Dalam Tatapan Bianglala Senja: Guru Juga Wajib Belajar!

Oleh Al Jupri

“Teh, teh,… teteh kalau ngajar bagaimana?” begitulah pertanyaan saya pada kakak perempuanku beberapa waktu lalu, saat masih berstatus sebagai ‘pengangguran’ sementara di rumah orang tua tercinta.

“Ya, begitu! Biasa saja… pertama nerangin materi, siswa duduk menyimak pelajaran, terus latihan buat siswa (kalau ada),” begitu jawab sang kakak tersayang, yang sekarang menjadi seorang guru madrasah (diniyah) di kampung halaman, mengajar pelajaran dasar-dasar agama dan pengetahuan dasar lainnya pada anak-anak usia sekolah dasar.

“Mmm… terus-terusan begitu ya ngajarnya teh?” lagi saya bertanya. Saya sengaja mengajaknya ngobrol, sambil saya sendiri asyik membaca novel terakhir tetralogi laskar pelangi: Maryamah Karpov. Sedangkan sang kakak sibuk menyetrika baju. Sementara itu di luar rumah, terdengar hujan mulai turun, tidak terlalu deras, hanya rintik-rintik, sekedar cukup membasahi Bumi kita tercinta. Obrolan yang semula sekedar biasa-biasa saja, mengenang nostalgia masa kecil yang sangat akrab dengannya, lama-lama berubah menjadi perbincangan yang seru, menarik, dan saya pikir penuh pembelajaran.

Teteh: “Ya, emang kenapa?”

Saya: “Apa nantinya siswa engga bosan kalau terus-terusan begitu cara ngajarnya?”

Teteh: “Yaa… ga tahu… ah yang penting mereka mengerti!”

Kami terdiam! Teteh masih terus sibuk menyetrika pakaian yang tampak masih menggunung. Saya sendiri, makin asyik menikmati buku terakhir tetralogi laskar pelangi dari sang ‘sastrawan baru” dari tanah Belitong.

Teteh: “Emang biar ga bosen bagaimana caranya?”

Mendengar pertanyaan sang teteh, saya yang semula enggan melanjutkan obrolan dengannya, jadi tertarik melanjutkannya.

Saya: “Ya tetehnya harus banyak variasi ngajarnya! (Biar bisa bervariasi dan tidak membosankan), ya harus banyak membaca, belajar banyak hal! Biar banyak ilmu yang bisa disampaikan ke siswa, biar ga itu-itu saja dari waktu ke waktu.”

Begitu saran saya, penuh semangat, bertubi-tubi (sengaja menyindir beliau). Mulut  teteh saya seperti tercekat, diam, karena mendengar pernyataan saya sedikit menyindirnya. Ya jelas menyindir karena sepengetahuan saya, tetehku itu hampir tidak pernah belajar terlebih dulu bila akan mengajar ke madrasah. Sungguh aneh (menurut pemikiran saya!)

Saya: “He he…  teteh kapan belajarnya kalau mau ngajar?”

Makin jelas sindiran saya padanya!

Teteh: “Ah, ga usah belajar! Kalau saya sih langsung di kelas buka bukunya, terus baca, terus terangkan ke siswa!”

Saya: “Ya pantes saja, pasti siswa pada bosan, wong tiap pertemuan begitu-begitu saja!”

Teteh: “Ah yang banyak baca juga belum tentu ngajarnya menarik!”

Saya: “Ya mungkin saja orang yang banyak baca juga ngajarnya ga menarik, tapi setidaknya mereka-mereka (yang banyak baca) itu punya pengetahuan lebih, punya banyak variasi ilmu yang bisa disampaikan, ga monoton itu-itu saja!”

Teteh: “Ah, yang saya inginkan itu bagaiamana cara agar ngajar itu menarik! Bukan banyak baca atau tidak!”

Demikian pernyataan teteh saya. Beliau memang agak keras kepala, sukar diberitahu! Apalagi oleh adik-adiknya. Entah, mungkin karena gengsi atau malu, makanya dia sering begitu, sukar diberi penjelasan.😀

Saya: “Iya, biar ngajarnya menarik itu, salah satunya dengan banyak membaca teeeeeeeeh!”

Lagi-lagi teteh saya terdiam, sambil terus menyetrika pakaian, menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Dan saya pun kembali membaca.

***

Beberapa saat kemudian, keusilan saya muncul, saya coba mengetes beliau.:mrgreen:

Saya: “Teh, teh… kalau ada siswa yang bertanya macam-macam bagaimana?”

Teteh: “Ah gampang, ya dijawab saja sebisanya!”

Saya: “Misalkan kalau teteh ga bisa jawab bagaimana?”

Teteh:“Ah bisa!”

Saya: “Bener niih?”

Teteh: “Iya!”

Sang Teteh masih terus melanjutkan pekerjaannya.

