Bagai Musang Berbulu Ayam

Oleh: Al Jupri

Judul artikel ini merupakan sebuah pribahasa yang pernah saya pelajari ketika pelajaran bahasa Indonesia dulu. Biasanya pribahasa tersebut dipakai untuk menggambarkan perilaku seseorang yang jahat namun berpura-pura baik. Bisa juga dipakai untuk menggambarkan perilaku seseorang yang pura-pura menolong namun niat sebenarnya adalah untuk menjerumuskan.

Lantas kenapa saya pilih pribahasa tersebut sebagai judul artikel ini? Adakah kaitannya dengan matematika?

Dulu, sewaktu masih SMA saya sering bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa daripada saya. Suka ngobrol segala macam. Mulai dari masalah olahraga (biasanya sih masalah main bola) sampai masalah politik. Dari masalah tontonan di TV sampai tontonan di layar tancep. Dari masalah rumah tangga, sampai masalah di dunia kerja. Pokoknya segala macam diobrolkan.

Dari obrolan-obrolan dengan mereka, saya dapat banyak wawasan dan pengetahuan. Misalnya masalah di dunia kerja, ada seorang teman saya yang berpendapat bahwa di dunia kerja itu persaingannya lebih ganas, lebih kejam, lebih jahat ketimbang di dunia sekolah. Dunia kerja itu adalah dunia nyata, sedangkan dunia sekolah itu masih dunia angan-angan. Di dunia kerja kita sulit membedakan antara kawan dan lawan. Yang kita anggap kawan, seringkali tiba-tiba jadi lawan. Seperti musang berbulu ayam. Begitu katanya.

Saat mendengar perkataan teman saya itu, saya hanya bisa manggut-manggut seperti orang yang mengerti. Saya tak berkomentar banyak, mengamini saja, karena saya memang belum berpengalaman waktu itu, belum kenal dengan yang namanya dunia kerja. Dalam pikiran saya, saya selalu berusaha tanamkan untuk berfikir positif saja. Saya anggap yang dikatakannya itu cuma kasus saja.

Di lain waktu, saya juga berkesempatan ngobrol dengan teman semasa kuliah dulu. Ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai guru matematika di salah satu sekolah swasta mahal di Bandung. Katanya, “Saya seperti dibohongi.” “Kenapa?” tanya saya. Ia pun mengatakan bahwa, di depannya, teman-teman kerjanya tampak begitu mendukung dengan cara dan strateginya mengajar, mendukung dengan program-program yang ia ajukan untuk peningkatan prestasi siswa. Namun waktu rapat, ia kebetulan tidak bisa hadir, malah ia dijelek-jelekkan di depan kepala sekolah dan guru-guru lain. Sampai ia itu ditegur dan mendapat peringatan keras dari kepala sekolah. Yang paling membuatnya sebal adalah bahwa akhirnya jam mengajarnya dikurangi. “Kurang ajar…. Dasar musang berbulu ayam!” begitu ceritanya. Sebagai temannya yang belum berpengalaman, saya tak bisa berkata banyak. Cuma saya mengatakan bahwa di kemudian hari kita yang masih “hijau” dan belum tahu apa-apa ini perlu lebih berhati-hati lagi.

Ya itulah cerita dua teman saya di dua tempat berbeda dan di waktu berbeda, tapi punya kemiripan. Mudah-mudahan dari ceritanya, kita bisa mengambil pelajaran, hikmah dibalik ceritanya.

Entah kenapa? Tiba-tiba, ketika ingat dengan mereka, saya ingat ceritanya tersebut. Makanya saya tuliskan di artikel ini. Mungkin teman-teman saya juga lagi ingat ke saya. 😀

Ok kita kembali ke pribahasa tadi.

Dengan cara iseng, dari pribahasa tersebut, saya juga bisa membuat “pribahasa baru”. Yaitu, “Bagai ayam berambut musang.” Yang saya artikan begini. “Pribahasa baru” ini digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang pura-pura jahat, pura-pura menjerumuskan, namun maksudnya adalah baik, maksudnya adalah untuk menunjukkan kebaikan dan kebenaran. Saya pun tak begitu sulit mengambil contoh dari “pribahasa baru” ini. Contoh yang paling populer adalah kisah nabi Musa yang mencari ilmu, dikisahkan dengan cara yang sangat cantik dalam Al Qur’an surat Al-Kahfi ayat 60 sampai ayat 83.

Oh iya, lho kok pribahasanya “bagai ayam berambut musang”? Kenapa bukan “bagai ayam berbulu musang”? Tentang hal ini, teman saya yang mengerti bahasa (Indonesia) dengan baik dan benar menyatakan bahwa antara bulu dan rambut itu perlu dibedakan. Ia tak bertele-tele menjelaskan beda antara keduanya, cukup dengan contoh-contoh. Ayam, bebek, dan angsa itulah contoh-contoh hewan berbulu. Sedangkan monyet, kera, kucing, harimau, musang, kerbau, dan kambing adalah contoh-contoh hewan berambut. Lebih lanjut, katanya juga, bahwa manusia termasuk mahluk yang berambut, bukan berbulu. Adalah salah bila ada yang mengatakan semisal bulu roma, bulu mata, dan bulu kaki. Yang benar harusnya adalah rambut roma, rambut mata, dan rambut kaki. Tidak ada itu yang namanya bulu kaki. Tidak ada! Tidak ada! Tidak ada! Begitu teman saya itu berpendapat dengan semangatnya. Mendengar argumennya itu saya hanya bisa tersenyum, lucu.😀

Ya sudah sampai disitu pembahasan pribahasanya. Lalu, mana matematikanya? Mana? Mana? Mana?😀

Bicara tentang ayam dan musang saya jadi teringat teka-teki seorang tukang sulap yang akan menyeberang sebuah sungai. Tukang sulap itu membawa harimau, sayuran, dan kambing. Untuk menyeberang sungai tersebut hanya ada sebuah perahu yang dapat ia tumpangi beserta salah sebuah bawaannya. Iya perlu berfikir keras. Sebab misalnya, bila ia menyebrang dengan bawa sayuran dulu, maka nanti kambingnya dimakan harimau. Dan begitu pula bila ia bawa harimau duluan, masalah akan muncul juga.

