Cara Matematis Selesaikan Pertengkaran Rumah Tangga

Oleh: Al Jupri

Peringatan: Artikel ini cocok dibaca oleh Anda yang sudah berumur 17 tahun atau lebih. Bagi yang di bawah umur, silakan minta bimbingan orang tua atau  guru Anda! Selamat membaca!

“Sayang, Aa sudah di perjalanan nih! Udah sarapan belum?” begitulah kata-kata yang terucap oleh salah seorang teman saya lewat telepon genggamnya pada kekasihnya.

“Halah, sayang-sayang, pas udah nikah nanti, pasti enggak bakal romantis gitu!” komentar seorang bapak, yang juga teman saya, yang kebetulan sudah mempunyai istri dan anak.

Mendengar komentar tersebut, saya yang ikut dalam rombongan perjalanan, tertarik berkomentar. “Begitu ya, Pak? Emang bapak juga dulu saat masih pacaran begitu?”

“Ah bukan saya saja Al! Umumnya juga pasti begitu! Sok aja tanyakan ke yang sudah berkeluarga!”

“Oya? Begitu ya, Pak?”

“Iya, kalau masih pacaran mah, segalanya serba indah! Kalau berbuat kesalahan kita bisa saling  memaafkan, saling pengertian! Eh pas sudah nikah ga ada tuh yang kayak gitu! Yang ada malah bertengkar!”

“Maksudnya, Pak?” lagi saya cerewet bertanya.

“Ya, contohnya begini: saat pacaran, kalau jalan bareng dan pacar kita kesandung batu misalnya, wuuuh sampai-sampai batunya yang dimarahin! Eh, kalau sudah menikah dan kita lagi jalan bareng, saat istri kesandung misalnya, apa coba bilangnya?”

“Apa, Pak?”

“Matamu disimpan di mana?  Batu ditendang!”

“Ha ha ha… Masa, sih, begitu Pak?

“Ya kalau enggak percaya, coba saja nanti kalau kamu sudah menikah, buktikan sendiri!”

Begitulah ringkas perbincangan yang pernah terjadi. Walaupun mungkin apa yang dikatakan sang bapak tadi belum tentu benar, tetapi saya teringat dengan kata-katannya hingga saat ini.

***

Waktu pun berlalu, sampai saya membaca satu buku yang sudah populer di kalangan penggemar filsafat di tanah air kita. Ya, saya membaca buku berjudul:  “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer”, karangan Jujun S. Suriasumantri, yang diterbitkan oleh Pustakan Sinar Harapan tahun 2003.

Sebetulnya, saya tidak begitu tertarik membaca buku-buku filsafat. Tetapi karena dalam buku tersebut ada bab yang membahas tentang matematika, maka saya pun tertarik untuk membacanya.

Tak disangka, dalam bab yang membahas tentang matematika, saya disuguhi kisah menarik tentang pasangan pengantin baru yang dalam masa berbulan madu. Kisah tersebut mengingatkan kejadian yang pernah saya alami tadi–tertulis di awal-awal artikel ini.

Kisahnya, dengan sedikit modifikasi oleh saya sendiri, adalah sebagai berikut.

Tersebutlah sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu, menikmati masa-masa awal kehidupan berumah tangga.  Sebut saja mereka adalah Udin dan Wati.

Dulu, semasa pacaran, Udin dan Wati tampak  begitu akur, rukun, saling pengertian, dan cocok dalam segala hal. Tak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Bila salah seorang berbuat kesalahan, maka yang lain memaafkan. Bila salah seorang di antara mereka  berbuat lupa, yang lain mengingatkan. Bila salah seorang di antara mereka sakit, yang lain begitu perhatian. Ah, pokoknya sungguh indah hubungan yang terjadi di antara mereka. Karenanya tak ragu mereka pun menikah dengan senangnya.

Tetapi, tak berapa lama setelah akad nikah, bahkan saat masih masa bulan madu, segalanya berubah. Karena hal-hal sepele, mereka tak segan untuk bertengkar. Saling diam, tak mau bicara di antara mereka. Tiap kali dilakukan usaha perdamaian, yang ada adalah emosi untuk ribut lagi-ribut lagi. Padahal usaha berdamai di antara mereka sudah melibatkan kedua orang tua. Tapi  selalu saja usaha berdamai menemui jalan buntu.

