“Mereka” Percaya, Tuhan Tak Pernah Ada

Oleh: Al Jupri

Entah dengan kalimat apa saya harus memulai tulisan ini. Tak seperti biasanya, saya mengalami kekakuan untuk menulis. Kata-kata yang biasa mengalir deras, serasa sulit untuk saya ketikan. Berulangkali saya berfikir, berulangkali saya ketikan beberapa kata dan kalimat, lagi-lagi saya hapus. Hingga saya putuskan untuk mengetikkan apa-apa yang ada di pikiran saya saat ini. Akhirnya, inilah paragraf awal yang bisa saya tuliskan.

Percaya bahwa Tuhan tak Pernah Ada

Di tempat saya tinggal saat ini, saya mempunyai tujuh orang tetangga kamar yang menjadi teman-teman saya. Mereka semua adalah mahasiswa dan mahasiswi di salah satu universitas yang katanya merupakan terbaik di negeri “ini”. Lima orang di antaranya adalah pria dan dua orangnya lagi adalah wanita. Bidang yang mereka tekuni pun beragam. Ada yang menekuni sejarah, tata kota, biologi, fisika, desain, dan psikologi.

Dari obrolan kesana-kemari dengan mereka, saya sangat kaget dengan apa yang mereka katakan. Enam orang di antara mereka percaya bahwa Tuhan itu tak pernah ada. Hanya seorang di antara mereka yang mempercayai bahwa Tuhan itu ada.

Betapa saya tidak kaget. Sebelumnya saya juga pernah tinggal dengan mahasiswa dan mahasiswi yang bisa saya katakan beriman, percaya akan adanya Tuhan, selalu taat menjalankan ibadah. Di tempat baru ini saya bertemu kenyataan yang baru. Kenyataan yang membuat pikiran ini kaget. Namun, saya fikir, saya tak boleh berlama-lama kaget begini. Akhirnya, saya beranikan diri untuk mengetahui alasan-alasan kenapa mereka percaya bahwa Tuhan itu tak pernah ada.

Saya tanya keenam orang mahasiswa tadi. Setelah ditanya-tanya oleh saya, saya baru tahu alasan-alasan mereka. Dari alasan yang paling ekstrem hingga yang paling sederhana. Saya hanya berani menuliskan alasan-alasan sederhana mereka. Yang ekstremnya tak akan saya tuliskan di sini. Apa saja alasan-alasan yang membuat mereka percaya bahwa Tuhan itu tak pernah ada?

Menurut pengakuan mereka, sewaktu kecil mereka sebenarnya mewarisi agama yang diajarkan orang-orang tua mereka. Sekarang, mereka menganggap bahwa agama itu hanya sekumpulan aturan-aturan buatan manusia belaka. Mereka mengakui bahwa aturan-aturan yang ada di agama itu bagus-bagus. Tapi, mereka tak percaya bila aturan-aturan itu datang dari Tuhan. Aturan-aturan yang ada di mantan agama mereka itu kini, katanya, hanya dijadikan sebagai aturan untuk bergaul sesama manusia saja. Mereka juga mempertanyakan, apakah kita hidup di dunia ini hanya untuk patuh ke Tuhan. Apa iya begitu nistanya Tuhan membutuhkan kepatuhan kita? Mereka juga mempertanyakan, di mana kita bisa rasakan dan kalau bisa saksikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada dalam kehidupan kita. Bila kita punya masalah, apakah Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita tanpa kita sendiri menyelesaikannya? Ketika mereka menjelaskan ke saya, saya hanya diam saja, menyimak baik-baik. Oh iya, teman-teman saya itu juga meyakini bahwa, apa-apa yang belum mereka mengerti saat ini, suatu saat sains akan bisa menjelaskannya. Sebagai contoh, katanya, dulu manusia menganggap bahwa Bumi ini datar-datar saja, sekarang, oleh sains dijelaskan bahwa Bumi itu bulat.

