Menguji Kecerdasan Anak

Oleh Al Jupri

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu. Mana yang salah?” tanya seorang bapak pada anaknya beberapa waktu yang lampau. Diberi pertanyaan demikian, sang anak tampak berpikir, lantas berseru menjawab, Mangga!”

Saat memperhatikan kejadian tersebut, saya tersenyum dan kagum. Sang anak–yang saya perkirakan berusia enam tahun–bisa membuat kesimpulan yang benar dari serangkaian data yang diberikan padanya. Masih dalam kekaguman tersebut, tampak sang bapak kembali memberi pertanyaan lain.

“Mobil, Rumah, Motor, Sepeda, Gerobak. Mana yang salah?”

Lagi-lagi, kali ini tampak hanya dengan sedikit berpikir, sang anak menjawab dengan mudah, “Rumah!”

***

Setelah beberapa pertanyaan lain diberikan pada sang anak dan dia dapat menjawabnya dengan benar, sang bapak tampak bangga padanya. Sang bapak bercerita bahwa anaknya tersebut sudah bisa ‘ini dan itu’. Banyak hal yang dia ceritakan. Pertanyaan-pertanyaan tadi, yang ia berikan pada anaknya, adalah salah satu cara untuk melihat dan sedikit menguji kecerdasan anaknya. Begitu katanya.

Puas mendengar cerita ‘ini-itu’ dari sang bapak, saya pun iseng menanyai sang anak.

“Untuk pertanyaan tadi, yang tentang: Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu; kenapa kamu memilih jawab Mangga?tanya saya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Tujuan saya bertanya begitu adalah untuk mengetahui proses berpikir sang anak, serta untuk mengetahui alasannya mengapa dia bisa menjawab seperti tadi. Saat memberi pertanyaan, saya berharap sang anak akan menjawab bahwa alasan dia memilih kata “Mangga” adalah karena “Mangga” bukanlah nama sebuah warna melainkan adalah nama buah-buahan. Tapi apa iya alasannya begitu?

“Ya… karena biasanya setelah Merah, Jingga, Kuning, Hijau, danย  biru adalah Nila, bukan Mangga!”

Mendengar jawabannya begitu, saya langsung terkekeh. Ternyataย  alasan yang dikatakannya berbeda dengan dugaan saya. Rupanya dia hafal dengan urutan warna-warni pelangi.๐Ÿ˜€ Begitupula untuk pertanyaan kedua tadi: dia menjawab “Rumah” alasannya bukan karena “Rumah” adalah bukan jenis kendaraan, melainkan karena rumah tidak memiliki roda.

Saya sungguh kagum dengan alasan-alasan yang dikemukakan sang anak: Lucu dan cerdas! Apa yang dipikirkan oleh saya ternyata tak terpikirkan oleh anak-anak, begitupula sebaliknya.ย  Karena itu keisengan saya pun makin terusik, saya ingin menanyainya tentang matematika.:mrgreen:

***

“Lia kelas berapa?” begitulah saya mulai bertanya pada sang anak–bernama Lia (tentu bukan namaย  sebenarnya).

“Kelas satu!”

“Boleh enggak saya nanya!”

“Apa?”

“Di sekolah belajar matematikanya sampai mana?”

“Jumlah-jumlahan dan pengurangan.”

Mendengar hal tersebut, saya pun berpikir, memilih-milih bilangan untuk saya jadikan pertanyaan.

“Mmm… berapa hasil dari dua dikurang tiga?” tanya saya. Saya tahu anak SD kelas 1 belum mengenal bilangan negatif, namun saya iseng bertanya begitu. Sekedar ingin tahu bagaimana jawaban seorang siswa yang belum mengenal bilangan negatif.

Ditanya hal tersebut, sang anak mengacungkan jari-jari kedua tangannya. Di tangan kanan dia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah: menunjukkan angka dua. Di tangan kirinya dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis: menunjukkan angka tiga. Dia tampak berpikir, mulutnya komat-kamit melakukan perhitungan. Kemudian menjawab.

“Ya, kalau dua dikurang tiga, ya ga bisa doong!” begitu jawabnya sambil menunjukkan jari-jarinya.Tapi dia terlihat ragu.

Mendengar jawab tersebut, tak diminta, senyum saya pun tersungging, terasa geli bagi pikiran saya. Lantasย  saya mengatakan padanya bahwa sebetulnya bisa dijawab. Dan sang anak makin bingung tampaknya. Kemudian tanpa malu-malu dia berkata.

“Ya berarti kalau begitu dua dikurang tiga adalah satu!” katanya dengan penuh percaya diri, sambil tersenyum lebar.

