Belajar Matematika dengan Tahu*

Cerpen oleh Al Jupri

Siang itu suasana di kelas Tom, kelas 1 SMA Paling Negeri, cukup panas. Maklum, waktu kelas 1 SMA Tom kebagian jadwal sekolah siang karena gedung sekolahnya belum mencukupi bila semua siswa masuk kelas pagi hari.

Waktu itu pukul 13:05, saat Pak gurunya, Pak Bambang masuk kelas. Suasana kelas makin ‘panas’, bukan saja karena panas matahari yang menyengat masuk ke ruangan kelas, tapi juga karena Pak Bambang terkenal galak bila mengajar matematika. Tak pernah pandang bulu alias obyektif, dingin, sedikit bicara, jarang tersenyum, tapi untungnya dia dikenal sebagai guru yang pandai.

Keringat para siswa yang adalah teman-teman Tom makin mengucur deras saat melihat Pak Bambang Endar membawa sebilah pisau putih berkilat-kilat dan juga membawa sewadah tahu putih yang tampak kenyal.

Entah apa yang dipikirkan teman-teman Tom saat melihat Pak gurunya membawa benda-benda itu. Mereka tampak bertanya-tanya. Begitupula dengan Tom.

“Aneh, enggak biasanya Pak guru bawa-bawa benda begituan, ini kan pelajaran matematika?” begitu gumam Tom saat melihat Pak gurunya membawa benda-benda yang biasa buat memasak dan dimasak itu.

“Anak-anak, pada pelajaran yang lalu kita sudah belajar tentang bangun-bangun ruang dan sifat-sifatnya,” begitu kata Pak Bambang membuka pelajaran.

“Sekarang kita akan belajar lebih lanjut tentang bangun ruang, yakni tentang irisan bangun ruang.”

“Kalian tahu apa yang bapak bawa sekarang?” tanya Pak Bambang

“Tahu sama pisau Pak guru!” jawab Achong, salah seorang teman Tom dengan penuh semangat. Dia sebetulnya bukan turunan China tapi cuma karena wajahnya mirip orang-orang China keturunan di Indonesia, dia dipanggil dengan sebutan akrab Achong. Sebetulnya nama aslinya adalah Iwan Nurhakim.

“Menurut kamu buat apa Chong?” tanya Pak Bambang.

“Mmmm… buat apa ya? Ya dimasaklah Pak…” hua ha ha ha… teman-teman Achong tertawa mendengar selorohan si Achong itu. Memang begitulah sifat si Achong, jenaka. Sering jadi bahan tertawaan teman-teman sekelasnya. Tapi untungnya, dia merasa enjoy-enjoy aja.๐Ÿ˜€ Jadi, walaupun Pak Bambang itu galak, tetapi bila si Achong sudah melawak, dia tak melarangnya. Malah terkadang mampu memaksanya untuk tersenyum, walau senyumnya terkenal sangat ‘mahal’ alias jarang senyum.:mrgreen:

“Ya, apa yang kamu katakan benar Chong! Tapi kali ini Tahu dan pisau ini akan kita gunakan untuk belajar matematika, yaitu tentang irisan bangun ruang.” Jelas Pak Bambang.

Suasana kelas mulai terasa sejuk karena tiba-tiba awan hitam menaungi atap sekolah Tom. Pertanda akan hujan.

“Oh, jadi tahu itu kita ibaratkan bangun ruang kubus ya, Pak? ” tanya Tom dengan semangat.

“Ya betul!”

“Nah, sebelum kita ke masalah irisan bangun ruang, sebetulnya konsep irisan bangun ruang itu mudah saja. Ya begini ini, ” kata Pak Bambang sambil memegang sebuah tahu dan sebilah pisau. Kemudian Pak Bambang mencontohkannya dengan mengiris tahu. Dan yang dimaksud dengan irisan itu adalah bidang yang terbentuk akibat sebuah benda ruang diiris oleh bidang pengiris. Bidang yang terbentuk bisa berupa segiempat, segilima, segienam, atau yang lainnya. “Nah ini dia contohnya,” begitu katanya sambil mengiris tahu.

“Nah sekarang, kalian semua mengerti maksud irisan bangun ruang itu bukan?” tanya Pak Bambang.

