Karena Cinta

Cerpen oleh Al Jupri

“Tek-dug tek-dug, tuk-tek-dug tek-dug; tek-dug tek-dug, tuk-tek-dug tek-dug…,” terdengar suara bunyi-bunyian dari dalam kelas Tom–kelas 3 SMP paling negeri– saat istirahat sekolah. Tak lain dan tak bukan suara tersebut timbul akibat ulah teman-teman Tom yang memukul-mukul meja atau kursi, bermain ‘gendang-gendangan’. Kadang-kadang bunyi-bunyi tadi diiringi suara sumbang yang tidak merdu teman-teman Tom bernyanyi.

Kelakuan semacam itu seperti sudah lazim hampir di tiap kesempatan, saat guru belum masuk ke kelas, atau saat guru meninggalkan ruang kelas. Suara bunyi-bunyian tersebut hampir selalu terdengar. Pelan awalnya, hingga nyaring kemudian.

Biasanya yang melakukan hal tersebut adalah siswa-siswa yang terkenal badung di kelasnya. Tak terkecuali dengan Tom.😀 Walaupun pada hakikatnya baik, si Tom sering juga ikut-ikutan nabuh-nabuh meja atau kursi bila waktu lowong tiba, saat istirahat sekolah misalnya.

***

Pagi itu, saat jam istirahat pertama sekolah, seperti biasa Tom dan kawan-kawan menabuh-nabuh meja  bermain ‘gendang-gendangan’. Terus terdengar suara-suara gaduh, diiringi nyanyian dan gelak tawa siswa-siswa badung yang tidak ada kerjaan. Hingga jam istirahat pun berakhir.

Tiba-tiba suara gaduh perlahan sayup, hingga tak terdengar lagi. Rupanya guru pelajaran biologi mereka sudah memasuki ruangan kelas. Setelah mengucap salam, seperti biasa, Pak guru bologi kelas 3 SMP Paling Negeri, membuka pelajaran.

Sebut saja nama guru biologi Tom tersebut adalah Pak Husein. Beliau termasuk guru pandai yang disukai oleh Tom. Namun demikian, tak semua kawan Tom menyukainya. Sebabnya karena beliau seringkali mengadakan ulangan harian dadakan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Soal-soal ulangannya pun dibacakan secara lisan dan harus langsung dijawab begitu soal selesai dibacakan.  Karenanya tentu amat sukar  bagi kebanyakan siswa untuk mendapat nilai bagus di pelajaran ini.  Imbasnya jelas, sebagian kawan Tom kurang menyukai sang guru karena caranya seperti itu.

“Anak-anak sekalian, pada pelajaran kali ini, kita akan belajar tentang antibiotik. Apakah kalian tahu antibiotik itu apa, heuh? Dan bagaimana pula sejarah penemuannya, heuh?” begitu kebiasaan beliau bila memulai pelajaran. Dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menarik minat dan perhatian siswa.

Mendengar kebiasaan beliau yang bila bertanya selalu ditambahi ungkapan heuh, sebagian siswa hanya bisa mesem-mesem saja, menahan tawa.:mrgreen: Tetapi bagi sebagian lain yang sudah pernah diajar beliau di kelas satu atau dua, biasa-biasa saja karena sudah maklum.

Tiap kali beliau bertanya pada para siswa, umumnya mereka tak mampu menjawab. Sebabnya, kebanyakan dari mereka jarang membaca dan mempelajari sendiri pelajaran Biologi, mereka hanya mengandalkan apa-apa yang diberikan guru, tak mau mencari dan mempelajari secara mandiri. Hanya Tom dan sedikit kawannya yang seringkali mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya itu sepanjang proses pembelajaran. Begitu pula pada pelajaran hari itu. Hampir setiap pertanyaan Pak Husein dapat dijawab dengan baik oleh Tom.

