Soal Matematika dalam Kisah “Kasih Tak Sampai”

Oleh Al Jupri

Cobalah Anda bertanya pada sembarang orang (Indonesia) di jalan, minimal usia siswa SMA, apakah kenal dengan nama Sitti Nurbaya? Saya yakin akan banyak orang yang mengenal–minimal pernah mendengar– nama tokoh tersebut.

Sekurang-kurangnya ada tiga alasan berbeda kenapa banyak orang mengenal tokoh yang satu itu. Pertama, nama tersebut merupakan tokoh utama dalam kisah “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” yang sangat terkenal, yang sering disinggung oleh para guru baik dalam pelajaran bahasa Indonesia atau pelajaran lainnya. Kedua, tentunya orang-orang yang mengaku kenal dengan nama tokoh tersebut pernah membaca buku Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Dan ketiga, kisah Sitti Nurbaya pernah difilmkan di TVRI tahun 1990, serta pernah pula dimodifikasi jadi sinetron baru-baru ini (Beberapa tahun yang lalu, bener ga?😀 ).

Selanjutnya, pada orang-orang yang mengaku kenal dengan nama Sitti Nurbaya tersebut, cobalah tanyakan apakah mereka tahu kisahnya? Saya menduga hanya sedikit orang yang benar-benar tahu kisah tersebut. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa kisah Sitti Nurbaya itu menceritakan kisah cinta sepasang kekasih yang tak kesampaian, kisah cinta menyedihkan yang tak terwujud karena sang gadis (Sitti Nurbaya) terpaksa menikah bukan dengan orang yang dicintainya.

Bila kedua pertanyaan tadi diajukan ke saya, apa jawab saya?😀

Untuk pertanyaan pertama, maka saya akan jawab, “Iya, pernah”. Untuk pertanyaan kedua, saya tak akan langsung menjawab. Baiknya saya uraikan dalam beberapa paragraf berikut ini.

Setahu saya, sewaktu SMA, buku cerita Sitti Nurbaya merupakan buku bacaan pilihan (tidak wajib) untuk menunjang pelajaran bahasa Indonesia. Tetapi, waktu itu, entah mengapa, saya kurang begitu tertarik dengan buku bacaan ini. Alasannya, yang pertama, saya lebih tertarik membaca buku-buku pelajaran sains (IPA) dan matematika. Kedua, sewaktu usia SD (tahun 1990) saya pernah menonton kisah Sitti Nurbaya yang difilmkan di TVRI (Walaupun yang saya tonton tidak bisa saya ingat semuanya). Dan yang ketiga, walaupun buku cerita tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh para guru bahasa Indonesia, tetapi yang dituntut dalam kurikulum hanya kulitnya saja (tahu secara global kisahnya, tahu nama pengarangnya, dan tokoh-tokoh utamanya saja). Akibatnya, hingga saya lulus SMA saya tak benar-benar tahu kisahnya.

Walaupun pada dasarnya saya adalah orang yang suka membaca atau mendengar cerita-cerita. Tetapi dari sekian cerita yang saya baca, hingga saya selesai kuliah (di Bandung), saya belum pernah membaca buku Sitti Nurbaya. Payah ya? Memalukan!

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Suatu hari saya pernah mendengar langsung ceramah Taufik Ismail, salah seorang penyair terkenal di tanah air kita. Menurutnya, dalam hal produktivitas karya tulis dalam bentuk buku, negeri kita saat ini sudah jauh tertinggal dari negeri jirannya. Salah satu sebabnya, katanya, karena kurikulum sekolah di negeri kita mengabaikan tentang kewajiban membaca karya-karya sastra. Siswa-siswa “produk kurikulum jaman ini” kurang banyak membaca, khususnya karya-karya sastra. Akibatnya, amat sedikit lahir penulis-penulis baru di negeri ini.

Mendengar ceramah sang penyair, waktu itu, saya jadi merenung. Mungkin benar pernyataannya. Saya sebagai siswa “produk kurikulum jaman ini”, harus mengakui, memang kurang dalam membaca karya-karya sastra.

