Memperbaiki “Citra Buruk” Guru Matematika, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

Sudah sejak lama saya sering mendengar (mitos) bahwa kebanyakan guru matematika itu “tampang”nya menyeramkan, menakutkan, serius, galak, serta orangnya sulit diajak basa-basi, terlalu “to the point”, sulit diajak senyum, dan berbagai citra buruk lainnya. Karena citranya seperti itu ada juga yang berani menggambarkannya dengan sindiran. Sindirannya itu begini katanya, guru matematika itu mukanya seperti segi empat, mulutnya seperti segitiga, matanya seperti bola pingpong, kepalanya seperti bola sepak, dan telinganya seperti angka tiga. Bahkan ada juga yang lebih berani menyindir dengan kata-kata yang kasar. Semisal bahwa guru matematika itu adalah “biangnya horor” sepanjang jaman.

Tentunya citra-citra seperti tersebut tak sepenuhnya benar. Karena citra yang buruk seperti itu, siapapun Anda sebagai guru matematika tentunya perlu introspeksi diri, perlu memperbaiki diri, perlu mengubah citra tersebut menjadi citra yang baik. Namun, bagaimana caranya? Bagaimana ya caranya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memposisikan diri sebagai siswa. Dengan cara ini mudah-mudahan bisa lebih obyektif. Dengan cara ini mudah-mudahan Anda yang kebetulan menjadi bapak atau ibu guru matematika tak merasa diceramahi oleh saya yang belum tahu apa-apa ini, tak merasa dinasehati oleh saya yang belum berpengalaman ini. Dengan cara seperti ini, mudah-mudahan bapak atau ibu guru matematika sekalian menanggapi secara positif dan berusaha memperbaiki citranya.

Sebagai siswa yang belajar matematika, saya berharap bapak atau ibu guru matematika itu sebaiknya:

  1. Jangan suka menakut-nakuti siswa dengan mengatakan bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sulit alias sukar. Bila bapak atau ibu guru berkata seperti ini seringnya membuat mental kami (para siswa) jatuh dan lemah, kalah sebelum bertanding.

  2. Jangan galak atau pura-pura galak. Bila siswa sering tidak mengerti dengan penjelasan bapak atau ibu guru baiknya beliau-beliau ini jangan langsung marah-marah dan menyalahkan seenaknya begitu saja. Baiknya beliau-beliau ini introspeksi diri, apakah mengajarnya itu sudah benar atau belum, apakah pendekatan pembelajaran yang digunakan itu sudah cocok atau belum.

  3. Jangan suka menghukum siswa yang belum bisa atau belum mengerti. Semakin bapak atau ibu guru sering memberikan hukuman pada siswa-siswa yang belum mengerti, semakin membuat siswa takut, semakin siswa membenci pelajaran matematika ini, semakin siswa lari tak mau belajar. Jadi hukuman itu perlu dilakukan secara mendidik, bukan dengan cara membunuh kemauan belajar siswa.

  4. Jangan memberi PR (Pekerjaan Rumah) seenaknya saja. Bapak atau ibu guru sebaiknya memberi PR sesuai proporsi siswa, jangan terlalu banyak pun jangan terlalu sedikit; Tidak terlalu sukar pun tidak terlalu mudah; PR yang diberikan hendaknya sudah dipersiapkan oleh bapak atau ibu guru sekalian, sudah dicoba dikerjakan oleh bapak atau ibu guru sehingga mudah memperhitungkan proporsi waktu yang diperlukan siswa. Jangan memberi PR seenaknya diambil dari buku yang belum tentu baik untuk melatih kami sebagai siswa (kalau cara ini dilakukan ini mengindikasikan bahwa bapak atau ibu guru tidak melakukan persiapan mengajar).

  5. Menghargai siswa yang agak lamban memahami penjelasan materi yang bapak atau ibu guru ajarkan. Kami sebagai siswa juga ingin mengerti dengan pelajaran matematika, kami sebagai siswa juga ingin bisa bermatematika dengan gembira. Siswa mana yang tak ingin mengerti matematika? Siswa mana yang tak ingin pandai bermatematika? Jadi, tolong mohon kesabaran ibu dan bapak sekalian dalam mengajari kami.

  6. Memberi kesempatan dan waktu pada siswa untuk mengerti dan memahami pelajaran matematika. Janganlah bapak ibu guru sekalian hanya memperhatikan siswa-siswa yang pandai saja. Jangan menjadikan siswa pandai sebagai tolak ukur mengerti atau tidaknya siswa di kelas. Tolong kami-kami ini (yang agak lamban menerima dan memahami materi) juga diperhatikan. Yang terjadi, seringnya bapak-ibu guru sekalian hanya memperhatikan yang pandai saja, menjadikan mereka ukuran mengerti atau tidaknya siswa secara keseluruhan; sedangkan kami yang agak lamban kurang terperhatikan, seringnya diabaikan, seringnya ditinggal begitu saja. Yang akibatnya kami terseret-seret tak sanggup mengikuti pelajaran.

