. Wajib (fardu ‘ain) tidak bisa ditawar (bila diartikan DAN). Ini berdasarkan prinsip konjungsi (dalam logika matematika).

  20. DiN

    Oh ya.. satu lagi.
    Yang saya pahami, pernyataan2 dalam qur’an itu ada yang berupa hukum (law), berita, maupun perumpamaan. Sebagai hukum, kriteria utamanya adalah harus tidak mengandung kontradiksi antara satu pernyataan dengan lainnya, dan konsisten obyek-obyek dalam cakupan hukum tsb.

    Btw, dalam matematika, ‘law’ itu aksioma atau teorema?

    Al Jupri says: Berdasarkan pengertian hukum yang ditulis saudara Din, maka yang termasuk ‘law’ dalam matematika itu bisa saya katakan adalah Teorema.
    Perlu dicatat, dalam matematika, teorema itu diturunkan dari aksioma-aksioma.

  21. Teori yang bikin mumet…
    …DAN’ maka konsekuensinya adalah bahwa seorang lelaki itu wajib beristri 2 + 3 + 4 = 9 orang. Wajib (fardu ‘ain) tidak bisa ditawar (bila diartikan DAN).”

    Perlu dicatat bahwa ayat diatas sama sekali tidak memberikan konklusi “wajib (fardu ‘ain)”, baik jika “wa” di artikan “dan” yang akhirnya akan berkesimpulan batas maksimal ialah 9 istri. Ataupun “wa” diartikan “atau”, yang konklusinya batas maksimal ialah 4 istri.

    Karena berdasarkan kaidah (teori) Ushul-Fikih,”Perintah yang datang setelah larangan adalah menunjukkan boleh, bukan wajib”, artinya dapat dilakukan dan dapat juga tidak. Ini berbeda dengan wajib, yang tidak ada tawar menawar di dalamnya.

    “Perintahnya: Menikahi perempuan2 lain 2 atau 3 atau 4” (potongan ayat sesudahnya).
    “Larangan: Larangan menikahi perempuan yatim…(potongan ayat sebelumnya)…

    Oleh karena itu, jika ingin mengetahui dari hukum yang lima yaitu wajib, haram, makruh, mustahab dan mubah (boleh), hukum poligami adalah masuk pada katagori hukum mubah (boleh), karena jika wajib maka orang tidak berpoligami akan masuk neraka, disebabkan telah meninggalkan kewajiban. Namun tidak ada akal sehat manapun (sebagai nabi bathin) yang akan melahirkan aksioma-aksioma, ataupun syareat (sebagai nabi dhahir) yang mengatakan seperti itu.

    oleh karena itu, mungkin konklusi anda benar akan tetapi premis-premis argumen anda yang salah.

  22. herbet

    sya nyari sejarah angka lima

  23. mulia

    Aku senang sekali membaca artikel dan semua comments di blog ini. Sayang sekali aku tidak bisa berpartisipasi karena konyol bidang matematika.

  24. see it started at the park,used to chill after dar. Martino Heino.

  25. and i never thought, that we was gonna see each othe. Horsa Amadeo.

  26. abdul

    oom .. saya gak memperhitungkan dari sisi jumlah mo berapa aja … 2,3,4 bahkan 9 tapi justru dari syarat untuk menambahnya itu :
    syarat utama jelas harus sudah menikah minimal satu kali, kedua tidak takut kalau berbuat tidak adil (kebalikan dari kata2 : jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil ..😉 ) artinya nantinya mo adil apa tidak adil resiko siap ditanggung hehe … jadi syarat yang kedua bukan berlaku adil tapi berani apa tidak …

  27. nur syam

    Terlepass dari matematis ya…la ini klo terjadi ma mas jupri sendiri gimana???…

  28. agung

    waduh pusing saya bacanya…..

    ayat kok dikomentari kayak gitu yah????

    kenapa tidak mencoba melihat tafsir terlebih dahulu

    kenapa mendahulukan akal dibandingkan tafsiran dari hadist dan pendapat para sahabat dan ulama???
    —————————————————————
    “Apabila engkau hendak membaca Al Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