Hingga atas saran ayah Wati, yang merupakan mertuanya, Udin diminta untuk menemui ketua RT (Rukun Tetangga) agar mendapat wejangan bagaimana hidup berumah tangga yang baik.

Udin: “Pak RT bagaimana, nih, caranya bisa berdamai dengan istri tercinta saya?”

Setelah diceritakan masalahnya, setelah duduk persoalan diketahui, maka sang ketua RT yang juga merupakan seorang dosen filsafat matematika pun memberi petuahnya.

Ketua RT: “Ya, mudahnya, cobalah berkomunikasi dengan bahasa matematika!”

Di hari yang sama, namun dalam waktu berbeda, atas saran ibunya, Wati pun menemui sang ketua RT. Lagi-lagi Pak RT tersebut memfatwakan agar Wati berbicara dengan bahasa matematika.

***

Malam hari saat kedua sejoli tadi bertemu, saat keduanya akan bersama dalam peraduan mereka, terjadilah komunikasi matematis nan romantis berikut ini.

Dengan matanya yang tajam, Udin menatap mata indah istrinya. Mata itu mengatakan segalanya. Kemudian, Udin mengacungkan telunjuknya yang membentuk angka satu. Wati terdiam dalam degub jantung yang tak tentu, dag-dig-dug tidak karuan, terpana. Lalu menjawab dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Kini Udin berbalik terbungkam diam, senyap, tanpa ada kata-kata. Dia ragu-ragu. Tapi dia tertantang, lalu mengangkat tangan kanannya membentuk angka tiga: telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya. Tak ayal lagi Wati pun berteriak, lari, memeluk erat suaminya, dengan dekapan terhangat yang dia miliki. Ya, dekapan halal seorang istri untuk suaminya. Dekapan yang sepenuh jiwa dan rasa. Maka separuh-separuh jiwa yang berserak di antara mereka pun bersatu dengan bahagia. Mereka pun kembali  menikmati indahnya bulan madu–yang melebihi keindahan masa-masa pacaran mereka dulu.

Esok hari, pagi-pagi sekali, Wati menemui Pak RT-nya. Menceritakan keajaiban bahasa matematika yang disarakannya.

Wati: “Biasanya, begitu mulai bicara untuk berdamai, maka kata-kata pertama selalu disalah-artikan, hingga kami selalu bertengkar. Tapi kemarin malam dia tidak berkata sepatah katapun, dia hanya menatap dengan mata kelelakiannya.  Dan berkata bahwa: “Kaulah satu-satunya yang kucintai’. Hati saya tersentuh dan trenyuh, naluri kewanitaan saya luluh, jawab saya, ‘Kau pun satu-satunya yang kucintai, kita adalah sepasang gunting, yang kalau sebelah tidak ada artinya.’  Eh, mendengar jawaban saya itu, dia menjadi binal, muka saya merah mendengarnya, ‘Marilah kita bikin belahan ketiga’.

Sore hari, Udin, dengan wajah berseri-seri datang pada sang ketua RT. Dengan bangga dan bahagia dia bercerita.

Udin:Matematika memang bahasa yang eksak, cermat dan terbebas dari emosi. Sejak hari ini saya akan bersungguh-sungguh belajar matematika.”

Ketua RT: “Coba ceritakanlah apa yang terjadi?”

Udin: “Karena dia tak mau mengerti saya, karena tiap kata-kata saya selalu disalah-artikan olehnya, maka langsung saja saya ultimatum: satu!”

Ketua RT:“‘Lalu bagaimana jawabnya?”

Udin: “Dia memang perempuan keras kepala. Dia tidak takut, atau pura-pura tidak takut, terhadap ultimatum saya, malahan menantang: Dua!”

Ketua RT: “Hah?”

Sang ketua RT mendesis, membuka kaca mata tebalnya!

Udin: “Ya, dua. Dia menantang dengan dua. Artinya, melakukan kontra-ofensif terhadap ultimatum saya. Saya serba salah, saya jadi ragu: bagaimana kalau ultimatum-ultimatum saya berakhir tragis? Tetapi kelelakian saya tersinggung dengan tingkahnya itu, serta mungkin saja dia pura-pura berani, dalam hatinya siapa tahu. Benar juga, ketika ultimatum saya habis, bersama kesabaran dan harapan saya: Tiga! Diapun menyerah dan mendekap saya dengan dekapan paling mesra yang dia punya. Eureka! Semoga Tuhan memberkati matematika!”