  7. Ketika mengajar bapak atau ibu guru sekalian janganlah terlalu kaku, janganlah membuat suasana tegang. Tapi buatlah suasana yang menyenangkan dan menggembirakan. Bila pembelajaran dilakukan secara kaku (terlalu serius dan kering), maka siswa cenderung bosan, jemu, bikin siswa stress sepanjang pelajaran. Sekali-kali dalam mengajar itu hendaknya diselingi dengan nasihat, sekali-kali diselingi dengan cerita, sekali-kali diselingi dengan humor. Sehingga suasana senang /menyenangkan dan menggembirakan itu tercipta di ruang kelas.

  8. Cara mengajar yang dipakai bapak atau ibu sekalian janganlah “itu-itu” saja, tolong divariasikan. Sehingga siswa tidak bosan, tidak jenuh, tidak stress. Sekali-kali bikin kejutan buat kami, sehinga siswa tertarik, termanjakan secara asyik.

  9. Bapak atau ibu sekalian jangan “memasang muka galak”, menakut-nakuti. Cobalah ramah kepada semua siswa. Jangan hanya ramah kepada siswa yang pandai dan mengerti saja. Siswa yang kesulitan begini juga perlu diramahi, sehingga siswa tak takut, tak sungkan untuk bertanya, tak sungkan untuk memberi pendapat, tak takut bila belum mengerti.

  10. Memberi kami kesempatan untuk bertanya, untuk berdiskusi. Jangan hanya bapak atau ibu guru yang terus-terusan berceramah, mengoceh sepanjang pelajaran. Siswa juga punya potensi untuk berpendapat, mengajukan gagasan atau ide-ide yang bisa jadi sangat cemerlang.

  11. Jangan suka meremehkan kemampuan siswa yang agak lamban menerima pelajaran. Karena tiap siswa mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

  12. Ketika siswa belum mengerti, janganlah melakukan cacian dengan perkataan-perkataan kasar semisal “Kamu itu bodoh amat sih! Dari tadi ga ngerti-ngerti!”, “Dungu dipiara!”; “Kamu itu bolot banget sih!”; “Bodo dipiara!”, “Dengkul-mu ditaro di kepala ya?” “Otakmu di taroh di mana? Di dengkul?”; dll (Ini cuma perkiraan saya saja, mohon maaf bila ada yang tersinggung. Mudah-mudahan tak ada guru matematika yang berkata sekeji yang saya tulis barusan).

  13. Ketika mengajar janganlah terlalu cepat, tolong perhatikan siswa yang baru belajar. Tak semua siswa yang bapak atau ibu guru ajar itu cepat mengerti materi pelajaran, tolong sesuaikan dengan kecepatan siswa yang baru belajar.

  14. Janganlah terlalu menjaga jarak dengan kami-kami (siswa). Cobalah dekati kami, ajak kami ngobrol, ajak kami diskusi di luar kelas. Sehingga bila kami bermasalah, bila kami kesulitan memahami pelajaran membuat kami tak sungkan untuk bertanya, tak sungkan untuk berpendapat. Dengan cara ini kewibawaan ibu-bapak sekalian insya Allah tak akan berkurang bahkan mungkin akan meningkat berlipat-lipat.

  15. Jangan merasa bangga bila banyak siswa menjadi tak mengerti dengan materi yang diajarnya. Beberapa kali terjadi ada guru yang merasa hebat, merasa pandai, merasa puas ketika siswa-siswanya tak mengerti (Eh tapi ini bukan di sekolah sih, seringnya di perguruan tinggi). Ada beberapa “guru” yang dengan bangganya menganggap dirinya pandai ketika tak ada siswanya yang mengerti.

  16. (Silakan pembaca menambahinya! Saya yakin masih banyak lagi harapan-harapan siswa terhadap guru matematikanya).

Beberapa hal di atas adalah pendapat saya sebagai siswa yang begitu berharap pada bapak atau ibu guru matematika di manapun berada. Tentu bapak atau ibu bisa dengan bijak menanggapinya, bisa dengan cerdas mencernanya, bisa dengan lihai mempraktikannya. Hal-hal yang baru saja saya tulis mungkin tak sepenuhnya dapat bapak atau ibu lakukan secara sekaligus, namun saya berharap bisa dilakukan sedikit-demi sedikit.

