“Pacaran” dengan Matematika

Oleh Al Jupri

Beberapa waktu lalu saat pulang dari salah satu toko buku terkenal di Bandung, seperti biasanya, saya naik angkot (angkutan kota).๐Ÿ˜€ Suasana sore yang ramai, memaksa penumpang saling berdesakan untuk sekedar mendapat tempat duduk yang relatif sempit.

Kebetulan saya mendapat tempat paling pojok, bagian belakang. Mulanya saya tak hirau dengan beragam penumpang di sekitar saya. Namun karena nyata di dekat saya dua pasang mahasiswa-mahasiswi tampak akrab mengobrol mesra, tampak sesekali berpegangan tangan, saya pun sesekali terpaksa melihat mereka. Saya menduga mereka saling berpacaran.

Rupanya, salah seorang di antara mereka mengenali saya.

“Mmm… maaf, ini dengan Pak Al Jupri ya?” tanya salah seorang mahasiswaย  yang duduk di depan saya.

“Iya!” jawab saya singkat, sambil sedikit senyum dan menganggukan kepala.

Sang mahasiswa yang semula akrab ngobrol dengan kekasihnya, sesekali berpegang tangan dengan mesra, setelah melihat saya sedikit berusaha tampil sopan–pelan-pelan, malu-malu melepas pegangan tangan dengan sang kekasihnya. Obrolan yang semula asyik antar mereka berdua, sekarang agak canggung sepertinya. Entah malu atau apa, saya tidak tahu!

Kemudian, sang mahasiswa tersebut mengajak saya ngobrol, basa-basi. Bertanya ini-itu, ya ngobrol sekenanya. Sedangkan pacarnya diam saja, memperhatikan. Setelah kehabisan obrolan, mereka kembali ngobrol berdua. Saya pun diam saja, memandang ke arah lain, mengamati jalan raya sore yang macet, bising, dan penuh polusi.

Sepasang kekasih lainnya, yang tidak mengenal saya dan duduk di samping saya, terus saja mengobrol. Sangat asyik sepertinya. Sayup terdengar di telinga saya. Bukan saya menguping atau apa, tapi karena terpaksa saya mendengarnya.๐Ÿ˜€

***

Memang, mungkin, bagi sepasang kekasih yang sedang berpacaran, dunia itu seperti milik mereka berdua. Indah segalanya. Tak hirau dengan keadaan sekitar, segalanya terasa nyaman. Contohnya, seperti dua pasang kekasih tadi, nyaman ngobrol, asyik sepertinya, walau keadaan angkot berdesakan.

Sambil memandangi keadaan jalan yang ramai dan sesekali mendengar obrolan indah dua pasang kekasih tadi, saya berpikir, merenung, bertanya pada diri sendiri. Kenapa hubungan dua kekasih itu sangat akrab: selalu ada saja bahan pembicaraan yang asyik bagi mereka, seperti tak ada habisnya; dan selalu saja ada hal-hal menarik yang bisa didiskusikan di antara mereka. Ya, mungkin demikian sifat dua orang yang sedang salingย  mengenali, menjajagiย  pribadi mereka masing-masing. Indah tampaknya, membuai angan, menjalin mimpi dalam pikiran.

Selanjutnya saya berpikir. Andaikan dalam proses belajar, misalkan belajar matematika, kita bersikap seperti memacari Matematika, maka bisa dibayangkan betapa indahnya hubungan kita dengan pelajaran yang dianggap menyeramkan oleh sebagian orang ini. Kita akan selalu ingin tahu dengan apa-apa yang kita pelajari. Berusaha sebaik mungkin berhubungan dan berkomunikasi dengannya. Matematika yang kita pelajari akan selalu kita ingat, mungkin hampir tiap waktu, layaknya kita yang sedang berpacaran.

Andaikan matematika adalah pacar kita, maka kita pun (hampir) tak akan peduli bagaimanapun sulitnyaย  dia kita pahamiย  dan taklukkan. Kita akan terus berusaha memahami dan mengertinya. Walau harus berjuang dengan segenap kemampuan: berpikir keras, memeras keringat, dan bermandi darah sekalipun (hiperbolis sekali ya?). Kita akan terus mengejar dan mendapatkannya, untuk mengerti akan kekasih kita. Dampak selanjutnya, saya membayangkan, matematika akan menjadi pelajaran yang paling disukai, digemari, disayangi, dan dicintai lahir bathin.