Tetapi, walaupun sempat merenung dan bahkan membenarkan pernyataan Taufik Ismail tersebut, mungkin karena saya “bandel”, ceramah berharga dari sang penyair tadi bagai masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, tak saya hiraukan. Saya lebih hirau dengan bacaan sains atau matematika, namun amat mengabaikan bacaan sastra.

Lagi-lagi tahun pun sudah berganti beberapa kali. Hingga, beberapa pekan yang lalu saya main-main ke tempat penjualan buku-buku bekas di Bandung, tempat saya tinggal saat ini.😀 . Mulanya ingin mencari bacaan-bacaan yang saya sukai.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saya tak mendapatkan bacaan-bacaan yang saya cari. Tetapi, saat mencari-cari, di salah satu lapak penjualan buku-buku bekas, saya melihat setumpuk buku-buku yang bila dilihat dari sampulnya nyatalah bahwa buku-buku tersebut adalah milik negara. Tertulis jelas di sampulnya: “Buku milik negara tidak diperjualbelikan. Dengan segera saya melihat salah satu buku dari tumpukan buku tersebut. Kebetulan buku yang saya lihat tersebut adalah buku “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”. Saya amat-amati sebentar buku tersebut. Di salah satu halaman dalam buku itu tampak cap perpustakaan salah satu SMA di Bandung. Rupa-rupanya, ada oknum yang menjual buku milik negara tersebut ke tukang buku-buku bekas.

Setelah sedikit menimbang-nimbang, daripada saya pulang dengan tangan hampa, saya pun memutuskan untuk membeli buku milik negara tersebut.

“Kang, buku Sitti Nurbaya ini berapaan?” tanya saya ke penjual buku bekas.

“Dua puluh lima ribu!” begitu jawabnya.

Mendengar jawaban sang penjual, saya jadi mikir, terdiam. “Masa buku bekas, milik negara lagi, mahal begini,” begitu gerutuan dalam pikiran saya. Tapi tak saya ekspresikan. “Daripada saya beli cuma satu buku ini, mendingan saya borong juga buku-buku milik negara lainnya, siapa tahu dapat harga lebih murah.” Begitu isi pikiran, dalam diam saya.

Kemudian saya pun mengambil empat buah buku lagi, dengan judul berbeda, yang milik negara itu, dari tumpukan buku-buku tadi: Si jamin dan Si Johan, Si Cebol Rindukan Bulan, Robert Anak Surapati, dan Hulubalang Raja.

“Kang, lima buku lima puluh ribu ya?” begitu tawaran saya pada sang penjual buku. Rupanya, mendengar tawaran saya, yang akan memborong buku-buku jualannya, membuat sang penjual berpikir.

Sejurus kemudian.

“Enam puluh ribu aja kang,” katanya pada saya.

“Ah, lima puluh ribu saja. Kan saya mau beli lima,” kata saya bertahan dengan tawaran mula-mula. Hingga terjadilah tawar-menawar agak sedikit alot.

“Aduh kang, lima puluh ribu mah, saya belum dapat (untung),” katanya sedikit mengiba.

Mendengar pernyataan sang pedagang, akhirnya saya tidak enak hati. Saya mengalah. Saya pun membayar kelima buku sastra lama milik negara tersebut. Lagi pula bila dihitung-hitung, lima buku Rp 60.000,- artinya rata-rata satu bukunya seharga Rp 12.000,-. 😀 Jelas harga segitu jauh lebih murah dibandingkan bila saya membeli buku-buku tadi di toko buku.

***

Segera, sesampainya di rumah kontrakan, saya pun membaca buku-buku yang baru saja dibeli. Buku pertama yang saya baca adalah buku Sitti Nurbaya. Membaca buku ini, serasa saya dibawa ke jaman di penghujung abad 19, masa-masa penjajahan Belanda di negeri kita tercinta ini. Dengan membaca buku Sitti Nurbaya ini, beberapa hal bisa saya ketahui.

