Cerita di Balik “Cerita”

Oleh: Al Jupri

Entahlah, ketika saya sedang iseng berimajinasi, pikiran ini melayang-layang dan mengingat banyak kejadian yang pernah dialami. Baik kejadian yang baru saja terjadi atau yang sudah lama terjadi. Seringkali dari beragam kejadian tersebut menggerakan akal, pikiran, dan hati ini untuk menceritakannya dalam bentuk lain, dalam bentuk cerita misalnya. Sebagai contoh, salah satu hasil imajinasi saya itu saya tulis menjadi sebuah cerita iseng berikut ini.

Berikut ini petikan obrolan seorang kakek dengan cucunya, bernama Ahmad. Ahmad baru duduk di bangku SD kelas 3, sedangkan kakeknya adalah seorang pakar Matematika.

Kakek : “Kakek mau tanya nih. Di sekolah, belajar matematikanya sudah nyampe mana?”

Ahmad : “Udah sampai penjumlahan dan pengurangan Kek”

Kakek : “Wah, udah pinter berhitung dong!”

Ahmad : “He…he…, kakek bisa saja. Kalo ga pinter mah malu dong ama kakek.”

Kakek : “Coba kakek tanya nih, 3 + 4 berapa?”

Ahmad : “7”

Kakek : “Kalau 8 + 9 berapa?”

Ahmad : “Ya, pasti 17 dong!”

Kakek : “Bagus. Kalau kakek katakan 8 + 9 = 5, boleh tidak?”

Ahmad : “Ya, tidak boleh dong. Kakek salah!”

Kakek : “Kata siapa?”

Ahmad : “Bu guru!”

Kakek : “Emang, bagaimana cara menghitungnya?”

Ahmad : “Begini kek cara menghitungnya (Ahmad mulai menggunakan jari-jari tangan dan kakinya untuk berhitung). Satu, dua, tiga, …, 17. Benar kan kek?”

Kakek : “Oh begitu. Sekarang, kakek tanya nih, kalau ayahmu mulai bekerja jam 8 pagi dan tiap harinya bekerja selama 9 jam, jam berapa ayahmu selesai bekerja?”

Ahmad mulai menghitung dengan memperhatikan jam dinding yang mereka miliki.
Kakek : “Jadi, selesai jam berapa?”

Ahmad : “Jam 5 sore!”

Kakek : “Jadi, tidak apa-apa kan, kalau kakek katakan 8 + 9 = 5?”

Ahmad : “Iya sih, tapi kenapa begitu ya kek? Itukan penjumlahannya pakai jam kek. Kalau bukan pake jam, ya tetap saja 8 + 9 =17. Berarti kek?”

Kakek : “Ya, benar. Kalau begitu, kamu mau dong kita bermain penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan jam?”

Ahmad : “Boleh. Siapa takut! Tapi, ceritain dulu tentang penjumlahan dan pengurangan dengan bilangan jam, ya kek? Itu baru adil, biar saya bisa ngalahin kakek.”

Kakek : “Baiklah, dengar dan perhatikan ya ceritanya.”

Kemudian kakek bercerita dan menjelaskan tentang penjumlahan dan pengurangan dengan bilangan jam.

Bagaimana? Asyik tidak ceritanya?

Versi asli cerita di atas, bisa dibaca di sini: http://matematika.upi.edu/artikel/6tambah8=2.pdf. Atau bisa juga membaca versi sadurannya di sini: http://warkop.net/?m=200608

Cerita iseng di atas ditulis saat pikiran saya sedang melepas lelah akibat pekerjaan. Ya, di kala saya sedang meregangkan saraf dalam otak ini. Cerita tersebut ditulis selepas sholat dhuhur, di waktu istirahat bekerja, sekitar tahun 2005-an.

Ketika menuliskan cerita tersebut, tak ada niat untuk dipublikasikan. Tak ada niatan agar dibaca orang lain. Ya, sekedar iseng untuk dibaca sendiri. Tapi kemudian, takdir bicara lain. Cerita di atas ditakdirkan untuk dibaca bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat orang lain.

Adalah ketika seorang rekan kerja meminta sebuah artikel ringan, yang layak baca, yang katanya untuk mengisi website yang masih kosong. Atas permintaannya itu, saya iseng mengirim cerita di atas, dan alhamdulillah rupanya layak untuk ditampilkan.

