Kalkulator, Tukang Sayur, dan Matematika

Oleh: Al Jupri

Tom ke sini dong,” kakek memanggil cucu kesayangannya. “Ada apa kek?” tanya Tom sambil berlari mendekati kakeknya.

“Nih, kakek punya kalkulator kecil buat kamu. Silakan dipakai buat membantu kamu belajar matematika,” begitu beliau berkata. “Tapi kek, kata bu guru, kalau belajar matematika itu tidak boleh memakai kalkulator. Katanya, saya masih terlalu kecil, masih kelas 4 SD, belum perlu-perlu amat memakai kalkulator,” jawab Tom sambil ragu-ragu menerima kalkulator pemberian kakeknya.

Gambar 1. Kalkulator milik Tom*

Kakek Tom yang merupakan mantan guru besar matematika itu sedikit terkejut. “Lho kenapa bu gurunya ngomong begitu Tom?” Dengan polos Tom menjawab, “Kata bu guru, kalau belajar matematikanya menggunakan kalkulator, nanti saya khawatir jadi bodoh. Nanti saya tidak bisa berhitung bila kalkulatornya tidak ada atau rusak.”

“Sebenarnya pendapat ibu gurumu itu tak sepenuhnya benar Tom. Justru kalkulator itu bisa bikin siswa lebih baik belajar matematikanya. Bisa membuat siswa makin kreatif belajar matematikanya. Tapi memang, itu pun bila ibu guru kamu itu tahu cara memakainya untuk pembelajaran di kelas,” begitu kakek bicara ke Tom. Tom hanya melongo, tak begitu mengerti apa yang diucapkan kakeknya.

“Ah ga tahulah kek…. Bu gurunya bilang begitu siiih! Sekarang mah ajarin dulu saya memakai kalkulator ini!” pinta Tom ke kakeknya.

Kemudian kakek pun mengajari Tom menggunakan kalkulator pemberiannya. Tom diajari bagaimana mengoperasikan kalkulator sederhana tersebut. Mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian. Tom belajar menggunakan benda tersebut sampai benar-benar mahir pencat-pencet tombolnya.

***********************************************************************

Keesokan harinya. “Kek, saya sudah bisa nih pencat-pencet kalkulatornya. Tapi bikin bosen, cuma begitu-begitu doang, cuma tambah, kurang, kali, bagi. Ga menarik!” begitu pengaduan Tom ke kakeknya yang sedang santai sambil membaca buku.

“Oh begitu ya Tom? Kalau begitu, sini kita bermain kalkulator biar kamu ga bosen,” ajak sang kakek. Tom segera mendekat dan duduk di pangkuan kakeknya dengan manja.

“Kamu kan sudah bisa pencat-pencet tombol kalkulatornya. Coba nih kamu tentukan hasil kali 35 \times 576 tapi tombol angka 5 nya jangan kamu gunakan. Bagaiamana coba caranya?” begitu pertanyaan kakek ke Tom yang sedang enak-enakan duduk dipangkuannya.

Mendapat pertanyaan tersebut, awalnya Tom cukup bingung. Ia mencari-cari cara untuk menjawab soal kakeknya itu. Kakek hanya senyum-senyum saja melihat cucunya berpikir sedikit keras. Sambil senyum-senyum, beliaupun menciumi cucunya itu dengan penuh kasih sayang. Sambil berpikir, Tom hanya berusaha sedikit menghindari ciuman-ciuman sayang kakeknya yang agak mengganggu konsentrasinya.

Kemudian, “Ahaaa… saya tahu kek caranya, saya tahu… inikan gampang…. Begini kek…,” begitu Tom berteriak dan berkata sambil menunjukkan caranya ke kakeknya. Kakek hanya tertawa bangga menyaksikan cucunya berhasil menjawab. Setelah itu kakek memberi soal lain yang masih serupa. Begitu seterusnya sampai Tom merasa bosan.

“Kek, yang lain dong pertanyaannya…,” begitu rengekan Tom ke kakeknya.

“Ya sudah kalau bosen mah. Kalau begitu, kakek ganti nih dengan jenis soal yang baru.” Kakek sedikit terdiam, mungkin berfikir, sambil menarik nafas.

