Untukmu yang Kupanggil Cinta

Oleh Al Jupri

Cerpen ini merupakan lanjutan dari kisah “Romantis dengan Matematika (Part1 + Part 2)”

Sabtu siang, sekitar pukul 13:00-an, seperti biasanya Pak Zero menuju toko buku langganannya. Setiba di tempat tujuan, Pak Zero langsung ke tempat buku-buku yang menyangkut matematika.

Sayang seribu sayang, ternyata, setelah mencari-cari dan bertanya-tanya–pada petugas di toko buku tersebut, buku-buku matematika yang dicarinya tidak ada. Kecewa rasanya, tapi Pak Zero tak bisa berbuat apa-apa. Untuk mengganti kekecewaaannya, Pak Zero menuju tempat buku-buku sastra. Sekedar refreshing, mencari bacaan ringan kesukaannya.

Sebetulnya Pak Zero tidak begitu suka dengan sastra. Dia cuma suka membaca-baca buku-buku  sastra, seperti: kumpulan cerita, novel, atau kumpulan dongeng. Jadi, bisa dibilang, Pak Zero cuma sebagai seorang penikmat karya -karya sastra.

Dari sekian karya-karya sastra yang ada di toko buku tersebut, Pak Zero tertarik pada sebuah novel yang judulnya: Untukmu yang Kupanggil Cinta”. Tanpa dikomandoi lagi, Pak Zero pun langsung mengambil sebuah,dari setumpuk nolvel yang ada. Dilihat dari penulisnya, rupanya tidaklah terkenal. Dilihat dari penerbitnya pun Novel tersebut tidak diterbitkan oleh penerbit buku-buku sastra terkenal.

“Ah, cuma judulnya saja yang menarik!” gumam Pak Zero, seraya akan menyimpan kembali novel tersebut.

Hampir saja novel tersebut diletakkan. Tapi kemudian Pak Zero tiba-tiba berpikir, mengurungkan niatnya. Kemudian diapun membaca sinopsis novelnya–yang terletak di belakang cover novel tersebut. Ada satu kalimat menarik–menurutnya, yang terdapat dalam sinopsis dalam novel tersebut. Menariknya kalimat tersebut bukan karena keindahan kata-kata terpilih yang menyusunnya. Namun karena kalimat yang disusun oleh sang penulis novel terasa kaku dan kurang enak dibaca.:mrgreen: Inilah kalimat yang menurut Pak Zero menarik–namun tidak nyastra tersebut.

“Bila dilandasi cinta, maka hidup kita akan bahagia.”

“Ha ha… masa sastrawan bikin kalimat begitu sih? Kaku bangeeeeeeeeet!” kata Pak Zero dalam hati, ditandai dengan senyuman kecil.

Justru karena kalimat tersebut tidak nyastra, tidak indah, dan bahkan cenderung kaku serta tidak pantas dikemukakan oleh seorang novelis atau sastrawan, Pak Zero jadi teringat-ingat dengan kalimat tersebut. Sambil senyum-senyum sendiri memperhatikan novel tersebut, Pak Zero berpikir.

Dipikir-pikir, ternyata kalimat kaku tersebut bisa ditinjau secara matematis. Ya, kalimat kaku tersebut dapat dipandang sebagai sebuah pernyataan benar berupa teorema dalam matematika. Begitulah yang dipikirkan Pak Zero.

Secara matematis, pernyataan barusan dapat dipandang sebagai sebuah pernyataan (teorema) berbentuk implikasi, “Jika p, maka q.” Dalam matematika, pernyataan implikasi ini ekivalen alias sama  maknanya dengan pernyataan, “Jika tidak q, maka tidak p.”

Dengan demikian, pernyataan dalam sinopsis novel tersebut dapat dinyatakan dengan perkataan lain begini:

“Bila kita tidak bahagia, berarti hidup kita tidak dilandasi dengan rasa cinta.”

