‘Abu Nawas’ Bingung Memilih Capres

Cerpen oleh Al Jupri

Sebentar lagi, untuk yang kedua kalinya, negeri kita akan mengadakan pemilihan umum pasangan presiden dan wakilnya secara langsung. Para capres-cawapres sudah mulai aktif berkampanye. Dengan beragam cara: iklan di media masa, pencitraan lewat survey-survey, dan sebagainya. Mereka pun tiap hari  sangat rajin berkeliling negeri ini. Menebar janji-janji manis bagi calon rakyatnya. Namun, saat berkampanye, tak jarang antar pasangan saling menjelek-jelekkan.

Ada yang mengklaim bahwa hanya pasangannya saja yang layak dipilih karena pasangan-pasangan lain belum  memberi bukti, belum berpengalaman, hanya menebar janji, hanya menghembuskan angin surga, tidak bersih, tidak santun, dan lainnya. Sementara pasangan lain secara gamblang mengatakan bahwa kalau bukan karenanya maka perdamaian di negeri ini bakal sulit tercapai, pemerintah tidak mungkin berjalan dengan baik dan cepat, keputusan-keputusan tidak mungkin cepat dilakukan sebab penguasa utama yang saat ini ada tidak berani ambil keputusan (peragu), dan lain-lain.

Karena sebab tersebut,  rakyat kita banyak yang bingung dibuatnya. Tak terkecuali dengan ‘Abu Nawas’ yang pusing  tujuh keliling karenanya. Siapa Abu Nawas yang dimaksudkan di sini? Ya dia hanyalah seorang sopir angkot biasa–yang kebetulan disebut dengan panggilan itu. Para teman sesama sopir memanggil dengan sebutan itu karena tingkahnya mirip Abu Nawas–tokoh humoris dalam kisah-kisah klasik Timur-tengah yang termasyhur. Salah satu kisah sang “Abu Nawas” terkait pemilu presiden mendatang terurai berikut ini.

***

Sebagai warga negara yang baik, ‘Abu Nawas’ berniat akan menggunakan hak pilihnya di Pemilu presiden mendatang. Sayang, karena ada tiga pasangan, sang ‘Abu Nawas’ jadi bimbang. Setelah meminta pendapat istrinya, akhirnya tinggal dua pasangan yang kemungkinan akan dipilih.

“Uuugh, saya bingung nih, milih pasangan mana ya?” kata  ‘Abu Nawas’ ke Udin, salah seorang temannya.

“Ya, kamu, ga usah bingung dong! Tinggal nyontreng saja bingung!”

“Yeee, kamu itu, kita itu harus memilih pemimpin yang jujur, dapat dipercaya, adil, bukan yang menambah kesengsaraan rakyat, bukan yang pura-pura manis di depan rakyat!” ‘Abu Nawas’ bersemangat berkata begitu.

“Bingung kenapa?”

“Dari tiga pasangan, saya sudah pilih dua saja. Nah dua pasangan ini yang bikin bingung!”

“Mmm… kalau begitu, saya punya usul!”

“Apa?” tanya ‘Abu Nawas” dengan penuh rasa ingin tahu yang tinggi.

“Menurut tetangga saya, ada seorang kyai yang bisa dimintai nasihat dalam menentukan pilihan!” kata Udin, sengaja mengerjai ‘Abu Nawas’. Dia melakukan hal itu sebab dia tahu bahwa ‘Abu Nawas’ bakal melakukan hal-hal yang tidak lazim, termasuk meminta pendapat dalam menentukan pilihan pasangan capres-cawapres.

“O ya?” kata ‘Abu Nawas’.

Singkat kisah, maka ‘Abu Nawas’  dan Udin pun pergi akan menemui sang kyai yang diceritakan tadi. Hingga  mereka sampailah di sebuah persimpangan jalan menuju rumah sang kyai. Kebetulan rumah kyai itu amat jauh, di tengah hutan. Menurut cerita orang-orang, bila salah memilih jalan, maka bahaya akan mengancam: dimakan binatang buas atau tersesat dan tak bisa kembali pulang.

Di persimpangan jalan itu, tinggallah dua orang kembar yang sangat sulit dibedakan. Hanya mereka berdua yang mengetahui jalan yang benar menuju ke rumah sang kyai. Menurut cerita orang-orang sifat mereka benar-benar bertolak belakang. Yang satu selalu jujur, yang lain selalu bohong. Juga, yang aneh, mereka hanya mau menjawab satu pertanyaan saja.

