Menginjak Paris (Part 1)

Oleh: Al Jupri

Setelah perjalanan panjang melelahkan, Sabtu 11 Agustus 2007, dengan bus selama tujuh jam dari Belanda, akhirnya saya sampai juga ke Paris. Ya, Paris ibu kota Perancis yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu.

Di kota ini saya cuma tinggal selama tiga hari saja, tak bisa berlama-lama. Maklum sebagai mahasiswa yang relatif miskin, yang cuma mengandalkan beasiswa, biaya perlu ditekan sehemat mungkin.

Karena saya tak terbiasa jalan-jalan, saya merasa tak bisa bercerita panjang lebar tentang kota ini dari segi kepariwisataan. Karena saya yakin yang membahas masalah ini sudah banyak, mungkin hampir tiap orang yang pernah ke sana sebagai pelancong akan bercerita tentang hal ini. Tapi jangan khawatir, saya pun punya cerita lain, tentunya cerita menurut sudut pandang pribadi saya.

Baiklah begini ceritanya.

Menurut yang saya alami, ternyata Paris itu benar-benar kota besar yang sangat padat, bising, dan seringkali bau pesing* di mana-mana. Dengan tingkat polusi yang tinggi ditambah suhu udara yang cukup panas, bisa “dibilang” keadaannya mirip-mirip Jakarta, ibu kota negeri kita tercinta. Bila dibandingkan dengan beberapa kota yang ada di Belanda, Paris jelaslah kalah dilihat dari segi keteraturan, ketertiban, dan kebersihannya.

Telanjur sudah ada di sana, seperti niat semula, saya pun mengunjungi beberapa tempat wisata di sana. Salah satunya adalah Musee du Louvre. Sebagai fakta bahwa saya pernah ke sana, berikut ini gambarnya.

dsc01165.jpg

Gambar 1. Gambar saya di Musee du Louvre

Dari Gambar 1 ini, tampak di belakang saya ada pyramid-pyramid kaca. Entah saya tak tahu pasti kenapa di bangunan ini ada pyramid semacam itu. Menyaksikan hal itu saya jadi teringat dengan pyramid atau dikenal dengan nama limas dalam matematika. Ya saya jadi teringat dengan rumus volume pyramid yang pernah kita pelajari sewaktu SD dulu, yaitu V_p = \frac{1}{3} L \times t (dengan V_p menyatakan volume pyramid; L adalah luas alas pyramid; dan t adalah tinggi pyramid tersebut).

Tak hanya teringat, saya pun tertarik untuk mengetahui asal-muasal rumus volum tersebut. Kenapa rumus volumnya seperti itu? Apakah “datang dari langit” begitu saja?

Atas ketertarikan itulah, saya iseng-iseng mencari asal-muasalnya. Caranya seperti berikut ini.

piramida.jpg

Gambar 2. Gambar bantu untuk menelusuri rumus volum pyramid

Perhatikan Gambar 2 di atas. Gambar 2 adalah sebuah kubus dengan panjang rusuk a satuan panjang. Oleh karena itu, volum kubus tersebut adalah V_k = a\times a \times a = a^3.

Tampak dari Gambar 2 bahwa volum pyramid adalah V_p = \frac{1}{6} \times V_k. Sehingga,

V_p = \frac{1}{6} a^3

V_p = \frac{1}{6} a^2 \times a

Karena a = 2\times t, dengan t adalah tinggi pyramid, dan a^2 adalah luas alas pyramid alias L maka

V_p = \frac{1}{6} L \times 2\times t

V_p = \frac{1}{6} \times 2 \times L \times t

V_p = \frac{1}{3} L \times t

Alhamdulillah, ketemu juga asal-muasalnya. Menurut Anda bagaimana?

