Sayembara Matematika dalam Pencarian Cinta

Dongeng oleh  Al Jupri

Alkisah, dulu, di pesisir utara pulau Jawa ada sebuah kerajaan kecil yang tak terkenal. Saking tidak terkenalnya, sampai-sampai ahli sejarah paling ulung sekalipun tidak mengetahuinya hingga saat ini. Karenanya jelaslah tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, apalagi sampai dipelajari dalam pelajaran di sekolah-sekolah. Nama kerajaan itu adalah Orangenik. Siapapun yang membaca dongeng ini tentunya tidak pernah mendengar nama kerajaan tersebut sebelumnya, bukan?

Sungguh unik nama kerajaan ini. Namanya mengingatkan kita pada negeri yang dulu menjajah bangsa kita 350 tahun lamanya alias 14 turunan masanya. Ya, mengingatkan kita pada negeri Belanda yang juga dikenal sebagai negeri Oranye (Orange). Tapi, nyatanya, kerajaan Orangenik tidak berhubungan sama sekali dengan negeri orang-orang bule kejam, penjajah negeri kita, itu. Sebabnya, kerajaan Orangenik tumbuh dan berkembang sekitar abad 7-9 sebelum masehi, jauh masanya sebelum kedatangan bangsa Belanda, bangsa pengeruk kekayaan negeri kita–hingga kini pun tiada habisnya kekayaan kita dikeruk-keruk oleh bangsa asing lainnya.

Mungkin Anda tak akan menduga, ternyata, nama kerajaan tersebut artinya mirip dengan pengertian dari kata fotogenik—orang yang tampak lebih cantik (bagi wanita) atau ganteng (bagi pria) apabila difoto. Ya, konon, orangenik bermakna seseorang yang apabila dilukis atau digambar akan tampak lebih jelita (bagi wanita) atau tampan (bagi pria) dari aslinya. Arti dari kata ini berasal dari keluarga kerajaan yang bersifat begitu. Ya, tiap anggota keluarga raja bersifat orangenik. Tiap-tiap dari mereka akan tampak jauh lebih jelita atau tampan bila dilukis atau digambar. Bahkan bila ada pangeran atau putri raja dari kerajaan lain, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Orangenik, maka mereka pun ajaibnya akan bersifat orangenik.

***

Hingga, menurut cerita dari mulut ke mulut, tibalah suatu masa saat raja kerajaan Orangenik hanya memiliki seorang putri. Rakyatnya memanggil sang putri dengan sebutan Pang-orangenik. Artinya, orang yang paling orangenik di antara keluarga raja.

Tidak hanya paling orangenik, sang putri, ternyata adalah seorang dewi yang sangat cerdas adanya. Dia gemar membaca dan mempelajari beragam ilmu; menulis puisi, cerita; mendongeng; dan yang mencengangkan dia pun sangat pandai dan mencintai matematika. Bisa dikatakan pandainya tak terkira-kira untuk ukuran jamannya.

Sifat lain dari Pang-orangenik yang diteladani rakyatnya adalah budi pekertinya. Tutur katanya sopan, lembut, dan penuh hikmah: mengandung mutiara-mutiara ilmu untuk tiap kata atau kalimat yang diucapkannya. Siapapun yang berkesempatan bincang dengannya pastilah akan terpesona. Mungkin karena itulah rakyatnya amat mencintainya pula.

Bagaimanakah rupanya sang Pang-orangenik itu? Tidak seperti yang digambarkan dalam karya-karya sastra lama, Pang-orangenik tidaklah seperti putri-putri raja lainnya. Dia tidak berkulit kuning atau putih, malah dia berkulit agak hitam, tapi bersih nan manis tampaknya. Dia tidak berbibir tipis, malah seperti orang kebanyakan, namun sungguh manis senyumnya. Dia tidak bermata besar bak bidadari dari kayangan, tapi bermata agak sipit namun tajam penglihatannya. Hidungnya pun biasa saja, tak begitu mancung, tapi sangat serasi dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam panjang, mungkin hanya itu saja yang serupa dengan dongeng-dongeng tentang putri raja yang molek dalam kesusastraan lama.