Dari teka-teki itu, saya jadi iseng begini.

“1 ayam + 1 musang = 1 musang” atau bila disederhanakan “1 + 1 = 1” alias “2 =1“.

Lho, kenapa “1 musang + 1 ayam = 1 musang”?

Jadi begini, bukankah kalau ayam dikasihkan ke musang jadinya ayamnya dimakan oleh musang? Betul? Anda boleh setuju, boleh juga tak setuju. Itu terserah Anda. Saya tak akan memaksa. Bisa jadi Anda punya argumen sendiri yang mungkin sekali lebih baik.

Ya sudah, tulisan ini hanya iseng saja. Tidak tahu kenapa? Mulanya saya kangen/ingat teman-teman baik saya, terusnya jadi iseng begini deh…. Tapi, walaupun iseng, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Catatan: Bagi yang belum jelas dalam membedakan rambut dan bulu, silakan diklik saja nama-nama hewan yang ada tautannya.

12 Comments

Filed under Iseng, Pembelajaran, Pendidikan, Renungan, Sastra

12 responses to “Bagai Musang Berbulu Ayam

  1. jardeeq

    he2x… trus mbedain musang berbulu ayam dengan ayam berambut musang kalau dua2xnya di depan kita gimana?🙂

  2. Wah, asyik juga bicara masalah perumpamaan. Apalagi tentang bulu lagi. Maksud gw bukan bulu musang, juga bukan bulu ayam. Tapi bulu kuduk he he he. Salam kenal, yach.

  3. waduh, bulu2an, kekekeke…

  4. Yari NK

    Tukang Sulap membawa Harimau, kambing sama sayuran? Cara canggih: Kambing dibawa dulu, lalu dia balik terus dia membawa sayuran. Nah terus sambil balik dia membawa Kambing, nah terus kambing ditinggal dan dia membawa Harimau. Harimau ditinggal sama sayuran kan aman. Nah dia tinggal nyeberang tuh jemput si kambing.
    Cara lebih canggih:
    Biarkan sayuran dimakan kambing terus kambing dimakan Harimau. Terus tinggal bawa Harimaunya nyeberang! Tiga-tiganya langsung ke bawa! Praktis kan?? Hehehe….
    Jadi persamaan Matematikanya:
    1 Harimau + 1 Kambing + 1 Sayuran = 1 Harimau

    (Sorry otakku lagi error!)😀

  5. gimana kalo musangnya lagi puasa ?

  6. Tapi, spesies ini tidak boleh diternakkan loh…😀

  7. ternyata bisa ya 2 = 1. mantap banget dah.😀

    -IT-

  8. @jardeeq: ditanya saja…😀
    @Redaksi Dewa Dewi: Hehe… salam kenal juga😀
    @Venus: Iya nih Bu.. kekekek juga ah… 😀
    @Yari NK: Excelent!!! Nah ini dia komentar yang saya nantikan… Komentar yang berkualitas!!!😀
    @putradi: Gemana ya? Mungkin ayamnya disimpan dulu aja buat buka puasa kali… hehe…😀
    @suandana: Tanya kenapa? 😀
    @irvan132: Iya dong. Hehe… Btw, terimakasih… 😀

  9. Haloo, salam kenal. Makasih udah mampir.
    Sebetulnya bisa diterusan kepada hitung peluang, dalam satu unit kerja, berapa kira-kira yang menjadi musang berbulu ayam? Bagaimana kemungkinan peluangnya? Apa yang menyebabkan? Apakah budaya kerjanya tak transparan, sehingga orang tak bersaing secara fair. Masih banyak yang bisa digali, dari sisi matematik, dikaitkan dengan hitung peluang, perilaku dsb nya. Silahkan terus menulis, karena menulis itu mengasyikkan.

    Silahkan membaca deret kehidupan, yang saya ambil dari artikelnya mas Alhadi, yang sedang ambil Ph D di UQ sbb: http://edratna.wordpress.com/2007/05/10/
    deret-kehidupan-seperti-apakah/
    _________
    Al Jupri says: Salam kenal juga. Terimakasih infonya, saya udah membacanya.

  10. cK

    dunia kerja itu kejam, lawan bisa jadi kawan dan sebaliknya. tinggal kita pintar-pintar aja membedakan mana yang jahat mana yang baik. saya pernah kok kerja dan “ditusuk” dari belakang oleh rekan kerja yang merupakan orang yang saya percaya. memang menyedihkan, tapi begitulah dunia kerja. *inget-inget masa lalu*

    *baca ulang komen*

    ya ampun kesannya saya tua banget😀
    saya masih 22™ lho huehehehe *tertawa bangga*:mrgreen:
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih udah bagi pengalaman. Kirain teman saya doang yang bilang bahwa dunia kerja itu kejam. Iya deh yang 22™ …😀

  11. Alfie

    petok-22…. kyak swara ayamm… salnya lagi ngantuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s