Para siswa sebagian terdiam, sebagian lagi mengangguk, dan sebagian kecil yang lain tampak masih bingung. Namun mengingat waktu, Pak Bambang tetap meneruskan pelajaran.

“Nah, sekarang kita masuk ke matematika. Irisan bangun ruang yang akan kita pelajari pertama-tama adalah irisan bidang dengan Kubus. Jadi, kalau kita lihat antara tahu dan pisau tadi. Tahu sebagai bangun ruang (kubusnya) dan pisau sebagai bidang pengirisnya.”

Para siswa asyik menyimak penjelasan Pak Bambang. Begitupula dengan Achong, dia tampak mengangguk-angguk.

Setelah memberi penjelasan materi dan contoh-contoh soal, kini Pak Bambang memberi latihan soal pada anak-anak muridnya. Soalnya itu begini.

Misalkan sepotong tahu akan diiris. Irisannya harus melewati tiga titik (yang merupakan titik-titik tengah) seperti tampak pada ilustrasi berikut.

Pertanyaannya: akan berbentuk seperti apa irisan antara bidang pengiris (pisau) dan tahu tersebut?

A. Segitiga

B. Segiempat

C. Segilima

D. Segienam

“Ayo anak-anak, berbentuk segi berapa?” tanya Pak Bambang.

“Segitiga!” jawab Achong dengan penuh percaya diri.

“Segiempat!” jawab Jerry yang sedari tadi berusaha memahami penjelasan Pak Bambang.

Sementara itu Tom tampak berpikir.

“Pak bagaimana kalau kita praktikkan dengan menggunakan Tahu saja langsung, biar kelihatan? ” usul Tom.

“Ya, iya, iya. Tapi kalian coba tebak dulu, kemudian gambar bidang irisannya. Baru kita praktikkan dengan menggunakan Tahu, bagaimana?”

Kemudian para siswa mulai menebak-nebak. Dan berusaha menggambar bidang irisan yang terbentuk. Hingga waktu pelajaran pun sebentar lagi berakhir.

“Anak-anak, apakah kalian sudah berhasil menggambar bidang irisannya?” tanya Pak Bambang.

“Belum Pak? Suliiiiiiit!” jawab Achong.

Setelah waktu mendekati selesai, Pak Bambang memutuskan soal latihan itu dijadikan PR saja, karena kebanyakan siswa masih kesulitan.

=======================================================

Ya sudah segitu dulu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel berbentuk cerpen ini ada manfaatnya. Amin. Sampai jumpa di tulisan mendatang. Mohon maaf baru hari ini bisa menulis lagi di blog yang Anda cintai ini.

Catatan: *Tulisan ini lahir dengan cepat berkat permintaan salah seorang teman yang katanya rindu dengan tulisan saya.๐Ÿ˜€:mrgreen:

22 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Iseng, Matematika, Matematika SMA, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains

22 responses to “Belajar Matematika dengan Tahu*

  1. mezzalena

    masih bisa pertamax ya?
    Hm… jawabannya segi enam ga pak?

  2. mezzalena

    Pak, yang masuk kelas Pak Bambang, tapi Tom keringatan melihat Pak Endar membawa pisau yg berkilat-kilat, guru matematikanya sekelas 2 orang ya Pak?
    _________
    Al Jupri: Sudah saya betulkan tuh salah ketiknya. Makasih ya.๐Ÿ˜€ Sebetulnya kalau mau ngeles, nama gurunya adalah Pak Bambang Endarto:mrgreen:

  3. Semua yang ada di sekitar kita bisa buat belajar yah?

  4. Pak Guru ini masih mengajar sampai sekarang? Hebat eui pakai peraga yang murah meriah

  5. serasa jadi anak sekolahan lagi pak… jadi kangen sama yg namanya matematika…

  6. Wah…. lain kali kalau belajar silinder, pak gurunya bawa birthday cake di kelas! Asyik!! Kayaknya setiap pelajaran Geometri pasti murid2nya pada kenyang semua!:mrgreen:

  7. Wah, Bapak pendidikan terakhirnya di Belanda ya Pak. Pasti Bapak sekarang jadi pakarnya RME, tergambar dari tulisan-tulisan Bapak.