Ya, begitulah Tom. Dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya itu karena dia selalu mempelajari pelajaran biologi lebih dulu di rumahnya, sebelum pelajaran berlangsung. Hal itu dilakukan di samping karena sudah biasa, juga karena Tom menyukai pelajaran yang satu ini. Ya, dia telah jatuh cinta pada pelajaran biologi. Saking cintanya, dia tak hanya membaca buku pelajaran biologi yang berlaku saat itu. Tom tak hanya membaca buku-buku terbitan pemerintah untuk kurikulum saat dia sekolah, tetapi diapun melahap buku-buku pelajaran yang berlaku pada kurikulum-kurikulum jadul sebelumnya. Tak heran pengetahuannya tentang biologi sangat mumpuni, bisa diandalkan.

Prinsip belajarnya sangatlah sederhana: cintailah sesuatu, niscaya kau ingin tahu segalanya –tentang sesuatu itu. Sebetulnya prinsipnya sudah lama dia praktikkan, tetapi baru saat kelas 3 itulah dia mampu merumuskannya– dengan kalimat tadi.

Ibaratnya, menurut Tom, bila kita jatuh cinta pada lawan jenis kita–pria mencintai wanita atau sebaliknya–maka sebagai langkah awal tentu kita perlu mengenalnya dengan  segenap jiwa (kalau bisa). Ta’aruf gitu loh atau istilah populernya pacaran kali ya? Ah sebuah pemikiran sederhana yang baru dapat diungkapkan setelah dia merasakan jatuh cinta, pada wanita, untuk yang pertama dalam hidupnya. (Ya walaupun masih cinta monyet, begitu kata orang)

“Pak, beri dong kesempatan pada yang lain untuk menjawab, jangan untuk Tom semua dong pertanyaannya!” usul Jerry yang merasa tak mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan Pak gurunya. Sebetulnya amat jarang Jerry protes begitu pada gurunya. Mungkin karena kesal, iri pada Tom, dia berani mengatakan pada Pak gurunya begitu.

“Dari tadi sebetulnya bapak mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu buat kalian semua, tapi tak ada yang bisa menjawab. Hanya Tom yang bisa!” jelas Pak Husein.

Jerry merasa malu. “Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau untuk sementara waktu Tom tidak boleh menjawab dulu. Setuju teman-teman?” begitu usulan Jerry. Disambut teriakan setuju beberapa kawan Jerry.

“Baiklah kalau begitu, usul mu saya terima Jerry! Ini demi pembelajaran kita. Tapi ingat, kalian semua perlu mencontoh Tom, belajar terlebih dulu sebelum pelajaran, ok?” ujar Pak Husein. Tom pun sepertinya setuju. Tetapi beberapa saat kemudian.

“Kalau begitu, saya masih boleh kan bertanya, Pak?” tanya Tom ke Pak gurunya.

“Ya, tentu boleh!”

***

Suasana kelas pun kembali normal. Pak Husein menjelaskan tentang seluk-beluk antibiotik.

“Anak-anak tentu kalian sudah pernah belajar tentang sejarah perang dunia pertama bukan?” kembali Pak Husein melanjutkan pelajarannya.

Jerry bertanya-tanya dalam pikirannya. Apa kaitan antara perang dunia pertama dan antibiotik?

“Bukankah antibotik itu pertama kali ditemukan tahun 1928, Pak? Sedangkan perang dunia pertama itu kan 1914 sampai 1918, lalu apa kaitannya, Pak?” begitu pertanyaan Tom yang rupanya tak sengaja mewakili rasa ingin tahu Jerry.

“Ya, kamu betul Tom! Antibiotik pertama kali ditemukan tahun 1928 oleh Alexander Fleming. Nah, kaitannay dengan perang dunia pertama begini,” begitu katanya.

