Cintaku di Kampus Para Wali

Cerpen oleh Al Jupri

“Anak-anak, kalian sekarang sudah kelas 3 Madrasah Aliyah. Sebentar lagi kalian akan lulus, meninggalkan sekolah kita ini,” demikian kata Bu Sofie, guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah si Cinta, saat memberi bimbingan.  Ya, Cinta, salah seorang siswi kelas 3 Madrasah Aliyah– salah sebuah jenis sekolah keislaman setingkat SMA di negeri kita ini.

“Karena itu, tentu ada sebagian dari kalian yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, dan pula ada sebagian dari kalian yang akan terjun dalam dunia kerja. Kali ini, ibu akan membahas tentang dunia perguruan tinggi supaya kalian memiliki gambaran yang jelas,” begitulah kata Bu Sofie. Cinta dan juga teman-teman lainnya, menyimak guru BK mereka dengan antusias, dari awal hingga akhir.

Setelah penjelasan panjang lebar tentang sekilas dunia perguruan tinggi, sebelum menutup kelas, Bu Sofie meminta anak-anak yang berminat ke perguruan tinggi untuk menemuinya di ruang BK hari senin pekan depannya.

***

“Iya bagus, Cinta! Ibu mendukung kamu melanjutkan ke perguruan tinggi, apalagi secara akademis kamu mampu! Nilai-nilai rapormu sangat bagus, hampir 9 semua: kau selalu jadi yang terbaik!” ujar Bu Sofie pada si Cinta dengan bangga, di ruangannya.

“Tapi Bu… kata Cinta tertahan.

“Tapi apa? Apalagi? Ibu yakin kamu mampu, secara akademis, melanjutkan ke perguruan tinggi manapun. Apa kamu masih bingung memilih perguruan tinggi?” begitulah tanya Bu Sofie, yang terkenal cerewet, nyerocos, tapi baik orangnya.

“Mmm… bukan begitu, Bu! Sebetulnya….” Cinta masih menutup mulut, belum berterus terang pada guru BK-nya. Bu Sofie hanya geleng-geleng, heran, bertanya-tanya ada masalah apa yang dihadapi muridnya itu.

“Ya sudah Bu, nanti saja besok-besok saya ke ibu lagi…” kata Cinta, seraya minta ijin untuk kembali ke kelasnya.

“Baiklah kalau begitu, kalau kamu masih belum bisa menjelaskan, ibu tunggu ya kabar selanjutnya. Tapi, segera beri tahu masalahmu ke ibu, OK?”

***

Di kelas, Cinta masih melamun saja. Dalam hati kecilnya, dia sungguh ingin melanjutkan ke perguruan tinggi  (PT) yang baik kualitasnya. Semacam perguruan-perguruan tinggi berlambang gambar gajah di negeri kita ini. Tapi, dia memikirkan kemampuan keluarganya. Dia merasa, keluarganya tak akan sanggup membiayainya kuliah ke PT yang mahal biayanya tersebut.

Selanjutnya dia teringat kata-kata Bu Sofie, bahwa dia sesungguhnya mampu melanjutkan ke perguruan tinggi manapun–ini ditunjukkan dengan prestasi akademis rapornya yang hampir selalu meraih 9.

“Hmmm… sembilan! Buat apa nilai-nilai itu kalau cuma indikator mampu akademis? Bukan itu yang saya butuhkan, tapi saya ingin kuliah!” demikian desah dan gumamnya, dalam pikirannya, seperti putus asa.

Sambil memikirkan nilai-nilainya yang kebanyakan sembilan, Cinta iseng-iseng corat-coret di buku tulisnya.

9 x 1 = 10 – 1

9 x 2 = 20-2

9 x 3 = 30-3

9 x 4 = 40-4

9 x 5 =50-5

dst.

“Aha… menarik juga ya utak-atik angka sembilan ini!” kata Cinta dalam pikirannya. Kemudian dia asyik mengutak-atik perkalian sembilan dengan bilangan lainnya. Misalnya, 9 x 7 = 70 – 7;  dan 9 x 9 = 90-9.

