September 6, 2009

Belajar Matematika dari Dapur Ibu

Oleh Al Jupri

Sore itu sekitar jam 4 sore, saat bulan puasa seperti saat ini,  tidak biasanya Tom berada di dapur bersama ibunya. Ya, sambil menunggu waktu berbuka, dia menyaksikan ibunya memasak. Barangkali Tom sudah tidak tahan untuk segera berbuka. Maklum, saat itu Tom barulah usia 10 tahun, sekitar kelas 4 SD.  Waktu berbuka adalah waktu yang paling dinantinya saat di bulan puasa.

“Tom, kok nunggu buka puasanya di dapur?” tanya ibu sambil siap-siap menanak nasi. Tom hanya diam saja, seolah tak hirau dengan pertanyaan ibunya. Wajar sang ibu bertanya begitu karena biasanya, untuk menunggu berbuka puasa, Tom dan kawan-kawan sebayanya bermain-main di luar rumah.

“Kamu enggak tahan ya puasanya?” lagi ibu bertanya.

“Enggak kok, saya tahan!” jawab Tom, walau sebetulnya sudah lemas tubuhnya. Tetapi dia sengaja berkata begitu karena dia sudah bertekad untuk tidak batal puasa.

“Ya, biar enggak tergoda sama makanan, biar kamu tahan, nunggu bukanya jangan di sini!” kata ibu memperingatkan Tom. Sungguh sebetulnya ibu sangat kasihan melihat anaknya yang sudah terlihat lemas, menahan lapar berpuasa. Tetapi ibu sengaja tidak menyuruh Tom untuk membatalkan puasanya, tujuannya agar Tom terbiasa  kelak. Ya jelas, ada unsur pendidikan yang ingin ditanamkan sang ibu. Sengaja dia tidak memanjakan Tom kali ini, walau biasanya  beliau selalu memanjakan anaknya itu.

“Engga mau ah! Di sini saja! Kalau main-main sama teman, cape! Mending di sini, lihat ibu memasak!” begitu Tom berlasan. Sementara sang ibu meneruskan pekerjaannya, menanak nasi. Hingga muncullah pertanyaan dari Tom. Keep reading →

August 16, 2009

Apakah Psikotes Bisa Dilatih?

Oleh Al Jupri

Apakah Psikotes Bisa Dilatih?

Ya, demikianlah satu pertanyaan yang muncul pada artikelsebelumnya. Karena saya bukanlah Psikolog (yang mengerti tentang Psikotes), maka saya tak sanggup  menjawabnya secara langsung. Karenanya, baru sekarang dan lewat artikel inilah saya akan berusaha menjawabnya sesuai pemikiran saya saja.

Untuk menjawab pertanyaan tadi, sebagai bahan pemikiran, simaklah beberapa jenis soal Psikotes berikut.
Soal Jenis 1: Tentukan huruf berikutnya, dari pola huruf berikut ini.
A, E, I, M, Q,…

Soal Jenis 2: Tentukan bilangan berikutnya dari rangkaian bilangan berikut.
3, 5, 12, 20,…

Soal Jenis 3: Jika 10% dari C adalah 1/2A dan 5% dari C adalah 2B, berapa persenkah A- B dari C?

Soal Jenis 4: 23 peti buah-buahan beratnya 425 kg. Jika setiap peti kosong beratnya 4 kg, berapa berat bersih buah-buahan tersebut?

Soal Jenis 5: Umur rata-rata dari suatu komunitas pengguna Facebook, yang terdiri dari para ibu rumah tangga dan pegawai kantoran, adalah 40 tahun. Bila umur rata-rata ibu rumah tangga adalah 35 tahun dan umur rata-rata pegawai kantoran adalah 50 tahun, maka berapakah perbandingan banyaknya ibu rumah tangga dan pegawai kantoran?

Soal Jenis 6: Sebuah lingkaran digambar di dalam daerah persegi panjang yang panjangnya 18 cm dan lebarnya 14 cm. Berapakah keliling terbesar dari lingkaran tersebut?

Dengan menyimak jenis-jenis soal Psikotes di atas, yang ternyata berupa permasalahan matematis, kita bisa mengatakan dua hal. Pertama, ada beberapa jenis soal yang sifatnya alami, yakni untuk mampu menjawabnya kita tidak terlalu banyak memerlukan pengetahuan atau ilmu. Sebagai contoh, soal jenis pertama atau kedua. Untuk dapat menjawab kedua jenis pertanyaan ini, kita hanya perlu pengetahuan sangat dasar, yakni tentang huruf dan bilangan, yang dipelajari di sekolah dasar. Karena sifatnya mendasar, maka banyak yang berpendapat sifat soal ini alami alias tidak bisa dipelajari. Namun demikian, untuk soal jenis kedua, bagi yang sudah pernah belajar tentang barisan bilangan, yang dipelajari di SMP, kemungkinan untuk mampu menjawab soal tersebut sangatlah terbuka.