Saya berharap hal-hal yang saya tulis tersebut bisa sebagai sedikit masukan untuk perbaikan. Tentu yang baru saja saya tulis itu adalah keinginan saya sebagai siswa yang bisa saja banyak kelirunya. Namun yang terpenting adalah bapak atau ibu guru sekalian perlu memperhatikan aspek mendidiknya, aspek pembelajarannya, aspek psikologi perkembangan siswanya, dan aspek-aspek lainnya yang saya yakin bapak atau ibu guru sekalian jauh lebih mengetahuinya, jauh lebih berpengalaman melakukannya.

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal di atas, mudah-mudahan “citra buruk” yang selama ini melekat pada guru matematika dapat sedikit-demi sedikit terkikis, mudah-mudahan sih bisa lenyap semuanya. Akhirnya saya pun berharap dan berangan-angan, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi perbaikan pembelajaran matematika di ruang-ruang kelas di negeri tercinta kita, Indonesia. Amin.

Catatan: Berikut ini beberapa artikel lain yang terkait.

  1. Menjadi Guru Matematika Impian, Bagaimana?
  2. Cara Mengajar Matematika, Bagaimana?
  3. Menyajikan Matematika Secara Kreatif, Bagaimana?
  4. Bertepuk sebelah Tangan
  5. Pertanyaan
  6. Kali ini, Tom Bikin Bingung
  7. Yang Bisa Dibagi dua
  8. Anak Kecil Bicara Angka 7
  9. “Banyak Anak = Banyak Rezeki”
  10. Tom, Jerry, dan PR Matematika

16 Comments

Filed under Harapan, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan

16 responses to “Memperbaiki “Citra Buruk” Guru Matematika, Bagaimana?

  1. *liat poin #1* … tapi matematika itu kan emang susah …πŸ˜†

  2. metode yang itu-itu saja. menarik. karena guru matematika saya di sma cara ngajarnya cuma itu-itu saja. menerangkan 15 menit, lalu latian soal dengan cara menunjuk siswa. benar-benar tegang saya saat itu. mana soalnya susah pula, penjelasan sangat sedikit.😦

    -IT-

  3. alhamdulillah.., guru saya dulu baek (^_^)

  4. Guru Matematika sayah SMA dulu namanya pa Alimudin, temen-temen julukin dia Rhoma Irama. Sebenernya seh bukan orangnya yang bikin serem. Cuman memang kadang mendengar kata matematika saja orang sudah deg deg an (takut)…
    Ini saja sayah ngomen disini sembunyi-sembunyi …

  5. Pertama-tama saya mau mengucapkan selamat karena ini pertama kalinya saya lihat postingannya kang Jupri nggak ada \LaTeX nya! Hehehe….
    Kedua Mau komen tentang ‘citra buruk’ guru matematika. Hmm sepertinya kalau gurunya cantik/ganteng pasti semua ‘citra buruk’ guru matematika tersebut akan ‘lenyap’ seketika di mata para murid. Hehehehehe… Just kidding (meskipun bener)! Tapi memang untuk menerapkan keseluruhan 16 point di atas untuk seorang guru matematika memang agak sulit karena tidak semuanya bisa. Tapi point2 yg penting adalah usahakanlah memberi kesan bahwa matematika adalah bukan pelajaran yg tidak mungkin dikuasai oleh seorangpun. Dan juga guru seharusnya sedikit fleksibel karena memang tiap murid mempunyai kemampuan dan minat yg berbeda. Tak mungkin semua anak harus menyukai matematika seperti halnya tak mungkin semua anak harus menyukai seni rupa. Semua kemampuan anak, sekecil apapun dalam bidang apapun harus dihargai dan dikembangkan semampu anak tersebut. Dan gurupun sebaiknya tidak berlebihan menghukum anak didiknya apabila si anak dirasakan lamban. Justru inilah tugas guru sebagai tantangan bagaimana agar si murid dpt lebih ‘cepat’ dalam menerima pelajaran. Tugas guru bukan hanya memberikan bahan pelajaran saja namun juga mengusahakan caranya bagaimana anak didiknya supaya dapat mengerti dengan baik. Saya percaya mengajar adalah perpaduan antara ilmu dan seni, perpaduan antara ilmu yg didapat si guru dengan kreativitas yg ada di benak guru! Jangan sampai ada kasus seperti ini: Jikalau sang murid pandai gurunya akan berkata: “Siapa dulu dong gurunya!” tetapi jikalau sang murid bodoh “Siapa dulu dong orang tuanya!” hehehehe!πŸ˜€