Kisah asli dari cerita pengantin baru ini bisa Anda baca di buku yang sudah saya sebutkan tadi, pada halaman 189-190.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil?

Menurut hemat saya, bagi kita yang belum berkeluarga,  kita berharap semoga dalam kehidupan rumah tangga kelak (bila sudah menikah), tidak terjadi hal-hal seperti yang ada dalam cerita di atas. Tetapi bilamana terjadi, semoga kita bisa lebih bijak dalam menyikapinya.

Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga, semoga cerita di atas menjadi contoh yang tidak patut diteladani.😀

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Semoga artikel ini ada manfaatnya. Amin.

Mohon maaf, setelah sebulan penuh sibuk dengan aktivitas dunia nyata, baru saat ini sempat mengisi blog ini lagi. Maaf yaa….😀

=======================================================

Catatan penting: Artikel  ini ditulis untuk Anda yang sudah amat rindu dengan tulisan-tulisan saya.😀:mrgreen:

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

31 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

31 responses to “Cara Matematis Selesaikan Pertengkaran Rumah Tangga

  1. Hammad Fithry Ramadhan

    mantap mas ceritanya…..kadang dalam kehidupan berkeluarga persoalan kecil yang dulu ketika pacaran telah selesai,kadang bisa jadi menjadi masalah besar apabila dibicarakan kembali. Intinya ketika kita menyatakan siap menikah, berarti kita bukan hanya siap menerima kelebihan pasangan kita namun juga siap menerima kekurangannya. Bagaimana menurut mas lebih memilih mana?”Beda pendapat atau beda pendapatan”?

  2. Jadi, matematika = bahasa simbol?

  3. *ngacungin lima jari ke suami*

    apa hayo artinya??

  4. guskar

    dalam masa pacaran, bahasa verbal sangat diperlukan dalam berkomunikasi. setelah berumah tangga nanti, semakin berkurang komunikasi verbal tadi, banyak menggunakan bahasa tubuh. salah tafsir, terpiculah pertengkaran antara suami istri. konyolnya, pertengkaran akan reda setelah bermain matematika tadi, sementara persoalan yang menjadi pangkal pertengkaran tidak pernah terselesaikan

  5. Hmm… Habis bertengkar sama istri Pak? *Ups! Ngaco, belum beristri ya? maaf2😀 *

  6. @ Hammad Fithry Ramadhan: Makasih!😀 Mmm…beda pendapat ataua pun beda pedapatan mungkin sult dihindari.😀

    @M Shodiq Mustika: Iya, Pak! Matematika adalah bahasa simbol!😀

    @ nika: Ga tahu mba? Blm tahu mba…😀
    @guskar: bahasa nonverbal? gmn?😀

    @mezzalena: Iya, mba ngaco nih!😀 :mrgreen😀 *maaf2*😀

  7. Bahasa matematika campur puisi:

    (untuk 10 tahun kemudian setelah menikah)

    satu tambah satu sama dengan dua
    oh mamah alangkah mesranya dulu kita bulan madu berdua…..

    dua tambah satu sama dengan tiga
    cinta papah terhadap mamah sampai kini tetap terjaga….

    gombal!:mrgreen:

    NB:

    -Papah atau mamah nulisnya belakangnya pakai ‘h’ nggak sih??
    – Yang belum 17 tahun lebih baik merem aja yah….!!:mrgreen:

  8. bener gbt,,,
    ktika pac**** bgitu perhatian,,
    pas nikah,,, hrerrrr….

    mdh²an nnti jgn spt itu ah,,, amien,,,

  9. Just passing by.Btw, your website have great content!

    _________________________________
    Making Money $150 An Hour

  10. @Yari NK: Waaaaaaaah.. tepuk tangan buat Pak Yari… :d *Btw, sy blm boleh baca dong ya?😀 *

    @dwi_Oi: Amin!😀

    @ Mike: Thanks.😀

  11. YaQeen Ahmad

    MasyaAllah, bahasa matematika sungguh punya ajaibnya. kelangsungan bahasa matematika dan bahasa verbal punya warna yang indah. saya ambil manfaat ini untuk kebaikan kelak. terima kasih atas info!

