Haruskah Ilmuwan Indonesia Sok Tahu Segala Hal?

Oleh: Al Jupri

Beberapa waktu yang lalu, ketika baru datang dari Belanda, saya ngobrol dengan seorang ilmuwan* yang juga merupakan guru, dosen, dan sekaligus pembimbing skripsi saya semasa belajar di Bandung dulu, sewaktu menempuh pendidikan sarjana. Dari sekian banyak yang dibicarakan, ada satu hal menarik yang kami obrolkan.

Ilmuwan: “Pri, gemana kuliahnya?”**

Saya: “Ya, gitu deh Pak! Saya sih di awal-awal perkuliahan cukup kerepotan dengan kuliah di sana, di Belanda. Banyak faktornya….”

Kemudian saya bercerita panjang lebar tentang suka dukanya kuliah di negeri mantan penjajah Indonesia, negeri Belanda itu. Bagaimana saya mengalami kesulitan, bagaimana saya berinteraksi dengan orang-orang di sana, dan beberapa hal aktivitas saya di negeri asing itu. Secara ringkas, padat, dan ga tahu jelas atau tidak, saya ceritakan pada beliau. Beliau, yang dosen saya itu, hanya aktif mendengarkan. Sekali-kali bertanya untuk memperjelas maksud dari apa-apa yang saya ceritakan. Sesekali juga melontarkan pertanyaan kritis yang bikin saya perlu berhati-hati dalam bicara.

Saya: Pak, saya mah kagum dengan para ilmuwan di sana.

Ilmuwan: “Maksudnya?”

Saya: Begini, Pak! Bila saya bertanya sesuatu hal yang di luar bidang keahliannya, walau masih satu rumpun keahlian, para ilmuan di sana dengan enteng akan menjawab, tidak tahu!

Ilmuwan: “Oooo…”

Saya: “Saya pikir hal itu perlu diteladani!”

Ilmuwan: “Wah, Pri! Di sini, kita ga bisa seperti itu!”

Saya: “Kenapa begitu, Pak? Bukankah itu bagus? Bagusnya karena tidak memberi informasi yang memang bukan keahliannya.”

Ilmuwan: “Ya, mungkin di negeri barat sana, atau di negara-negara maju para ilmuwan itu bisa dengan enteng berkata seperti itu. Tapi di negeri kita? Kita ga bisa seperti itu…”

Beliau sejenak diam. Sedangkan saya hanya menunggu pernyataan beliau selanjutnya.

Ilmuwan: “Kalau kita di sini ditanya, tentang bidang yang terkait dengan kita (walaupun itu bukan fokus keahlian kita). Bidang pendidikan matematika misalnya. Maka mau tidak mau kita perlu menjawabnya dengan baik. Bila kita ditanya tapi dengan enteng menjawab tidak tahu, maka nanti kita akan diangggap pelit! Atau bisa pula kita akan dianggap kuper alias kurang pergaulan, kurang wawasan! Kurang pengetahuan!”

Saya: “Oooo..” (Saya hanya mendengarkan dengan aktif, sambil manggut-manggut memperhatikan, walau dalam pikiran, kurang menyetujuinya).

Ilmuwan: “Jadi, sok aja kalau kamu mau enteng menjawab ‘tidak tahu’ untuk hal yang terkait dengan bidang kamu (tapi bukan fokus keahlian kamu), saya yakin kamu tidak akan bisa! Di sini beda keadaannya! Saya sendiri mengalaminya.”

****

Itulah sekelumit penggalan obrolan dengan beliau, ilmuwan yang juga dosen saya itu. Setelah diskusi menarik itu, saya jadi berpikir dan bertanya pada diri ini. Kenapa beliau sampai memberikan pernyataan seperti itu? Bukankah memberi informasi, tentang pengetahuan keilmuan, yang bukan fokus bidang keahlian kita itu akan membahayakan bagi si penanya? Tidakkah nantinya akan menjerumuskan?

Saya bertanya seperti itu karena teringat akan sebuah hadist nabi Muhammad Saw, bahwa “Sesuatu urusan yang diserahkan bukan pada ahlinya, niscaya kehancuran itu akan menanti di kemudian hari”. Ya, kehancuran itu niscaya akan datang cepat atau lambat!