“Mmmm… apakah sifat tersebut berlaku juga untuk perkalian antara sembilan dengan bilangan yang lebih dari 10 ya?” dia masih meneruskan utak-atiknya.

Demikianlah yang dilakukan si Cinta. Corat-coret bilangan 9, menemukan sifat-sifat cantik dari perkalian dengan bilangan ini.

“Ah, sembilan memang cantik, indah! Saya jatuh hati padanya! Mmm.. saya ingin kuliah matematika, tapi di mana?” demikian perasaan si Cinta: di satu sisi dia menemukan keasyikan tersendiri dengan utak-atik bilangan 9, di sisi lain, mimpinya untuk melanjutkan kuliah makin besar saja.

***

Bu Sofie: “Cinta, kalau memang keadaan keluargamu tidak memungkinkan untuk kuliah ke PT yang katanya berkualitas, tapi mahal tersebut. Ibu sarankan, ibu mendukung kamu untuk kuliah di PT negeri lain saja, tapi yang relatif murah, dan terjangkau.”

Cinta: “Di mana Bu? Masuk ke universitas yang mantan IKIP saja keluarga saya sepertinya ga sanggup biayanya, Bu! Padahal universitas-universitas semacam itu katanya yang termurah!”

Bu Sofie merenung. Dia memikirkan kelanjutan sekolah murid kebanggannya.

Bu Sofie: “Mmmm… karena kamu itu calon lulusan Madrasah Aliyah, bagaimana kalau kamu melanjutkan ke PT yang sejalur saja, ke UIN* atau IAIN** misalnya? Setahu ibu, di kampus tersebut, biayanya relatif lebih terjangkau!”

***

Akhirnya, atas saran Bu Sofie, Cinta kini sedikit gembira. Harap-harap cemas. Berharap semoga keluarganya mampu membiayainya kuliah ke PT yang disarankan. Ya, ke kampus IAIN Walisongo, alias kampus para wali. Ke PT itulah dia disarankan oleh guru BK-nya itu.😀

“Hmmm… he he… lucu juga! Nilai-nilaiku banyak yang 9, kini saya akan melanjutkan ke IAIN Walisongo, wali sembilan! Ah, sebuah kebetulan: sama-sama ada angka sembilannya!” gumam Cinta seraya sambil tersenyum. Ya, tersenyum karena mimpinya untuk melanjutkan sekolah kemungkinan besar akan tercapai.

***

Di rumah, setelah mendengar cerita anaknya, bapak si Cinta amat bangga. Bangganya karena anak kesayangannya akan melanjutkan ke PT yang sesuai harapannya, harapan agar anaknya kelak bisa menjadi seorang sarjana  dalam jalur keagamaan (Islam), dan pula sesuai keadaan ekonominya.

“Bu, bu… Cintaku, Cinta kita akan kuliah ke IAIN Walisongo…” cerita bapak ke ibu yang masih sibuk di dapur.

“Alhamdulillah… semoga Cintaku, Cinta kita berhasil kelak,” kata Ibu yang juga senang mendengar kabar tersebut.

“Amiin! Ya, semoga saja dengan sekolah di sana, dia bakal jadi anak yang makin sholehah…” kata bapak, dengan penuh harap dan do’a.

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Semoga ada manfaatnya. Amin.

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan Penting:

1. Cerpen ini dibuat karena terinspirasi oleh cerita seorang teman–yang saat ini sedang menempuh studi di kampus yang diceritakan dalam cerpen ini. Mohon maaf perlu saya katakan bila cerita dalam cerpen ini banyak perbedaan dengan kisah aslinya. Maaf ya…😀

2.*UIN: Universitas Islam Negeri

3.**IAIN: Institut Agama Islam Negeri

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

15 Comments

Filed under Agama, Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Harapan, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra, Tokoh

15 responses to “Cintaku di Kampus Para Wali

  1. Cinta

    Cinta ga gitu deh😀

  2. @Cinta: Maaf, emangnya ini dengan si Cinta yang ada di cerpen ini ya?😀:mrgreen:

  3. DiN

    “Cantik”-nya perkalian bilangan 9 ketika menggunakan basis 10, seperti “cantik”-nya perkalian bilangan 7 ketika menggunakan basis 8, atau perkalian bilangan 3 ketika menggunakan basis 4.