“Nih, misalkan kakek mempunyai bilangan-bilangan 5, 6 7, 8, dan 9. Coba kamu pilih tiga buah bilangan berbeda dari bilangan-bilangan ini, lalu kamu gunakan kalkulator sehingga bila dikali dengan 9 hasilnya paling mendekati 8000!” perintah kakek pada Tom.

Karena jenis soalnya baru, rupanya sedikit membuat Tom tertantang. Dengan beberapa kali coba-coba, akhirnya Tom bisa menjawab pertanyaan kakeknya itu. “Kek bilangan itu adalah 895. Karena 9\times 895 = 8055. Benar kan kek?”

Dan begitulah seterusnya Tom belajar dari kakeknya. Banyak lagi jenis pertanyaan lain yang diberikan sang kakek ke Tom, hingga si Tom merasa kecapean juga.

***********************************************************************

Di lain hari, Tom iseng dengan tukang sayur langganan ibunya. Sebut saja tukang sayur itu namanya Mang** Tukul (bukan nama sebenarnya).

Setelah melihat Mang Tukul beres melayani para pembeli, Tom mendekat dan berkata. “Mang ke sini dulu dong main-main sebentar sama saya…,” ajak Tom ke tukang sayur langganan ibunya itu. Tom memang sudah akrab dengan beliau, sehingga ia tak sungkan mengajak tukang sayur itu. Kebetulan Mang Tukul ini orangnya baik. Lagi pula ia sudah kenal Tom sejak si bocah ini bayi. Makanya ia pun mau saja menuruti ajakan Tom.

“Mang…, Mamang kan sering pakai kalkulator tuh buat ngitung belanjaan. Buat ngitung uang kembalian segala. Bosen engga?” tanya Tom ke Mang Tukul. “Ya bagaimana lagi Tom, sebenarnya sih bosan. Tapi, karena yang dihitung-hitung itu uang, makanya ga bosen-bosen. Hehe…. ” ๐Ÿ˜€

“Nah, kalau begitu, yuk kita main. Saya juga punya kalkulator dari kakek. Sekarang, saya mau tantang Mang Tukul nih, mau tahu apakah Mang Tukul bisa engga ngerjainnya. Kan Mang Tukul tiap hari pake kalkulator, iya kan?” begitu kata Tom ke tukang sayur itu sambil menuliskan soal-soal di secarik kertas. Soal-soalnya itu begini.

53 \times 2 \diamondsuit = 1 \diamondsuit \diamondsuit 4

4 \diamondsuit \times 53 =  \diamondsuit 438

“Coba Mang Tukul isi kotak-kotak tersebut dengan bilangan-bilangan yang cocok!” pinta Tom ke Mang Tukul. “Nah, biar adil, Mang Tukul juga punya soal engga buat saya?” tanya Tom.

“Hmmmmh.. begitu ya Tom? Mamang coba ya pake kalkulator yang besar ini,” begitu Mang Tukul bicara sambil mengambil kalkulator dagangnya yang besar itu.

“Mang, ayo dong soal buat saya mana?” rengek Tom.

“Oh iya, Mamang sih ga bisa bikin soal Tom. Tapi, Mamang punya belanjaan nih. Mamang punya daging sapi beratnya 2\frac {1}{2} kg, harganya Rp. 87.500,- Kalau ibumu cuma beli 1 kg, berapa ibumu harus bayar ke Mamang?” begitulah soal belanjaan Mang Tukul.

Akhirnya mereka pun sibuk masing-masing mengerjakan soal sambil main-main, ketawa-ketawa…, asyik bermatematika.

Dasar si Tom! Tukang sayur pun diajak bermatematika….๐Ÿ˜€

Ya sudah sampai segitu saja ya ceritanya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan bermanfaat, khususnya buat ibu dan bapak guru (matematika) yang masih ragu-ragu akan kemanfaatan kalkulator untuk pembelajaran matematika di tingkat dasar.๐Ÿ˜€

Catatan:

*Gambar diambil dari Wikipedia.
**Mang: adalah panggilan yang biasa dipakai untuk memanggil pedagang (laki-laki) yang suka menjajakan dagangannya (khusus di daerah kelahiran saya saja mungkin). Mang adalah bentuk panggilan pendek dari kata “mamang” yang berarti “paman”.