Saya: “Teh, kalau ada siswa bertanya misalnya begini. Bu guru-bu guru, arti dari kata mozaik itu apa?”

Saya sengaja bertanya begitu, karena kebetulan sedang membaca salah satu buku tetralogi laskar pelangi, yang tiap babnya didahului oleh kata mozaik.😀

Mendapat pertanyaan dari saya tersebut, teteh saya hanya bisa cengar-cengir, antara malu dan gengsi bercampur sepertinya. Mau menjawab, dia tidak tahu! Tidak menjawab, diapun malu (karena memang dia jarang membaca buku, makanya dia tidak tahu jawaban pertanyaan saya.:mrgreen: ).

Tapi dasar dia adalah seorang keras kepala! Dia tidak mau kalah! Tidak kalah siasat, dia pergi ngeloyor sebentar, memanggil adik saya yang masih duduk di bangku SMA, Asro. Sayup-sayup terdengar, dia menanyakan arti kata mozaik pada sang adik.

Segera setelah tahu dia pun menjawab pertanyaan saya.

Saya: “Mmmm… itu sih dikasih tahu Asro aja tahu juga!”

Teteh: “He he he… tapi kan akhirnya saya tahu juga!”

Saya pun kembali mengetes pengetahuannya, iseng-iseng.

Tampak di luar rumah, hujan mulai menipis, tidak rintik-rintik lagi, tapi hanya tinggal tetes-tetes jarang saja. Suasana tampak indah karena pelangi  sore  muncul,  menghias indahnya langit yang menjelang senja.

Saya: “Teh, teh… kalau bianglala itu apa?”

Kali ini kebetulan Asro lewat, dan saya minta Asro untuk tidak memberi tahu sang Teteh tentang arti dari kata bianglala.

Teteh: (Sedikit nyengir kecut, kemudian cemberut. Lalu diam! Diam karena tidak tahu. Dia diam dalam ketidaktahuannya.)

Saya hanya senyum-senyum saja, puas, mampu membuat teteh saya mati kutu, tidak tahu jawaban atas pertanyaan saya.

Saya: “Makanya, jadi guru itu perlu belajar, perlu banyak membaca biar (salah satunya) bisa menjawab kalau nanti ada pertanyaan-pertanyaan dari siswa-siswanya! He he he…” demikian ledekan saya pada sang teteh tersayang.

Lalu?

Teteh: “Ah, pantas saja kamu banyak tahu! Wong ga suka ngapa-ngapain, cuma belajar aja! Nih lihat saya sibuk terus bantuin Mamah!!!”

Begitulah akhir obrolan kami. Sang teteh selalu bilang begitu kalau kalah berdebat dengan saya dalam hal akademis (tentang dunia belajar atau sekolah). Dia selalu membanding-bandingkan bahwa dirinya tidak banyak membaca itu karena selalu membantu urusan rumah tangga, hingga waktu yang seharusnya untuk belajar baginya, terpakai untuk urusan bantu-membantu.

***

Nah, kiranya, dari obrolan sederhana dua kakak beradik di atas, kita bisa mengambil pelajaran. Ternyata guru juga perlu belajar. Ya, guru apapun perlu belajar! Apakah kita sebagai guru matematika, fisika, agama, atau lainnya. Belajar, salah satunya dengan membaca adalah kebutuhan bagi seorang guru. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga buat siswa-siswinya.

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin.

Sampai jumpa di artikel mendatang!

=======================================================

Catatan Penting:

Artikel ini ditulis khusus buat teteh saya tercinta. Sekedar untuk mengenang bagaimana masa kecil yang sering berantem tapi tetep akur, tidak bermusuhan. Walau sering berbeda pendapat, tapi kami tidak pernah saling membenci. Ya, mudah-mudahan tulisan ini menjadi pengingat betapa indahnya hidup dekat dengan saudara yang kita cintai.😀

Catatan yang wajib dibaca:

Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!

21 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Harapan, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

21 responses to “Dalam Tatapan Bianglala Senja: Guru Juga Wajib Belajar!

  1. Menyimak cerita dan terkesima, salam😀

  2. Wah gak berhasil ngajak tetehnya belajar ya pak?

  3. @mezzalena: Kenapa terkesima, mba?😀

    @Nika:😀

  4. sang teteh :
    “Aqyu jadi malu…”

    Kang jups, comment saiya yg trigonometri tea belum dijawab kang…😦

  5. Mau ikut ndukung Guru wajib belajar pak. Silakan mampir ke blog saya.

  6. @gibransyah: Mmm… yang tentang trigonometri, sedang saya cari momen yang pas untuk saya buat artikelnya. Tenang aja.. ya… tapi jangan ditunggu-tunggu…😀

    @Software Pembelajaran Matematika: Sudah, Pak. Saya sudah mampir, liat-liat blognya. Bagus, bermanfaat!😀

  7. Astaga ! Ini tho yang sering saya dengar itu ! yang jago matematiak

  8. dengan mengajar, guru belajar..

