Sedikit Kenangan dari Jakarta

Oleh: Al Jupri

Tulisan ini bukan untuk ikut-ikutan merayakan hari lahir kota Jakarta yang pada tanggal 22 Juni 2007 lalu genap berusia 480 tahun. Saya hanya ingin sedikit bercerita “pengalaman masa kecil saya tentang Jakarta” yang saya kunjungi pada tahun 1986.

Baiklah begini ceritanya.

Waktu itu, kata ibu saya, saya baru berusia 4 tahun. Ketika kami (bapak + ibu + saya + teteh) berkunjung ke rumah salah seorang bibi dan paman saya yang tinggal di Jakarta. Walau hanya tinggal selama 7 hari di sana, banyak pengalaman unik yang bisa saya kenang. Sebagai anak yang lahir dan besar di desa, bagi saya, pengalaman bepergian ke Jakarta dan merasakan tinggal di sana adalah sebuah pengalaman yang luar biasa, istimewa. Teman-teman saya yang di desa waktu itu belum pernah ada yang pergi ke (apalagi merasakan tinggal di) Jakarta.

Ketika saya pulang ke desa, layaknya seperti sifat anak-anak yang lain, tanpa ditanya lagi, saya pun langsung bercerita ke teman-teman saya. Saya bercerita pengalaman yang baru saya alami waktu itu. Cerita ini, cerita itu, sampai teman-teman saya tampak antusias, “ngiler” ingin merasakan seperti yang saya alami ketika di Jakarta. Faktanya, mereka tampak serius dan benar-benar ingin tahu cerita saya, mereka sepertinya asyik mendengar cerita saya, begitu khusyu mendengarkan. Saya pun, waktu itu, dengan perasaan bangga bercerita panjang lebar, seperti tak habis-habisnya. Tiap kali saya berhenti bercerita, teman-teman saya terus saja bertanya ini-itu, sayapun tak kuasa untuk tidak menjawabnya.

Bila diingat-ingat lagi, yang saya ceritakan ke teman-teman saya itu sebenernya sederhana. Mulai dari lamanya bepergian, hal-hal “aneh” yang dilihat di perjalanan, sampai keadaan kota Jakarta yang banyak bedanya dengan desa tempat saya dibesarkan. Mungkin namanya juga anak-anak, ketika masa-masanya mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, makanya tiap apa yang saya ceritakan itu selalu dapat respon dan pertanyaan dari teman-teman saya waktu itu. Mulai dari respon kagum, terpesona, heran, sampai terkejut. Dari pertanyaan naik mobil apa, di kota makan apa, suasana kota itu seperti apa, sampai pertanyaan “cara ngomong orang kota itu seperti apa”, semuanya secara antusias diajukan oleh teman-teman ke saya waktu itu. Pokoknya, cerita tentang Jakarta adalah sebuah hal yang luar biasa bagi anak-anak desa waktu itu.

Yang pernah saya ceritakan semasa kecil itu seingat saya sih banyak, cuma setelah saya ingat-ingat lagi, hanya bisa saya klasifikasikan menjadi 7 cerita, dengan 7 judul berbeda, seperti berikut ini.

(1) Cerita: “Jakarta, Paling Jauh Sedunia”
(2) Cerita: “Sopir Bus Tingkat, di Manakah Engkau?”
(3) Cerita: “Jakarta, Mobil, dan Semut”
(4) Cerita: ” ‘Gedong’ Sarinah dan Eskalator
(5) Cerita: “Wafer-Coklat Gambar Superman
(6) Cerita: “Mainan Anak-anak Kota
(7) Cerita: “Mah, Disuapin itu Apa?”

Bila ketujuh cerita tersebut saya tulis di sini, sepertinya akan banyak memakan tempat, dan saya pun akan kelelahan menuliskannya. Jadinya, ya sudah, saya putuskan saja hanya menuliskan judul-judulnya saja. Silakan tebak, kira-kira apa isi cerita dari judul-judul tersebut!

Kembali ke matematika. Apa kandungan matematika dari tulisan ini? Pikirkan dulu baik-baik, sebelum Anda melanjutkan membaca!

Di paragraf pertama saya menuliskan bahwa, tahun 2007 ini Jakarta sudah berusia 480 tahun. Dari keterangan ini mungkin sekali di antara Anda ada yang bertanya, kapan sebenarnya Jakarta itu lahir, kapan pertama kali berdiri? Tentu dengan menggunakan keterangan tersebut, Anda dengan enteng akan menjawab: “Ya kita tinggal mengurangi 2007 oleh 480 saja, beres, kita akan tahu tahun lahirnya Jakarta!”

Benar, yang baru saja Anda pikirkan itu benar. Yang menarik adalah bagaimana Anda melakukan operasi pengurangan 2007 – 480 itu? Apakah Anda akan melakukan operasi pengurangan dengan “metode pengurangan bersusun ke bawah, menggunakan algoritma pengurangan biasa” seperti berikut ini?

2007

480

___ _

Bila Anda melakukan seperti itu, tidak apa-apa. Bagus!!! Berarti Anda masih ingat yang pernah Anda pelajari sewaktu di bangku sekolah dasar dulu.

Sementara itu, mungkin saja apa yang saya lakukan dalam operasi pengurangan bilangan-bilangan tadi adalah berbeda dengan Anda. Yang saya lakukan itu begini: “Ketika saya melihat bilangan 480 dan 2007, dan saya ingin mengurangi 2007 dengan 480, dalam pikiran saya itu begini. Saya langsung mengurangi 2000 oleh 400, hasilnya 1600. Kemudian 1600 saya kurangi dengan 80 hasilnya 1520. Nah, karena tadi saya mulai dengan bilangan 2000 padahal bilangan mula-mula adalah 2007, maka saya tinggal menambahkan 1520 dengan 7, hasilnya 1527. Jadi, 1527 adalah tahun lahir kota Jakarta. Sederhananya, yang ada di pikiran saya itu dapat ditulis seperti berikut.”