Masih sambil tersenyum kecil, Pak Zero masih asyik berpikir dan melihat-lihat novel tidak terkenal tersebut. Tiba-tiba, lamunan Pak Zero terpecah, dua orang gadis cantik menyapanya–yang ternyata adalah mahasiswi-mahasiswinya.

“Eh bapak, lagi apa Pak?” tanya salah seorang mahasiswi. Mendapat sapaan begitu, Pak Zero kaget. Kaget bukan hanya karena disapa, tapi karena yang menyapanya adalah mahasiswi matematika yang ditaksirnya.

“Mmm.. enggak, cuma lagi lihat-lihat novel aja!” singkat jawab Pak Zero, sedikit gugup.

“Lho, kalian ngapain juga?” balik Pak Zero bertanya.

“Ini Pak, kami sedang nyari buku-buku sastra, tugas mata kuliah bahasa Indonesia!” jawab seorang mahasiswi yang lain.

“Tugasnya apa?”

“Ini, Pak, kami disuruh meresensi novel!” jawab mahasiswi yang ditaksir Pak Zero.

Kemudian kedua mahasiswi tadi sibuk mencari-cari novel. Sedangkan Pak Zero masih terdiam di situ, memegang novel berjudul: “Untukmu yang Kupanggil Cinta.”

***

“Mmmm… kalau begitu bapak belikan saja buat kalian novelnya ya?” kata Pak Zero berbaik hati pada kedua mahasiwinya tersebut. Mulanya kedua mahasiswi tersebut enggan, mereka tidak mau dibelikan. Tetapi, dengan berbagai alasan yang masuk akal, akhirnya kedua mahasiswi tersebut dengan senang hati menerimanya.

Ya, Pak Zero membelikan dua novel berbeda. Novel pertama yang berjudul: “Untukmu yang Kupanggil Cinta” untuk mahasiswi yang ditaksirnya, sedang novel kedua berjudul: “Bukan Jaman Siti Nurbaya” untuk mahasiswi lainnya.

***

“Duh, pas bener euy, kebetulan sekali saya membelikan novel tadi buat seseorang yang menawan hati ini!” begitu guman Pak Zero dalam hatinya, saat sudah berada di rumah kontrakannya, saat Sabtu malam alias malam Minggu. Saat melamun begitu, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk.

“Assalamu’alikum. Pak, makasih ya pemberian novelnya! Bagus, lho, isinya!”

Ternyata yang mengirim adalah mahasiswi yang ditaksirnya. Waaaaaaaaah, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, senang rasanya hati Pak Zero dibuatnya.

Dengan hati-hati dan penuh rasa cinta (yang mungkin bertepuk sebelah tangan), Pak zero membalas pesan singkat tersebut.

“Wa’alaikum salam. Iya, sama-sama makasih. Mudah-mudahan bermanfaat! Mmm… maaf kalau saya harus mengatakan bahwa judul novel tersebut mewakili perasaan saya padamu. Sekali lagi maaf…”

Bagaimana kisah selanjutnya: apakah pesan singkat Pak Zero tersebut akan dibalas? Bagaimana sikap sang gadis yang ditaksir Pak Zero? Kita tunggu cerita selanjutnya.

Bersambung….

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel berbentuk cerpen ini bermanfaat. Amin.

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan penting: Cerpen ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. :D  (Iiih kok niru-niru cerpennya sih?)

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

24 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Humor, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra, Tokoh

24 responses to “Untukmu yang Kupanggil Cinta

  1. Yang kau panggil cinta

    Terima kasih pak cerpennya.🙂

  2. @Yang kau panggil cinta:😀 Ini dengan siapa ya?😀

  3. Yah… Bersambung.
    Om Jupri bisa aja nih bikin ceritanya. Menarik, bagus!😉 Btw, soal logika selalu jadi langganan tuh di Try Out UN SMA no. 1. Biasanya disuruh cari ingkaran dari kesimpulan silogisme.