    Salut!
    Seandainya buku-buku ajar di sekolah penulisannya berorientasi RME pasti bagus ya Pak?

  8. Kemana aja pak?
    Jadi kangen sama guru matematik di SD saya dulu. Terkenal galak, tp ga bawa tahu, dia selalu bawa penggaris kayu yang panjangnya 1 meter. Tapi gara-gara guru yang galak itu, saya jadi suka matematik.

    Hebat euy tulisan kang Jupri, seneng saya bacanya. Nanti kalo kang Jupri dah jadi juragan tahu, bentuknya jgn yang aneh-aneh ya. Seperti irisan itu yang bentuk irisannya jadi ‘seperenam’ !
    (mudah2an bener..)

  9. @mezzalena: Iya, kamu bisa pertamax..๐Ÿ˜€

    @akokow: Mmm.. bisa jadi… (tapi engga semuanya mungkin.. )๐Ÿ˜€

    @Yoga: Mmmm… masih (tapi Pak guru yang ditulisan ini bukan nama sebenarnya).๐Ÿ˜€

    @esensi: Met kangen ya…๐Ÿ˜€

    @Yari NK: Gini aja Pak, kalau bapak berulang tahun, birthday cake-nya dihibahkan saja ke sekolah terdekat…๐Ÿ˜€ (itung-itung biar ga mubazir.. )

    @Suhadinet: Mmmm… terimakasih, Pak.๐Ÿ˜€

    @Rulieta: Ke mana? Saya di sini-sini saja, kok.๐Ÿ˜€ Do’akan aja ya biar jadi juragan (bos)… hue he he he…:mrgreen:

  10. aminhers

    Memang betul kang Jupri, desain pembelajaran realistik sangat efisien tuk kita tampilkan di depan kelas. Kesan anak terhadap matematika juga sangat akrab dan tidak teoritik. desain ini perlu kita kembangkan.
    nice posting
    salam

  11. Kayaknya banyak hal berbau matematik ya atau dimatematikan he he. Pokoknya saya hanya bisa nikmati

  12. hmmm.. kubus..? piramid..?
    pengen praktekin tp ga punya tahu nya..

  13. gimana kalo setelah di kelas belajar mengiris tahu, lalu ke kantin menggoreng dan makan tahu? jadi, pengetahuannya masuk juga ke perut dan semuanya menjadi tahu… salam jumpa lagi, pak.:mrgreen:

  14. sjafri mangkuprawira

    bagaimana mengilustrasikan kasus penjelasan matematika secara faktual sangat jarang dilakukan para guru……hal inilah yang menyebabkan matematika dipandang sebagai ilmu abstrak oleh para murid….padahal kemampuan matematika sama saja dengan kemampuan berpikir logis dan analitis……jarang sekali dilakukan seperti contoh dalam artikel ini……siapa tahu contoh tahu dikembangkan bagaimana dengan model belah ketupat, kubus, etc…..

  15. Bayangan saya kok irisannya berbentuk segi empat ya?? bener nggak ya?โ“

  16. Retno PW

    selintas kalo terbayangnya segi3. tapi kalo ditelusuri kayak bukan gitu. jadi bingung……….
    Mungkin pak gurunya cuma mengecoh x yaa
    kan melalui 3 titik , ya udah segi3 aja. tapi ntar aku ngitung kancing dulu………………..
    Oh! ternyata jawabannya a. segitiga
    he heeeeee

  17. aswin

    tolong dong gimana sih caranya jadi anggota di situs ini ? cepatya

    ____________
    Al Jupri: Mmmm, jadi anggota atau mau ikutan komen aja? Kalau jadi anggota, silakan bikin blog sendiri aja di wordpress.com, terus silakan berkunjung and ngasih komen di sini…๐Ÿ˜€

  18. alat peraganya bagus pak jupri, tapi jangan yang tajam kayak gitu to miris aku membayangkan, jangan2 ada operasi sajam dari kepolisian

  19. Abdullah

    wah , pake tempe aja lain kali , kayaknya enakan tempe drpda tahu .. . . .

  20. jawabnya segienam.
    jadi inget pelajaran kelas 3 SMA dulu๐Ÿ™‚

  21. ed!

    awas pisaunya kena siswanya
    kita hidup takkan lepas dari matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s