Ketika “Soeharto” Bicara Matematika

Oleh: Al Jupri

Waktu itu saya dan serombongan kawan-kawan bepergian dari Bandung ke Jakarta. Kalau saya tak salah, jumlah kami waktu itu ada 10 orang beserta Pak sopir. Di antara kawan-kawan saya itu ada seorang yang sangat pandai, sebut saja ia itu si Jenius. Saking pandainya, tingkahnya bisa dikatakan aneh alias berbeda dengan kebanyakan orang normal biasanya. Karena kawan-kawan kami yang lain tahu sifat si Jenius tadi, mereka tak mau duduk di sebelahnya. Wajar karena si Jenius tersebut sifatnya introvert, susah diajak ngobrol. Kalaupun mau diajak ngobrol, paling responnya berupa senyuman, geleng kepala, atau paling banter mengatakan “iya”.

Mulanya saya pun enggan duduk di sebelahnya. Namun karena kasihan, akhirnya saya pun mau duduk dengannya. Awal-awal duduk di sebelahnya, saya sih diam saja. Tapi, lama-lama kesal juga. Kemudian saya pun beranikan diri untuk mengajaknya ngobrol.

Karena saya sudah sedikit tahu sifatnya, ia saya ajak ngobrol hal-hal kegemarannya. Tak lain dan tak bukan kegemarannya adalah matematika. Saya mulai pancing ia dengan satu pertanyaan matematika yang sangat sederhana. Kalau tak salah waktu itu saya mulai dengan pertanyaan kenapa nilai x yang memenuhi persamaan x^2 =4 ada dua, yaitu 2 dan -2 ? Sedangkan nilai dari \sqrt{4} hanya ada sebuah yaitu 2. Kenapa?

Dipancing dengan pertanyaan tersebut saya kira ia akan menjawab dengan cuma beberapa kata atau gelengan kepala. Ternyata, ia mulai mengeluarkan suaranya, mulai ngoceh menjawab dan menjelaskan pertanyaan saya tersebut. Selesai menjawab, saya pun sudah siap dengan pertanyaan lainnya. Saya yang mulanya agak kesal, akhirnya mulai asyik duduk di sebelahnya, menjadi pendengar ceramahnya, sesekali memintanya memperjelas penjelasannya, kadang menyanggah atau mendebat pendapatnya, seringnya sih bertanya. Tiap kali ia selesai menjawab dan menjelaskan, saya terus saja menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan matematika lainnya. Mulai dari hal-hal yang paling sepele, hingga yang tidak sepele. Dari yang mudah, sampai yang berat. Dari pertanyaan anak SD sampai pertanyaan mahasiswa kuliahan. Wah, pokoknya saya nanya-nanya saja.

Tanya jawab saya dan si Jenius itu rupanya mendapat perhatian dari kawan-kawan lainnya. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa, saya berhasil mengajaknya ngobrol. Ada juga celetukan-celetukan lainnya. Tapi karena asyiknya, celetukan-celetukan mereka seolah tak kami hiraukan, ya kami biarkan saja, kami cuek saja, ngobrol terus, ngobrol tentang matematika.

Lama-kelamaan persediaan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya rupanya mulai menipis. Menyadari hal itu, saya pun tak mau obrolan terhenti begitu saja di tengah perjalanan. Saya pun pancing ke-introvert-annya, saya tanya apakah ia juga punya masalah atau pertanyaan tentang matematika. Dengan PD-nya saya pun minta ia mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya buat saya. Siapa tahu saya bisa menjelaskan. Rupanya ia dengan senang hati mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya.

Mendapat pertanyaan-pertanyaan darinya, saya sih tak langsung bisa menjawab, cuma bisa memberi sedikit pendapat. Kadang pendapat saya disanggah olehnya, kadang diterima, kadang ia juga bingung dibuatnya. Hampir sepanjang perjalanan, kami tak hirau dengan keadaan jalan, keadaan sekitar, ngobrol serius terus tentang matematika hingga hampir sampai ke tempat tujuan, Jakarta.

Dari obrolan tersebut, saya banyak mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan (relatif) baru tentang matematika. Sebuah contoh sangat sederhana berikut adalah pertanyaan yang saya dapat darinya.

Perhatikan bahwa:

(-1)^3 = -1 . Karena 3 = \frac{6}{2} maka (-1)^3 = (-1)^{\frac{6}{2}} = ((-1)^6)^{\frac{1}{2}} = 1^{\frac{1}{2}} =1. “Kenapa bisa begitu? Alasannya apa?”, begitu tanyanya ke saya.

Akibatnya katanya, -1 =1 atau 1 = -1 . Karena 1 = -1 , maka 1 + 1 = -1 +1 alias 2 = 0.