23 Comments

Filed under Cerita Menarik, Cerpen, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Sains, Sastra

23 responses to “Kalkulator, Tukang Sayur, dan Matematika

  1. Sebuah soal cerita yang hebat. Andaikan di negeri ini muncul banyak Tom, dijamin so pasti, Matematika menjadi pelajaran favorit dan so pasti pula Indonesia jadi pelanggan olimpiade. Merdeka!
    ______
    Al Jupri says: Terimakasih pak. Mudah-mudahan pengandaian bapak jadi kenyataan. Amin. Merdeka!!!๐Ÿ˜€

  2. keren, bacanya harus pelan
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih.๐Ÿ˜€

  3. Salam kenal Pak/Mas. Tulisannya bagus-bagus. Pendekatan pelajaran matematik yang menyenangkan. Saya ijin link blog nya ya.
    _______
    Al Jupri says: Salam kenal juga Bu… Terimakasih. Terimakasih sudah mau mampir. Ya silakan diijinkan. ๐Ÿ˜€

  4. emang artikel matematic nya bagus2 – disini saya bisa bermumet ria dan ketawa sendirian…
    ________
    Al Jupri says: Terimakasih. Selamat ketawa dan bermumet ria… ๐Ÿ˜€

  5. Halo!! Sampeyan ini guru ya? Kalau ya, terusin nulis model beginian yang lebih terstruktur hingga nanti bisa jadi buku yang memudahkan untuk ‘memahami’ mudahnya belajar matematika, bukan untuk belajar matematika.

    Saya bingung dengan ‘hantu’ tebaran guru-guru, matematika itu sulit. Bagi saya menarik … he … he … Mulai belajar ketika sudah sarjana muda, mulai dari buku matematika jilid IX (diagram Ven), lalu di pascasarjana sampai mengajar statistik elementer (Metode Penelitian).

    Oh ya, apalagi belajar dalam kandungan logika, dari term sampai fallacy … asyik tu. Jadi, matematika itu menarik. Anak saya ketika SD perna lho jadi Juara III pelajaran IPA/Matematita (?) se-Kalsel. Di SMP nilainya hampir 10. Tapi, gurunya ….

    Salam matematika … he … he …
    ___________
    Al Jupri says: Terimakasih usulnya pak…. Insya Allah, tulisan-tulisan beginian yang udah pernah saya tulis, akan saya kumpulkan (siapa tahu jadi buku).
    Benar, matematika itu sebenarnya menarik…. Wah, ternyata seneng matematika juga bapak ini.

    Oh iya, selamat ya, berarti anak bapak berbakat tuh di bidang matematika/IPA. Terus dikembangkan saja Pak….
    Tentang logika (matematika), iya itu juga sangat menarik dan bermanfaat teutama untuk melatih pola pikir. Klo saya pikir-pikir sih, logika matematika itu bisa dipake dalam akivitas tulis-menulis juga.

    Salam matematika juga… Hehe..๐Ÿ˜€

  6. Kalkulator…
    ditangan seseorang mungkin hanya alat hitung, di tangan orang lain bisa jadi sumber inspirasi atau mainan yang seru…
    _______
    Al Jupri says: Benar kang spitod, fungsi kalkulator itu macam-macam. Tergantung bagaimana kita memfungsikannya…

  7. Saya jadi ingat waktu saya SMP dulu, pertama kali saya dibelikan kalkulator, rasanya senang sekali. Waktu itu saya ingat tahun 1981. Kalkulatornyapun kalkulator ‘tukang sayur’ tapi ada jam, kalender dan alarmnya. Untuk tahun segitu, sudah canggih banget kalkulatornya. Kalendernyapun hanya sampai tahun 1999. Jadi kalau sekarang si kalkulator masih hidup, kalendernya udah nggak bisa dipakai lagi tuh. Hehehe….
    O iya….. saya juga punya permainan dengan kalkulator nih….. ceritanya begini…..
    “Ada 8 laki-laki yang ganteng 7 orang, ada 9 perempuan yang cantik 1, di antara 8 laki-laki dan 9 perempuan itu usianya rata-rata 17 tahun. Nah, sekarang siapa nama satu2nya perempuan yang cantik itu?” Dengan kalkulator jawabannya bisa ketemu. Tapi lebih bagus pakai kalkulator yang tukang sayur yang digitnya masih seven segments jangan pakai kalkulator saintifik modern yang udah pakai dot matrix.
    Nanti kalau jawabannya nggak ketemu di komentar lain akan saya kasih tahu jawabannya๐Ÿ˜€ Hehehehe…..
    _______
    Al Jupri says: selamat kembali ke dunia blog pak…. Wah, udah bisa berkalkultor sejak 1981 (saya malah waktu itu belum dilahirkan…, belum ada di alam rahim juga kayaknya… :D).