Gara-gara teringat hadist itu pula, saya jadi berpikir, jangan-jangan mutu pendidikan di negeri kita itu rendah (katanya), khususnya dalam matematika atau pendidikan matematika, karena banyak orang yang bukan ahlinya tetapi sok menjadi ahli. Bukan ahli dalam bidang A tetapi sok tahu dalam hal A. Sedikit tahu tentang A, tapi sok pandai dalam urusan A. Sama sekali tak berlatar belakang tentang A, tapi sok paham tentang A. Duh, sungguh saya jadi kepikiran tentang hal itu!

****

Terkait dengan permasalahan di atas, kemudian tiba-tiba saya teringat dengan nenek saya. Kok bisa?πŸ˜€

Ya, dulu sewaktu kuliah di Bandung, hampir tiap bulan saya pulang kampung. Setiap saya pulang, saya selalu ke rumah nenek. Ya, selain silaturahmi dan seringkali manja-manjaan (minta dipijitin segala), juga ngobrol sana-sini dan banyak hal dengan beliau. Dari sekian banyak hal yang diobrolkan, ada satu pertanyaan yang bikin kurang enak untuk saya dengar dari beliau. Ya, beliau selalu membanding-bandingkan saya dengan ustad/kyai di kampung yang katanya pandai dalam segala hal. Pandai ceramah agama, pandai membaca Qur’an seperti Qori/Qori’ah, pandai mengatur urusan kemasyarakatan, pandai menjawab segala permasalahan, dan lainnya.

Nenek saya selalu bilang, bahwa kyai (kampung) itulah orang yang pandai! Karena itu beliau selalu bertanya dan meminta ke saya, “Kalau kamu emang pandai, sudah sekolah sampai ke Bandung segala, coba dong sekali-kali memberi pengajian (agama) ke masyarakat di sini, di kampung,” begitu katanya.

Pertanyaan dan permintaan itu selalu berulang-ulang beliau utarakan ke saya. Walaupun sudah berulangkali pula saya jelaskan bahwa, yang saya pelajari di Bandung itu bukan mendalami tentang Agama. Saya belajar di Bandung bukan untuk jadi kyai, bukan untuk menjadi ustad (agama), bukan untuk jadi penceramah agama. Di Bandung yang saya pelajari adalah matematika dan pendidikan matematika. Tetapi, rupanya nenek saya itu tidak mengerti atau tidak mau tahu dan selalu membandingkan dengan yang dianggapnya pandai dan serba tahu itu. Ya, saya selalu dibandingkan dengan ustad/kyai kampung!

Mungkinkah memang orang pandai itu seperti anggapan nenek saya itu? Bila saya asumsikan orang pandai itu sama dengan ilmuwan, apakah memang begitu bahwa ilmuwan itu seperti anggapan nenek saya itu? Atau seperti dosen saya?

Sepertinya keduanya memiliki kemiripan.πŸ˜€

Saya sementara ini cuma bisa bertanya, apakah ilmuwan Indonesia itu memang perlu sok tahu dalam segala hal? Bagaimana menurut Anda?

****

=========================================================

Ya sudah segitu dulu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin. Sampai jumpa di artikel mendatang.πŸ˜€

Catatan:

**Pri = panggilan beliau terhadap nama saya Al Jupri

*Ilmuwan = orang yg ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu; orang yg berkecimpung dl ilmu pengetahuan (diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring)

21 Comments

Filed under Agama, Cerita Menarik, Curhat, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan Matematika, Renungan

21 responses to “Haruskah Ilmuwan Indonesia Sok Tahu Segala Hal?

  1. Pertamaxxxxx ajah …….

  2. Iya ya… Di Belanda sini kebanyakan orang2nya gitu ya Pak. Gak harus tahu semua hal, memang. Apalagi kalo memang bukan bidangnya. Kalo gak beneran tau ya bilang gak tau daripada ngasi info yang ga valid.
    Btw, bukannya saya meremehkan sistem di Indonesia tapi saya rada mikir tentang anak2 dari TK sampe SMA dijejali segala macem pelajaran yang (mungkin) justru membebani si anak. Paradigmanya, semakin si anak SERBA BISA, semakin hebatlah dia. Gak cuma pinter di sekolah, tapi harus bisa main musik, balet, sempoa, olahraga, dll. Yang ada si anak makin tertekan sampe banyak yang bunuh diri segala.

