Bacaan Ramadhan: Al Qur’an, Bahan Pelajaran, dan Koran

Oleh: Al Jupri

Soal:

Dari 100 orang guru, setelah ditanyai tentang tiga jenis bacaan yang sering dibaca di bulan Ramadhan, berhasil didapatkan informasi berikut. Terdapat 50 guru sering membaca buku/bahan pelajaran, 45 guru seringnya membaca koran, dan 50 guru sering membaca Al Qur’an. Hanya 15 guru yang sering membaca ketiga jenis bacaan tersebut. Diketahui pula bahwa setiap guru setidaknya sering membaca salah satu bacaan tersebut. Berapa banyak guru yang sering membaca tepat dua jenis bacaan itu?

Ya, permasalahan atau soal matematika semacam ini kemungkinan besar sudah sangat dikenal dengan baik oleh para pembaca sejak tingkat SMP. Apalagi bagi pembaca yang pernah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Hampir bisa dipastikan, soal semacam ini pernah dihadapi karena sering muncul pada saat tes. Betul tidak nih? Ayo, bagaimana cara menyelesaikannya?😀

Hmmm…, sebetulnya saya ingin menyelesaikan soal tersebut dan menyajikannya di hadapan pembaca sekalian. Tapi, tiba-tiba saya jadi ragu dan kurang “enak” rasanya. Masa sih permasalahan ini diajukan sendiri, terus dijawab sendiri pula. Lantas buat pembacanya mana? :mrgreen:

Bila memang begitu, apa yang bisa kita diskusikan?

Dari soal matematika itu, setidaknya kita bisa sedikit mengupas satu hal menarik yakni tentang seringnya membaca. Tepatnya, tentang seringnya para guru membaca buku atau bahan pelajaran, koran, dan Al Qur’an. Mana yang paling bermanfaat bagi mereka? Mana yang paling mereka butuhkan?

Membaca Al Qur’an

Membaca dan tentunya belajar Al Qur’an, apalagi di bulan Ramadhan, mempunyai keistimewaan dan keutamaan tersendiri (wong di bulan lain juga istimewa. Betul?). Mengenai keutamaan membaca dan mempelajari Al Qur’an ini di antaranya tertuang dalam beberapa hadist berikut ini.

“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Al-Bukhari)

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Surga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Bahkan perintah membaca itu sendiri (tak hanya membaca Al Qur’an tentunya), tertuang dalam firman Allah pada surat Al-‘Alaq, yakni surat yang pertama kali diwahyukan alias diturunkan pada nabi kita nabi besar Muhammad SAW di bulan Ramadhan, sekitar empat belas abad yang silam. Berikut ini terjemah lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq itu.

Terjemah surat Al-‘Alaq (QS. 96: 1-5)
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhan-mulah yang Maha Pemurah.
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam*.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Keterangan: *Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis-baca.

Sumber terjemahan: Departemen Agama RI

Al Qur’an yang kita baca tidak hanya untuk kebutuhan spiritual saja, tapi merupakan petunjuk bagi segala aspek kehidupan kita. Petunjuk secara lahir maupun bathin, di dunia dan juga akhirat. Ya, kandungannya menjadi petunjuk, penerang, jalan hidup bagi kita manusia agar hidup dengan benar dan baik di dunia ini. Petunjuk bagi siapa? Ya, petunjuk bagi siapapun! Tak perlu apakah dia itu beriman atau pun tidak. Bila menjalankan perintah Allah seperti tertuang dalam Al Qur’an, niscaya dia akan mendapat jalan yang benar.

Nah, kita selaku guru, selaku pendidik yang menyiapkan siswa-siswi kita tentu perlu pedoman (utama) untuk melakukan proses mendidik, yakni mendidik dengan proses yang baik dan benar. Pedoman itu tak lain dan tak bukan adalah Al Qur’an, wahyu Allah yang senantiasa terjaga kebenarannya, yang tiada keraguan di dalamnya. Karena itu, mari kita baca, pelajari, dan kaji Al Qur’an itu. (Ajakan ini khususnya saya tujukan untuk diri saya pribadi, dan umumnya untuk para pembaca sekalian).