Orang-orang semacam teman-teman saya tadi, yang percaya bahwa Tuhan tak pernah ada itu, bisa saya katakan adalah orang-orang “atheis = mengakui bahwa Tuhan tak pernah ada.”

Percaya bahwa Tuhan itu Selalu Ada

Di lain kesempatan, saya bepergian dengan beberapa orang teman saya yang lain, yang tentunya beriman, percaya akan keberadaan Tuhan, yakni Allah SWT. Dalam perjalanan itu, kami naik kereta, teman-teman saya yang lain tak hanya duduk termangu. Tapi, ngobrol tentang berbagai masalah. Dari yang sepele, hingga yang berat-berat. Salah satunya adalah tentang orang-orang yang percaya bahwa Tuhan itu tak pernah ada. Waktu itu saya hanya duduk setia, menjadi pendengar saja.

Dalam obrolan teman-teman saya itu, salah seorang teman saya menceritakan sebuah kisah bagaimana ulama jaman dulu menghadapi orang-orang atheis. Cerita teman-saya itu, mudah-mudahan saya tak salah menyimak, seperti berikut ini:

Dulu, katanya, ada seorang ulama yang diundang oleh sekumpulan orang atheis untuk datang ke tempat mereka. Mereka mengundang ulama ini untuk diajak berdiskusi/berdialog tentang keberadaan Tuhan. Mereka ingin meyakinkan bahwa apa yang diyakini sang ulama selama ini adalah salah total, Tuhan tak pernah ada.

Hingga tibalah waktu undangan itu. Orang-orang atheis sudah menyiapkan tempat dialog. Mereka ramai-ramai berkumpul ingin menyaksikan dialog itu. Namun, sang ulama yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung datang juga. Banyak di antara mereka bertanya-tanya, bahkan ada juga yang menganggap bahwa sang ulama itu ketakutan, tak berani datang. Hampir semua dari mereka merasa kecewa dengan kenyataan ini. Tapi, salah seorang di antara mereka yakin bahwa sang ulama akan datang. Sang ulama selalu memenuhi undangan.

Setelah lama menunggu, akhirnya sang ulama pun datang. Salah seorang di antara mereka bertanya ke sang ulama ini mengapa ia terlambat? Dengan tenang sang ulama pun menjelaskan sebab-sebab keterlambatannya untuk datang ke tempat mereka.

Sang ulama mengatakan bahwa dalam perjalanan, jembatan untuk menyebrangi sungai menuju tempat undangan tersebut, yang akan ia lewati ternyata rusak, patah, tak bisa dilewati. Untuk menyebrangi sungai ini sang ulama kebingungan, lama mencari bantuan. Tapi tak juga ia temukan seseorang yang dapat membantunya menyebrangi sungai itu.

Namun, karena keinginan kuatnya untuk datang memenuhi undangan itu ia terus mencoba mencari jalan. Bersyukur, tiba-tiba sebuah pohon besar dipinggir sungai itu tumbang. Kemudian pohon yang tumbang itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah perahu bagus yang siap dinaiki oleh sang ulama ini. Akhirnya ia sampailah ke tempat undangan, walau terlambat. Begitu alasannya.

Orang-orang atheis yang mendengarkan alasan sang ulama itu langsung bereaksi dan mengatakan bahwa sang ulama ini benar-benar berbohong. Mana mungkin tiba-tiba sebuah pohon jadi sebuah perahu bila tidak ada yang membuatnya. Sebuah kemustahilan yang nyata, kata mereka.

Sang ulama pun balik berkata, “Nah begitulah, mana mungkin ada alam semesta ini, bila tak ada yag menciptakannya,” begitu katanya. Mendengar ucapan sang ulama ini, semua orang-orang atheis tersebut jadi tersadar, berfikir ulang, mereka kalah, dan alhamdulillah akhirnya mereka mengakui akan keberadaan Tuhan, jadi orang-orang yang insya Allah beriman.