Sekarang dapatlah kiranya Anda membayangkan bagai siapakah sang Pang-orangenik itu?😀

***

Sejak dua tahun lalu, hingga saat usianya menapak 22 tahun, sang raja meminta Pang-orangenik menikah. Agar dia ada yang menggantikan, mengingat usianya sudah mulai lanjut. Tetapi, Pang-orangenik selalu bilang dia belum menemukan pangeran (putra raja) atau pria tak beristri yang cocok dengannya. Hingga akhirnya sang ayah mendesak menanyai putrinya. Didapatlah keterangan dari mulut anak semata wayangnya itu, ternyata, Pang-orangenik hanya mau menikah dengan pria yang lebih pintar darinya.

***

Raja: “Paman Abu, bagaimanakah caranya mencari pria atau pangeran yang lebih cerdas dan pintar dari putri tunggalku itu?”

Begitulah pertanyaan sang raja pada penasehat setianya, biasa dipanggil Abu, di ruang rapat kerajaan.

Abu: “Apa maksud paduka mencari pria atau pangeran yang lebih pintar dari tuan putri?

Raja: “Bukankah engkau ketahui bahwa putriku kini sudah dewasa, sudah masanya menikah, membangun keluarga? Lagipula, saya sudah tua, kerajaan ini perlu pemimpin yang masih gagah perkasa, muda-belia.”

Abu: “Ooo… bila demikian maksud paduka, maka hamba akan mencari akal bagaimana mendapatkannya. Memang, tidak mudah mencari orang yang kepandaiannya melebihi tuan putri. Kepandaian beliau bisa dikatakan setara dengan para ilmuwan, peneliti di kerajaan paduka.”

Raja: “Ya, karena itulah saya memanggil paman untuk meminta pendapat. Bagaimanakah caranya?”

Abu: “Mmm… mungkin cara yang akan hamba usulkan terdengar klise, sudah umum dilakukan di negeri-negeri atau kerajaan lain. Tapi, hamba pikir tidaklah mengapa untuk dicobakan.”

Raja: “Segeralah paman Abu, katakan apakah usulmu itu?”

Paman Abu menarik nafas agak panjang, dalam, tampak berpikir.

Abu: “Ya, kita akan adakan sayembara. Kita umumkan di segala penjuru negeri. Umumkan pula ke mancanegara. Kita cari orang-orang pandai. Hingga kita pilih yang terpandai di antara mereka, untuk kemudian kita adu kebolehannya dengan tuan putri.”

Demikianlah usul sang penasihat raja. Tak lama kemudian, berbagai penjuru negeri ramai oleh adanya pengumuman sayembara: barangsiapa yang dapat lulus sayembara akan dipersunting jadi suami tuan putri, sang putri Pang-orangenik. Begitulah ringkasnya pengumuman sayembara itu. Karenanya berbondong-bondonglah pria-pria lajang (tua, muda, remaja) mendaftarkan diri mengikuti sayembara adu kepandaian dan adu wawasan keilmuan itu. Sungguh sayembara yang sangat berbeda dengan sayembara-sayembara di jaman purba, kala itu.

***

Hari sayembara pun tiba. Beribu-ribu pria lajang, baik dari dalam negeri ataupun mancanegara, sudah siap di lapangan istana kerajaan. Berpuluh ilmuwan sudah siap mengetes para kontestan. Sayembaranya terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama, dari ribuan kontestan akan dipilih sekitar 100 peserta terpandai, dengan cara tes lisan yang akan dilakukan oleh para ilmuwan kerajaan.Tahap kedua adalah tes tulis, seperti ujian seleksi penerimaan pegawai atau seleksi mahasiswa baru jaman ini. Dari tahap kedua ini, hanya akan dipilih 3 kontestan terpandai saja. Dan tahap ketiga adalah seleksi langsung oleh putri Pang-orangenik.

Demikianlah, setelah proses yang tidak pendek, akhirnya terpilihlah 3 kontestan terbaik. Yang pertama, adalah seorang pangeran tampan dari tanah sebrang. Yang kedua, adalah pangeran tampan nan gagah dari kerajaan tetangga. Dan yang ketiga, hanyalah pemuda biasa, bukan keturunan raja.

Untuk kontestan pertama, sang Pang-orangenik saat melihatnya sungguh tertarik. Dia membayangkan, andai sang pangeran tampan ini mampu menjawab pertanyaannya (dan andai lebih pandai dari kedua kontestan lainnya), maka dia akan mendapatkan suami impian. Ganteng, pandai, keturunan raja pula. Tapi sayang, saat berhadapan dengannya, sang pangeran seperti tertunduk, takluk terbuai dengan kata-kata yang keluar dari sang putri, gagap dan gugup rasanya, hingga dia tak mampu menjawab pertanyaan sang putri karena tak mampu berpikir seperti biasanya. Sang putri pun kecewa, angannya terbang entah ke mana.