  29. iqbal

    Ini isinya orang-orang pinter semua ya? Gila!!!
    Ayat yang jelas koq dipikir njelimet, pake matematika lagi hahaha….
    Perintahnya jelas. Boleh menikah lebih dari 1. Kalau merasa tidak mampu ya 1 adalah lebih baik. Clear.
    Yang jadi persoalan adalah siapa yang menentukan seseorang itu mampu atau tidak. Siapa yang menentukan seseorang itu adil atau tidak.
    Bahkan Rosulullah sendiri pun merasa tidak bisa berbuat adil seratus persen kepada para istrinya. Karena adil itu salah satu sifat Allah. Maka yang bisa adil hanyalah Allah semata. Sama dengan sombong. Sombong adalah sifat Allah. Yang boleh(baca: bisa) sombong hanyalah Allah.
    Buat kang Jupri, mending anda nonton film aja deh. Ndak usah repot-repot komentar soal poligami. Saya pribadi adalah orang yang tidak suka berpoligami, akan tetapi mengakui ayat itu membolehkan seorang pria menikahi wanita lebih dari 1, sampai maksimal 4. Lebih baik lagi kalau kita belajar lebih dalam lagi. Termasuk contoh yang telah dilakukan Rosulullah SAW dalam beristri dan memperlakukan istri-istrinya.
    Yang perlu dicatat, dari sekian banyak istri Rosul, hanya 1 saja yang dinikahi dalam keadaan perawan yaitu A’isyah. Lainnya janda semua. Dan bukan wanita-wanita cantik dan kaya. Istri nabi yang kaya raya adalah siti Khadijah semata. Itupun Khadijah yang naksir Muhammad pertama kali:). Nanti dengan pemikiran anda yang njelimet itu, takutnya Nabi saya ini anda tuduh matre? Atau jangan-jangan anda malah mirip seperti para yahudi yang menuduh Nabi Muhammad doyan kawin?
    Sudahlah, ndak usah mumet mas. Mending anda perdalam lagi ilmu agama anda, dan ilmu agama kita semua. Al-Qur’an itu benar, dan absolut. Kalaupun kita merasa ada yang ganjil atau bahkan membuat kita mumet (seperti teori anda itu) jangan salahkan Al-Qur’an (saya nggak nuduh anda menyalahkan Al-Qur’an lho ya, ntar jangan-jangan di komentari juga😛 ), tapi salahkan diri kita yang sangat banyak dosa ini, sehingga dosa kita terlalu pekat melumuri otak dan hati kita, sampai-sampai kita susah memahami Al-Qur’an.
    Atau anda lebih baik konsentrasi di bidang film saja. Anda kan sufi, suka film.

  30. Om, saya sadur tulisan ini sebagian. Saya mau gunakan untuk tugas agama saya. Terima kasih atas perhatian dan kerelaannya…🙂
    ______
    Al Jupri: Silakan, terimakasih sudah memberi tahu. Asal sesuai kadiah keilmuan. OK?😀

  31. Wah, Alhamdulillah. Lumayan bagus tadi presentasinya. Terima kasih sudah post tulisan ini ya, Om. Walau saya bawakan materinya masih ada yang kurang pas sedikit, tapi sudah cukup ko’.🙂

  32. wah, sip, aku baru nemuin yang menghubungkan logika metematika dengan ayat al-qur’an

  33. bs jg tulis opini2 anda di weblog http://rivitamajalah.wordpress.com/
    ada ttg poligami, kematina yang sdh di muat d majalah hidayah dll artikle menarik… kutunggu ya…

  34. bahar

    Tidak semua bisa di buktikan dengan matematika..matematika manusia sangat berbeda dengan matematika Allah..karena sesungguhnya Allah Maha Tahu sementara manusia tempatnya bodoh dan mempunyai batas pemikiran..Allah menghalalkan poligami dengan persyaratn tertentu karena Allah punya pengetahuan yang tidak atau belum kita ketahui atau bisa juga belum di jangkau oleh matematika kita..intinya bahwa apa yang terdapat di dalam alquran hanya di dustakan oleh kaum yahudi dan nasrani dan alquran tidak akan luntur hanya karena matematika yang salah karena allah sendiri lah yang akan menjaga kebenaran dalam alquran…

  35. rms

    Maaf menurut saya.. logika matematika tidak bisa begitu saja menafsirkan ayat Al-Qur’an… Penafsiran Al-Qur’an harus berdasarkan ahli tafsir….

  36. Hamba Alloh

    pake hati dan akal dunk bung. jelas2 dalam surah tersebut menggunakan kata “ATAU” bukan “DAN” …….JADI artinya 2 orang ATAU 3 orang ATAU 4 orang, pilih salah satu BUKAN DITAMBAH DIKALI SPT LOGIKA MTK…….. saya curiga anda ini muslim apa bukan? kalo muslim seharusnya TAKUT UNTUK MENGINTERPRETASIKAN ALQURAN…. MENTERJEMAHKAN NYA DENGAN LOGIKA MATEMATIKA GAK BAKAL KETEMU MAKNA YANG DI MAKSUD ALLAH SWT. Hati2 Anda dalam menterjemahkan AL-Quran, ini kitab suci yang langsung sumbernya dari Allah SWT diturunkan hanya kepada Rssululloh SAW melalui malaikat Jibril, jadi bahasa dan penggunaan katanya tingkat super, tidak bisa menggunakan logika matematika. Al – Quran terlalu tinggi dan agung untuk diterjemahkan dengan logika apapun. kecuali menggunakan hati yang bersih, akal yang jernih dan panjang. GAK ASAL2AN BUNG! WAJIB HUKUMNY memahami AL-Quran dengan HATI YG BERSIH DAN AKAL YANG JERNIH.dan PANJANG. Mohon Anda koreksi artikel anda JGN SAMPE MENYESATKAN , KASIHAN KAUM HAWA BISA JADI KORBAN KALO ORANG JADI SALAH PEMAHAMAN KAAN AYAT INI KRN ANDA. NAUDZUBILLAH. INGAT IBU ANDA JUGA KAUM HAWA. Mudah2an Allah Swt memberi anda hidayah dan petunjuk amin.

    • Mencari kebenaran

      Saya jg sangat setuju dgn saudara. Apa lg banyak hadist2 yg menjelaskan bahwa apa bila seorg muslim kawin lebih dari 4, maka hukumnya HARAM, dan bkan termasuk ummat Muhammad SAW HR. Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s