Kedua, beberapa jenis soal lainnya tidaklah bersifat alami alias perlu pengetahuan tentang matematika. Sebagai contoh, simaklah soal jenis ketiga hingga keenam. Di mana,  bila dicermati, soal-soal ini sifatnya adalah menuntut kemampuan bernalar (berpikir lebih), tidak sekedar menggunakan rumus-rumus matematika belaka–mungkin inilah ciri khas dari soal-soal Psikotes.

Dari dua alasan tadi, tentu para pembaca bisa menyimpulkan sendiri apakah Psikotes itu bisa dilatih atau tidak, bukan?

Mudah-mudahan artikel sederhana ini mampu menjawab pertanyaan yang diajukan tadi. Amin.

Sebagai catatan: selain terkait dengan matematika, soal-soal Psikotes juga terkait dengan bahasa, dan mungkin juga seni. Untuk kedua hal ini saya tidak membahasnya di sini.
==================================================
Ya sudah, segitu saja ya jumpa kita kali ini. Sampai jumpa di artikel mendatang.

Catatan penting banget: Artikel ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. Seseorang yang katanya selalu rindu dengan tulisan-tulisan saya. :D

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

August 2, 2009

Buat Apa Ada Psikotes? (Part 1)

Oleh Al Jupri

Lengkapilah titik-titik pada tiap soal berikut dengan jawaban yang benar sesuai dengan pola yang tersusun pada rangkaian bilangan yang diberikan.

Soal 1. 4, 6, 8, 10, 12 …

Soal 2. 40, 39, 37, 40, 36, 31,…

Soal 3. 6, 8, 2, 8, 1, ….

Soal 4. 6, 4, 2, 4, 8, 4, 1,…,….

“Buat apa sih ada Psikotes segala? Aneh, wong cuma mau kerja jadi ‘kuli’ di pabrik gula saja susah!” kata seorang teman beberapa waktu lalu, seraya bercerita bahwa dia telah gagal diterima di sebuah pabrik pengolahan gula.

“Ya sudah, kalau begitu belajar lagi ya. Terus buat lamaran lagi ke perusahaan lain, siapa tahu berhasil!” hibur saya dengan kata-kata yang bernada optimis. Sang teman hanya diam, sepertinya dia dongkol gara-gara gagal dalam Psikotes yang baru dilaluinya. Kemudian, diapun meminta saya untuk mengajarinya bagaimana menyelesaikan soal-soal psikotes–khususnya yang terkait dengan matematika, seperti soal-soal yang terpampang di atas.

***

Dari kejadian tersebut, ada satu pertanyaan yang bernada kesal, tetapi perlu mendapat jawaban yang serius. Ya, pertanyaan yang diajukan teman saya tadi, “Buat apa ada psikotes?” Keep reading →

July 5, 2009

Cara Memprediksi Kemampuan Calon Mahasiswa

Oleh Al Jupri

“Tahun ini materi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri sedikit berbeda ya?” kata seorang teman, sesama pengawas, saat saya untuk pertama kalinya menjadi pengawas Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) tanggal 1 Juli 2009 lalu.

“Maksudnya, apa, Pak?” tanya saya, mencari penjelasan.

“Iya, kalau tahun-tahun sebelumnya, tidak ada TPA (Tes Potensi Akademik). Sedangkan tahun ini ada,” jelas teman saya.

Ya, memang begitulah kenyataan yang terjadi. Untuk tahun ini materi yang diujikan di seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tak hanya materi bidang studi, tetapi mencakup adanya TPA.

Menurut pandangan awam saya, adanya TPA di ujian masuk PTN merupakan sebuah langkah maju dalam menyeleksi calon mahasiswa yang layak duduk di PTN. Mengapa begitu? Keep reading →

June 28, 2009

JK Bicara Matematika

Oleh Al Jupri

Siapa capres yang berslogan “Lebih Cepat Lebih Baik”? Saya yakin, bila Anda tidak buta informasi, Anda akan menjawab JK alias Jusuf Kalla. Menjelang pilpres 8 Juli 2009 mendatang, kini sang capres makin meroket meningkat popularitasnya. Karena itu, menurut analisa beberapa pengamat politik, JK kini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh para kompetitornya.  Bahkan ada yang memprediksi bahwa JK bakal menjadi orang nomor satu di negeri ini. Apa sebabnya? Keep reading →

June 14, 2009

‘Abu Nawas’ Bingung Memilih Capres

Cerpen oleh Al Jupri

Sebentar lagi, untuk yang kedua kalinya, negeri kita akan mengadakan pemilihan umum pasangan presiden dan wakilnya secara langsung. Para capres-cawapres sudah mulai aktif berkampanye. Dengan beragam cara: iklan di media masa, pencitraan lewat survey-survey, dan sebagainya. Mereka pun tiap hari  sangat rajin berkeliling negeri ini. Menebar janji-janji manis bagi calon rakyatnya. Namun, saat berkampanye, tak jarang antar pasangan saling menjelek-jelekkan.

