Otomatis Pandai Matematika

Oleh: Al Jupri

Siang itu, tatkala matahari mulai menyengat, tatkala waktu sholat Jum’at akan segera tiba, segera kuhentikan sebuah angkot*. Pulang ke rumah kontrakan. Untuk segera bersiap menunaikan sholat Jum’at yang sudah di ambang waktu.

Dalam angkot saya duduk dengan beragam orang. Di salah satu pojok belakang, ada beberapa mahasiswa yang sedang asyik mengobrol. Di pojok belakang lainnya ada seorang bapak yang diam merenung. Di sebelahnya ada ibu-ibu yang juga terdiam. Tidak penuh memang angkot itu. Makanya ketika angkot itu saya hentikan, cukup dengan satu lambaian tangan, segera berhenti untuk mengangkut saya.

Entah sebuah keberuntungan atau godaan menurut Anda? Saya kebetulan mendapat tempat duduk di samping seorang gadis cantik nan manis, yang sedang melamun anggun. Saking cantiknya, saya yakin, siapapun akan tergoda untuk meliriknya, melihat wajahnya, menatap raut mukanya. Tak terkecuali saya. Sekali saya meliriknya! Ya, melirik sekedar menuntaskan penasaran, melihat wajah cantiknya.

Sekali sudah saya lirik, sekali sudah saya lihat wajah cantiknya. Menurut tuntunan agama (Islam), bila hanya sekali melihat itu namanya ‘rejeki’. Tetapi bila yang kedua kali atau selanjutnya, maka itu dikategorikan sudah mengumbar hawa nafsu, menuruti godaan setan (syaiton) yang terkutuk, maka tercatat sebagai ‘dosa’ yang wajib dipertanggungjawabkan. Teringat akan hal itu, segera saya berusaha menundukkan pandangan.

Tak berapa lama, saya akui tak sanggup lagi. Ya, saya tak sanggup untuk terus menundukkan pandangan. Saya pun mengalihkan pandangan. He he he… (sama saja ya?):mrgreen: . Ya, saya mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha untuk tidak melihatnya.

Sepanjang perjalanan saya berkonsentrasi memikirkan masalah yang sedang saya hadapi, sekalian merenung dan berpikir. Tapi suara gaduh dua mahasiswa yang sedari tadi mengobrol bercuap-cuap seenaknya itu, akhirnya memecah konsentrasi saya. Ah, karenanya saya terpaksa mendengar obrolan mereka. Toh, sepertinya, obrolan mereka bukan tentang gosip, bukan membicarakan keburukan orang lain.

***

“Ah, si Ade mah emang pinter Fisika dari dulunya juga. Pantes saja kalau dia juga pandai matematika. Pas SMA saya kan sekelas sama si Ade itu,” ucap seorang mahasiswa berbaju hitam.

“Iya sih, kalau pinter fisika otomatis pinter matematika,” timpal seorang mahasiswa lainnya yang berbaju putih.

“Tapi kalau yang pinter matematika belum tentu pinter fisika,” tambah sang mahasiswa berbaju putih.

Saya yang kebetulan mendengar pernyataan itu kemudian merenung, berpikir, dan bertanya pada diri sendiri. Apa benar bila seseorang itu pandai fisika maka otomatis pandai matematika?

Sebetulnya pernyataan yang baru saja saya dengar dari kedua mahasiswa tadi bukanlah hal baru. Sebelumnya pun saya pernah mendengar pernyataan yang serupa. Ya, pernyataan yang menyatakan bahwa seseorang yang pandai fisika, maka otomatis dia akan pandai matematika.

Berpikir tentang hal itu, memaksa pikiran ini mengingat lembaran pengetahuan yang pernah saya baca dari buku-buku sejarah sains atau matematika.

Archimedes, yang di dalam ilmu fisika terkenal dengan hukum Archimidesnya, ternyata juga banyak berkontribusi pada matematika dalam bidang geometri dan Kalkulus.

Isaac Newton, yang dalam dunia fisika terkenal dengan hukum gravitasi benda langit, dan hukum: I, II, dan III Newtonnya, ternyata adalah juga merupakan seorang matematikawan yang amat besar kontribusinya di bidang Kalkulus.

Carl Friedrich Gauss, yang di dunia fisika terkenal dengan hukum Gaussnya dalam bidang kelistrikan, nyatanya dia adalah seorang ‘pangeran matematika’, dipandang sebagai matematikawan terbesar sepanjang masa.