“Dulu, saat perang dunia pertama, banyak serdadu-serdadu perang mati hanya karena luka-luka ringan. Bukan tewas ditembak atau dibom. Ini akibat infeksi pada luka-luka mereka. Padahal luka yang diderita tidaklah parah. Namun karena saat itu belum ada obat penyembuh luka yang ampuh, mereka tewas bukan di medan laga,”

Siswa-siswi kelas 3 SMP di kelas Tom menyimak cerita Pak Husein.

“Walaupun luka itu sebesar koreng kecil, Pak?” kali ini Jerry yang bertanya.

“Ya betul! Luka sebesar koreng kecil pun jadi penyebab kematian waktu itu. Sebabnya bakteri-bakteri yang ada dalam luka, atau koreng, pertumbuhannya sangat cepat. Dan saat itu belum ditemukan pembunuh/penghambat pertumbuhannya,” jawab Pak Husein.

“Nah, baru pada tahun 1928, secara tidak sengaja Fleming menemukan antibiotik, sebagai obat yang mampu menghentikan pertumbuhan bakteri pada luka. Antibiotik pertama yang ditemukan oleh Fleming diberi nama Penicillin. Nah, penemuan ini amat dimanfaatkan selanjutnya pada perang dunia ke-dua.”

Selanjutnya Pak Husein bercerita panjang lebar tentang Penicillin. Sebagian besar siswa menyimak dengan baik. Sebagian yang lain kurang hirau, asyik sendiri, bahkan ada pula yang ngantuk.😀

“Nah, sekarang silakan kalian bertanya apa saja tentang antibiotik, bapak pasti bisa menjawabnya,” begitu kata Pak Husein, yang tampaknya sedikit sombong dan membanggakan dirinya.

Tapi memang, tiap kali teman-teman Tom bertanya selalu dapat dijawab dengan memuaskan oleh beliau.

“Ha ha ha… ada pertanyaan lain, heuh? Silakan beri pertanyaan yang lain. Bapak yakin bisa menjawabnya.

Jerry merasa sebal dengan Pak Husein yang tampak membanggakan dirinya–walaupun mungkin maksud beliau adalah untuk memotivasi siswa-siswinya.

Tak ada pertanyaan lagi yang muncul, untuk beberapa saat lamanya. Pak Husein tampak makin membanggakan dirinya di mata murid-murid yang kurang menyukainya.

“Pak, sejak tadi bapak sudah bercerita tentang penemuan antibiotik pertama: tentang Penicillin. Lalu kenapa dinamakan dengan Penicillin? Kenapa bukan dengan sebutan Fleming, sesuai nama penemunya?” tanya Tom pada Pak Husein.

Mendapat pertanyaan itu, Pak Husein terdiam. Rupanya dia tak mampu menjawab pertanyaan muridnya itu. Dia salah tingkah, tak bisa menjawab. Kikuk, belum tahu jawaban pertanyaan tak terduga dari muridnya itu.

“Ha ha ha ha… ups!!!” serempak Jerry dan kawan-kawan tertawa walau kemudian tertahan.  Mereka tertawa karena Pak gurunya, yang kurang mereka sukai, tak mampu menjawab. Membuat Pak Husein bertambah malu.

Suasana berubah jadi tegang. Pak Husein menatap Tom, kemudian mendekatinya. Tom sedikit tersenyum kecut. Takut!

“Kamu tahu jawaban dari pertanyaan mu tadi?” tanya Pak Husein ke Tom.

Sambil malu-malu, Tom menjawab dengan polos, “Tahu, Pak!”

“Baiklah. Begini anak-anak sekalian. Kalau bertanya itu tujuan nya bukan untuk ngetes. Tapi bertanya adalah untuk mencari tahu. Ingat itu! Jangan membuat orang lain malu. Mengerti kalian, heuh?” kata Pak Husein. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran.

Sedangkan Tom, sepanjang sisa waktu pelajaran, terdiam. Pikirannya kacau, cemas, merasa bersalah. Dia bersalah kenapa bertanya sesuatu yang sudah dia ketahui. Mulanya dia bermaksud baik. Bermaksud bertanya karena teman-teman lain sudah tak ada lagi yang bertanya. Ternyata maksud baik belum tentu berakibat baik. Begitu yang ada di pikirannya.

