Di Sini Terima Cuci “Kiloan”

Oleh: Al Jupri

“Anak-anak sekalian, coba hitung! Berapakah lima dikali dua?” demikian kata Pak Eman, seorang guru matematika SD kelas 3 pada siswa-siswinya.

Lazimnya keadaan kelas-kelas yang ada di Indonesia, maka beramai-ramailah para siswa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, sebagai guru yang baik, Pak Eman kurang menyukai keadaan itu, maka ditunjuklah beberapa siswa untuk menjawab pertanyaannya.

Pak Eman: “Coba Din, berapa jawabmu?”

Udin: “Mmm…. “

Udin tak langsung bisa menjawab, hanya senyuman yang bisa ia tampilkan. Entahlah sebabnya,  apakah karena ragu atau memang dia belum tahu jawabnya. Senyum khas Udin terkadang sukar diartikan.

Melihat kenyataan itu, Pak Eman hanya menyarankan Udin untuk kembali berpikir. Lalu, beliaupun menunjuk siswa lain untuk menjawab pertanyaannya.

“Sepuluh!” jawab Tom;

“Sepuluh!” ujar Imah;

dan begitu kebanyakan siswa lain menjawab dengan jawaban yang sama–yakni sepuluh.

Tiba-tiba…, “Bukan sepuluh, Pak, jawabnya!” kata Jerry, yang mempunyai jawaban lain daripada teman-temannya.

“Berapa, Jer?” tanya Pak Eman segera.

“Ya, jelas, tujuh dong, Pak!”

“Bagaimana caranya kamu dapatkan jawaban itu?” selidik Pak Eman.

“Begini, Pak! Misalkan ada lima kambing di kebun dan di kali ada dua kambing. Maka, semuanya ada tujuh kambing, kan?” jelas Jerry, pada Pak gurunya. Mendengar jawaban siswanya itu, Pak Eman hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Dari cuilan cerita di atas, dapat kita pahami bahwa pertanyaan lisan Pak Eman, yakni “Berapakah lima dikali dua?”, dapat disalahartikan. Oleh karena itu, apakah sebagai guru ataupun bukan, kita hendaknya berhati-hati dalam memberikan perintah, pertanyaan, pernyataan, atau ucapan lainnya.

Kekeliruan-kekeliruan yang serupa dengan kejadian di atas, tak hanya terjadi di ruang-ruang kelas. Dalam kehidupan kita sehari-hari pun nyata-nyata sering terjadi. Sebagai contoh, saat akan tiba waktu sholat Jum’at, seringkali pengurus masjid memberi peringatan yang keliru pada para jama’ah–misalnya begini, “Untuk menjaga kekhusu’an sholat,  para jama’ah yang membawa HP harap dimatikan!”.  Coba pahami makna peringatan tersebut!  Apa maknanya? Sebagai pendengar, saya geli  dan ngeri mendengarnya.🙂

Tak hanya ucapan lisan yang sering keliru, ucapan tertulis pun seringkali keliru. Sebagai contoh, di pinggir-pinggir jalan sering saya temui iklan penyedia layanan laundry yang cukup menggelikan, “Di Sini Terima Cuci Kiloan!!!” [Pantas saja tidak ada pelanggan yang datang, wong yang dilayani adalah mencuci ‘kiloan’! Ha ha ha….:mrgreen:🙂 ].

Nah, mulai saat ini yuk kita hati-hati menggunakan lisan dan tulisan kita! Okey?

=======================================================

Ya sudah, segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ringan ini ada manfaatnya. Amin.

Catatan: Artikel ini ditulis untuk seseorang yang selalu merindukan tulisan saya. Seseorang yang kupanggil Cinta.🙂

Catatan penting: Saya melarang siapapun Anda yang berminat mempublikasikan ulang artikel ini tanpa seizin dari saya!