Selanjutnya, dalam beberapa hari saja, cerita ringan di atas mendapat sambutan yang cukup luas, hangat, dan menggembirakan. Ya, cerita di atas, mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Mahasiswa, guru, dan banyak juga masyarakat pembaca lainnya meberi apresiasi yang menggembirakan. Saya dapatkan informasi apresiasi dari para pembaca tersebut dari beberapa rekan yang bekerja di instansi lain. Bahkan beberapa di antara para pembaca berkirim email dan bercerita ke saya dan kemudian me-request saya untuk membuat artikel-artikel ringan lainnya.

Perasaan pun jadi campur aduk. Ada senangnya, ada khawatirnya. Senangnya karena tulisan saya ada yang membaca. Khawatirnya karena saya merasa belumlah cukup mumpuni untuk “berbagi” lewat tulisan, mengingat saya adalah hanya seorang “anak kemarin sore” yang masih dangkal pengalaman dan wawasannya. Saya juga khawatir dan takut mendapat kritikan dari para pembaca yang bergelut di matematika (mereka biasanya lebih hebat, lebih mumpuni ketimbang saya yang dangkal wawasan dan pengalaman ini). Dan juga yang paling saya takuti adalah saya tak bisa mempertanggungjawabkan tulisan saya dari segi keilmuan.

Karena itu, saya berada antara dua pilihan. Lanjut terus menulis artikel (ringan) atau berhenti dan sesekali saja menulis! Apa pilihan saya?

Saya pilih pilihan pertama! Saya beranikan diri untuk terus saja menulis. Saya berusaha cuek dengan beragam kritik yang (akan) saya terima, saya akan cuek dengan beragam tanggapan negatif yang akan saya dapatkan nantinya. Alhamdulillah, hingga saat ini saya tak kapok menulis walau ada beberapa komentar yang sifatnya destruktif. Ya, begitulah cerita di balik “cerita” di atas.๐Ÿ˜€

=======================================================

Nah, segitu dulu saja ya ceritanya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Dan mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Amin.

    18 Comments

    Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Curhat, Iseng, Matematika, Matematika SD, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

    18 responses to “Cerita di Balik “Cerita”

    1. Testing! Aneh kok saya nggak bisa kasih komen di blognya kang Jupri ya??????๐Ÿ˜ฆ

    2. Dulu waktu saya masih setingkat sekolah dasar, mungkin kita semua juga begitu, kita diajarkan jam empatan, jam limaan, jam enaman, dsb. Dulu saya berfikir (maklum masih kanak2), ini yang bikin bahan matematika/hitungan iseng amat sih! Saya heran kenapa diajari jam empatan, limaan, enaman seperti itu padahal di toko nggak ada yang jualan jam seperti itu!:mrgreen:
      Limabelas tahun kemudian saya baru sadar, kalau jam-jam seperti itu mengajarkan kita basis. Basis dua (binary), basis 8 (octal), basis enambelas (hexadecimal), dll.๐Ÿ˜€

      Mengenai menulis, sepertinya benar memang harus cuek aja, kalau nggak ya, kapan kita mulai berani belajar menulis, ya nggak? Lagipula kita (saya) ‘kan bukan penulis profesional, andaikan nggak ada yang membaca atau yang nggak suka dengan tulisan kita, ya sudah! Anggap saja, “anjing menggonggong diam aja, khafilah tetap berlalu dengan cueknya dong!” Huehehehe….:mrgreen:
      Jadi ya cuek aja, sangat jarang sekali orang yang berhasil pada percobaan pertama, yang penting kan kita selalu berusaha untuk terus menjadi baik, yang penting ‘kan usahanya bukan hasilnya, ya nggak?๐Ÿ˜€

    3. Waduuh cerita yang sangat2 menarik. Baru dengar dan baru tahu ada penjumlahan yang aneh tapi nyata!

      Pokoke sipp teruslah menulis agar semua jadi tapis… (tapis bahasa Bantene apa yaa mbuh ga ah… )๐Ÿ™‚

    4. vizon

      Seringkali seorang anak menggunakan kata sakti: “begitu kata bu guru”, bila mendapatkan kritikan dari orangtuanya atas jawaban yg dibuatnya pada pekerjaan sekolahnya. Dan parahnya, orangtua sering kehabisan kata2 bila berhadapan dengan kalimat sakti ini.

      Menyadari akan hal ini, maka seorang guru harus mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dari berbagai sisi pada seorang siswa.

      8+9=15 adalah sebuah kebenaran, tapi 8+9=5 juga bukan sebuah kesalahan. Tergantung bagaimana cara menemukannya..