Tanpa diminta, Tom kemudian menemui Pak Husein di ruang guru seusai pelajaran berlangsung. Di ruang  guru, Pak Husein menasihati Tom agar tak mengulangi ulahnya.

Sebagai hukuman–yang sebetulnya merupakan bentuk cinta dan bangganya pada muridnya yang pintar itu–Pak Husein menugaskan Tom mencari bacaan tentang Penicillin, bakteri, dan hal-hal yang terkait dengan itu. Dia mnugaskan membaca dan membuat tulisan tentang Penicillin. Tak lupa dia pun memberi permasalahan, berupa soal, sebagai pancingan untuk merangsang keingintahuan siswanya itu.

Soal berupa pancingan itu seperti berikut ini.

Pertama: Tom diminta mencari informasi tentang ukuran bakteri. Kedua: Tom diminta menentukan banyaknya bakteri pada sebuah luka (koreng) berukuran 1 cm^2.

Tentu masalah tersebut tidaklah mudah bagi Tom yang masih siswa SMP. Tetapi, Tom mengerjakannya dengan riang untuk menebus kesalahannya: mempermalukan gurunya di kelas.

***

Sejak kejadian itu, Tom tidak asal nanya. Dia hanya bertanya bila benar-benar tidak tahu jawabannya. Begitupula dengan Pak Husein, sifat membangga-banggakan dirinya saat di dalam kelas pun sepertinya sedikit berkurang. 😀

=======================================================

Ya sudah segitu dulu ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan  cerpen di atas ada manfaatnya. Amin. Sampai jumpa di artikel mendatang!

Catatan: Cerpen ini ditulis pada saat teringat dengan seorang guru favorit pelajaran Biologi saya, saat  duduk di bangku kelas 3 SMP, tahun 1997. Beliau adalah Pak Noer Husein Jiwa Negara.

5 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SMP, Menulis, News, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

5 responses to “Karena Cinta

  1. Wah…. sepertinya gurunya ‘kurang canggih’, seharusnya dia bisa mengalihkan jawabannya dengan lawakan2 (misalnya) sehingga sedikit menutupi ‘kekurangannya’ tanpa harus menipu murid2nya dengan jawaban2 palsu. Gurunya pinter tapi kurang kreatif….. huehehehe…..😀

  2. Deä$y

    Sebelumnya,saya mau ngucpn selamat hari raya Idul Fitri 1429 H.Minal Aidin Wal Faizin.Mohon maaf lahir btn.
    Kisah diatas kisah nyata kmu waktu sekolah bkn?bener jga ya,kalo kta ingn melakukan sesuatu itu maksimal,kta harus menyukai dlu apa yg mau kta kerjakan.apapun itu,kalo menurt sbgn org mencintai seseorang itu anugah dr Tuhan.mungkin begtu jga dgn mencintai pelajrn.atau mencintai profesi sebgai guru misalnya.itu smua pernah sy alami pada saat sy blm mencintai pekerjaan sy terasa beban.tp setelah mencintai dgn iklas sy bsa jalani itu smua dgn lapang.hub.sy dgn se2org pernh berantakan jga karna sy tdk bsa menghargai cinta.itu pengalman berharga.untk itu skr sy slalu berusaha menjalnkn apapun atas dasar cinta yg iklas dan tulus. Smuanya Memang Karna “C I N T A”

  3. Lalu, kenapa dinamakan dengan Penicillin? Kenapa bukan dengan sebutan Fleming??

    Aku penacaran niehhh… Huhuhuhuuu

  4. Hohoho… Biologi? waduh itu pelajaran yang paling saya hindari Al:mrgreen:

  5. ggggggggg

    kalo tau jawaban dari pertanyaan itu, apa jawabannya? (kebetulan saya belum tahu)
    hehehehe……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s