Lalu, kenapa kita seringkali lalai untuk membacanya ya? (Pertanyaan yang mudah-mudahan menjadi pengingat bagi kita semua).

Membaca Bahan Pelajaran

Tak bisa disangkal lagi, membaca buku atau bahan pelajaran (seharusnya) merupakan kebutuhan sehari-harinya bagi para guru. Tak peduli apakah guru itu masih “hijau” alias belum pengalaman ataupun guru itu sudah banyak pengalaman, sudah banyak makan “asam-garam” di bidangnya. Bila kebutuhan ini tidak dipenuhi, hampir bisa dipastikan proses pembelajaran akan ngawur jadinya. Lho, masa sih?

Ya iya laaah (pinjam kata-katanya Gus Pur). Bisakah para guru membimbing siswa agar belajar dengan baik dan benar bila mereka sendiri tidak mau belajar, malas membaca bahan pelajaran? Jawabnya mungkin bisa, mungkin juga tidak. Wong yang banyak membaca saja belum tentu bisa. Apalagi yang tidak. Betul?😀

Sebagian guru yang sudah pengalaman akan berkilah kira-kira begini katanya, membaca pelajaran itu kan bagi guru yang masih baru, masih belum pengalaman, masih perlu banyak belajar. Bagi yang sudah pengalaman sih sudah tidak begitu perlu, kita sudah tahu karena sudah biasa ngajar dari tahun ke tahun, sudah hafal di luar kepala. Buat apa belajar lagi, toh bahan pelajaran yang dibaca itu-itu juga. Ngapain cape-cape membaca lagi?

(Sok tahu ya saya ini?)😀

Mohon maaf bila ada dari bapak atau ibu guru yang tidak berkenan alias tersinggung dengan artikel ini. Hal ini sengaja saya lakukan, sengaja agar para guru tersinggung. Agar tidak tersinggung, makanya banyak membaca. Dan saya sendiri pun ikut tersinggung dengan artikel ini. Hihihihi… Lucu ya?:mrgreen: Karenanya saya pun jadi terpacu untuk banyak membaca.

Mungkin pendapat sebagain guru itu benar. Tapi kok saya tidak yakin ya? Saya yakinnya, para guru yang sudah pengalaman itu punya nilai spesial dan istimewa dalam mengajarnya bila ditunjang dengan rajin dan banyak membaca. Bukan hanya mengandalkan pengalaman dan hafalan di luar kepala? (Lagi-lagi saya mohon maaf bila sok tahu)

Bagi para guru, apalagi ini bulan Ramadhan, sering membaca bahan pelajaran tentu mempunyai nilai tambah tersendiri yang spesial dan nilai tambah lain tentunya. Ya, nilai tambah spesial yang belum tentu didapatkan di bulan lainnya. Yakni selain ilmu dan wawasan bertambah, insya Allah nilai ibadah membacanya juga berlipat-lipat. Dan saya yakin, insya Allah, siswa yang belajar pun nantinya akan mendapat manfaat yang luar biasa. Setuju?

Lalu bagaimana mendapat “nilai tambah lain” dari bahan bacaan yang sudah kita tahu begitu-begitu juga dari tahun ke tahun itu? Menurut hemat saya, membacanya jangan hanya terpaku dengan isi materi dari buku yang kita baca saja. Jangan hanya menghafal isi bacaan. Tapi, kita berusaha mengkritisinya. Kita berusaha untuk beropini/berpendapat mengenai bacaan yang kita baca. Seperti apa contohnya?

Contohnya begini. Misalkan, dari buku pelajaran, kita membaca bahwa -(-1) = 1. Kita mungkin sudah tahu bahwa hal tersebut benar, kita sudah terbiasa menerima begitu saja. Namun, kita hampir tidak pernah mempertanyakannya. Agar kita punya nilai “tambah lain” ketika membacanya, maka sering-seringlah kita mengkritisinya. Misalnya dengan bertanya, kenapa -(-1)  = 1? Kenapa hasilnya bukan yang lain? Nah, bila kita bertanya seperti ini, tentunya kita ingin tahu alasannya bukan? (Jangan dijawab bukan! : mrgreen: ) Karena ingin tahu alasannya, tentu memacu kita untuk berpikir dan banyak membaca lagi.