Dan, Albert Einstein, si jenius fisikawan yang terkenal dengan teori relativitasnya itu, juga dikenal sebagai orang yang amat pandai matematika. Tak mungkin merumuskan teori relativitas, tanpa kemampuan matematika yang mumpuni.

Itulah beberapa contoh para ilmuwan, yang memperkuat pendapat bahwa, seseorang yang pandai fisika, maka otomatis dia pandai matematika.

Sekarang mari kita lihat contoh lain yang biasa-biasa.

Teman saya, yang dari jurusan fisika, sewaktu SMA adalah jawara olimpiade fisika. Ternyata benar, dia yang saya tahu juga amat mahir matematika.

Adik saya, yang kuliah di jurusan pendidikan fisika, ternyata memang pandai dalam matematika. Buktinya selalu meraih nilai A untuk mata kuliah matematika (Kalkulus) dan Matematika untuk Fisika.

Kedua contoh terakhir di atas pun masih memperkuat pernyataan dua mahasiswa yang ada dalam angkot tadi.

Tapi, saya masih punya contoh lain.😀:mrgreen:

Beberapa teman saya, yang kuliah di jurusan fisika atau pendidikan fisika (saya yakin mereka pandai fisika), mengeluh, mengaku bahwa mereka kesulitan belajar fisika karena kesulitan matematika yang dipakai untuk fisika. Mereka mengatakan bahwa sebetulnya konsep fisikanya itu mudah, amat mudah malahan. Namun, yang menjadi penghambat adalah sulitnya matematika yang diterapkan untuk membantu memecahkan persoalan fisika yang mereka hadapi.

Ah, setelah teringat pendapat beberapa teman mahasiswa yang saya tulis dalam contoh terakhir tersebut, akhirnya saya masih tidak setuju dengan pendapat dua mahasiswa—dan mungkin juga pendapat orang lain—- yang duduk dalam satu angkot dengan saya tadi. Justru dari pendapat teman-teman mahasiswa pada contoh terkahir tadi, saya menangkap pernyataan bahwa sebetulnya konsep fisikanya yang mudah. Yang bikin sulit justru pemecahan masalahnya yang menggunakan matematika.

Karena itu, selanjutnya, berdasarkan contoh-contoh orang-orang jenius tadi ditambah contoh-contoh nyata yang pernah saya saksikan tersebut, saya baru bisa berkeyakinan bahwa bila seseorang itu ingin pandai fisika, maka syaratnya adalah dia wajib pandai matematika. Tidak bisa tidak! Dan tak bisa ditawar-tawar!😀

***

Angkot terus bergerak cepat. Seperti beradu cepat dengan kendaraan lain untuk segara sampai. Walau sesekali ada kemacetan. Sesekali pula terhenti di lampu merah. Dan saat itu, saat terhenti di lampu merah (traffic light) suara bising kendaraan bermotor terdengar sempurna ketika warna hijau lampu mulai menyala. Pekak telinga ini rasanya!

Kemudian, angkot bergerak melambat, dan berhenti di sebuah perempatan jalan. Beberapa penumpang turun. Dua mahasiswa tadi turun, begitu pula gadis cantik di sebelahku, turun juga rupanya.

Alhamdulillah, kini bebas pandanganku. Bebas karena ‘godaan yang menempel pada sang gadis’ sudah lenyap di sisiku. Eits, tapi, godaan kembali mendekap, saya tergoda ingin melihat sang gadis tadi lagi. Ya, saya ingin melihat untuk yang kedua atau ketiga kalinya. Tapi, rupanya, saat tak tahan untuk melihat, sang gadis sudah lenyap di kerumunan orang yang ada di perempatan. Ah, untuk kali ini, sesal kemudian, alhamdulillah!😀

Waktu terus berjalan. Detik, menit, bahkan jam pun berputar. Kulihat pukul 11: 47 WIB, waktu sholat Jum’at makin dekat, saat ada sebuah pesan masuk ke ponsel bututku. Satu pesan dari adikku rupanya. Setelah dibaca dan kusimpan lagi ponsel tua itu, ternyata saya pun harus segera turun. Tujuan sudah tampak di muka angkot, beberapa ratus meter lagi sepertinya. Ya, saya pun turun untuk segera sampai di kontrakan. Untuk segera ke masjid, menunaikan panggilan-Mu.