  6. Kalo bisa guru matematika juga bisa bernyanyi….!

  7. jangan males belajar, biar gak ketinggalan pinter ama murid2nya… :p
    template baru yah??…sempet pangling tadi… :p

  8. @Luna Moonfang: Iya sih… ya karena itulah makanya guru jangan menakut-nakuti…πŸ˜€
    @irvan 132: Hmmh.. ternyata banyak juga ya yang mengalami pengalaman serupa.πŸ˜€
    @axireaxi: alhamdulillah klo begitu…πŸ˜€
    @putradi: hahaha…. awas lho ntar ketahuan sama pak gurunya…πŸ˜€
    @Yanri NK: Terimakasih ucapan selamatnya ya pak… hehe…πŸ˜€ Pak, saya sependapat dengan koment-komentnya. Eh ga semua, maaf, itu tuh yang klo gurunya cakep (bagi siswa laki) or ganteng (bagi siswa cewe). Banyak guru cakep tapi galak, tak sedikit juga guru ganteng yang ngajarnya ga bener… hehe..πŸ˜€
    @k’tutur: hahaha… iya juga sih…πŸ˜€
    @fisto: iya, guru juga perlu banyak belajar. Seringnya banyak guru yang ga suka belajar… suka ga melakukan persiapan mengajar dengan baik. Sayang yah…?πŸ˜€ Iya nih ganti template, biar ada sedikit warna lain (lebih cerah, ga burem kayak yang kemarin-kemarin),

  9. cK

    wex…guru matematika saya waktu sma galak. kalo nggak bisa ngerjain soal, disuruh jedotin kepala ke papan tulis. serem…πŸ˜₯
    ________
    Al Jupri says: waduh kasihan… kacian de luh… hehe…πŸ˜€ Memang banyak guru yang seperti itu, tapi mudah-mudahan sekarang ga lagi…

  10. Hehehe…. sebelumnya saya mau klarifikasi dulu nih!πŸ˜€ Tentang guru cantik dan ganteng, ‘kan saya bilang ‘citra buruk guru matematika’ akan ‘lenyap’, nah lenyapnya kan dalam tanda kutip, jadi bukan berarti benar2 lenyap secara harfiah atau letterlijk.πŸ˜€
    _______
    Al Jupri says: iya…πŸ˜€

  11. doeytea

    Hmm.. Kayaknya guru matematika perlu dibekali dengan ilmu psikologi. Mengapa? karena belajar matematika itu yang penting motivasinya. Kalau siswa sudah termotivasi, mereka bisa belajar mandiri dan menyenangkan. Kalau siswa melihat gurunya sudah syerem, dijamin matematika juga akan menyeramkan.
    __________
    Al Jupri says: Bener pak. Banyak guru matematika yang bukan lulusan pendidikan matematika (makanya mereka mungkin ga belajar tentang psikologi pembelajaran& perkembangan dan bimbingan peserta didik, tak belajar taraf perkembangan berfikir siswa, tak belajar banyak hal tentang dasar-dasar ilmu mendidik. Makanya banyak yang ngajarnya seenaknya saja).

  12. @cK
    aduh! Kasihan dong papan tulisnya!πŸ˜€

  13. Mendidik itu seni…
    Jika orang yang mau ngajar kurang pandai dalam membuat suasana, kurang pandai dalam membawa perasaan, kurang pandai dalam menyampaikan materi dan kurang pandai-kurang pandai yang lainnya apa lagi pelajaran matematika yang akan diajarkannya maka terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan…

    Pesan saya…
    buatlah suasana yang menyenangkan dalam mengajar, biarkan mereka mengaktualisasikan kreatifitasnya, berikan keleluasaan untuk mengemukakan pendapatnya, ajarkan mereka untuk belajar berbicara, tanamkan dan kuatkan pemahaman aqidah mereka…dan banyak lagi…
    terakhir…mendidiklah dengan sepenuh hati wahai para pendidik…
    semoga…
    ________
    Al Jupri says: Terimakasih Pak atas petuah berharganya… saya tunggu petuah berikutnya…πŸ˜€

  14. 049

    Guru matematik punya citra buruk? engga jg ah. soalnya ortu saya guru matematik.πŸ˜€
    _____
    Al Jupri says: Betul mas, engga semua guru matematika mempunyai citra buruk. πŸ˜€

  15. SWASA

    ASAL SISWA JANGAN TERUS MEREHKAN GURU YANG BERSANGKUTAN KARENA MENGAJAR DENGAN SUASANA SANTE, SISWA JUGA HARUS TAU DIRI

  16. Artikel yg bagus.o ya,sy pernah buat pembelajaran matematika yg joyful berbasis tik di uudhudaya.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s