Selain tempat yang sudah saya sebutkan di atas, tak ketinggalan, saya pun mengunjungi icon paling terkenal dari kota Paris, yaitu menara Eiffel. Sebagai fakta bahwa saya pernah ke sana, berikut ini adalah gambarnya.

dsc01375.jpg

Gambar 3. Menara Eiffel di sore hari

Sedangkan gambar menara Eiffel di malam hari itu seperti tampak berikut ini.

dsc01254.jpg

Gambar 4. Eiffel di malam hari

Berdasarkan yang saya lihat, dengan fakta dua gambar di atas, saya pikir Eiffel itu terlihat indah hanya di malam hari. Sedangkan di siang hari, Eiffel itu tak lebih dari seonggok besi tua yang biasa-biasa saja. Kalau dipikir-pikir bentuknya mirip sutet** yang biasa kita lihat. Tapi kenapa ya banyak orang yang begitu mengaguminya? Aneh! Atau mungkin karena saya tak mengerti arti keindahan?*** Entahlah, saya tak tahu.

Selain dua tempat tersebut, saya pun mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya. Insya Allah, nanti akan saya ceritakan.

Untuk kali ini, sampai di sini dulu ya ceritanya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

Bersambung….

Catatan:

*Bau pesing, bau air kencing yang saya rasakan ketika melewati lorong-lorong kereta api bawah tanah di Paris.

**Sutet: Saluran udara tegangan tinggi.

***Makin saya tahu negeri orang, makin rindu saya dengan negeri sendiri. Betapa kaya dan indahnya Indonesia kita. Betapa luar biasanya alam kita. Indonesia benar-benar “mutiara” khatulistiwa.

21 Comments

Filed under Curhat, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMP, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan

21 responses to “Menginjak Paris (Part 1)

  1. DiN

    Bagaimana kalau piramidanya tidak sama kaki? Apa rumusnya masih sama ?😉
    _________
    Al Jupri says: Masih sama mas… (saya bisa membuktikannya. Mau engga mas? Petunjuk: Coba gunakan balok sembarang dengan ukuran panjangnya p, lebar l dan tinggi t; lalu dengan cara serupa maka akan diperoleh rumus yang sama. Selamat mencoba!). Terimakasih atas pertanyaannya…😀

  2. Itulah… Eiffel di waktu malam dikalungi lampu, seperti monas di jakarta juga. Biar indah. Nikmat juga kalo naik cruise keliling membelah Paris di malam hari. Di sana katanya lho… banyak sekali musium… tapi orang indo(nesia) jarang sekali berkunjung ke musium.
    Paris bau pesing😦 …ha..ha..ha… mungkin karena masuk rest room sama dengan di sini… musti bayar…
    _______
    Al Jupri says: bener, di Paris banyak museum. Cuma saya ga masuk, bayar sih, jadinya cuma foto-foto doang (hahaha standar turis Indonesia begini kan? Cuma mau numpang-nampang doang… haha). Oh iya, selain harus bayar, rest room-nya juga jarang-jarang ada…(atau sayanya aja yang ga tahu..?).😀

  3. Kelebihan postingan Bung Jupri adalah kemampuan mengkontekstualisasikan sesuatu yang abstrak menjadi konkret. Hampir semua peristiwa riil bisa “disulap” menjadi deskripsi yang menarik. Tanpa disadari pengunjung telah belajar matematika tanpa harus mengerutkan kening berkali-kali. Blog Bung Jupri layak untuk diajukan sebagai syarat angka kredit pengembangan profesi guru, he-he-he. Selamat berkreasi Bung, saya selalu menunggu postingan menarik berikutnya.
    ________
    Al Jupri says: Terimakasih pak… , mudah-mudahan belajar matematika jadi menyenangkan bila dibeginikan.😀

  4. SQ

    wess..ternyata eiffel bagus banget kalo malam hari, musee de louvre juga, selama ini gambarannya cuma bisa saya khayalkan setelah membaca da vinci code, musee de louvre dengan piramida kacanya. Ternyata setelah dilihat aslinya..luar biasa
    _________
    Al Jupri says: iya, Eiffel itu indah terlihat bila di malam hari doang. Di siang hari, tak lebih dari seonggok besi tua yang tak begitu menarik. Sedangkan pyramida kaca di Louvre itu, klo dideketi sih biasa-biasa saja pak… (cuma emang ada mitos di situ ga boleh ngegunain tripod kamera, katanya ga boleh ada bentuk pyramid lain, jadinya dilarang petugas. Ga tahu alasannya apa? Ternyata takhyul itu sangat dipercaya di sana. Ada-ada saja…).😀

