“Saatnya” Menulis Lebih Mudah daripada Bicara

Oleh: Al Jupri

Banyak orang yang menyatakan bahwa menulis adalah pekerjaan yang sangat sulit. Jauh lebih sulit daripada ngomong. Bahkan ada yang menyatakan bahwa kesulitannya sangat tinggi melebihi kesulitan berbicara.

Sebagai orang yang “belum tahu apa-apa”, mulanya saya percaya saja dengan pernyataan yang dikemukakan banyak orang tersebut. Percayanya saya tentu tidaklah asal percaya. Tapi ada alasan yang membuat saya mempercayainya. Beberapa alasannya seperti berikut ini.

Yang pertama

Pembimbing skripsi saya, (dulu) tahun 2004, pernah menyatakan bahwa menulis itu adalah kemampuan berbahasa yang (ter)tinggi. Tak semua orang dapat melakukannya, dan tak semua orang diberi bakat untuk mampu menulis.

Walaupun pernyataannya itu belumlah bisa dikatakan ilmiah, sebagai murid yang “belum tahu apa-apa” saya sih percaya saja, dan berusaha “menelannya bulat-bulat”. Akibatnya, saya seperti terpengaruh dengan “rasa percaya” ini, saya jadi agak sukar mengemukakan ide lewat tulisan. Alhasil saya harus berjuang keras mengikis pengaruh tersebut untuk menyelesaikan skripsi saya.

Yang Kedua

Saya pernah membaca buku tentang menulis, seluk-beluk tentang menulis, tetek-bengek tentang aturan tata tulis, dan tentu pernah membaca dan mempelajari EYD* yang terkenal itu. Hasilnya? Dapat ditebak! Walaupun saya jadi tahu banyak sedikit hal tentang “menulis”, saya makin sukar saja menuangkan gagasan lewat tulisan. Lho kenapa bisa jadi begitu?

Ya iya laaah! Karenanya, saya jadi takut salah dalam menulis. Saya khawatir ada salah ketik. Saya was-was bila ada tanda baca yang keliru. Dan, saya pun jadi ragu dengan alur berpikir yang tertuang dalam tulisan saya.

Yang Ketiga

Saya dulu pernah belajar menulis sebuah artikel tentang matematika. Judulnya, “Rumus Luas Daerah Segiempat Sembarang?” (Bisa dicari di dunia maya ini. Silakan cari sendiri!) Sebelum artikel tersebut dipublikasikan, saya pernah minta pertimbangan dari salah seorang guru (besar) di almamater saya yang dulu. Dengan “penuh semangat” saya menyodorkan artikel tersebut ke beliau. Apa pertimbangannya?

Gara-gara ada satu kata yang kurang tepat penggunaannya, maka “habislah” saya! Bukan motivasi yang saya dapat. Tapi “tekanan mental” yang saya terima. Nyali pun jadi ciut dibuatnya.

Kejadian tersebut tentu membekas dalam hati ini, dan akan saya kenang hingga saya bisa melupakannya.😀

Sekarang! Setelah saya pikir-pikir, sebetulnya pernyataan bahwa menulis itu lebih sulit daripada bicara tak sepenuhnya dapat saya percayai lagi alias tidaklah benar! Lho, masa sih?

Menurut saya, antara menulis dan bicara itu bisa dua-duanya mudah, bisa dua-duanya sulit, bisa bicara itu lebih mudah daripada menulis, dan juga tentunya sangat mungkin terjadi menulis itu lebih mudah daripada bicara.

Untuk artikel ini, saya lebih tertarik membahas pernyataan yang terakhir tadi. Yakni, menulis itu lebih mudah daripada bicara. Lantas, kapan menulis itu lebih mudah daripada bicara? Bagaimana bisa?

Saya bisa memberi “banyak fakta” bahwa menulis itu lebih mudah daripada bicara, seperti yang terurai dalam contoh-contoh berikut.

Contoh pertama

Pernah bicara di depan umum semisal pidato atau ceramah? Mudahkah? Ternyata sulit! Hanya sedikit orang yang mampu melakukannya dengan baik. Ya, sangat sedikit! Jari tangan kita pun bisa “menampung” jumlahnya.

Bila kita disuruh memilih antara menyampaikan informasi dengan berbicara di depan umum atau menyampaikan informasi lewat tulisan untuk umum, maka saya yakin akan lebih banyak orang mampu menyampaikan informasi itu lewat tulisan.

Contoh kedua

Pernah menyatakan perasaan pada sang calon kekasih kita? Saya yakin banyak orang yang kesulitan melakukannya. Selain gugup, was-was, juga dag-dig-dug tidak karuan rasanya. Akibatnya, kebanyakan dari kita tak mampu mengungkapkan segala perasan dengan baik. Salah-salah sang calon kekasih pun bisa lari menjauh.

Bandingkan bila pengungkapan perasaan itu lewat tulisan. Saya yakin jauh lebih banyak orang yang mampu menyampaikannya, lewat surat misalnya.