2007 – 480 = (2000 + 7) – (400 + 80)

= 2000 – 400 – 80 + 7

= 1600 – 80 + 7

= 1520 + 7

= 1527

Sebenarnya, cara yang saya lakukan tadi bukanlah satu-satunya cara. Cara lain yang bisa saya fikirkan, bisa seperti berikut ini:Untuk melakukan operasi pengurangan 2007 – 480, yang saya pikirkan adalah saya langsung mengurangi bilangan 2000 dengan 500, hasilnya 1500. Karena pengurangnya sebenernya adalah 480, bukan 500, maka saya tambahkan 20 ke 1500, hasilnya 1520. Karena saya tadi memulai dengan bilangan 2000, padahal seharusnya adalah 2007, makanya saya tambahkan 7 ke 1520, hasilnya 1527. Jadi, 2007 – 480 = 1527 (tahun lahirnya Jakarta). Sederhananya, yang ada di pikiran saya barusan dapat ditulis seperti berikut.”

2007 – 480 = (2000 + 7) – (500 – 20)

= 2000 – 500 + 20 + 7

= 1500 + 20 + 7

= 1520 + 7

= 1527

Oh iya, saya juga bisa melakukan seperti ini: “Karena saya ingin tahu 2007 – 480 itu berapa, mula-mula saya perhatikan 480. Ternyata 480 itu dekat dengan 500. Saya dapatkan 500 dari 480 dengan cara menambah dengan 20. Karena saya menambah 480 dengan 20 untuk dapat 500, maka supaya pengurangan semula (2007 – 480) tetap akan menghasilkan hasil yang sama, maka saya pun tambahkan 20 pada 2007 sehingga jadi 2027. Oleh karena itu pengurangan 2007 – 480 sama saja dengan pengurangan 2027 – 500, yakni dengan mudah hasilnya saya dapatkan 1527. Secara sederhana, yang baru saja saya fikirkan itu bisa ditulis seperti berikut.”

2007 – 480 = 2007 + 20 – (480 + 20)

= 2027 – 500

= 1527

Dan tentunya masih banyak cara yang bisa saya fikirkan. Anda pun bisa menemukan cara sendiri, sesuai selera Anda, sesuai kenyamanan Anda, sesuai kepekaan Anda terhadap bilangan-bilangan.

Tampak bahwa, beberapa cara yang telah saya deskripsikan tadi, secara alamiah dapat saya katakan dimiliki oleh setiap manusia. Ungkapan dan pendeskripsian matematika dengan simbol-simbol adalah bentuk penuangan apa-apa yang ada di pikiran Anda. Oleh orang barat sana (setidaknya oleh orang-orang Amerika dan Belanda), menteorikan cara-cara yang baru saja saya peragakan, yang baru saja saya deskripsikan, mereka sebut kemampuan dan kemudahan untuk menangani operasi-operasi terhadap bilangan-bilangan tadi dengan sebutan Number Sense*. Yang oleh salah seorang ahli matematika Indonesia (sudah pensiun) secara informal diterjemahkan sebagai kepekaan terhadap bilangan.

Nah, sebagai latihan untuk merangsang kepekaan Anda terhadap bilangan, merangsang Number Sense Anda, saya berikan satu latihan sederhana berikut.

“Saya yakin Anda sebagai orang Indonesia tahu bahwa negeri kita itu merdeka pada tahun 1945, setelah selama 350 tahun dijajah oleh negeri Belanda dan Jepang (selama 3,5 tahun). Pertanyaannya berarti, kapan Belanda mulai menjajah negeri kita?”

 

Catatan: Sebagai bacaan permulaan tentang “Number Sense”, Anda bisa membaca buku berikut ini.

*Fosnot, C. T., and Dolk, M. (2001). Young Mathematician at Work: Constructing Number Sense, Addition, and Subtraction. Portsmouth: Heinemann.

3 Comments

Filed under Kenangan, Matematika, Matematika SD, Renungan

3 responses to “Sedikit Kenangan dari Jakarta

  1. Hmmm… Metoda ini dulu juga sering diajarkan oleh guru saya. Lumayan bermanfaat kalau harus mengerjakan operasi dengan cepat pada beberapa kesempatan tuh
    __________
    Al Jupri says: Ya benar….

  2. 1900-300-50+45=1595-3,5
    =1591,5=1592
    Bener g sih pak Jupri???
    _______
    Al Jupri says: Silakan dicek aja…:)

  3. little_@

    Membaca tulisan pak jupri kali ini mengingatkan aku pada judul cerpennya Idrus: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. banyak jalan menuju roma. banyak cara dalam berhitung. sepertinya ibu-ibu penjual sayur dan ikan di pasar sangat lincah dalam menggunakan number sense. mereka menghitung berapa jumlah belanjaan yang harus dibayar pembeli dan berapa uang kembalian yang harus mereka bayarkan. seringkali mereka menghitung ribuannya dulu baru ke ratusan.
    Ups! maaf… saudara-saudara pembaca, pernahkah kenal dengan ibu-ibu di pasar? barangkali yang sering lihat akan bikang “Iya.. Ya”, ibu2 itu berhitung dalam gayanya masing-masing. dengan number sense yang berbeda-beda.
    ________
    Al Jupri says: Benar, ibu-ibu dipasar itu rupanya pakai number sense…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s