Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 1)

Oleh: Al Jupri

“Pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang pola pikir yang dipakai dalam sains dan matematika,” ucap seorang professor filsafat di depan para mahasiswanya, sambil menekan tombol overhead projector (OHP) di sampingnya.

“Yang pertama akan kita bahas adalah pola pikir yang digunakan dalam sains,” sambil ia meletakkan slide di OHP yang sudah dihidupkannya tadi. “Agar lebih mudah mengerti pola pikir sains, mari kita lihat contoh-contoh yang sudah biasa kita kenal,” ajak sang professor pada para mahasiswanya untuk sama-sama melihat tulisan yang terhampar di layar.

Di layar tampak tulisan begini.

Contoh 1:

Gajah mempunyai mata;

Ayam mempunyai mata;

Ikan mempunyai mata;

Kodok mempunyai mata;

Burung juga mempunyai mata;

Kesimpulannya: “Semua” hewan mempunyai mata.

Setelah mengucapkan satu persatu contoh tersebut sang professor berkata, “Ya, dari contoh-contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa ‘semua’ hewan mempunyai mata.” Kemudian ia melanjutkan penjelasannya, “Nah, pola pikir semacam ini, yaitu dari kasus-kasus khusus kemudian dibuat suatu kesimpulan yang bersifat umum disebut pola berpikir induktif. Pola berpikir induktif seperti contoh inilah yang digunakan dalam sains. Dan untuk dapat membuat kesimpulan dengan berpikir induktif ini diperlukan pengamatan dan observasi bahkan eksperimen yang sungguh-sungguh.”

Mahasiswa tampak serius menyimak penjelasan sang professor. “Kesimpulan pada Contoh 1 ini bisa kita buat lebih luas lagi. Misalnya begini, berdasarkan pengamatan selama ini kita ketahui bersama bahwa setiap manusia mempunyai mata. Nah, dengan menggabungkan kesimpulan ini dan kesimpulan pada Contoh 1, kita dapat membuat kesimpulan baru yang lebih luas yaitu, semua hewan dan manusia mempunyai mata. Dan seandainya kemudian berdasarkan eksperimen ternyata tumbuhan juga mempunyai mata, maka kita bisa membuat kesimpulan yang jauh lebih luas lagi, yaitu semua mahluk hidup mempunyai mata,” begitu sang professor itu menjelaskan.

“Contoh lain penggunaan pola berpikir induktif dalam sains itu bisa kita lihat seperti ini,” sang professor mengganti slide pertama dengan slide kedua. Tampak di layar tulisan seperti berikut ini.

Contoh 2:

Besi bila dipanaskan akan memuai (mengembang);

Nikel bila dipanaskan akan memuai;

Tembaga bila dipanaskan akan memuai;

Kuningan bila dipanaskan akan memuai;

Baja (campuran logam) bila dipanaskan juga akan memuai;

Kesimpulannya: “Semua” logam bila dipanaskan akan memuai.

Belum sempat sang professor tersebut menjelaskan contoh yang keduanya, salah seorang mahasiswanya berpendapat. “Maaf prof, menurut saya cara penarikan kesimpulan dengan menggunakan pola berpikir induktif itu kemungkinan salahnya itu besar sekali. Contohnya, untuk contoh pertama tadi saya pernah melihat ada hewan yang tidak mempunyai mata misalnya cacing tanah. Dan untuk Contoh 2 bila suatu waktu nanti ditemukan ada logam yang tak memuai bila dipanaskan, maka kesimpulan itu pun salah,” begitu mahasiswa tersebut berpendapat dengan penuh semangat.

“Pendapat Anda benar. Memang begitulah pola berpikir induktif itu, sifatnya sementara (tentatif). Karena itu, salah satu sifat sains adalah bersifat tentatif. Maksudnya adalah selama belum ada temuan baru yang menggagalkan kesimpulan yang sudah pernah dibuat, maka kesimpulan itu tetap dipakai. Bahkan kalau pun ada contoh yang menyangkal kebenaran kesimpulan yang sudah dibuat tersebut, maka biasanya dalam sains contoh baru yang tak sesuai kesimpulan itu disebut sebagai suatu kasus atau perkecualian atau anomali,” begitu tanggapan professor pada mahasiswa yang bertanya tadi. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya tentang pola pikir sains.

=======================================================

Sampai di sini dulu ya ceritanya. Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya yaitu: Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 2).

Catatan: *Kata sains di sini adalah terjemahan dari kata science.

Update: Bagi Anda yang kompeten di bidang sains, mohon koreksinya bila dalam artikel ini ada kekeliruan.

11 Comments

Filed under Fisika, Matematika, Matematika SD, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Sains

11 responses to “Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 1)

  1. hmm..menarik yah…berarti sampai saat ini kita semua masih bisa beranggapan bahwa bumi itu bulat, sampai suatu saat ada yg membuktikan bahwa bumi itu kotak…
    _____
    Al Jupri says: hehehe… iya bisa jadi begitu…๐Ÿ˜€

  2. jardeeq

    yupz…
    dan sains pun akan terus berkembang karenanya!
    _________
    Al Jupri says: ya setuju…๐Ÿ˜€

  3. Menurut saya intinya adalah sederhana! Pola pikir sains yang baik harus ‘siap’ menerima anomaly dalam setiap generalisasi yang diinduksikannya.
    ________
    Al Jupri says: memang seperti itu Pak… bila tak menerima sesuatu yang anomali, sains tidak akan berkembang dong… selalu gagal dan gagal maning… mentah di tengah jalan๐Ÿ˜€

  4. rajaiblis

    ooo … begitu ya …
    kalo yg seperti ini termasuk matematika apa sains ya ?