“Abu, bagaimana nih bertanya pada dua orang kembar itu? Mereka aneh begitu,” tanya Udin dalam kebingungan.

“Mmm…” Abu nawas’ pun bingung, berpikir. Lalu dia berkata, “Ah, saya tahu caranya!”

Maka ‘Abu Nawas” segera menanyai salah seorang dari orang kembar tersebut.

“Apa yang akan dikatakan saudaramu bila ditanya jalan mana yang benar menuju rumah sang kyai: arah kiri atau kanan?” tanya Abu Nawas pada salah seorang kembar.

“Kiri,” jawab salah seorang dari mereka.

Setelah itu, ‘Abu Nawas’ dengan yakin bahwa jalan yang benar menuju rumah sang kyai adalah ke arah kanan.

“Hai Abu, bagaimana kamu yakin kalau arah kanan yang benar?” tanya Udin dalam keraguan. Udin ragu sebab dia tidak tahu apakah yang barusan ditanya oleh Abu Nawas adalah orang yang selalu jujur atau selalu bohong.

“Ya pasti arah kanan dong! Sebab salah seorang dari mereka menjawab arah kiri!” jelas ‘Abu Nawas’ pada Udin. Tapi sayang Udin masih belum mengerti. Dengan sedikit jengkel, ‘Abu Nawas memberi penjelasan pada Udin–seperti berikut ini.

Misalkan orang kembar tersebut adalah A dan B, dengan A adalah orang yang selalu jujur dan B adalah orang yang selalu bohong. Nah, karena saya bertanya: ““Apa yang akan dikatakan saudaramu bila ditanya jalan mana yang benar menuju rumah sang kyai: arah kiri atau kanan?” dan misalkan jalan yang benar adalah  ke arah kanan, maka bila yang kebetulan yang saya tanya adalah A, maka dia akan menjawab “kiri”. Nah, begitupula bila  yang kebetulan ditanya adalah B, maka dia pun akan menjawab “Kiri”. Karena itu, saya yakin bahwa jalan yang benar adalah ke arah kanan. Demikian penjelasan ‘Abu Nawas’.

“Ooo… begitu ya! Iya, iya, saya mengerti sekarang!” kata Udin dengan senyum gembira.

Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan, mengambil jalan yang arah kanan. Hingga sampailah mereka ke tempat yang dituju. Dengan segera ‘Abu Nawas’ pun menyampaikan kebingungannya pada sang kyai. Setelah mengetahui duduk persoalannya, sang kyai pun berfatwa.

“Pilihlah pasangan yang paling kanan!” demikian fatwanya. Sayang ‘Abu Nawas’ tak mendapat penjelasan lebih lanjut sebab sang kyai lebih tertarik ngobrol ke sana ke mari dengan ‘Abu Nawas’ dan kawannya. Tetapi, walau begitu, ‘Abu Nawas’ mengerti pasangan mana yang hendaknya ia pilih.

Setelah segala sesuatunya beres, ‘Abu Nawas’ dan Udin kembali pulang. Di perjalanan, Udin bertanya ke ‘Abu Nawas’.

“Abu, maksud kyai itu apa sih? Pasangan yang paling kanan itu siapa?”

“Ooo.. itu, sebetulnya saya juga bingung sih! Tapi, kalau secara matematis, yang paling kanan itu diartikan sebagai susunan nomor urut dan bila nomor urut itu menyatakan bilangan-bilangan pada garis bilangan, maka saya mengerti, saya tahu maksud sang kyai!” jelas ‘Abu Nawas’ sambil meneruskan perjalanan.

Sayang Udin masih belum mengerti penjelasan ‘Abu Nawas’. Namun, sang ‘Abu’ tak mau menjelaskan secara eksplisit apa yang baru saja dijelaskannya. Dengan bijak, secara tak langsung,  ‘Abu Nawas’ tak mau mempengaruhi pilihan Udin pada pemilu presiden mendatang. Dia sengaja memberi penjelasan tak gamblang, untuk memberi kesempatan pada Udin menentukan pilihan sesuai kehendaknya.