    Ehhh… OOT ya? Hehehe. Maappppp…πŸ™„

  3. Wah, kalo saya pikir mungkin memang ada baiknya untuk mengetahui banyak hal. Kata ayah saya (kalo ga salah), kalo orang terlalu fokus pada satu hal saja dan tidak memperhatikan hal yang lain, calonnya orang itu jadi mudah pikun. Selain itu, kemungkinan untuk mendekati gila akan menjadi besar… Kalo ga salah lho…

  4. @mezzalena: Iyah gpp…πŸ˜€
    @chris: Ga OOT kok, bener. Di sini mungkin kalau ditanya terus jawab ga tahu, takut dibilang bodoh kali ya? Makanya gengsi, dan harus segala tahu…πŸ˜€
    @Alias: Iya, memang ada baiknya. Tetapi kalau memang bukan keahlian kita, kenapa perlu memaksakan diri ya… ?

  5. Tidak lah.
    Kita bukan Tuhan, kita tidak tahu semua hal di dunia ini.
    Hm… Apa ilmuwan-ilmuwan di Indonesia kebanyakan atheis ya, jadi merasa dirinya Tuhan untuk dirinya sendiri? *digampar ilmuwan se-Indonesia*

    Eh, memang ada ilmuwan di Indonesia ya?:D

  6. cK

    hmm…mungkin karena anggapan “kalau bisa menjawab berarti pintar”.. mungkin..πŸ™„

  7. Tapi di Indonesia masalahnya malah kebalikannya (meski nggak semuanya loh) para ilmuwan dan para profesional jangankan yang bukan bidangnya, bahkan yang sebenarnya bidangnya saja dia nggak tahu juga! Kan bisa gaswat tuh! Huehehehe……. (Banyak sekali contohnya loh!):mrgreen:

    Tapi kalau menurut saya, selama kita tahu, ya buat apa kita bilang ke orang tidak tahu, ya kasih tahu aja! Itung2 sekalian amal. Moso ada profesor ahli bahasa, terus kebetulan ada yang tanya: “Prof, 5 + 5 itu berapa sih??” terus sama si profnya dijawab: “Wah, itu sih bidang Matematika, saya ndak tahu dik! Saya ahli Bahasa!” Lha, kan aneh!:mrgreen:

  8. Weekz…. udah ke-submit duluan…… huehehe…. sorry….

    Menurut saya sih, selama kita mampu belajar dan mampu mencerna informasi ya silahkan saja…. asal jangan terlalu dipaksakan dan informasi yang kita kasih dapat dipertanggungjawabkan, itu saja! Kalau nggak bisa kasih info yang nggak akurat ya jangan dipaksakan, nanti salah2 malah bisa ditertawakan! Huehehehe…..:mrgreen:

  9. Waaah…. salah ketik dikit:

    Tertulis:

    Kalau nggak bisa kasih info yang nggak akurat ya jangan dipaksakan

    Seharusnya:

    Kalau nggak bisa kasih info yang akurat ya jangan dipaksakan

    Sekalian hattrick sekali2!:mrgreen:

  10. Tumben boss Yari main hattrick-hattrick anπŸ˜€

    Mas Jupri, saya jadi ingat cerita teman saya yang kuliah di teknik sipil dan neneknya. Ceritanya pas lebaran semua cucu sungkem ke sang nenek nanti sang nenek akan memberikan wejangan special ke tiap cucu, pas giliran teman saya:-

    Neneknya :- “Belajar yang rajin ya biar cepat lulus jadi dokter”
    Teman saya:- ???!!!
    πŸ˜€

    *mode serius on*

    Kalau menurut saya, kita sah-sah saja menjawab pertanyaan diluar disiplin ilmu kita selama kita bisa mempertanggungjawabkan jawaban yang kita berikan. Kebalikannya kita juga harus jujur, seandainya tidak memiliki kapasitas untuk menjawab dengan baik lebih baik mengatakan tidak dengan cara yang humble. Insyaallah tidak akan melukai perasaan orang yang berbicara dengan kita. Wah saya terlalu bersemangat pagi ini. Semangat Pagi Mas!

  11. Mungkin disitulah letak hebatnya (ilmuwan) Indonesia … semakin banyak sarjana, magister, doktor bidang kependikan, pendidikan semakin melorot kualitasnya. Kenapa? Mungkin karena, mungkin lho, tidak paham yang dipelajari, apalagi memahamkan anak bangsa. Cona nanti kalau Kang Jupri full mengajar dan meneliti hal-hal pendidikan. Perusak mutu pendidikan ya ahli-ahli pendidikan dengan tidak berbuat apa pun. Buktikan saja.

  12. adipati kademangan

    postingan ini mengingat saya pada suatu soal
    2 + 2 adalah …
    a. 1 b. 2 c. 4 d. tidak tahu

    soal diatas bukan seperti soal biasa yang selalu diakhiri dengan tanda “sama dengan” / (=). nah disini uniknya pertanyaan ini bahwa kalimat matematika tidak selalu sama dengan kalimat bahasa, apalagi dicampur kayak soal diatas.
    kalo Al – Jupri njawabnya apa ?