Tentu masih banyak contoh yang lain. Contoh tadi hanya secuil contoh sederhana yang dimulai dari hal-hal kecil. Mungkin bapak atau ibu guru bisa bertanya hal lain yang lebih berkualitas, lebih keren, lebih yahud, atau lebih bonafid lagi. Betul?

Membaca Koran

Hmmm…, membaca koran juga penting. Penting untuk mendapat informasi terbaru yang terjadi di sekitar kita. Selaku guru harusnya tidaklah ketinggalan informasi (Duh saya juga sepertinya banyak ketinggalan informasi nih).

Selain informasi kekinian alias berita yang kita dapat, di koran pun seringkali banyak hal yang bermanfaat. Misalnya informasi tentang IPTEK terbaru, temuan terbaru, atau opini orang dalam bidang pendidikan. Yang seringkali bermanfaat bagi peningkatan proses pembelajaran di kelas. Dari koran pun bisa kita dapatkan aneka hiburan. Mulai dari humor, olahraga, hingga info tentang artis alias gossip. Biasanya bagian gossip inilah yang paling sering dibaca oleh ibu-ibu (guru), terkadang juga oleh bapak-bapak (guru). (Duh, kok nuduh ya? Padahal diri sendiri juga sering baca beginian. Hehehe….😀 )

Dengan banyak membaca koran, kita selaku guru bisa bicara dalam berbagai hal, dalam berbagai bidang. Tak hanya materi pelajaran yang kita sampaikan saja ke siswa, tapi juga masalah lain di luar bidang yang kita ajarkan ke siswa. Misalnya kita sebagai guru matematika, tak hanya matematika saja yang bisa kita sampaikan, pun kita bisa bicara masalah ekonomi, politik, olahraga, seni, budaya, sastra, dan lainnya. Kita bisa beropini beragam masalah tersebut sesuai sudut pandang kita (guru matematika). Dengan bisa seperti ini, matematika yang kita ajarkan itu tidak seolah-olah lepas dari kehidupan kita sebagai mahluk sosial. Tapi matematika itu membumi alias dekat dan sering kita kenal dalam kehidupan. Iya engga?

Dapat dikatakan, membaca koran cukup penting bagi para guru. Tapi ingat, jangan sampai baca koran melulu, lupa baca buku pelajaran, lupa baca yang lain. Hehehe…😀

Penyelesaian soal

Oh, iya. Bagaimana dengan soal yang tertulis di awal artikel ini. Bagaimana cara penyelesaiannya?

Seperti yang sudah saya kemukakan, saya tidak mau menyajikannya di sini. Silakan untuk pembaca saja sebagai latihan ringan. Saya beri petunjuk saja sedikit ya? (Petunjuknya: Silakan baca sedikit tentang materi Himpunan (set) dalam matematika. Materi ini sudah dipelajari di tingkat SMP).

=======================================================

Ya sudah, sampai di sini dulu ya perjumpaan kita. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya. Amin.

Oh, iya. Bila ada kekeliruan, itu tanggung jawab saya. Bila ada kata-kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf.

14 Comments

Filed under Agama, Bahasa, Harapan, Iseng, Matematika, Matematika SMA, Matematika SMP, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan

14 responses to “Bacaan Ramadhan: Al Qur’an, Bahan Pelajaran, dan Koran

  1. Alhamdulillah, komen vertamax nih, Pak! Artikel yang menarik nih, Pak. Harus diakui secara jujur, budaya membaca di kalangan guru agaknya memang masih memprihatinkan. Alquran, buku teks, atau koran, seringkali hanya jadi pajangan penghias ruang. Nah, bagaimana mungkin kita bisa memotivasi siswa didik kita untuk gemar membaca kalau guru sendiri gagal menjadi teladan? Ini pertanyaan klasik, tetapi penting untuk selalu dikedepankan. Alih-alih membaca, mengajar di kelas saja jarang yang mau membawa buku. Alasannya, ah, ngapain repot2 bawa buku, semua materi kan sudah hafal di luar kepala? Wah, kalau dah begini repot juga, ya, Pak! Menurut hemat saya sih, Pak, persoalannya sebenarnya bukan semata-mata hafal atau tidak, tetapi anak-anak memang perlu disugesti agar gemar membaca melalui keteladanan dari guru itu sendiri. Ini termasuk problem mendasar rendahnya budaya literasi di tengah2 masyarakat kita. Untuk menciptakan budaya itu, saya kira memang perlu diciptakan dari dunia pendidikan. Nah, Pak Jupri pasti setuju, kan?
    OK, salam hangat, Pak, mudah2an puasanya nggak bolong2, bahkan makin khusyu’.

  2. cK

    saya malah baca koran, novel, majalah kantor dan komik…:mrgreen:

    aaah…jadi pengen membaca juga…

    berhubung saya guru musik, harusnya membaca buku musik ya?😕

  3. Tolong dong dilanjutin analisisnya … membaca adalah hal paling awal dalam konsepsi Islam … Al-Quran perlu ditafsirkan karena berupa GBHN … dan tentu perlu ditulis. Alquran adalah kitab paling lengkap, mulai dari awal kejadian bayi sampai menguburkan, dari turunnya hujan sampai kepada manfaat buah-buahan, dalamnya laut luasnya androneda dan … setrusnya.

    Untuk memaknainya perlu ditulis … Menulis berarti membumikan ilmu Al-Quran, ilmu Allah melalui Sunnatullah …

    Jadi, seorang Muslim sangat sangat berkewajibanmenulis. Jangan terhenti pada pemikiran orientalis … tugas Muslim hanya membaca (Al-Quran) doang … lupa menulis. Dan, mereka mengajarkan kita berdebat soal tulisan orang, bukan menuliskan pikiran …

    Bagaimana secara matematinya Pak?

    bagai

  4. Mengenai soal set theory -nya, setelah (lagi2) nyontek Google rumusnya, maklum udah lufa sih huehehe! Kali ini, dijamin tidak salah!*)😀

    Tapi omong2 dalam kaitannya dengan cerita di atas, bagaimana kedudukan “membaca berita atau belajar dari Internet”, “mendengarkan berita atau acara pendidikan atau keagamaan di TV atau radio”, dsb…. kira-kira kedudukannya di mana ya kalau dimasukkan ke dalam cerita di atas? Huehehehe…😀

    *) “Dijamin Tidak Salah” boleh dibaca dari kanan ke kiri seperti orang Arab! Huehehe….:mrgreen:

  5. samy

    Buuuuetul! (sangat benar maksudnya!). Masih banyak guru yang nggak mau belajar, wong dia merasa sudah pinter. Gak jauh2 ni, teman-teman guruku 60% diajak belajar dan membaca gak mau. Senengnya ngrumpi atawa pulang klo gak ada jam ngajar. Payah ni pendidikan di Indonesia klo gurunya aja kaya gini. ada saran kang Jupri?

  6. Ralat dikit::mrgreen:
    di komenku sebelumnya tertulis:

    Mengenai soal set theory -nya, setelah (lagi2) nyontek Google rumusnya, maklum udah lufa sih huehehe! Kali ini, dijamin tidak salah!*)

    Seharusnya:

    Mengenai soal set theory -nya, setelah (lagi2) nyontek Google rumusnya, akhirnya ketemu juga jawabannya!, maklum udah lufa sih huehehe! Kali ini, dijamin tidak salah!*)

    begicuuu!:mrgreen:

  7. nambah satu lagi kategori membacanya : membaca ayat-ayat kauniyyah.
    Beberapa penafsir menafsirkan kalimat pertama dalam surat Al-Alaq dengan membaca ayat qauliyyah dan kauniyyah.
    Eh, kenapa jadi ke sini ngomentarinya🙂
    maap…..
    pokoke : ikut mendukung gerakan membaca

  8. Membaca lho, bukan melihat, he hehe.
    Terkadang hanya buka-buka buku, majalah ,koran,novel tanpa tau isinya.Membaca harus memfokuskan pikiran ke bacaan. Saya sendiri masih tahap belajar membaca agar bisa benar-benar memahami isinya.