Tampaknya, mengubah pandangan terhadap matematika, yang semula dianggap sebagai pelajaran yang menyeramkan, menjadi sesuatu yang kita cintai (dengan menganggapnya sebagai pacar), perlu kita coba!

Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana mengubah pandangan tersebut?

Untuk sementara, saya hanya berharap pada para guru matematika dan Anda-anda yang peduli pada matematika memberi pandangan menyenangkan terhadap matematika baik pada diri sendiri, keluarga terdekat, atau siswa-siswi kita (khusus untuk para guru). Caranya? Cara pertama: dengan menunjukkan bahwa matematika itu sebenarnya adalah bagian aktivitas hidup kita, sebagai manusia, yang tak terpisahkan–yakni dengan menunjukkan bahwa matematika itu bermanfaat bagi kehidupan kita. Dan cara kedua, saya pikir, adalah dengan memandang bahwa materi-materi yang kita pelajari dalam matematika adalah sesuatu yang cantik, menarik, dan menyenangkan. Ya, semenarik dan secantikย  seorang ratu, sesuai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa matematika adalah ratu ilmu pengetahuan–mathematics is the queen of the science(s).๐Ÿ˜€

=======================================================

Ya sudah segitu dulu ya jumpa kita kali ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Amin.

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan penting:

1. Kata “Pacaran” atau “Berpacaran” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring artinya: bercintaan; berkasih-kasihan. Kata ini berasal dari kata dasar “Pacar”, yang bermakna: (1) teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih; (2) tumbuhan kecil yg daunnya biasa dipakai untuk pemerah kuku; batang inai.

2. Cerita di awal artikel ini terinspirasi dari kisah nyata yang saya alami, dengan sedikit perubahan, untuk menghormati para pelaku yang terlibat.

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

19 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Harapan, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

19 responses to ““Pacaran” dengan Matematika

  1. Hmmm….jadi kalau buatku matematika harus dianggap gendernya pria gitu ya, baru mind setnya diubah, terus diberi kriteria, pria beriman, mapan, baik hati dan tidak sombong hahaha…๐Ÿ˜€

    Apa kabar dik?

  2. @agoyyoga: Iya, mba! Bagi wanita, matematika perlu dipandang seperti yang mba nyatakan.

    Mmm… kabar saya ya? Alhamdulillah baik, mba! Btw, kbr mba gmn?๐Ÿ˜€

  3. Sedang belajar mencintai matematika.

    Ah, benar cinta itu butuh pengorbanan (klise ya?), harus berjuang dengan segenap kemampuan: berpikir keras, memeras keringat, dan bermandi darah๐Ÿ˜€

  4. Yah, kalau kata teman saya, “Kalau sudah cinta, apapun akan dilakukan.”

  5. Btw, saya kira tadi setelah ketahuan sama dosennya (Pak Al), sejoli mahasiswa tadi akhirnya ngobrol tentang matematika, sehingga judulnya “Pacaran dengan Matematika”, ternyata engga ya?๐Ÿ˜€

  6. Yg ngajar math jg perlu mengeluarkan segenap daya tariknya supaya org jd ‘jatuh cinta’. Betul tdk pak? Soalnya tdk bnyk org math yg bs menjabarkn math ky pak Jupri.