      Maka, pembelajaran kita semestinya adalah untuk memberikan ‘PENYADARAN’ bukan ‘PENGHAPALAN’…

    5. @Yari NK: Ya, betul. Saya juga sempat berpikir kenapa diajarin jam-jam-an begitu, tapi ga berani nanya ke guru, ya diterima saja. Saya baru sadar setelah kuliah (jauh banget ya…, soalnya waktu SMP dan SMA ga ada tuh jaman saya pelajaran jam-jam-an. :D)

      Oh, iya. Tentang menulis, ya kita harus cuek bebek saja, biarkan orang lain berkomentar, kita tetap nulis saja.๐Ÿ˜€

      @Kurt: Hehehe…, engga aneh kok mr Kurt, biasa saja, biasa kita alami sehari-hari.๐Ÿ˜€ Oh, iya “tapis” kuh apa ya? Kula geh boten uning…๐Ÿ˜€

      @vizon: Ya setuju, sudah saatnya siswa didik kita dibiasakan untuk aktif berpikir, bukan hanya menerima saja apa yang dikatakan gurunya. Salam kenal..๐Ÿ˜€

      @kangguru: hihihi… juga.๐Ÿ˜€ waduh dipanggil bapak?

    6. wah-wah…..luar biasa…substansi cerita tersebut sih sebenarnya udah sering didengar tapi kemudian diangkat dalam bentuk cerita baru kali ini….saya jadi terinspirasi untuk lebih mencintai matematika….
      to mas jupri kirim cerita dong ke email

    7. Cerita yang menarik, Pak. Terus saja bikin cerita ala matematika. Kelebihan blog ini adalah menggabungkan unsur bahasa, sastra, dan matematika. Ini yang tampaknya belum kutemukan di blog lain.
      *Sepanjang pengetahuan saya yang gaptek ini, sih, hehehe*
      Terus menulis, ya, Pak, selalu kunantikan postingan berikutnya.

    8. basisnya beda.. fakta yang menarik, perbedaan tak disadari oleh banyak orang. tapi, bukankah harusnya 8jam+9jam= 1hari+5jam?๐Ÿ™‚ uups, 1hari itukan 24 jam, ya… aah bingung.

    9. Evy

      dua kali dua sama dengan empat, sempat tidak sempat aku sempat2in minta maaf lahir bathin ya pak… math expert

    10. Tarik mang….
      lanjutin kang jupri…. KEEP IT WORKS !!!
      hampir tiap seminggu sekali pasti saya cek keberadaan artikel baru di mathematicse.
      pasti menarik sih, soalnya Mathematicse -> Membuat sesuatu yg terlihat sulit menjadi sederhana”. Ini adalah suatu benda mahal.

      Seperti dosen favorit saya Bpk.Julio & Bpk.Bambang Sumantri di IPB.
      mengejewantahkan suatu teori yg abstrak.

      Udah mahir belum nih programmingnya kang ?
      ditunggu ya karya berikutnya.

    11. hoek

      huehuehue….cerita didalem cerita, kekekekeke…
      ah ya, yang fenting keep writing pak! yang namanya bisa khan karena terbiasa. smangadh!

    12. @Muawwin: Terimaksih atas apresiasi, komentar,
      dan kunjungannya.๐Ÿ˜€

      @Sawali Tuhusetya: Terimakasih atas dukungannya, Pak.๐Ÿ˜€

      @Spitod-san: Terimakasih๐Ÿ˜€

      @Evy: sama-sama mohon maaf ya Bu.๐Ÿ˜€

      @gibransyah: TErimakasih atas apresiasinya. Salam buat dosen mu…๐Ÿ˜€ *tentang pemrograman ya… ?*

      @Ersis Warmansyah Abbas: Terimakasih, Pak.๐Ÿ˜€

      @hoek: Setuju!๐Ÿ˜€

    13. Ceritanya menarik. Wah, kalau pak Jupri yang tulisannya udah okey bisa punya ketakutan tersendiri, bagaimana dengan saya, pak? Ilmu pengetahuan, wawasan saya masih tipissssss. Tapi, ya, beranikan diri aja deh, menulis sambil belajar. Kalau tidak memberanikan diri ga pintar2 kayanya, he h he. Di blog ini saya bisa belajar banyak tentang matematika. Saya senang membacanya. Kalau ada waktu saya tinggalkan koment, kalau sibuk tetap saya baca koq meski tanpa koment, suerrr deh.

    14. Kang dibaca kesekian kali… tulisan ini enak kalau dibikin novel matematika… atau cerpen…

      @bu evy
      uahauahahah… bu evy sekarang jadi tukang ngintip… hanya mata sebelah yang dikeluarkan … hahah๐Ÿ™‚

    15. benbego

      wah itu sih sama aja 3×4=700. coba tanya sama tukang afdruk photo..!๐Ÿ˜€

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s