Selain menceritakan kisah-kasih sepasang anak muda, Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri, banyak hal yang dapat diketahui dari buku Sitti Nurbaya tersebut. Adat-istiadat orang Sumatra Barat, keadaan negeri kita semasa penjajahan, dan masih banyak yang lainnya, tak terkecuali tentang matematika.😀 Sebagai bukti bahwa di buku tersebut pun ada permasalahan matematika, berikut ini saya kutipkan.😀

“Hm… Marilah Nur, naiklah, supaya lekas kita sampai ke rumah, sebab perutku telah berteriak minta makan,” kata Sam pula.

Kedua anak muda tadi lalu naiklah ke atas bendi Pak Ali dan dengan segera berlarilah kuda Batak yang amat tangkas itu, menarik tuannya yang muda remaja, pulang ke rumahnya di Kampung Jawa Dalam.

Setelah sejurus lamanya berbendi, berkatalah anak laki-laki tadi, “Nur, belum kau ceritakan kepadaku, apa sebabnya mukamu merah.”

“O, ya, Sam. Tadi aku diberi hitungan oleh Nyonya Van der Stier, tentang perjalanan jarum pendek dan jarum panjang, pada suatu jam. Dua tiga kali kucari hitungan itu, sampai pusing kepalaku rasanya, tak dapat juga. Bagaimanakah jalannya hitungan yang sedemikian?”

“Bagaimanakah soalnya?” tanya si Sam.

Demikian,” jawab si Nur. “Pukul 12, jarum pendek dan jarum panjang berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit pula, sesudah itu?”

Dikutip dari buku: Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli terbitan Balai Pustaka, cetakan keduapuluh empat, tahun 1994.

Nah, bagaimana, bisa tidak Anda menjawab soalnya? Bila Anda ingin tahu jawaban dari soal matematika yang ada di buku Sitti Nurbaya tersebut, ada beberapa cara. Pertama, gunakan sedikit kemampuan berpikir matematis Anda untuk menjawab soal matematika tersebut. Kedua, bila Anda merasa kesulitan, silakan bertanya pada yang bisa. Ketiga, praktikkan dengan menggunakan jam dinding.😀 Dan keempat, bila ketiga cara tadi tidak dapat Anda lakukan, silakan baca buku Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) untuk mengetahui jawabannya.:mrgreen:😀

=======================================================

Ya sudah segitu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin. Sampai jumpa di artikel mendatang.

Catatan: Gambar buku diambil dari sini.

10 Comments

Filed under Bahasa, Book, Cerita Menarik, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

10 responses to “Soal Matematika dalam Kisah “Kasih Tak Sampai”

  1. Beruntung akhirnya Mas Al Jupri bisa baca buku ini langsung, ini salah karya indah yang long lasting. Saya nggak yakin apakah chicklit-chicklit yang sedang heboh-heboh ini bisa menyamai “keabadian” karya-karya sastrawan jaman pujangga baru.🙂

  2. satriak

    H: angka yang baru saja dilewati jarum panjang
    m: waktu dalam menit dari posisi 0 (atau 12) ke posisi sekarang.
    V: kecepatan jarum panjang = 360/60 = 6 (derajat/menit)
    v: kecepatan jarum pendek = 360/(60×12) = 1/2 (derajat/menit)

    Bertemu:
    m.V = m.v + 30.H
    m.6 = m.(1/2) + 30.H
    (11/2).m = 30.H

    H = 0,1,2… 11

    Antara pukul 1 dan 2 (H = 1):
    (11/2).m = 30
    m = 60/11 = 5,45 menit

  3. Wah… kali ini saya bisa…… tapi lagi malas ngetik pakai \LaTeX. Huehehehe…..

    Nanti deh…. kalau nggak malas saya bikin jawabannya.

    Btw… Siti Nurbaya, ‘t’-nya dua ya?? Kok kayak jadi nama Italia biasanya Siti kan ‘t’-nya satu kan??