    #contoh kasus 1
    1. merokok itu menyebabkan serangan jantung, kolesterol, tekanan darah tinggi.
    2. makan daging kambing menyebabkan serangan jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol.

    kesimpulan, merokok dan makan daging kambing bikin orang sakit-sakitan ?

    #contoh kasus 2
    1. tidur yang cukup menyebabkan jiwa dan pikiran tenang.
    2. merokok yang cukup menyebabkan jiwa dan pikiran tenang.

    kesimpulan, merokok dan tidur baik buat kesehatan jiwa ?

    nah loh …. ?
    __________
    Al Jupri says: Hahaha… terimakasih Rajaiblis contoh-contohnya… karena ini adalah kesimpulan-kesimpulan (dan belum tentu berlaku untuk semua orang), saya pikir ini termasuk sains. Hehe…๐Ÿ˜€

  5. rajaiblis

    sains … dan belum tentu berlaku untuk setiap orang!
    artinya, tidak boleh men-generalisasi sebuah kejadian atau peristiwa lantas menetapkan sebuah peraturan hingga bisa mengakibatkan kerugian bagi orang banyak!

    akan menjadi lucu bila ada peraturan sbb…
    1. merokok haram, merugikan kesehatan dan menzalimi diri sendiri. (diri siapa ?)
    2. makan daging kambing halal, banyak protein baik untuk kesehatan. (halal bagi siapa?)

    malah yg lebih heboh lagi …
    makan daging ayam haram, bisa terkena flu burung. dan jutaan unggas yg tiada berdosa lantas dibumihanguskan karena hanya ada 1 anak kecil yg mati !
    ujung-ujungnya, KFC, Texas, CFC, McD, mendatangkan ayam dari luar nusantara, karena lebih tahan terhadap flu burung ?
    ________
    Al Jupri says: Thank you Raib atas sudut pandang lain yang diberikan…. saya tunggu pendapat berikutnya.๐Ÿ˜€

    berapa banyak devisa kesedot ?
    berapa banyak petani unggas yg rugi ?

    “apakah kalian tidak berpikir ?”

  6. Gw ikut rajaiblis aje….!!!
    Mendingan main ke blok ane…Ada BEASISWA gratiss!!!
    __________
    Al Jupri says: BEASISWA apa tuh? Iya kapan-kapan…๐Ÿ˜€

  7. sjafri mangkuprawira

    tulisan menarik bung jupri,
    Bicara tentang metode induksi,ada baiknya kita mempelajari pendapat Francis Bacon dengan Metode Induksi Empiris (eksperimen) dan John Stuart Mill dengan Logika Induksi.
    Bacon berpendapat ada empat hal yang harus dihindari dalam berpikir:
    1 sering manusia menarik suatu kesimpulan secara dangkal tanpa dasar melalui pengamatan dan percobaan memadai.(idola tribus-awam)
    2.penarikan kesimpulan yang hanya didasarkan pada prasangka, apriori, dan selera saja: idola specus.
    3.penarikan kesimpulan hanya karena umum berpendapat demikian atau hanya mengikutinya saja pada opini publik: idola fori-forum-pasar.
    4.idola theatri: penarikan yang didasarkan pada kepercayaan dogmatis, mitos, keuatan supranatural,ghaib.
    JH Mill berpendapat:dalam menarik kesimpulan perlu dihindari generalisasi empiris atau induksi yang tidak sah; dan induksi yang mencari dukungan pengetahuan yang tidak relevan-tidak kontekstual.
    Oh ya masih cukup banyak lagi pendapat-pendapat lain tentang metode induksi.

    bung, terus berfilsafat ilmu.

    ________
    Al Jupri says: Terimakasih Prof. Terimaksh atas tambahan pengetahuannya. Pengetahuan yang berharga bagi saya. Ya ini memang sedikit tentang filsafat ilmu…๐Ÿ˜€

  8. Bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu-ilmu yang kita pelajari selama ini bersifat sementara. Atau Kesimpulan yang saya tarik ini bersifat sementara juga atau salah besar

  9. cara menerangkannya hebat ! …๐Ÿ™‚ Bravo !

  10. Bela Ronaldoe

    Sebagian yang bermata dapat melihat.

    Pergerakan yang bertujuan dari hewan menandakan hewan itu memiliki jarak pandang.

    Setiap jarak pandang ditentukan oleh penglihatan.

    Hewan yang memiliki penglihatan pasti memiliki mata.

    Yang memiliki mata hanya sebagian hewan saja.

    Sebagian hewan tak bermata bergerak bertujuan.

    Setiap hewan yang bertujuan tidak hanya memiliki mata.

    ………….dst……………
    tolong buat kesimpulannya…..plisZ!!

  11. sakroel

    Hiduuup Raja Iblis………Raja Iblis, teruskan karyamu di Blog ini, saya sangat mendukung pendapatmu wahai Raja Iblis.

    salam persahatan………!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s