  5. di print ah… diam2 belajar dengan guru Al Jupri, bikin menarik matematika… tapi sayang ya kata orang, “belajar di waktu tua ibarat mengukir di atas, air” duuh gimana dooong?🙂
    _______
    Al Jupri says: Ya silakan mas Kurt. Pepatah itukan kata orang mas, betul? Kalau kita rajin dan mau belajar (katanya juga sih), insya Allah bisa. Hehe..😀

  6. Menara Eiffel kalau malam hari terlihat indah lho, terkesan romantis. hi3
    ___________
    Al Jupri says: iya kelihatan indah, romantis (pantesan banyak orang pacaran). Hehehe..😀

  7. Wah, kang Jupri pasti nggak senang ke Eurodisney atau ke Parc d’Astérix ya? Senangnya yang serius2 melulu nih!😀 Padahal mumpung summer
    Ngomong2 tentang Le Musée de Louvre yang berbentuk piramid, kang Jupri pernah tahu nggak katanya bentuk piramid punya ‘khasiat gaib’, jikalau kita berada di titik tertentu di sebuah piramid? (bukan hanya piramid Louvre, sih!). Nggak tahu sih benar apa tidak, banyak orang yang sudah mengklaim, tapi belum bisa dibuktikan secara ilmiah.
    O iya, bentuk geometris piramid itu kan…. polyhedron yang kalau nggak salah dasarnya bukan hanya segi empat saja kan? Yang dasarnya polygon mulai segi empat juga namanya piramid juga. Kalau nggak salah lho! Bener nggak?😀
    __________
    Al Jupri says: Engga juga pak…, andai pak Yari tahu saya (sebenernya saya ini seneng yang lucu-lucu, humor, ga terlalu serius, dll. Karena blognya sudah telanjur bicara matematika, jadinya begini deh… hehe). Wah klo khasiat ‘ajaib’ pyramid saya belum tahu pak (kasih tahu dong… :D). Betul pak, bentuk alas pyramid tak hanya segi empat, cuma di artikel ini (karena bentuk alas pyramidnya ada ynag segi empat dan untuk memudahkan saya dan pembaca, jadinya yang dibahas yang alasnya segiempat saja). Terimakasih atas masukannya, ditunggu cerita keajaiban pyramidnya.😀

  8. Maz … tolong dong sajian dalam pandangan matematis jalan-jalan Paris dari Eiffel sebagai senternya … kayaknya menarik bagaimana mereka membuat hitungan kembangan jalan … kayaknya orang Perancis pintar banget merancang tu … Oh ya saya jadi kecanduan ‘matematik santai’ nih … matematik menyenangkan bukan membeban … Salam Kemerdekaan
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih saran dan motivasinya Pak…. Iya juga ya kenapa Eiffel tidak saya buat sebagai centre-nya? Terus tentang jalan di sana? (sepertinya saya perlu tahu sedikit ilmu tentang tata ruang kota dan perencanaannya (planalogi ya?). Iya deh, insya Allah kapan-kapan …😀 Kapan?
    Waduh, maaf pak kalao kecanduan, saya ga tanggung jawab nih hehehe…😀 MUdah-mudahan sih makin banyak orang yang kecanduan. Haha… . Salam kemerdekaan juga. MErdeka!!!

  9. Saya sudah agak lupa2 ingat kang. Tapi garis besarnya adalah setiap bangun berbentuk pyramid yang mempunyai rasio2 dimensi yang sama dengan The Great Pyramid di Mesir mempunyai khasiat khusus kalau ditaruh benda di dalamnya. Seperti misalnya sayuran bisa lebih tahan lama di dalam miniatur pyramid yang rasio2 dimensinya sama dengan The Great Pyramid. Begitu pula dengan pisau dapur, akan lebih lama tajamnya dan tidak cepat tumpul kalau dimasukkan ke dalam sebuah bangun pyramid, dsb. Nanti kalau link-nya ketemu saya kasih tahu deh.
    Memang sih ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah walaupun katanya sudah ribuan orang yang mengklaim seperti itu.😀
    __________
    Al Jupri says: Wah sepertinya menarik untuk dikaji tuh pak… (perlu diposting tuh…). Saya malah baru tahu kalau ada kejaiban sepeti itu… (ditunggu deh info berikutnya…)😀