    Apakah dapat dibuktikan secara induksi, bahwa perkalian bilangan n-1 ketika menggunakan basis n itu “cantik”?

    **hehe.. gantian ngasih soal ke si empunya blog**

  4. @DiN: Tidak mesti saya jawab di sini kan?😀 Makasih pertanyaannya…😀

  5. Mau pintar kok mahal, tanya kenapa? (pinjam kalimatnya iklan rokok :D)

  6. @mezzalena: iya, mba. Makin ke sini, makin jaman berubah, pendidikan makin mahal tapi perlu…😀

  7. Huahahaha….. kayaknya pemilik blog ini lagi kasmaran neh….:mrgreen:

    Eh… artikel seperti ini adalah artikel cinta berbumbu matematika atau artikel matematika berbumbu cinta ya??:mrgreen:

    *kabur ah*😀

  8. @Yari NK: Bisa bolak-balik sepertinya, Pak! Hue he he….😀

  9. Cinta (pak Jupri) di kampus para wali??

    Ehm ehm..

  10. Wah… Saya juga sedang bingung menentukan pilihan nih. Inginnya sih ke ITB, tapi masih banyak pertimbangan untuk masuk ke sana. Do’akan ya, Om. Mudah-mudahan saya bisa diterima di ITB. Amiin…

  11. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..
    Gmn kbar’y Jupri?ni bu sofie lho..
    Slamat ya..Smoga sukses slalu..
    Bu sofie slalu mndoakan untk muridku trsayang..spya mnjd orng bsar..
    Ibu trut bangga atas prestasimu..
    By the way,have you married?hehe
    oh ya,gmn kbar jamal,zikri dan mrid2 ibu lain’y dsana?salam dr ibu..
    Sukses slalu ya..!
    One think..got your exeperience to bless you were conciusnest for combad
    wassalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

  12. @Anonymous (Bu Sofie):D Maaf Bu namanya saya pake, tapi ga bilang2 dulu.😀

    Terimakasih. Semoga makin banyak yg berhasil berkat bimbingan ibu.😀

    Mmm… mereka (Jamal dkk) sedang sibuk, kadang2 ngobrol… alhamdulilah baik mereka.

    Salam ke bapak or ibu guru lainnya, ya Bu…😀

  13. Vhien Shen

    cerpen nya bgs bngt……….. thanks ya……
    cerpen u q copy coz itu untuk tgs dari guru saya…..
    q harap u g’ marah….
    q janji cerpen u g’ akan menerbitkan ulang cerpen ini…
    salam kenal dari q….. Vhien Shen
    anak palembang

  14. @Vhien Shen: kalau tugas bikn cerpennya harus karangan sendiri, berarti ga boleh copy paste doong…

    Berarti kmu membohongi guru… dan ini ga boleh!

    Kalau kamu copy paste cerpen ini, harusnya jangan mengakui sebagai karya mu, tapi tuliskan sumbernya dan juga nama penulisnya dengan jelas. Kalau begini, sy ga ngelarang…

    Tapi kalau mengakui sebagai tulisanmu, jelas saya melarang.. ini melanggar .. membohongi guru, dll. Jangan lagi2 yaaaaaaaaaaaaaaaa….

    Sekarang sy minta kamu jujur ke guru mu… OK?😀 Makasih.

  15. Hehehe… numpang ketawa saja…

    Baru tahu Cinta kuliah di IAIN, kalau Rangga kemana ya?

    Heheheh nonton AADC kan?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s