Saya makin tersenyum. Mulanya akan memberi tahu bahwa dua dikurang tiga yang benar hasilnya adalah negatif satu. Tetapi, saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk membiarkannya: biarkan dia tahu dengan sendirinya, biarkan dia tahu berdasarkan apa-apa yang dipelajarinya di sekolah, biarkan dia berpikir sesuai taraf berpikirnya saat itu, biar kan dia berkembang apa adanya.

Catatan penting banget: Artikel ini ditulis untuk orang tercantik di duniamenurut saya, yang katanya selalu merindukan tulisan saya.ย  :D

==================================================

Ya sudah, segitu saja ya jumpa kita kali ini. Semoga artikel ini ada manfaatnya bagi kita semua–khususnya para orang tua yang sedang mendidik anak-anaknya (semoga berguna).

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

27 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Curhat, Harapan, Humor, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Tokoh

27 responses to “Menguji Kecerdasan Anak

  1. Orang Tercantik di Dunia

    Menarik sekali ceritanya, mas.
    Saya pernah punya cerita dengan anak-anak. Anak tetangga saya, yang berumur 5 tahun sedang belajar hitung-hitungan.
    Nah, suatu hari Ibunya melahirkan adik kembar untuknya. Dia cerita ke saya, “mbak adik saya sekarang jadi tiga,” katanya, karena dia sudah memiliki seorang adik tadinya.
    “Kok bisa?” saya tanya begitu.
    “Iya, tadinya kan adik saya satu, nah sekarang saya punya adik lagi dua,” katanya.
    Dalam hati saya menyimpulkan dia udah bisa penjumlahan. Terus saya nanya lagi, “kalo adiknya kak Ahmad (kakakny pas, dia punya dua kakak) kamu jadi berapa sekarang?”
    Tadinya dia bingung menjawab, karena tidak menyertakan dirinya dalam hitungan, tapi akhirnya dia menjawab “Jadi 4,” katanya.
    “Trus, adiknya mba nurul (kakak pertamanya) berapa?”
    “5,” jawabnya.
    Terus, saya bilang “Adikmu ada 3, adiknya kak ahmad ada 4, adik kak nurul ada 5, berarti adikmu, adik kak ahmad dan adik mba nurul jadi berapa?”
    “ada 3+4+5 jadi 12” jawabnya.
    “Banyak sekali, terus anaknya Ibumu berapa?” Tanya saya. Dia kebingungan. Apakah saya yang membingungkannya? Saya tidak tahu kenapa dia bisa jadi bingung. Saya juga tidak tahu apa yang dipikirkannya. Kemudian saya menuntunnya menghitung saudara-saudaranya.
    “ada 6 katanya,” saya bertanya lagi,
    “Anak Ibumu kan cuma 6, kenapa jumlah adikmu, adik kak ahmad dan adik mba nurul bisa jadi 12?”
    Dia tidak bisa memberi alasan. Dia cuma kebingungan dan lari meninggalkan saya, pulang ke rumah.

  2. Duh mas, komen saya di atas apa maksudnya? jadi panjang dan ga jelas. Terus kenapa nama saya berubah jadi orang tercantik di dunia?๐Ÿ˜€

  3. Anak2 sebenarnya adalah pelajar yang hebat loh, jangan pernah diremehkan. Kalau ditanya “2 kurang 3 sama dengan berapa?” Dan jikalau mereka ingin tahu, kasih tahu aja, tapi tentu mereka tidak wajib mengerti. Di jawab saja “kurang 1” berarti “kurangnya satu biji” dengan bahasa anak-anak. Untuk sementara biarkan konsepnya sederhana seperti itu. Bisa juga memakai alat bantu jari tangan untuk menunjukkan hal tersebut secara sederhana. Kalau masih nggak mengerti ya tidak usah dipaksakan.

    **sudah diterapkan pada anak2 dan keponakan2 saya**:mrgreen:

    Btw, udah punya keponakan belon??:mrgreen:

    @orang tercantik di dunia

    Buehehehe…..:mrgreen:

    • @YAri NK: Makasih Pak tambahan pengalamannya. Iya, betul, anak-anak adalah pelajar yang fantastis! Menakjubkan! Kita tak boleh meremehkan.

      Btw, udah sih punya keponakan, tapi masih bayiiiiiiii…๐Ÿ˜€

      Btw lagi, kok suka ketawa-ketawa siiih.:mrgreen:

  4. we… salut dg pak jupri, ternyata sangat akrab dan dekat dg anak2. kalau sejak kecil mendapatkan asupan pertanyaan seperti, kelak pasti makin banyak anak yang suka matematika, pak. ndak seperti saya, hehe ….