    Saya juga belum pernah loh baca2 buku sastra nasional, padahal seharusnya sebagai orang Indonesia kita sepatutnya menghargai karya sastra nasional kita, begitu kan?? Huehehehe…..:mrgreen:

  4. Kalau saya sih pakai logika orang bodoh aja hehehe….

    Setiap jarum panjang berjalan 60 menit maka jarum pendek berjalan 5 menit. Maka perbedaan mereka berjalan selama satu jam adalah sebesar 55 menit.

    Pukul berapa lagi jarum jam berkumpul setelah pukul 12? Kasarnya sih pasti setelah pukul 1 ya? Nah… jarum panjang membutuhkan 5 menit mencapai angka 1 dari angka 12. Nah dalam perbedaan 55 menit mereka berjalan 60 menit. Dalam 5 menit mereka mendapatkan:

    \frac{60}{55} \times 5 \: = \: 5 \frac{5}{11} menit.

    Jadi setelah jam 12, jarum menit dan jarum jam akan berkumpul kembali tepat pukul 1 lewat 5 \frac{5}{11} menit. Atau jam 5 lewat 5,45.. menit.

  5. Kirain Kisah Kasih di sekolah he he … wah yang beginian bisa juga to dimatekatikakan. Luar biasa. Kagum.

  6. @Yoga: Iya beruntung…😀 Ternyata karya-karya sastra lama negeri kita sangat menarik.😀

    @Satria: Terimakasih jawabannya.

    @Yari NK: Saya nulis nama Sitti Nurbaya, sesuai buku Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). Ya, ngikutin aja. Oiya, makasih juga jawabannya. Sekali-kali PAk Yari, baca juga dong karya-karya sastra negeri sendiri.😀

    @Ersis Warmansyah Abbas: Mmm, iya juga ya, kisah-kasih di sekolah. Menarik juga kaalau dibahas di blog ini. 😀 Terimaksih Pak.

  7. wah boleh juga tuh, pak. bikin cerpen aja yg ada teka-teki matematikanya. trus disampaikan ke anak-anak sekolah. mungkin dengan begitu mereka bisa belajar sastra sekaligus matematika. sekali dayung, dua tiga pulau… *halah*:mrgreen:

  8. IKO KITO MIE

    ytuybv kololo kitafgydudtyuydarydgun jatuh di jawa tengah,solo dekat petani lalu iko kitomi dengar gurun brkt tolooooooooooooooooooong …,IKO MELIHAT ITU TEMAN COWOK UMUR 17 THN LALU IKO BLM KNL PADA GRN TEMANYA…,IKO CEWEK UMUR 19 THN .IKO BRKT MALASSSSSSS ALASAN PADA GURUN /KTNYA IKO KITOMI LAHIR DI JAPAN IKO TAK BUKTI BHS IND .GURUN LAHIR DI MALAISYA LALU GURUN BIASA BHS LAI LALU GURUN SERING BELAJAR,GURUN UJIAN NILAI BAGUSS .GURUN WAJIB BELAJAR ,IKO KITOMI TAK BUKTI BHS DUNIA AJA .LALU IKO SERING BERDOA AGAMA ITU,DAN BELAJAR SEKOLAH DUNIA .IA IKO SERING BELAJAR MAT,BSH DUNIA ,DLL.IKO PINTAR .IKO BKT BLJR BSH INDONESIA.IKO PERNAH CAPEK /KIAT,IKO JADI ORG KAYA,GURUN ORG MISKIN/PEGIMIS.

  9. Irma

    Ck….Ck…..Matematikawan sejati……
    Bp yg atu neh pintelny kaga ktolongan d…..
    Numpang lewat ah p…..
    Tp judul-judulny entuh kaya lg curhat pa….
    hehehe….pis ah……

  10. jojo

    mas jupri…….
    sampeyan tiyang pundi tho….
    koQ pintere ra ketulungan…
    mbok Q jaluk tulung golekke artikel sing apik meneh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s