Kontestan kedua, sang pangeran nan gagah perkasa. Saat bertemu dengannya, sang putri teringat, ternyata semasa kecil dia pernah mengenalnya. Saat ayahandanya mengajak berkunjung ke kerajaan tetangga. Dan sang putri pun tertarik. Pria yang kini di hadapannya, sungguh gagah, anak raja, dan jelas pandainya. Namun sayang, lagi-lagi, saat sang putri mengajukan pertanyaan, sang pangeran juga seperti tersedot kemampuannya, terbuai dengan halusnya tutur kata sang jelita Pang-orangenik. Akibatnya, gagal pula dia. Kembali Pang-orangenik tersenyum kecut.

Kini giliran yang ketiga. Saat melihat pemuda biasa, yang tidak begitu tampan, dan berpenampilan biasa itu, hati Pang-orangenik biasa-biasa saja, datar. Di hatinya, dia harap-harap cemas, semoga yang ketiga pun gagal. Entah karena alasan apa, tiba-tiba Pang-orangenik bersikap seperti itu, sungguh berlawanan dengan tabiat aslinya (yang hormat pada siapapun), mungkin karena tampang sang kontestan ketiga kurang meyakinkan sebagai seorang yang pandai. Namun Pang-orangenik tetap konsisten, dia melanjutkan sayembara, dia mengemukakan pertanyaan pada sang pemuda.

Sejak kata pertama terucap, sang pemuda biasa itupun seperti dua kontestan lainnya langsung terpana, terpesona. Saking terpesonanya, sang pemuda tertunduk, bersimpuh, seperti tersujud di hadapan sang putri (sebetulnya dia tak sadarkan diri). Sang putri kaget! Tapi dia diam saja. Dia mengira, sang pemuda hanya menunduk, mendengarkan kata-katanya. Dalam kagetnya, dia terus melanjutkan kata-katanya, mengemukakan pertanyaannya. Ingin segera dia selesaikan pertanyaannya, agar sang pemuda diseret pergi, dan selesailah sayembara walau tiada pemenang. Begitulah yang ada dalam pikiran Pang-orangenik.

Dalam alam ketidaksadaran sang pemuda biasa itu, dia seperti bercakap-cakap dengan sang putri. Ya, dia bermimpi berbincang hangat dengan calon istrinya, layakanya sepasang kekasih yang bersenda gurau. Salah satu hal yang dibincangkan adalah tentang teka-teki matematika. Demikianlah teka-tekinya itu:

Pang-orangenik: “Mmm… saya punya teka-teki nih. Mau ga?”

Pemuda biasa: “Mau-mau… apa teka-teki mu itu? Segeralah katakan…”

Pang-orangenik: “Jumlah berat badan ayah dan ibuku adalah 140 kg. Sedangkan jumlah berat badan aku dan ibuku adalah 115 kg. Nah, bila berat badan aku dan ayahku adalah 121 kg, berapakah berat badan masing-masing dari kami bertiga?”

Mendapat teka-teki itu, sebetulnya sang Pemuda biasa kesulitan. Karena memang sang pemuda tidaklah sepandai alias secerdas sang putri. Walau tidaklah sepandai sang putri, tapi dia juga bukanlah orang bodoh. Dia mampu melewati dua tahap seleksi sebelumnya karena kebetulan kebanyakan pertanyaan yang diajukan pernah dia pelajari saat berguru dahulu. Sang pemuda tidak segera mampu menyelesaikannya. Di jaman itu, aljabar belumlah dikenal. Karenanya permasalahan itu sungguh rumit tiada terkirakan, hanya orang-orang brilian saja yang mampu menyelesaikannya.

Pemuda biasa: “Mmm… saya mikir dulu ya?”

Cukup lama dia berpikir, tapi belum bersua pula jawabnya.

Pang-orangenik: “Yaaa, kelamaaan! Mmmm… mau dikasih tahu enggak cara dan jawabannya?”

Pemuda biasa: ‘Ya, ya, mau dong…”

Akhirnya diberitahukanlah jawab dari teka-teki itu.