  5. JK

    salut ma nak itu…. salam klo ketemu lagi….

    salut juga ma anak yang “iseng” ma nak kecil…

    he he he…

  6. Bersayap tu … siapa ya teruntukknya

  7. Masa kanak-kanak emang hebat ya..rasa ingin tahunya tinggi. Dia gunakan semua indra yg dipunyainya hanya untuk “tahu”. Tapi mengapa setelah “gede” jadi ngga hebat (sebagian..), ya? Jangan-jangan kita yg “gede” yang bikin mereka ngga sehebat masa kanak-kanaknya??? Tapi ngga mungkin kanak-kanak terus, kan?? ach..sayang!!

    • Iya, hebat anak-anak itu, Pak! Jenius! Mmm.. mungkin jga ya gara-gara pendidikan yang salah urus… makanya potensi anak-anak jadi terbunuh…๐Ÿ˜ฆ

  8. Laporan: Mala, Minah (farah dina) dan Indri udah nikah, Hadi (yg di tu sma cinangka) mau nikah bulan Agustus ini, Insya Allah.

  9. Ada lagi yang dulu saya pelajari bila berhubungan dengan anak-anak.
    Jika anak memilih diantara dua, maka jawaban cenderung pada yang terakhir (berarti ini beda dengan di atas). Mau pilih baju yang warna biru atau merah?
    Jawabnya merah. Jika kemudian ditanya, jika merah dan kuning, pilih mana? Jawabnya kuning.
    Entah apa sekarang masih berlaku, soalnya saya belum punya cucu untuk di pake latihan.

    • Oh bu…. itu menandakan bahwa si anak sebenarnya tidak punya preferensi terhadap benda yang dipilihnya. Jikalau si anak ditanya: “Pilih baju apa, merah atau biru?” Lantas dijawab “biru”, terus ditanya lagi “Pilih baju apa, biru atau merah?” dijawab “merah”, itu kemungkinan besar si anak sebenarnya tidak begitu peduli dengan warna baju yang akan dipakainya. Nah, jika ia ditanya: “Pilih baju mana, merah atau biru?” jawabannya: “biru” terus kita balik “pilih baju mana, biru atau merah?” Jika ia tetap menjawab “biru”, kemungkinan besar si anak memang menginginkan baju yang berwarna biru.

      Namun kasusnya berbeda jika sudah mencakup karakter intrinsik dari suatu benda seperti kasus kang Jupri di atas. Jika ditanya “Apel warnanya merah atau kuning?” maka jikalau si anak sudah mengenal warna ia akan tegas mengatakan “Merah!”, begitu juga kalau dibalik: “Apel warnanya kuning atau merah?” maka si anak jikalau sudah mengenal warna maka ia akan tetap mengatakan “Merah…!”.๐Ÿ™‚

    • Setuju dgn komen Pak Yari.๐Ÿ˜€

  10. Nanang

    Saya membayangkan seadainya si anak enam tahun tadi menjawab pertanyaan pertama dengan jawaban jingga, atau kuning atau tidak menjawab sama sekali, masihkah dianggap anak yang cerdas? Saya berkeyakinan ya, ia cerdas.
    Kecerdasan tidak selalu paralel dengan kemampuan analisis rasio. Kecerdasan juga tentang kemampuan membedakan pertanyaan yang betul dan keliru? Pertanyaan pertama mengarahkan si anak untuk memilih benar dan salah. Apanya yang salah, apanya yang benar? Benar dan salah adalah soal nilai dan norma-norma. Jadi kalau si anak sejak kecil dididik dan diberdayakan kemampuan nurani dan naluri kemanusiaannya, barangkali ia akan bingung dan memilih diam atau menjawab sekenanya.

  11. Nanang

    FYI: artikelnya bagus๐Ÿ™‚

  12. dee

    hm…. pecinta anak sekaligus pemerhati anak y?
    saya sebenarnya yakin, kalo setiap anak adalah cerdas, dengan potensi khasnya masing-masing tentunya. tapi realitanya adalah orang dewasa sangat sukar untuk memahami “kecerdasan” mereka. ironisnya, mereka malah dianggap (maaf) bodoh karena ketidak pahaman orang dewasa dengan dunianya. rumit…

  13. Anak-anak itu jenius. Tapi perlu kesabaran dan usaha sungguh-sungguh untuk menemukan kejeniusan mereka.

  14. Saya terinspirasi dengan cerita-cerita pak jupri…
    terima kasih banyak

  15. Artikelnya sangat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s