Catatan penting banget: Cerpen ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. Seseorang yang katanya selalu rindu dengan tulisan-tulisan saya.😀

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel (dalam bentuk cerpen) ini ada manfaatnya. Amin

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

26 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

26 responses to “‘Abu Nawas’ Bingung Memilih Capres

  1. Mmm, siapa calon yang paling kanan?

    Bukan kampanye kan?
    🙂

    btw:
    Catatan penting banget: Cerpen ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. Seseorang yang katanya selalu rindu dengan tulisan-tulisan saya.😀 Mas, makasih yaaa.

  2. Wah…. pilih yang paling kanan ya?? Berarti pasangan yang no. 3 dong?? Eiiiits….. nanti dulu. Kalo Abu Nawas ini tinggalnya di Timur Tengah (anggap saja si Udinnya adalah anak imigran Indonesia yang tengah bekerja di Timur Tengah… **maksa dikit**:mrgreen: ) yang mbacanya dari kanan ke kiri, kemungkinan yang no. 1 dong. Yang jelas, kasihan yang no. 2 dong, dibolak-balik tetep aja dia nggak pernah kebagian yang paling kanan. Huehuehuehuehue…..:mrgreen:

  3. mungkin tak hanya abunawas dan udin yang bingung, pak. selain ketiga pasang calon selalu mengklaim sebagai yang terbaik, mereka juga pintar membangun jargon dan retorika.

  4. hin

    tentukan pilihan,,, 5 menit di bilik suara akan menentukan 5 tahun bangsa ini kedepan… jagan salah pilih… dan JANGAN GOLPUT….!

  5. KangBoed

    hehehe.. nyang ketiga bingung ayeeeee.. capeee deeeeeeh..
    Salam Sayang

  6. Wah, kalo gitu, supaya pro-rakyat, lanjutkan menulis cerita-cerita yang lain lagi dong. Lebih cepat, lebih baik!:mrgreen:

  7. Yudi

    Abu Nawas ngece kalau kedua pasangan capres yang di kiri dan di kanan sama-sama ndak bisa buktiin min 1 tambah 3 sama dengan 2 tanpa pakai garis bilangan dan kalkulator. Eh tapi hasilnya kok sama dengan nomor urut pasangan capres yang di tengah ya. Wah berarti si Abu Nawas ngampanyein Golput nih.

  8. Nice post, postingan nya keren dan inspiratif nih…

    Thanks yah.

  9. zainurie

    Tapi dalam ajaran kita (muslim 100%) segala sesuatu yang paling di senangi oleh tuhan adalah yang tengah-tengah artinya tidak berat ke kiri atau ke kanan,…ini bukan kampanye lho…🙂

  10. zufri

    saya mengasumsikan bahwa saya mengerti maksud dari “yang paling kanan” sebagaimana yang dimaksudkan dalam tulisan al-Jupri….mungkin karena kemiripan nama kita kali yach😉
    namun jika mengkaji secara real seperti orang2, maka saya asumsikan saya tahu pasangan yang didukung sang kiyai…dan terlebih lagi, saya bisa prediksikan pasangan mana yang akan dipilih Abu Nawas….pasangan mana coba hayoooo????
    jika jawaban anda “yang paling kanan”……hehehehehe abis C ada D….Chafe Deeeeeeech….:-D….Ada 2 hal:
    Kemungkinan kiyai itu juga punya saudara kembar
    dan kiyai itu belum tentu yang selalu berkata benar, atau selalu berkata bohong….peace!!!!!

  11. zufri

    Kemungkinan kiyai itu juga punya saudara kembar
    dan kiyai itu belum tentu yang selalu berkata benar, atau selalu berkata bohong….peace!!!!!

  12. Hmm, minggu lalu ikut bantu sebuah lembaga survei. Aneh bin ajaib, mayoritas rakyat suka yang tengah. Padahal kan sudah gamblang…, kenapa ya?

  13. siapapun pilihan anda itu bagus semua asal jangan golput loh kalo golput kita yang rugi sendiri , ok saalam kenal

  14. Taufiq

    Wah, si kyai rupanya simpatisan/tim sukses…
    Empunya ni blog golput ga ya??

  15. Abu NAwasnya lagi dolan ke Indo yakss😀

  16. putra

    yah ialah…..
    so pastikan di tengah yg terbaik……..
    heheeee,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s