  13. Imas

    Saya sependapat dengan Yoga dan sebagai tambahan, menurut saya ilmuwan tidak harus selalu tahu segala hal karena ilmu itu sangat banyak, apa mungkin bisa tahu semua hal? Sebagai contoh, tidak sedikit mata pelajaran yang harus diikuti oleh anak sekolah, padahal itu kan cuma kulit luarnya saja. Kalau saja anak diberi pilihan untuk memilih pelajaran yang diinginkannya (tidak harus semuanya) sehingga ilmu yang dipelajarinya juga bisa sampai ke akar-akarnya.

  14. @Ivan: Kalau melihat definisi kamus sih, ya jelas ada yang namanya ilmuwan di indonesia ituh…. ;d
    @cK: iya kali ya? Kalau bilang tidak tahu takut dianggap bodoh…

    @Yari NK: Huehehehe… iya juga sih, terkadang walau keahlian sang ilmuwan, ternyata ilmuwan itu ga terlalu tahu… tapi emang sih, walaupun kita bukan ilmuwan, selama kita tahu dan pengetahuan kita dapat dipertanggungjawabkan, ya gpp sih ngasih tahu (kalau ditanya), asal jangan sok tahu aja…πŸ˜€
    @Yoga:Iya kita harus jujur… dan tidak sok tahu…πŸ˜€
    @Ersis: masa sih Pak perusak mutu pendidikan itu orang pendidikan sendiri?
    @Adipati Kademangan: apa ya jawabnya? Ga mau sok tahu ah…πŸ˜€ heheheh
    @Imas: setuju…πŸ˜€

  15. Oy Uyo aja contohnya…:mrgreen:

  16. Citra Dewi

    Hallo Kang Jupri,
    Ade dimana sekarang? apa masih di londo tah?
    Saya setuju dgn ilmuwan Belanda, klo ngga tau mendingan bilang ngga tau. Mungkin juga cultur dan sejarah mempengaruhi cara berpikir kita. Disini mereka ngga sok2an dan justru sederhana dan apa adanya dan kalau kita justru kebalikannya kenapa yah?
    apa karena politik divide at impera yg di tanamkan dulu dan bekasnya belum juga hilang2?

  17. Kejujuran itu segalanya. Nggak di londo, nggak di mana; kalo nggak tahu, ya bilang aja nggak tahu. Islam kan sudah mengajarkan begitu, tul kan mas?

  18. Assalaamu alaikum… Kang Jupri.
    Saya jadi inget sama Pakde saya. Mentang-mentang saya otaknya lumayan encer (narsis dikit gpp kan?he he) dan dianggap pandai, maka saya harus bisa segala hal. Bisa menyelesaikan soal matematika, bisa mencangkul di sawah, bisa nebang pohon, bisa adzan di musholla, bisa diba’an, bisa qiro’ah dan sebagainya-dan sebagainya. Padahal gak mungkin saya melakukan semua itu.
    Orang itu pasti punya yan namanya spesialisasi, nggak ada orang yang bisa segala hal. Dan dari sinilah konsep bahwa tidak ada orang bodoh itu berasal. Bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, semua pasti punya kepandaian dalam suatu hal. Cuma mungkin aja dia belum menemukan dimana kepandaiannya itu.
    Mempelajari segala hal itu baik, karena wawasan kita jadi luas, bermanfaat bagi orang lain dan tentunya menambah kebijaksanaan kita. Yang tidak baik kan, merasa tahu dan ahli segala hal. Orang pintar itu baik, tapi merasa pintar??sugguh akan melahirkan kesesatan umat. Tapi itulah penyakit hati manusia, selalu ingin dipandang lebih oleh yang lain.

  19. Ilmuwan sebaiknya (harus) tahu segala secara umum (untuk mengetahui prinsip umum) namun ahli hal tertentu (untuk mengerti ketentuan khusus) (QZ)
    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  20. Fuad

    Jwablah sesuai dengan kemampuanmu !
    Jgn memksakn !
    Sebisa,n sekuat mgkin d jwb !
    Tp? Jgn d pksakn !
    Xey cuy !

  21. Ane setuju sama pak jupri.

    Jujur dipergaulan saya sering dianggap kaya “dewa” yang tahu segalanya.

    Dibilang ngga tahu kalo ditanya pada ngambek.

    Berabe jg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s