Ada yang mengklaim bahwa hanya pasangannya saja yang layak dipilih karena pasangan-pasangan lain belum  memberi bukti, belum berpengalaman, hanya menebar janji, hanya menghembuskan angin surga, tidak bersih, tidak santun, dan lainnya. Sementara pasangan lain secara gamblang mengatakan bahwa kalau bukan karenanya maka perdamaian di negeri ini bakal sulit tercapai, pemerintah tidak mungkin berjalan dengan baik dan cepat, keputusan-keputusan tidak mungkin cepat dilakukan sebab penguasa utama yang saat ini ada tidak berani ambil keputusan (peragu), dan lain-lain.

Karena sebab tersebut,  rakyat kita banyak yang bingung dibuatnya. Tak terkecuali dengan ‘Abu Nawas’ yang pusing  tujuh keliling karenanya. Siapa Abu Nawas yang dimaksudkan di sini? Ya dia hanyalah seorang sopir angkot biasa–yang kebetulan disebut dengan panggilan itu. Para teman sesama sopir memanggil dengan sebutan itu karena tingkahnya mirip Abu Nawas–tokoh humoris dalam kisah-kisah klasik Timur-tengah yang termasyhur. Salah satu kisah sang “Abu Nawas” terkait pemilu presiden mendatang terurai berikut ini. Keep reading →

June 3, 2009

Mencari Akar Pangkat Tiga Sebuah Bilangan

Oleh Al Jupri

Pak Al Jupri, bagaimana sih menentukan akar pangkat tiga sebuah bilangan itu? Misalnya bagaimana menentukan nilai dari \sqrt[3]{100}

Demikian kurang lebihnya satu pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang komentator di blog ini. Mulanya akan langsung saya jawab pertanyaan tersebut di kolom komentar. Namun, saya berpikir bahwa pertanyaan tersebut akan lebih bermanfaat bila saya jawab dalam bentuk sebuah artikel. Karena itu, inilah jawaban yang (baru) bisa saya berikan! Keep reading →

May 31, 2009

Semuanya Karena Cinta

Oleh Al Jupri

“Mengapa Allah Swt menciptakan alam semesta beserta isinya dengan manusia sebagai khalifahnya? Mengapa Allah menciptakan surga dan neraka? Apa untungnya bagi Allah menghadiahi Surga bagi mereka yang beriman dan mengganjar Neraka bagi mereka yang membangkang?”

Itulah sekumpulan pertanyaan yang dilontarkan salah seorang teman beberapa waktu lalu, saat kami dalam perjalanan. Disodori pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bagi saya, cukup sulit untuk menjawabnya. Tetapi karena itu hanyalah diskusi biasa antar teman, saya pun berusaha menjawabnya, sebisa-bisanya.

Sudah bermacam-macam jawaban saya berikan. Tapi sayang, semuanya, katanya belumlah tepat. Saat saya tanyakan apa jawabnya, dia malah memberi tempo pada saya untuk terus mencari jawab atas sekumpulan pertanyaan tadi. Sampai suatu hari, saat jumpa dengannya, dengan rasa penasaran yang memuncak saya pun tak kuasa untuk tidak bertanya padanya.

“Apa sih jawabnya?” tanya saya dengan tak sabar, menahan rasa ingin tahu yang mendalam. Keep reading →

May 16, 2009

Budi Anduk Cawapres? Yes!

Oleh Al Jupri

Say NO to BudioNO, Say YES to Budi Anduk

Ya, itulah bunyi spanduk yang beberapa hari ini lalu ramai diberitakan. Spanduk tersebut muncul beberapa hari sebelum pendeklarasian salah satu pasangan capres-cawapres di negeri kita–menjelang pemilihan presiden bulan Juli 2009.

Sebagai warga negara yang netral, saat membaca berita tentang hal tersebut, tentu saya tertawa dibuatnya. Bukan karena mentertawai Budiono sebagai cawapres, tetapi karena teringat tingkah polah Budi Anduk–sang komedian yang sering saya tonton di TV. :mrgreen: Mungkin sudah begitu garis hidup sang Budi Anduk: tak hanya di TV dia menjadi obyek bulan-bulanan lawan mainnya, di dunia nyata pun dia mengalami hal yang sama.

Menurut pandangan awam saya, spanduk tersebut sifatnya menguntungkan: baik bagi Budiono ataupun Budi Anduk. Alasannya? Keep reading →

May 9, 2009

Menguji Kecerdasan Anak

Oleh Al Jupri

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu. Mana yang salah?” tanya seorang bapak pada anaknya beberapa waktu yang lampau. Diberi pertanyaan demikian, sang anak tampak berpikir, lantas berseru menjawab, Mangga!”

Saat memperhatikan kejadian tersebut, saya tersenyum dan kagum. Sang anak–yang saya perkirakan berusia enam tahun–bisa membuat kesimpulan yang benar dari serangkaian data yang diberikan padanya. Masih dalam kekaguman tersebut, tampak sang bapak kembali memberi pertanyaan lain. Keep reading →