  4. Pak Zero itu benar-benar dosen yang baik hati ya? Ada mahasiswi mau ngerjain tugas dibeliin buku. Kisah nyata bukan, Pak?🙂

  5. @Alias: Makasih! Iya, logika matematika itu penting, termasuk untuk UN.😀

    @mezzalena:😀 Fiktif kok mba… kan namanya juga cerpen.😀😀

  6. Sebetulnya Pak Zero tidak begitu suka dengan sastra. Dia cuma suka membaca-baca buku-buku sastra, seperti: kumpulan cerita, novel, atau kumpulan dongeng. Jadi, bisa dibilang, Pak Zero cuma sebagai seorang penikmat karya -karya sastra.

    Tapi…. kalau lagi jatuh cinta, mau tidak mau, harus senang sastra juga, apalagi kalau sang pacar juga menyenangi sastra. Bukan hanya untuk menyesuaikan diri dengan sang pacar, tapi terlebih untuk membuat puisi2 sebagai rayuan2 gombal yang bernilai sastra untuk sang pacar…. huehehehehe…..:mrgreen:

  7. Taufiq

    Saya jadi curiga kalau sosok pak Zero tak lain dan tak bukan adalah representasi dari yang punya blog ini, yang tak lain dan tak bukan adalah Al Jupri, yang tak lain dan tak bukan masih memiliki hutang sebesar Rp 1.520.931,46 yang tak lain dan tak bukan karena kesalahannya sendiri. Hutang tersebut tak lain dan tak bukan harus dibayar dengan, tak lain dan bukan, uangnya sendiri.

  8. @Yari NK: Waduh, jadi Pak Yari Menuduh Pak Zero, kalau pacarnya suka sastra gitu ya? Terus dia ikut2an suka sastra?:mrgreen:

    @ Taufiq: Fiq, apa kbr? Waduh ada yang nagih hutang neh…:mrgreen: *kabur aaaaaaaaaaaaah… takut ditagih euy… : susah bayarnya… *

  9. ILYAS ASIA

    kapan Mr. Zero ultah??

  10. endsu

    Logika cinta, bagaimana loginya…

  11. Jika sebuah fungsi bisa diturunkan untuk faktor yg dipanggil cinta. Maka fungsi itu bisa Real, bisa juga Complex.

    Jadi cinta itu real tapi complex, hehe…

  12. JK

    salam kenal pak….

    dari malang tapi keturunan probolinggo

  13. bagus sekali cerpennya…

    di tunggu kisah cinta selanjutnya..???

  14. salam hormat dari MEC HIMATIKA IDENTIKA UPI, sebuah blog yang belum rampung…>>>

  15. Asur

    Wah..wah.. bagus juga cerpennya..
    (bisa jadi trend baru nih di dunia sastra…Sastra-matematika)
    ditunggu sambungannya..(dan karya-karya selanjutnya)
    btw..mudah-mudahan endingnya.
    ga gampang di tebak ya, Jup.

  16. Salam
    Ouch.. its so cool, bisa bikin istilah baru kali ya, mmmff…gmn klo matestra alias matematika dalam sastra, sae pisan seratanana, abdimah curious pisan kumaha engke endingna.
    diantos..🙂

  17. @Semuanya: Untuk semuanya, makasih ya udah pada komen.😀

  18. nuril eka

    sastra dan matematika memang sering saling beradu punggung…. namun disini kulihat mereka dapat berpelukan…. nice post

  19. bintang

    romantis niannnn🙂

  20. Cahdiana

    “Bila dilandasi cinta, maka hidup kita akan bahagia.”
    senilai dengan
    “Bila kita tidak bahagia, berarti hidup kita tidak dilandasi dengan rasa cinta.”

    bisa mincul kata “rasa” dari mana yah.. :p

    pa kabar Pri

  21. laily

    cerpennya bagus. saya mau tanya. unsur intrinsik dari cerpen itu apa saja pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s