    *kedip2 kelilipan*

  7. @mezzalena:
    Oya? Asyik ga belajar mencintai itu?๐Ÿ˜€ Mmm…Iya, benar, walau klise, cinta memang butuh pengorbanan. Walau sudah umum dkatakan orang, tetapi tetap indah bukan?๐Ÿ˜€

    Mmmm… btw, yang mahasiswa tersebut, bukan mahasiswa saya, dia cuma kenal karena sering mendengar tentang saya, dan mungkin pernah (atau sering) melihat saya … hue he he…

    @Alias: Oya? Mmmm… iya mungkin…๐Ÿ˜€

    @Nika: Iya, segenap daya tarik, bukan hanya penampilan fisik, tapi juga pengetahuan yang luas dan mendalam tentang matematika. Btw, saya jadi tersipu dianggap mampu menjabarkan matematika, padahal belum apa-apa…๐Ÿ˜€ Ah, pokoknya makasih sudah dianggap begitu, mudah2an ini adalah do’a. Amin.๐Ÿ˜€

  8. kalo udah cinta nantinya bisa ke jenjang pernikahan dong. mlam pertamanya penuh rumus๐Ÿ˜†

  9. Rahma

    Pak tanya nih, gimana kalau pacaran dengan orang yang pinter matematika, bisa bikin kita mencintai matematika ga?:mrgreen:

  10. @zeze: wah gemana caranya?

    @Rahma: Coba aja pacaran dengan yg pintar matematika…? Mau ga? ;-p๐Ÿ˜‰

  11. Huehehehe….. **mbaca komentarnya zeze**

    Kalau malam pertamanya penuh dengan rumus2 dan perhitungan matematika, ya kapan jadinya dong??๐Ÿ˜†

  12. wehehehe….gmn carany ‘menikah’ dengan matematika.. hahaha..๐Ÿ˜„

    tpi saya setuju!!
    mari mencintai matematika..
    wkwk..๐Ÿ˜„

    cinta itu memang rumit, begitu juga matematika!
    haha.. boleh juga.. quote of the day.. ๐Ÿ˜€

  13. Anonymous

    @Sally: Silakan cintailah matematika, krn dia bukan milik siapa2, tapi milik kita semuaaaa…๐Ÿ˜€

  14. dah lama tak mampir di blog om Jupri nih… Akhir2 ni kok artikelny ttg cinta2an yakss๐Ÿ˜€

  15. Nungguin posting baru, belum kalinya …

  16. zul

    Untuk mencintai matematika perlu comblang. Comblang yang baik adalah guru mate di sekolah. Kalo udah pacaran usahakan jangan sampai menikah, karena setelah menikah biasanya jadi hambar, hehehe..

  17. I'm not HERO

    asslm,
    pak al,
    sy 390100
    mhsswa yang mngntrak kapsel di kelas bpk smstr2 skrang,
    ,n_n,

    saya teringat perkataan bapak endang watktu pertemuan dikelas pertama kali,intinya, “jika masuk jursn math, maka anda harus mencintai math, jika tidak dipikirkan kembali tentang kedepannya”

    nah,berhubung isi tulsn diatas pun dukupas mencintai math,yang ingn sy tnykan jstru,
    apakah bisa seorang sprti saya yang memang baru mengenal math di kelas3 sma bisa mencintai math??(karena sebelumnya sy paling tda ingn blajar math,bru d kls3 sma sy bljr math scara snggh2)
    ,n_n,

    sy pikir bisa namun sy bngng gmn cranya,
    hehe
    ,n_n,

    mngkn sy bth seorng yg mmbmbng sy tntang ursan math,tapi sy bngng sypa orngnya
    (rsnya dari smnjak sy bertmu dgn math(slain d sd),sy bru mrskn bljr math lg twh wkt kls3 sma)
    hehe
    ,n_n,

    udh barnagkali sgtu aj dlu,
    khawatr kpanjangan,mkasih pak,
    dtnggu replynya,kalo bisa lewat email pak,
    ,n_n,

    smangat

  18. @I’m not Hero: Iya, kalau memang sudah mulai mencitanti sejak kelas 3 SMA, itu bagus. Berarti Anda masih lagi hangat-hangatnya mencintai matematika. Jadi, teruskan saja mencintai matematika. Banyak baca: buku-buku kuliah, buku matematika SMP, matematika SMA.Silakan baca dan pelajari dengan sungguh-sungguh. Insya ALlah berhasil.

    Salam
    ๐Ÿ˜€

  19. Assalamualaikum.
    Wahahaha….
    Saya juga udah pacaran ma matematika.
    Malahan udah jdi istri saya (ngehayal).
    Saya dari SMA pribadi. Numpang lewat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s