  9. Supaya dapat menarik perhatian sang murid…. Guru memang harus kreatif dan punya wawasan luas. Kreativitas perlu agar murid tidak bosan, wawasan luas juga perlu agar yang dikatakan tidak yang ‘itu-itu’ saja.

    Cara lainnya?? Ya…. gurunya cantik atau ganteng. Kalau itu dijamin murid2nya betah walaupun mungkin konsentrasi tidak kepada pelajarannya. Huehehe……:mrgreen:

  10. @randualamsyah: Salam kenal, Pak!😀

    @ngelanturboy: Memang benar, tapi alangkah jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih baik bila guru juga belajar mandiri terlebih dulu (sebelum pembelajaran di kelas).😀

    @Yari NK: Wah-wah… kalau cantik atau ganteng itukan relatif, Pak!😀 Tapi iya juga sih, kalau gurunya cantik biasanya, siswa (laki2) seneng, tapi kalau galak (walau mungkin saja cantik), tetep aja pada ga suka…😀 He he he…

  11. Huahahaha…. iya sih…. kalo cantik tapi galak, tetep aja ada rasa sebelnya. Tetapi masih mending daripada udah jelek galak pula…..😆

  12. Wah, kalau guru matematika saya bilang, “Bapak itu cuma menang semalam dari kalian.” Ya, seperti yang Om Jupri sampaikan, guru juga biasanya belajar semalam sebelumnya.

  13. “Dia selalu membanding-bandingkan bahwa dirinya tidak banyak membaca itu karena selalu membantu urusan rumah tangga, hingga waktu yang seharusnya untuk belajar baginya, terpakai untuk urusan bantu-membantu.”

    Pak Al, selamat atas Master-nya😀

    Saya tertegun membaca jawaban tetehnya dan kesimpulan Pak Al di atas.
    Banyak org dalam keluarga saya yg mengorbankan wkt membacanya (baca:belajarnya) spy saya bisa belajar sampai Jepang….
    Barangkali kakak perempuan saya akan menjawab sama spt Tetehnya Pak Al…krnnya saya malu menyuruhnya belajar…
    Tdk tahu apk buku2 yg saya kirimkan kpdnya sempat dibacanya…..

  14. @murniramli:
    Makasih, Bu! Waaaaah… berarti punya pengalaman yang sama ya, Bu? Mmm… iya juga sih, sungguh besar pengorbanan kakak tercinta, biar saya bisa belajar.. makanya kita harus menyayanginya..😀

  15. Hehe..

    Btw, agak out of topic, saya mau minta pendapat Bapak..
    Ada kejadian di mana sang guru berkata begini: “Nilai 100 itu buat Tuhan. Nilai 95 itu buat guru/dosen. Sedangkan muridnya maksimal adalah 90, karena tak ada murid yang lebih pintar dari sang gurunya”..

    Bagaimana pendapat Bapak mengenai kutipan tersebut.?

  16. @hendry:Mmmm.. mengenai nilai yg begitu, jelas saya ga setuju.😀 Tuhan, tak bisa dinilai oleh manusia.

    Saya pun ga setuju klo murid itu ga ada yg lebih pintar dari gurunya. Malah, saya sangat bangga bila murid2 saya jauh lebih pintar dari saya… berarti sebagai guru, saya berhasil…😀

  17. Indra

    lha?emank Tuhan ikut ujian juga???:D

  18. Numpang Share Maz Admin :
    artikelnya bagus banged.. saya nambah dikit yaa.. matur Nuwun mas.. IJIN yang Punya (sambil bakar menyan) hehehehe

    Mulai tahun 2008 bagi guru yang lulus sertifikasi guru akan mendapatkan tunjangan profesional yang besarnya sama dengan satu kali gai pokok, jadi seorang guru akan mendapatkan dua kali lipat gaji pada tahun 2007, Namum Buwat Rekan Rekan yang Belum sertifikasi atau yang udah sertifikasi Pun dapat Menambah penghasilan dari Internet Caranya Gampang, CUKUP daftar di sini Klick DAFTAR
    Nah ini gak basa basi deh..
    Ntah dah basi atau ngak ?? saya cuma mo bagi Informasi.. saatnya jadi Guru tanpa sertifikasi tapi dapat uang dari Internet..

    saya gak bakal bahas Google adsense atau sejenis nya disini..
    saya juga gak bakal Nipu atau minta Pengguna buat Download sesuatu dari Link yang Payable Download.. Like Ziddu or BizHat..!!nah Gimana caranya?? Klick DAFTAR Stay Tune..!!
    Oh ya Jangan Lupa ntar SIGN UP daftar GITU…

  19. Intinya semua harus mau belajar, sedari masih dalam buaian hingga ke liang kubur. Belajar terus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s