Contoh ketiga

Pernah salah ucap pada seseorang, teman misalnya, sehingga sang teman sakit hati? Akibat kita salah ucap, karena asal bicara, kata-kata yang keluar tak dipikir dulu, maka hati orang bisa “luka tersayat”. Pedih hati orang dibuatnya.

Ini menunjukkan bahwa bicara itu tidaklah mudah! Ya, tak semudah membalikkan telapak tangan.

Bisa dikatakan, bicara itu “sukar” dijadikan sebagai alat penyampai gagasan. Karena kata-kata yang kita keluarkan itu harus sangat hati-hati, perlu pemilihan kata yang tepat, sehingga tak menyinggung atau menyakiti hati atau perasaan seseorang. Saking sulitnya bicara itu, “pepatah” pernah menyatakan bahwa lidah itu lebih tajam daripada pedang! Kata yang terucap, tidak bisa ditelan kembali!

Bandingkan dengan media tulisan! Sebelum tulisan itu kita publikasi, tentu kita perlu membaca ulang. Karenanya, kita bisa menggunakan pilihan kata yang tepat, pilihan kata yang sopan dan tak menyinggung, pilihan kata yang selaras dengan norma dan kebiasaan. Kita bisa menghapus kata-kata yang tidak pantas. Kita pun bisa dengan leluasa menyunting kalimat yang kurang tepat. Ya, kita bisa dengan mudah merevisi kekeliruan yang kita lakukan di versi awal tulisan. Setelah dirasa pantas, cocok, maka tulisan pun bisa kita publikasikan.

Jadi, lewat tulisan, kita bisa lebih aman, nyaman, dan mudah menyampaikan gagasan.

Contoh keempat

Misalkan seorang guru matematika SMP bertanya pada seorang siswanya begini, “Coba kamu tentukan nilai eks yang memenuhi persamaan dua eks kuadrat ditambah lima eks ditambah tiga sama dengan nol! Coba kamu jawab soal itu tanpa menuliskannya, langsung jawab saja dengan lisan!”

Saya yakin, siswa (kecuali yang sangat cerdas atau jenius) yang diminta menjawab pertanyaan itu secara lisan akan kesulitan menjawabnya.

Bandingkan bila sang siswa boleh menjawab soal tersebut lewat tulisan. Saya yakin ia akan lebih mudah menjawabnya.

=======================================================

Sebetulnya masih banyak contoh yang ingin saya kemukakan. Cuma, saya pikir, nanti artikel ini kepanjangan deh.😀

Kesimpulannya, “banyak saat” menulis itu lebih mudah daripada bicara. Sama halnya “banyak saat” bicara itu lebih mudah daripada menulis. Bagaimana menurut Anda?😀

=======================================================

Ya sudah sampai di sini dulu ya perjumpaan kita. Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Amin.

Oh, iya. Mohon maaf pada para pembaca yang sudah sudi berkomentar, saya belum sempat menanggapinya. Karena alasan kesibukan pribadi yang tidak boleh diabaikan = sedang kerja keras menyelesaikan thesis matematika saya.

Catatan:

*EYD = Ejaan Yang Disempurnakan

17 Comments

Filed under Bahasa, Harapan, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SMA, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

17 responses to ““Saatnya” Menulis Lebih Mudah daripada Bicara

  1. Kalau menurut saya menulis memang lebih mudah dari bicara. Karena untuk bicara (presentasi, pidato, dll) membutuhkan respon yang cepat dalam mengambil keputusan pemilihan kata-kata. Sedangkan dengan menulis kita memungkinkan untuk bermain dengan konsep terlebih dulu.

    Salam kenal, pak

  2. Tengok kiri-kanan, vertamax, ya?
    Menulis dan berbicara tidak akan susah kalau kita mau belajar dan percaya diri.

    Salah bicara, akan hilang ditelan ruang dan waktu.
    Salah menulis…?

    Pantes nih, agak lama postingan tulisannya kali ini, seminggu pas. Btw, salut, lho. Masih menyempatkan diri untuk menulis.

  3. Ternyata ada yang mendahului.

  4. mungkinkah karena sejak SD dulu kita jarang diajari menulis cerita?

  5. Hmmm… menurut saya sih… ini menurut saya lho… kalau hubungannya dengan matematika mungkin karena kebiasaannya menulis ya jadinya agak sulit kalau jadi lisan ya, ada percobaan apa belum ya kalau seseorang dari kecil telah terbiasa dengan memecahkan masalah matematika lewat lisan, apakah dengan tulisan ia akan lebih kagok, wah penelitinya kurang kerjaan kali ya, meneliti kayak gituan! Huehehehe!:mrgreen:
    Jangankan lisan, dengan tulisan (huruf) atau kata2 dalam kasus matematika juga sulit (dibandingkan memakai simbol)meskipun sama2 ditulis:
    “energi sama dengan massa dikalikan kecepatan cahaya dikuadratkan”, kan gampangan e=mc^{2}, apalagi kalau rumusnya panjang, pasti lebih nyebelin!:mrgreen:

    Dalam kasus belajar bahasa juga kayaknya juga lebih gampang lewat tulisan daripada lisan, kalau tulisan bisa dibaca lagi, kalau lisan hmmm mau yg bicara suruh ngulang kadang2 segan!
    ” As a security manager, I don’t pull down a good salary!”
    “despite of relentless bombardments by the Americans, the guerillas will pull through!”