31 Comments

Filed under Agama, Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Humor, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

31 responses to “Di Sini Terima Cuci “Kiloan”

  1. @ Cinta:🙂:mrgreen:
    @pandu13: Makasih.🙂

  2. Dulu…. konon sebelum zamannya kamera digital berjaya….

    Fotografer: “Mas, tolong bisa cuci filmnya nggak??”
    Yang punya lab foto: “Ooo… bisa… jangan khawatir nanti saya setrikain sekalian!!”
    Fotografer: “???????”
    :mrgreen:

  3. @Yari NK: Waka ka ka kak… Haha.:mrgreen:

  4. mawan

    Sip, sip, top bgt tebakannya

  5. heehehehe…
    mantap..mantap…
    blog myun

  6. artikel ini sangat bermanfaat.tks

  7. bagus arikelnya😀
    copy file ke CD aja dibakar..

  8. Memang Pak, kalo gak berhati-hati bisa menyebabkan munculnya ambiguitas makna.
    Kasian anak yang belajar kalo keseringan dapat salah makna. Ntar malah bisa ikut pelajaran sesat.
    Hahahah …

  9. mazidsah

    hu ha ha ha ha ha , bener juga tuh.

  10. dina

    mau saya share di fb boleh?
    alnya g ada link share nya..

    nanti saya cantumkan sumber nya

    thx

  11. hihi keren pak… itu mungkin loundry khusus pak😀
    btw belum update lagi pak?😀

  12. de sumer

    artikel yang bagus,, tidak hanya di sekolah,, di perguruan tinggipun sering terjadi hal seperti itu..
    hmn..

  13. hahaha
    bagus artikelnya…
    sering bgt tu ksalahan trjdi di skul q dan lingkungan q…

  14. hahaha. saya ngakak pak pas baca yang “jemaah yang bawa hp harus dimatikan!”😀😆

    kejem banget ya itu merbot. hihi..

  15. asslmkm,
    bpk.. silahkan kunjungi web saya:
    nama: ika peronika
    NIM: 0704621
    mujahidahmath@wordpress.com

    trmksh

  16. adeeth89

    wkwkwk…
    wah artikelnya Keren, pak.

  17. bahasa yang ringan dan membuka kesadaran berbahasa. terimakasih… buat mas jupri, salam buat keluarga, cintanya (muhibah) sampaikan maaf saya karena tak sempat hadir dipernikahan kalian… terima kasih…

  18. Assalamu’alaikum
    Bapak, ini blog saya http://fullfeelinlife.wordpress.com/
    oh iya pak saya Rachmi Latifah 0700788
    foto dan video as soon as possible diaplot pak 😀

  19. phiet

    hehe… nanti saya kulakan di kelas saya nggak papa tho pak …? nuwun. jadi pencerahan pak >_<

  20. alhamdulillah, pak jupri masih sempat utk sharing di blog ini. lanjutkan, pak, terus kembali dibukukan! semoga pak jupri dan keluarga senantiasa sehat dan sejahtera!

  21. abu

    maaf ikutan,
    saya juga ga paham asal-usul istilah pembilang dan penyebut dalam konsep pecahan, padahal dari makna kata ditelinga awam sangat dekat atau sama, misalnya:
    “jangan dibilang atau jangan disebut”. dulu sy kesulitan menghapal istilah dlm pecahan. knp ga sekaalian menggunakan numerator dan De-numerator. lebih mudah hanya dengan meng imbuhkan De sudah berbeda makna.

    tks,

  22. numpang lewat mawon……….

  23. rita

    jika kalimat lima dikali dua salah, lalu pengucapan yang benar apa?
    dalam cerita itu, siswa juga kurang menguasai bahasa atau memang iseng, bukankah bhsa ind. dari kali = sungai, sdngkn kali sndri itu adlh bhsa jwa, mungkin siswa salah penempatan kata, & sya ykin siswa itu sngaja iseng pd gurunya

  24. thank’s
    telah mengingat kan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s