    Soal di atas menarik sekali.15 guru suka ketiga-tiganya, lalu…Mumet euy ! Tapi mengasyikan.Tunggu jawabannya aja deh.

  9. @Sawal Tuhusetya: Ya setuju, Pak. Budaya membaca pada anak didik kita, siswa-siswi perlu diberi contoh dan teladan. Guru sebagai orang tua mereka perlu memberi contohnya.
    @cK: Ooooo, kamu guru musik ya? Musik apaan? Sekali-kali cerita tentang musik dong? Kemungkinan besar saya tidak ngerti kalau ngomongin musik 😀
    @Ersis Warmansyah Abbas: Ya setuju, Pak. Tak hanya membaca, kita pun wajib untuk menulis. Untuk bisa menulis, langkah awal yang perlu dipupuk adalah membaca. Bila membacanya benar, maka jalan untuk menulis sudah dekat. Ayoooooo membaca dan menulis…😀
    @Yari NK: Salah Tidak dijamin! Hehehe… bisa aja Pak Yari ini.😀
    @Samy: Terimakasih info pengalamannya. Koentar mu saya kutip di artikel saya ya…😀
    @Murniramli: Ya betul Bu, setuju. Tak hanya bacaan ayat-ayat yang tertuang di kitab, juga ayat-ayat yang bertebaran di sekitar kita.😀
    @Hanna: Sama mba, saya juga lagi belajar membaca. Jawabannya ya…? Tuh Pak Yari katanya sudah bisa….😀

  10. Yung Mau Lim

    Selamat Sore Pak!
    Buka puasa di bulan Ramadhan
    Menu buka kolak dan cendol
    Kalo tidak ada kesalahan
    Jawabannya nol.
    Terima kasih Pak!
    ____________
    Al Jupri says: Wah terimakasih, Pak. Pantunnya menarik. Kapan-kapan saya juga mau bikin pantun ah…? Namun maaf, jawaban yang diberikan bapak di komentar ini dan di komentar di bawah ini masih belum tepat. Silakan mencoba lagi! Atau bila perlu nanti saya bahas di artikel mendatang. Terimakasih sudah mau mencoba dan pantang menyerah. Proses yang luar biasa!😀

  11. Yung Mau Lim

    Maaf Pak, batalkan komentar yang di atas ya.
    Tapi pantunnya tetap.Jawabannya 50 orang benar ga pak?terima kasih!

  12. Yung Mau Lim

    Maaf seribu maaf.
    Buah nangka dibuat kolak
    Buat si buah hati buka puasa
    Sesudah memutar otak
    Ternyata jawabannya lima

    Ternyata yang membaca tepat 2 jenis bacaan masing2 5 orang.( Al Qur’an + koran = Koran + mata pelajaran = Al Qur’an + mata pelajaran = 5 orang ) terima kasih.
    __________
    Al Jupri says: Terimakasih nih Pak pantun dan jawabannya. Pantunnya bagus, kreatif. Jawabannya juga benar. Jadi yang cuma membaca tepat dua jenis bacaan ada sebanyak 5 + 5 + 5 = 15 orang. Good work!😀

  13. Esti

    Aww… Betul bgt Kang Jupri. Biasanya Ramadhan tadarusnya dilipatkan dibandingkan dengan hari-hari lainnya. (Mungkin karena tawaran pahalanya juga gedhe kali ya). Andai kata IQRA’ itu bisa dipahami lebih mendalam oleh tiap diri kita dan bisa diforward ke anak didik tentunya ‘buta huruf’ dan ‘buta aksara’ (dalam makna kias) tidak akan kita temui lagi. Mungkin karena kita saja yang mengartika membaca hanya secara dangkal, tanpa makna mendalam…Semoga budaya membaca lebih ditingkatkan, terutama setelah Ramadhan ini, sebagai hikmah Ramadhan🙂

  14. Blh gbung dunk ..mr, n ms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s