Akhirnya, saya jadi bingung juga melanjutkan tulisan ini. Entah dengan kalimat apalagi saya harus lanjutkan. Saya putuskan untuk menyudahi saja, sampai di sini, mudah-mudahan cerita di atas bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Catatan:

-Lho kok sekarang tidak bicara matematika lagi? Lho barusan kan saya menulis kata “matematika”, iya kan? Hehe becanda….

-Bagi pembaca yang mengetahui cerita tentang sang ulama, mohon koreksinya bila yang saya tuliskan banyak kekhilafan. Saya menulis dari apa-apa yang saya dengar saja waktu itu.

– Iseng-iseng: kenapa 1002 – 992 = 100 + 99 = 199 ?

26 Comments

Filed under Agama, Curhat, Pembelajaran, Renungan

26 responses to ““Mereka” Percaya, Tuhan Tak Pernah Ada

  1. Andreas Sun

    lhah jadinya mereka itu ga percaya sama agama atau ga percaya adanya tuhan?

    trus tuhan disini yang dimaksud tuhan sang pencipta alam atau tuhan sesembahan manusia?

    sampeyan buktikan dengan matematika aja mas, bahwa minimal ada satu entitas sang pencipta itu mas. atau sekalian aja dibuktikan bahwa entitas tersebut tepat satu. hehehe…

  2. DiN

    Assalaamu `alaykum,

    Tentang jawaban Kyai, “Nah begitulah, mana mungkin ada alam semesta ini, bila tak ada yag menciptakannya?”

    Pertanyaan lanjutan ateis adalah, “Kalau alam ada yang menciptakan, kenapa tidak ada yang menciptakan Tuhan?”
    “Kalau Tuhan bisa berdiri sendiri, kenapa alam tidak bisa ada dengan sendirinya?”


    (x – y)(x + y) = x^2 – y^2

    x = 100
    y = 99
    x – y = 1
    x + y = 199

    Saya menilai bahwa argumen terkuat tentang keberadaan Tuhan adalah “Kalam Cosmological Argument” http://en.wikipedia.org/wiki/Kalam_cosmological_argument

    Meskipun begitu, tetap saja ada pihak ateis yang mengkritisi.

  3. gak kasih komentar lagi… cuma numpang baca2 doang ah…

  4. Apa iya begitu nistanya Tuhan membutuhkan kepatuhan kita?

    Kalo kata Ma sih Tuhan ga butuh kok,, kita aja yang harusnya tau diri,, udah dikasi nyawa, udah dikasih apa apa-an masih ga bersyukur,,🙂

  5. little_@

    tambah satu lagi nih nomer cantik.
    kalo dihubungin sama …. misal 100 adalah lambang kesempurnaan, dan 99 adalah sejumlah nama yang mewakili kesempurnaan, ternyata yang sempurna dan wakilnya itu punya keistimewaan.
    bahwa selisih kuadratnya sama dengan jumlah keduanya.
    ngarang lagi nehhhhhhh….
    abisnya baru ngomong tuhan lang sung ke bilangan…. sambungin aja.

  6. Evy

    aku nanya profku yg atheis… u dont believe God? maybe if I am old katanya…. kwakakakakak…

  7. nur

    boleh nggak menganalogikan tuhan itu sebagai suatu angka nol … keberadaannya menjadi misteri … dimanakah angka nol itu? apakah nol itu?

  8. jadi Tuhan itu ilmiah atau tidak ????

  9. Sebenarnya…sejujurnya membicarakan masalah Tuhan bukanlah hal yang mudah…hal ini merupakan ranah pembicaraan yg sangat rumit. Mgkn kita secara mudah (secara teoritis) bisa mengatakan bahwa alam ini ada karena adanya hukum sebab-akibat (Tuhan sebagai sebab dan alam sebagai akibat), tetapi jika kita hanya terlalu fokus pada hubungan sebab akibat maka ini semua hanya akan menggiring kita pada lingkaran setan sebab-akibat. Seperti kemungkinan pertanyaan para ateis yg dituliskan oleh DiN…”siapakah yang menciptakan Tuhan”
    Tanpa keselarasan, keserasian dan keseimbangan (keadilan?) antara pikir dan dzikir maka niscaya kita hanya akan terombang-ambing dlm keraguan
    Mengenai keberadaan agama memang menurut pendapat saya pribadi telah terjadi suatu translasi dari agama yg lebih sebagai rambu petunjuk dan penyelamat menjadi suatu aturan yang kaku, perbedaan pendapat dalam kehidupan beragama juga ternyata malahan menggiring pada perpecahan (internal maupun external).