  12. @YaQeen Ahmad: Terimakasih juga atas kunjungannya!😀

  13. endsu

    Saya pernah baca buku itu…bagus lah. Cerita yang diambil juga hebat. Biarkan mereka yang mengambil kesimpulannya…tp emang aga susah bagi yang belum pernah nikah mah….he he

  14. Salam kenal mas Jufri (ngga keberatan kan saya panggil demikian). Jadi senyum-senyum sendiri nih waktu baca artikel mas. Ceritanya dapat dijadikan salah satu motivasi kecintaan terhadap matematika. Merubah anggapan…matematika ternyata menarik dan menyenangkan…bukan momok yang menakutkan.

  15. Selain matematika u/ 17 thn keatas, ada juga u/ semua umur dan rasanya ‘legend’ banget…
    “satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak…1,2,3…sayang semuanya…” hehehe🙂

  16. @fahruddin muhtarulloh: makasih ya…😀

  17. adit38

    Hihi….
    Lucu jg, saya pinjam ceritanya untuk selingan dikelas ya kang jupri…

  18. Mantapp..

    Walopun maknanya

    ambigu..

    Namun trnyata bhs matematika

    bisa buat pasangan brsatu,he..

    Mungkin kbetulan aja y? Klo ci istri gag meluk kyaknya salah faham ci suami mkin dalam,
    perang lg dhe..haha..

  19. Guest Who

    wah baru tahu nih, tp boleh juga.

    salam kenal
    Mp3 Lagu Indonesia

  20. Just Comment

    ass…
    hmm…cerita tadi kan untuk suami kepada istrinya tuh mas. kalo sebaliknya bisa ga yah??

  21. Seli Siti Sholihat

    Asslkm
    Kerenzzzzzzzz…..
    Jadi makin cinta ma matematika.., hehe…
    Berumah tangga tuh ga gampang lho..(cie…sok tau!) Btw, setelah Kami menjalani pernikahan hampir 10 tahun.. Emang matematika sedikit banyak membantu lah…
    contoh:
    1. cek saldo rek (tkt dipake “macem-macem”, hehe..)
    2. cek jam pulang kantor suami (hehehe…)
    ^_* bingung…pa lagi ya? ada masukan?”

  22. Salam
    he..he.. tulisan ini bikin tersenyum simpul di jam 11 kurang 1o malam ini😀
    nice posting euy

  23. Nuyz

    subhanallah skali…
    T’nyata matematika yg slama ini dkat dd saya, bsa b’manfaat bgi p’soalan rmah tngga jg
    dtunggu krya2 brikut’y ya …

  24. aderohayati

    saya berikan apresiasi atas karya yang pak Aljupri buat.

  25. aderohayati

    saya sampaikai apresiasi atas karya yang pak Aljupri buat.

  26. putri

    hmmm,,,

    jadi nghayal nie,,

    hehe,,

    klo suami-istri itu ternyata berasal dari dunia matematika juga,
    gmn y kisahnya???

    ,n_n,

    ah pak,
    bqin putri jd nghayal d,,

    hahahaha…

  27. putri

    bagus juga cara matematisnya,,tapi kurang jitu

  28. Kreatiff………… Matematika juga bisa nyelesain pertengkaran rumah tangga. Mantap Mas menghadirkan matematika dalam versi yang berbeda……………..

  29. atep

    mhon bantuannya ea mas…salam kenal az…
    saya bru hmpir 2 blnn nikah tp dah tmbul ktidak harmonisan ,,selalu ada az pertngkaran,,,pdahal hnya spele,,cma kdang sya/suami slah dkit ,mrahnya ampe kluar kta2 kasar,mmg bnar slalu bisa ngomong marah,,,tp seandainya dia eang bkn ksalahan sya tgor halus tp ttp sya slalu slah ,,ssah bnget gk mau kalah ,,gk luluh,,,mmg sptnya emosian keras kepala ,,slalu gk ada ksabaran…gmn ea mas solusinya sya gk ngerty msalah secara matematis!!!

  30. fatma

    🙂 emh… saya juga pernah baca di buku filsafat yang dimaksud… menarik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s