    Terimakasih permainannya, menarik nih… pastinya ini bukan cuma matematika yang dipake… (ada trik khusus ya? Nanti kasih tahu ya triknya…, dasar saya ini males mikir ya Btw, kalkulator “sayur” saya udah ga bisa dipake…). ๐Ÿ˜€

  8. Kalkulator adalah alat bantu untuk menghitung, bukan untuk melatih berpikir logik walau ada unsur itu sangat kecil sekali…lebih besar porsinya sebagai alat bantu saja…
    ________
    Al Jupri says: Benar pak, salah satu fungsi kalkulator adalah sebagai alat bantu untuk berhitung.

    Kalkulator juga bisa berfungsi lain, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Bisa dipakai untuk melatih “kreativitas” siswa di kelas; membantu siswa berfikir lebih cerdas, dll. (hehehe, bukan kata saya sih itu. Kata beberapa hasil penelitian, tapi sumbernya lupa, kebanyakan sih…. Mungkin di dunia maya ini ada yang membahas tentang kalkulator dan pembelajaran matematika di sekolah (ntar saya cari deh…)).๐Ÿ˜€

    Klo untuk berpikir logik, salah satunya (memang) dengan belajar matematika…

  9. Pokoknya, terus maju dengan penguasaan matematika yang mantap!

    SEMANGAT!!!
    *maaf, ini dak boleh dilupakan:mrgreen: *
    _______
    Al Jupri says: Terimakasih… Ayooo majuuu…๐Ÿ˜€

  10. Julaeha

    Wahh,, kerennya..!!
    ____
    Al Jupri says: Terimakasih. ๐Ÿ˜€

  11. duh masih tetep bingung
    ________
    Al Jupri says: Maaf pak…, ๐Ÿ˜€

  12. Hehehe… iya… yang jelas bukan hanya trik matematika yang dipakai. It is absolutely just for fun with your calcaulator, iya caranya begini (pakai kalkulator yang dot matrix juga bisa sih, cuma mungkin hasilnya nggak begitu kelihatan, tapi dengan menggunakan sedikit imajinasi, jawabannya akan sangat jelas):
    “Ada 8 laki-laki (di kalkulator pencet angka ‘8’), yang ganteng 7 (pencet angka ‘7’). Ada 9 perempuan (pencet angka 9), yang cantik 1 (pencet angka 1). Di antara 8 laki2 (pencet angka 8 lagi) dan 9 perempuan itu (pencet angka 9 lagi) umurnya rata-rata 17 tahun (di kalkulator, dibagi {‘/’} 17). Nah, kalau sudah ketemu hasilnya, terus kalkulatornya dibalik upside down, nah tertera tuh nama satu-satunya perempuan yang cantik!๐Ÿ˜€ Selamat mencoba!

    Ringkasan di kalkulator:
    879189 / 17 = ? (terus baca hasilnya, kalkulatornya dibalik!)
    as simple as that to know the beautiful lady in the pack!๐Ÿ˜€
    ___________
    Al Jupri says: Hahaha… bener aja tuh kan triknya simple, tapi suka ga kepikir. LILIS, she is really a beautiful lady. Thanks ya Pa Yari teka-tekiya. Do you have more?๐Ÿ˜€

  13. Ada dua lagi sih sebenarnya! Cuma yang dua lagi “Suparno” hehehe…!! kalau dibeberkan di sini salah2 nanti bisa terjerat UU Anti Pornografi lagi! Hehehehe๐Ÿ˜€

  14. baliazura

    wah klo denger matematika jadi mati-matian dech
    soalnya dulu aq agak katro ama matematika jadi klo bikin contekan sekalina jawabannya ga pake kalkulator ( katro banget kan๐Ÿ˜€ )
    ________
    Al Jupri says: Jangan mati-matian dong, biasa saja lagi. Klo dulu katro, mudah-mudahan sekarang sudah engga katro lagi. Sama saya juga dulu (waktu belum sekolah) katro sama matematika.๐Ÿ˜€ Terimakasih sudah berkunjung.