    Kalau yang penguasaan phrasal verbs-nya kurang mungkin kedengerannya sama-sama “pull” yang berkesimpulan instan artinya adalah ‘menarik sesuatu’ (padahal artinya beda banget), coba kalau tertulis artinya ‘kan bisa dihayati, minimal lihat kamus atau ada waktu buat nanya2 geto!! Huehehe😀

    Weeeleeeh… OOT nggak ya? :-S

  6. Walaaah ralat sedikit:

    di sana tertulis:
    “despite of relentless bombardments by the Americans, the guerillas will pull through!”

    seharusnya:
    “despite relentless bombardments by the Americans, the guerillas will pull through!”

    alias nggak pake ‘of‘😀

  7. iya, memang hal itu sangat relatif. bergantung pada kondisi saat itu. bisa mudah, atau sulit buat keduanya, menulis dan bicara.

    masalahnya, kalau menulis, butuh alat tulis seperti pinsil dan kertas. kalau bicara, alatnya sudah ada pada diri kita sendiri.

  8. Itu sih tergantung bakat/kemampuan orang masing-masing, dan berbicara/menulis pada siapa.

    Saya ingat waktu berusaha menembuskan proposal lewat wali yang kebetulan guru bahasa… berulang kali harus diralat kata-kata/tatabahasa/susunannya.. Uugh.. sedangkan ada ekskul lain lewat guru olah raga bisa tembus proposal tulisan tangan yang dibuat cepat-cepat.😦

  9. Ya, ya, Pak Al-Jupri. Keterampilan menulis dan berbicara itu termasuk keterampilan produktif. Lain dengan dengan keterampilan menyimak dan membaca yang termasuk keterampilan reseptif. Dalam keterampilan produktif, berbicara dan menulis, sama2 butuh ekspresi. Nah, kedua jenis keterampilan ini agaknya memang tidak bisa dikuasai sekaligus oleh seseorang. Bahkan, seorang kampiun penulis pun seringkali belepotan ketimbang berbicara. Persoalannya, lebih gampang mana antara menulis dan berbicara itu. Saya kira kok relatif, ya, Pak. Berbicara dan menulis sangat erat kaitannya dengan kebiasaan dan pengembangan diri. Nah, mereka yang terbiasa dab terus berupaya mengembangkan dirinya sebagai orator, berbicara mungkin akan lebih gampang ketimbang menulis. Demikian juga sebaliknya.
    OK, Pak, salam hangat.

  10. Ralat sedikit, Pak. ketimbang berbicara, seharusnya ketika berbicara.
    terbiasa dab terus … dab seharusnya dan.

  11. Dan juga ya… menulis itu lebih mudah dari pada tidak menulis. Kalau tidak menulis… tangan jadi gatel, hati jadi gelisah….😀

  12. Yung Mau Lim

    Menulis memang lebih mudah, seperti kalau saya ingin memberi ucapan selamat kepada sahabat seperti Bapak untuk menyambut Lebaran ini.

    SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1428 MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

  13. cK

    sudah…sudah…kerjain thesisnya dulu… *OOT*

    ah iya…met lebaran ya.😀

    mohon maaf lahir dan bathin. maaf kalau saya ada salah kata, komen, dan lain-lain.

  14. Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip.

    Einstein punya rumus E=MC2. Coba bikin berbagai ragam kombinasi dari 24 huruf (Indonesia) hasilnya kan tidak terhingga … endless.

    Yah, Menulis Sangat Mudah. Dari 24 huruf itu yang sering dipakai ngak sampai separohnya. Bisa bikin miliran buku he he he

    Selamat deh, hadiah Ramadhan terindah buat sampeyan; Menulis sangat Mudah.

  15. Yayayay ke empat contoh itu adalah bukti otentik yang tidak bisa dibantah bahwa memang nulis lebih mudah daripada ngomong didepan publik… tapi kalau ngomong sendiri biasanya lebih mudah kang Al Jupri…

    tapi disamping menulis itu mudah… ada sulitnya loh? yaitu bagaimana menulis seperti panjenengan… bisa matematika dengan cerita sekaligus.. sampe2 artikel bagus itu bisa bertngger di media.. heheh🙂

    Salam Lebaran minal a’idzin wal faizin… minal masyriq ilal maghrib isya subuh dzuhur asar heheh🙂 … kapan bagi2 ketupatnya.. ditunggu di Buntet loh .. mudk gak?

  16. Cuma mo bilangin:

    Met Lebaran, Mohon Maaf Lahir dan Batin Yaks😉

  17. Untuk semuanya, terimakasih atas segala komentarnya. Percayalah, komentar-komentar tersebut insya Allah menambah wawasan bagi saya dan juga bagi pembaca lainnya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s