Ketika mendapat pertanyaan seperti itu, mulanya saya belum bisa menjawabnya, belum mampu menjelaskannya. Waktu itu saya hanya bisa terkesima, senyum-senyum saja, cengar-cengir gak karuan. Namun alhamdulillah setelah saya fikir-fikir beberapa saat lamanya, saya pun bisa menjelaskannya. Mau tahu?

Lho, sebentar-sebentar, sepertinya antara judul dan isi artikel ini ga nyambung deh? Kok dari tadi tidak pernah menyinggung-nyinggung Soeharto sih?

Begini penjelasannya, teman saya yang jenius itu punya hubungan dengan nama penguasa orde baru tersebut. Bukan hubungan keluarga, bukan juga hubungan bisnis. Ya, cuma hubungan nama saja. Nama depan kawan saya yang saya sebut si Jenius tadi serupa dengan nama penguasa orde baru tersebut, bedanya cuma pada beberapa huruf. Huruf “oe” pada nama “Soeharto” diganti dengan huruf “u” untuk nama kawan saya tersebut. Nah begitu ceritanya.😀

Ya sudah, ceritanya sampai di sini dulu ya. Lain waktu inysa Allah saya sambung lagi. Sampai ketemu lagi di tulisan berikutnya.

Catatan: Kawan saya yang jenius tersebut waktu itu adalah mahasiswa dari salah sebuah perguruan tinggi terkemuka di tanah air kita. Mudah-mudahan ia nyasar dan membaca tulisan ini. Terakhir saya mendengar kabar tentangnya, ia sudah mulai bekerja di sebuah lembaga penelitian dan pengembangan.

16 Comments

Filed under Cerita Menarik, Kenangan, Matematika, Matematika SMA

16 responses to “Ketika “Soeharto” Bicara Matematika

  1. ye… nggak nyambung… jadi penjelasan matematikanya gimana dong?.

    Suharto sih tinggalken aja dulu, tapi matematiknya jangan ditinggelken… bikin penasaran aje?…😀

  2. asyik……… di holang ya om?
    zeist? utrecht? ternyata masih asri ya? banyak pohon rindang
    cK…cK…cK ‘google map’ yg ngasih tau!

  3. eroboy

    Wah gue lebih tertarik dengan yang akar2an (pertanyaan pertama). Udah lama tau kalo hasilnya emang hanya positif, tapi sekarang lupa, kenapa ya kok gitu… Ini kalo gak salah, bisa buat ngejawab pertanyaan kedua, apa betul begitu?

    Blog bagus…mencerdaskan bangsa…huehehe

  4. Wah saya jadi inget joke matematika waktu di SMA dulu. Ayo buktikan 3 = 4 kata seorang guru. Seorang murid males langsung maju ke papan tulis: kedua ruas dikalikan dengan 0 (nol). 3 X 0 = 4 X 0, jadinya 0 = 0.😀

    • waktu itu pelajaran matematika kebetulan aku tdk tau dan ku di beri tugas waktu itu jga bulun puasa kepala ku pusing juga dan aku ditannya -5 [4x+4]=hehehehehehehehehhehehehehhe aku tidak tau ku pun di hukum

  5. Nayz

    haha…..bisa juga.

  6. penjeleasannya manaa????…:(

  7. hutang penjelasan lo ya…
    *tulis di buku hutang-piutang*

  8. @agorsiloku: Maaf…😀
    @st. of darkness:😀
    @eroboy: Udah ingat lagi belum alasannya? Terimakasih…😀
    @Yari NK: Hahaha… bagus euy kreatif…😀
    @Nayz: Haha…😀
    @fisto: silakan didiskusikan saja dulu… 😀
    @suandana: duh pinjemin buku hutang-piutangnya dong…😀

  9. aslkum … kang. saya belum baca penjelasan lebih lanjutnya… terus alasannya kenapa bisa jadi 2=0?
    ___________
    Al Jupri says: Wa’alaikum salam. Diskusikan saja dulu sama teman-teman ya… 😀

  10. DiN

    Penjelasannya udah ada di paragraf 3.

  11. Dzikri Rahmat Romadhon

    Eleuh kok dipotong sih a, jadi panasaran??????!!!!!! Arek ngiluan mikiran yeuh! Oh iya, A, aya salam ti guru-guru SMAN 1 Anyer. iraha ka almamater, sakalian ajarkeun ilmuna A…!

  12. mich aegy

    teu ngarti bray

  13. itu salahnya di pangkat 6/2, ketika menjadi bil pangkat bentuk 6/2 tdk bsa diubah jadi (6)(1/2). karena dalam perpangkatan apabila dikali itu dioperasikannya adalah dgn cara ditambah.
    contoh 2^3×2^4=(2)^(3+4)=(2)^7 bukannya (2)^12.
    salam, SMAN 1 Kranggkeng😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s