=======================================================

Ya sudah, segitu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin. Sampai jumpa di artikel mendatang!

Catatan: angkot = angkutan kota. Kalau di Jakarta, angkot itu dikenal dengan sebutan mikrolet.

15 Comments

Filed under Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Fisika, Indonesia, Iseng, Matematika, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

15 responses to “Otomatis Pandai Matematika

  1. Sekali sudah saya lirik, sekali sudah saya lihat wajah cantiknya. Menurut tuntunan agama (Islam), bila hanya sekali melihat itu namanya ‘rejeki’. Tetapi bila yang kedua kali atau selanjutnya, maka itu dikategorikan sudah mengumbar hawa nafsu, menuruti godaan setan (syaiton) yang terkutuk, maka tercatat sebagai ‘dosa’ yang wajib dipertanggungjawabkan. Teringat akan hal itu, segera saya berusaha menundukkan pandangan.

    Kalau begitu pada saat melihat pertama kali, melihat saja sepuas2nya yang lama gitu hehehe….. Tapi, kalau mata sudah berkedip tanpa mengalihkan pandangan, itu sudah termasuk dalam termin kedua belum ya?? Huehehehe…..

    Ok…. sekarang komen seriusnya nih….. kalau menurut saya para ahli tersebut harus dilihat dulu, mereka pintar matematika dulu atau pintar fisika dulu, kalau mereka pintar matematika dulu berarti ya karena persyaratan pintar fisika itu harus pintar matematika juga. Maka tentu saja orang yang pandai fisika akan otomatis pandai matematika. Lagian kalau ahli fisika nggak bisa matematika, yaa… gimana jadinya??:mrgreen:

    Tetapi kalau menurut saya, kalau orang matematika nggak pintar fisika, itu karena dua hal: Pertama, mungkin ia memang tidak suka fisika jadi ia tidak mempelajarinya atau Kedua, ia suka fisika tapi belum sempat mempelajarinya karena fokusnya hanya ke matematika atau hal2 lainnya…. Nah, itu menurut saya pribadi loh…. hehehe…..

  2. wew… tumben banget pak jupri menceritakan pengalamannya melirik cewek cantik di angkot, hiks. waduh, ttg fisika dan matematika itu,keduanya agaknya memang bertautan, pak. meski demikian, bisa juga ndak mesti begitu. hal itu sangat ditentukan oleh minat dan kecintaan seeseorang terhadap bidang tertentu. saya termasuk orang yang menyukai fisika, pak. tapi kalau dah ketemu dengan rumus matematika, entahlah, pikiranku jadi buntu, mumet memikirkan bermacam2 rumus. hiks, jadi malu nih!

  3. Wahh … Otomatis ya paK? Saya tidak pintar matematika berarti otomatis tidak pintar fisika? Hihihi….
    Btw, Semua Filosof zaman dulu, dari kakek Thales kebanyakan adalah matematikawan. Apa itu karena matematika adalah salah satu akar dari Ilmu pengetahuan, sehingga kebanyakan Ilmuwan (kalo zaman dulu disebut Filosof) pasti pintar matematika? *tanya neh? hehehe*

  4. Kg.Jufri, Saya mencoba nulis sesuatu yg berkaitan dgn matematika nih di Blog saya, tolong dikritisi yah tulisannya.🙂

    http://zona90.wordpress.com

  5. FAD

    Waduh matematika kabur dah …
    Kalau Fisika…tambah kabur…
    Kalau gadis Cantik …kabur juga tapi mendekat

  6. Waktu SMA pelajaran yang aku suka cuma ….kalau enggak ada pelajaran …he he

  7. Ternyata Kang Jupri juga manusia😀
    Saya suka matematika, saya suka fisika tapi saya paling malas menghafal rumus. Mungkin banyak yang kasusnya seperti saya, makanya sekarang Pak Yohanes Surya bikin pendekatan fisika bukan melulu menghafal rumus tapi menggunakan logika untuk penyelesaiannya, dan ujung-ujungnya mesti paham matematika.

  8. Salam kenal Kang Jupri. Saya juga sedang belajar menulis lho. Tapi di blog saya saat ini, isinya gado-gado, kebanyakan sih berkaitan dengan sastra. Maklumlah, disamping senang dengan matematika saya juga senang dengan sastra. Mungkin untuk menyeimbangkan penggunaan otak kanan dan otak kiri ya, he he.