  15. Aryati

    Subhanallah…bagus tulisannya. Ini Al Jupri mhs UPI angk 2000 sekaligus dosen math UPI kan?saya pernah jadi mhs bapak di kuliah kapsel math.
    _________
    AL Jupri says: Terimakasih, segala puji memang hanya bagi Allah. Betul teh, saya dulu mahasiawa UPI angkatan 2000. Ssst jangan ribut-ribut ya….๐Ÿ˜€

  16. Hartono

    Saya punya pengalaman,suatu hari saya mengajar matematika dan fisika kepada seorang murid, kelemahan dia adalah dalam hitung menghitung misalnya dalam hal kali bagi,tarik akar dan sebagainya.Setiap kali saya mengajar dia saya harus menunggu lama untuk mendapat jawabannya karena ada halangan menghitung padahal banyak konsep dan materi matematika,fisika yang seharusnya saya sampaikan ke dia.Akhirnya saya sarankan dia menggunakan kalkulator.Orang tuanya mula-mula agak keberatan juga kalau anaknya menggunakan kalkulator takut kalau2 anaknya jadi bodoh.Saya beri pengertian bahwa kalkulator diciptakan untuk mempermudah menghitung dan menggunakan kalkulatorpun harus ada ilmunya juga,akhirnya diizinkan pake kalkulator,terbukti anaknya sekarang udah pintar matematika dan fisika.
    __________
    Al Jupri says: Terimakasih cerita pengalamannya pak…, memperkaya artikel ini.๐Ÿ˜€

  17. Yung Mau Lim

    Bapak Al Jupri,saya ingin bertukar pikiran nih.Dari pengalaman saya sendiri,dulu sewaktu saya belum SMU, saya menghitung secara manual,dan sering membosankan.Baru di SMU,saya mendapat kalkulator dari ortu.Saya merasa begitu cepat waktu menyelesaikan soal,sehingga menambah semangat saya.Efeknya luar biasa saya menjadi sangat suka pelajaran yang ada hitungannya.Sekarang yang saya herankan kog guru sekolah ga izini murid2 pake kalkulator sewaktu ujian?Memang jenis kalkulatornya harus dibatasi juga,jangan terlalu canggih,khawatir murid2 pada record formula.Bagaimana pendapat Bapak?thx.
    _________
    Al Jupri says: Penggunaan kalkulator menurut saya sih boleh-boleh saja, malah perlu. Kenapa? Selain untuk mempercepat perhitungan, juga waktu yang biasanya terbuang untuk hitung-menghitung yang terkadang menjemukan bisa dipakai untuk memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat. Cuma perlu diingat, baiknya penggunaan kalkulator di sekolah itu untuk mereka yang sudah mengerti dasar-dasar cara berhitung (setidaknya mulai kelas 4 SD).

  18. zahra chairani

    Pak, tulisan bapak bagus lho, Selama ini anak dilarang menggunakan kalkulator untuk menghitung apalagi untuk ujian. Padahal untuk soal-soal yang merupakan problem solving kalkultor dapat digunakan sebagai alat bantu hitung. Mungkin bapak bisa buat tulisan lagi kapan dan pada situasi bagaimana anak bisa menggunakan kalkulator dalam proses belajar matematika . Soal-soal seperti apa yang harus dibuat guru agar kalkulator bisa digunakan anak-anak terutama di SD.
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih. Iya, insya Allah saya akan nulis lagi tentang calculator, tapi engga tahu kapan? Insya Allah, pertanyaan dan permintaannya merupakan motivasi berharga bagi saya, untuk terus menulis dan belajar. Salam…๐Ÿ˜€

  19. wow ! dashyat ~
    saya link website anda ke blog saya ya ??
    salam,๐Ÿ™‚

  20. nick

    salam kenal pak…, saya tertarik dengan artikel diatas, menarik sekali…(^.^)b,
    tapi saya mau nanya yang dipelajari tom itu materi matematika apa?terus ada ga materi matematika yang bisa diajarkan dengan media kalkulator, selain kalkulator grafik, terima kasih, mohon dibalas

  21. salam kenal, saya suka ini๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s