  10. cK

    duh…pengen ke paris juga😦
    ________
    Al Jupri says:😀

  11. Hassan's unsur

    Kang jupri kapan2 mah ameng atuh ka cianjur, ngayakeun seminar atau apa saja deh..
    Kantos ameng teu ka cianjur?
    Punten ngawagel wengi2..
    Ieu mah sms we,hehe..
    __________
    Al Jupri says: Insya Allah. Dulu kan saya juga pernah ke Cianjur. Iya kan? Ya gpp. Salam saja ya ke orang-orang di sana.😀

  12. ujang hendra

    hai, ai pa kabar. menarik benar cerita parisnya, ntar ceritain juga dong hal-hal kretatif untuk menyusun media pembelajaran di negri sana, boleh kan?
    _________
    Al Jupri says: Alhamdulillah kabar saya baik. Terimakasih ya. Eh, ini Ujang Hendra teman kuliah saya dulu? Uhe? Kalau iya, salam ya ke teman-teman. Eh, lagi. Kabar kamu gemana sekarang? Teman-teman? 😀

  13. Adi

    Pak jupri. Salam kenal. Saya adi. Oya, saya mau nanya, tapi tolong jawaban nya selain dimuat di blog anda tapi juga di send ke email saya ya? Please? Please banget ? 1. Apa yg dimaksud dgn struktur “Sacred Geometry” ? Saya nemu di wikipedia artikelnya, tapi gak bisa mencerna, terlalu complicated buat awam. 2. Apa yg dimaksud dgn Isodekahedron ? 3. Oya nambahin buat yg nanya piramid sbg pengawet makanan. Emang bener kok. Ada artikelnya di internet. Karena ada ion negatif di dalam struktur piramid giza. Ion membunuh bakteri yg mau memakan mumi, mengawetkan makanan, membikin silet lebih tajam. 4. Pak jufri, kalo ndak percaya, bisa bikin miniatur piramid tapi dgn skala sama piramid giza. 5. Terimakasih. Adi

  14. Jupri…terus berkarya ya bro…teruskan ilmu2 mengenai matematika… dan sebarkan ilmu itu dimanapun berada…semakin lama kamu disana semakin banyak pula PR yang harus dibenahi di negeri tercinta ini
    _____________________
    Al Jupri says: Iya, teh. Insya Allah. Mudah-mudahan diberi kemudahan untuk menyebarkannya…😀

  15. linda

    lam’s knl dr linda,,O iya mo nnya A cara buat ngerti matematika tuh gmn y cause ssh bgt ngrtinya..N sukses y buat A juprinya.Thank

  16. Ujang Hendra (Uhe)

    ai…. lama aku tak berkunjung lagi nich ke blog-mu…
    aku sekarang lagi serius nekunin bimbel… namanya bimbel tridaya klo jupri ingin berinteraksi masuk aja ke…. http://www.tridaya.org insya Allah kita bisa saling berbagi….

  17. Salam kenal Kang,
    Selamat jalan- jalan sambil bagi- bagi ilmunya.
    Salam ti urang Bandung..

  18. eva rahayu

    halllow jupri……apa kabar?dah lama ga ketemu,ternyata jupri ga berbeda ya ama yang dulu tetep tukang ngulik
    good luck ya jup!!!!!!terus bagi-bagi ilmunya ya

  19. daniel

    hai…?
    wow?!!! keren…
    mas mau tanya donk? gimana caranya ke paris.. kq bisa sampai sana mas? tolong ceritain donk?
    mas tolong kirim email ke saya ya? thx a lot..
    GBU

  20. lidia

    loe klo ngomong tuh ya mbok dipikir dulu;yg buat kotor tuh bkan org prancisnya mrk tau aturan kok,tp org pendtg yg nggak tau buang sampah pd tptnya dn kencing smbarangan.loe tinggal dulu di prancis berthn2 bru loe tau diri klo ngejelekin negara laen tuh nggak bgs.sy dah tnggal berthn disini cara berfikir indo tuh nggak ada apa2nya dibanding negara eropah.jgn nyosor aja tuh mulut

  21. wkwkkkkk bauuu peeesiiin9, , ,😛😛
    Like This, ,”WE LOVE INDONESIA”,
    and stiLL love indonesia aLwayzzzzzz😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s