Demikianlah mimpi dalam keadaan tiada sadar diri sang pemuda biasa, rakyat jelata, itu.

Saat sang Pang-orangenik selesai mengemukakan teka-teki alias pertanyaan pada sang pemuda, pas saatnya pula sang pemuda bangun. Masih dalam keadaan kurang sadar, dia bergumam, memberikan jawab pertanyaan teka-teki sang putri (seraya mengulangi apa-apa yang dijelaskan sang putri dalam mimpinya). Dan sungguh keajaiban, ternyata pertanyaan sang putri sama benar dengan teka-teki dalam mimpi sang pemuda tersebut. Karena itulah, sang pemuda menjadi pemenang sayembara.

***

Tak lama kemudian, pernikahan berlangsung dengan meriahnya. Rakyat tumpah ruang menyaksikan putri raja kecintaan mereka bersanding dengan pemuda, yang dulu tampak biasa, kini setelah menikah menjadi seorang yang sungguh orangenik, tampan, nyaris tiada bandingannya (bila digambar atau dilukiskan). Sang putripun jadi amat cinta, tertarik padanya, pada suami tercinta pemuda biasa itu. Berbahagialah mereka dalam negeri yang aman sentosa. Hidup dalam cinta dan kasih sayang, dalam keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Catatan Merah Jambu:

Dongeng ini sengaja dibuat dengan rasa cinta; ditulis dalam asa dan mimpi demi menyatukan separuh-separuh jiwa yang masih terasing dalam dua insan berbeda: yang hingga kini masih misteri keberadaannya; ditulis dengan kata-kata jujur, serius, kaku, dan apa adanya.😀

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan dongeng ini ada manfaatnya. Amin.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

=======================================================

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

19 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

19 responses to “Sayembara Matematika dalam Pencarian Cinta

  1. Pang-orangenik

    Wah, Padahal saya berharap si empunya blog ini ikutan sayembara, ternyata….😀

  2. @Pang-orangenik: Mmm… bukannya emang ikut?😉

  3. Huahahaha…. aturan soal lombanya dimodifikasi sedikit seperti ini dong:

    “Jumlah berat badan ayah dan ibuku adalah 140 kg. Sedangkan jumlah berat badan aku dan ibuku adalah 115 kg. Nah, bila berat badan aku dan ayahku adalah 121 kg, berapakah berat badan tetanggaku….??”😆

  4. @Pak Yari: Wah kalo soalnya seperti itu, kapan Putri Pang-orangeniknya dapat suami?😀

  5. @Yari NK: Hua ha… ntar oleh para pembaca, sy dianggap ngantuk (ngaco… )😀

  6. ly

    wkwk..
    sy kira orangenik itu orang yang sangat orange..😄

  7. matematikadasar

    kayaknya pak dosen kita lagi terbuai cinta neh, postingannya jadi romantis gini…membuat ku terlena🙂.
    tapi salut…apapun suasana hatinya…mikirnya tetep matematika🙂

  8. @Iy:😀 Iya, mksh sudah membacanya dengan baik.

    @Vintage Gadget:😀

    @matematikadasar: mksh!😀

  9. Hasan eL kyubi

    Andaikan aja mau ujian ngimpi gto,
    tp tentang soal ujian n jwbnny,
    kyaknya dpet A smua ujiannya, wkwk..😀

  10. Hehheheehe…. Pengin ktawa abis mbaca nyang eni..
    Skali lg hehehehehee….

  11. Anyaman kata membuncah ngakak … great

  12. @Hasan eL Kayubi: namanya juga dongeng…😀

    @Hoaxcuh: ?

    @supriman: silakan tertawa.. he2…😀

    @Ersis Warmansyah Abbas: Mmm… makasih… silakan Pak ngakak, selamat menikmati….

  13. Hayo…. saya ada teka-teki…….. gampang sekali kok….

    “Beratku 75 kg, berat adikku 68 kg, berat kakakku 73 kg. Berapa berat badan kami bertiga?”

    Hayoo….??:mrgreen:

  14. @Yari NK: ga usah sy jawab ya… biar yang lain aja deh…:mrgreen:

  15. hahahaha! hebat bener buat cerita nya, kreatif😀 hahaha..

    salam kenal yaa

  16. halo, sesama matematika holic, salam kenal bung😀

  17. novia

    iqbaale aku kngen sma kmu kmu itu baek bnget mna mau jdi ustadz lge ehh kmu keren dech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s