    Sebenarnya matematika tuh asyik lho, g’ kalah sama asyiknya dengan main bola, he he. Bagi yang tidak suka matematika mungkin karena belum menemukan keasyikannya kali yee. Atau buru-buru dah apriori ma matematika?he he.

  9. jadi pingin cerita pengalaman sekolah dulu nih.. (maaf , bukan pengalaman di angkot –hehe) ..
    Karena suka pelajaran matematika, jadi mudah ngerjain pelajaran lain yang berbasis itungan. Tapi giliran ketemu dg rumus-rumus fisika, jadi mumet met met. Karena kalo ngerjain soal matematika, bisa pake jalan apapun. Mau jalan memutar maupun motong jalan bisa. Mau ngitung pake 10 jari, pake kalkulator, pake tabel bisa. Tapi kalo udah fisika.. lupa rumus, lupa segalanya.
    so.. jago matematika “tidak =” jago fisika
    jago fisika “bisa =” jago matematika

    — ongkos angkot udah naik belum nih bang Jupri?? —

  10. ILYAS AFSOH

    Pak Jupri melihat pertama rejeki, dihitung satu
    Melihat kedua hukumnya dosa, dihitung dua
    memang pemenang selalu ingin di nomor satu

  11. Walah jadi cerpen deh … cerita di angkotnya, sementara tentang matematikanya mendatangkan tanya. Matematika itu ilmu apa ‘alat ilmu’? Ah, bikin bingung saja. Cerita angkotnya menggoda sih.

    Iseng-iseng, yang geinian bisa di matematika kan ngak Pak Jupri (www.webersis.com):

    Wahai angin nan lalu
    sampaikan padanya tentang kalimah
    kamilah pemilik republik ini
    yang berhak atas derita

    Kami tak punya kuasa, bukan pengusaha, atau politiukus, apalagi pengambil kebijakan yang tidak suka membaca iklan dan posko perang, yang idak penah paham ‘permainan’ hebat-hebat

    Nyanyian rindu senandung pilu tak enyah-enyah dekapan rindu sorak-sorak memanah daun telinga
    rayuan burung pipit sayup-sayup mimpi
    tanpa posko di halaman sarang-sarang yang tercabik-cabik
    ladang-ladang merekah nanah
    lidah-lidah valas bukan labuhan mimpi kami
    kami realitas

    Kumandang janji-janji kehilangan makna
    sudalah, mengapa benang basah ditegakkan
    citailah negari ini

    Wahai angin nan lalu
    negeri ini amanah kami
    labuhan derita balada rasa

    Banjarbaru, 28 Mei 2008.

  12. nae_me

    Kalau kata sensei saya, orang yang memiliki basis matematika yang baik, kalau dia mau belajar pelajaran yang lain (mis. mau belajar komputasi mekanik), maka kita yang dari ilmu terapan akan kalah sama mereka, he he he.
    Itu kata Sensei saya loh
    Kalau kata saya, cari aja istri orang matematika, kalau ada permasalahan matematika yang rumit, minta tolong aja dia yang ngerjain, kan beres (kasus saya nih, saya orang mekanika, kerja pake numerik (Finite Element Method), punya istri orang matematik, kalau harus menurunkan persamaan berlipat-lipat, langsung suruh istri, he he he), beres dan Alhamdulillah berhasil.

  13. Postingan yang menarik, terutama kalimat ini: “Iya sih, kalau pinter fisika otomatis pinter matematika,”. Kalo menurut Mas Jupri, gimana ya?

  14. doeytea

    Untuk jago fisika memang semestinya harus jagi matematika juga karena matematika adalah “bahasa” nya fisika. Betul enggak mas?

  15. amy

    ikutan nimbrung nic bang…
    lam kenal…….
    lirikan pertama rizki,tapi kalo di lama2in hati2 juga jangan sampe matanya gak bisa ngedip..
    saya tuc suka matematika karena gak ribet harus ngapalin, bebas berkspresi, mau jalan konvensional/muter2 hayu mau kilat juga ocey…
    tapi kalo disuruh ngerjain soal fisika angkat kaki dec…sampe2 nilai kuliah fisika saya D……
    hiks8…
    so… mahir math belum tentu tuc mahir fisika…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s