  10. Menurut saya, berbicara masalah ketuhanan tak dapat hanya bersenjatakan akal semata. Melainkan juga terkait dengan keimanan/kepercayaan dan hidayah.
    Mereka yang tak percaya adanya Tuhan, biasanya mereka juga tak percaya tentang hidup sesudah mati. Wajar kalau mereka juga berargumen, betapa nistanya Tuhan membutuhkan kepatuhan kita.

  11. Andreas Sun

    hm… bukannya sebab-akibat itu hanya ada dan berlaku di dalam (sistem) alam? Artinya yang diluar sistem nggak harus terpengaruh dong? Jadi, pencipta itu karena ada diluar sistem, nggak terpengaruh sebab-akibat itu. eh, seperti itu bukan ya…🙂

    tambahan lagi, masak sih untuk percaya sang pencipta perlu keimanan/kepercayaan/hidayah/apapun? kalo untuk percaya tuhannya agama (sesembahan) sih iya. Tapi kalo tuhannya alam (pencipta) mestinya dengan akal juga bisa.

  12. @Andreas Sun: Mas, emangnya Tuhan sesembahan manusia itu beda yah dengan Tuhan sang pencipta alam?
    @DIN:Terimakasih udah ngasih link
    @Warga Banten: Silakan saja, gpp kok.
    @Ma:Setuju.
    @Little_@: Bagus euy karangannya. Saya malah ga mikir begitu. Saya cuma milih sembarang bilangan, cuma emang saya beberapa kali milih bilangan, tapi
    akhirnya yang saya pilih malah 100 dan 99. Mungkin kebetulan aja kali ya…?
    @Evy:Kwakakak juga…
    @Nur:Yang pasti itu, Tuhan tak boleh diduakan.
    @Kangguru: Tuhan tak ilmiah. Btw, ilmiah di sini apa yah?
    @deking: Apakah alam ini ada karena hukum sebab-akibat?
    @Faiq:Ya, tepat sekali. Saya lupa menuliskan yang itu, benar bahwa mereka percaya bahwa tak ada hidup setelah mati.

  13. @deking: Apakah alam ini ada karena hukum sebab-akibat?

    Hehehehe…itulah Pak, makanya saya kan menulisnya gini:

    tetapi jika kita hanya terlalu fokus pada hubungan sebab akibat maka ini semua hanya akan menggiring kita pada lingkaran setan sebab-akibat.

    Makanya menurut saya sangat terlalu sempit jika kita hanya fokus pada hubungan sebab-akibat saja untuk menjelaskan keberadaan Tuhan

    Mas, emangnya Tuhan sesembahan manusia itu beda yah dengan Tuhan sang pencipta alam?

    Gimana ya? Kalau dalam istilah (Islam) sih memang dibedakan antara Illah (Tuhan sesembahan) dan Rabb (Tuhan pencipta)
    Tetapi masalah makna sih saya tidak tahu.
    Yang jelas sih menurut saya adanya pembedaan antara Illah dan Rabb bukan berarti Tuhan itu lebih dari satu.
    Maaf, bukannya mau menganalogikan Alloh dengan makhluk.
    Saya cuma sekedar memberi sekedar contoh berbagai status untuk satu pihak…
    Contohnya Presiden kita, dia kan berfungsi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan

  14. zainurie

    Tuhan selalu ada dalam jiwa aku,kehidupanku,…
    walau kadang aku pingin “protes”juga pada Tuhan….Ketika apa yang di berikan Tuhan tidak sesuai apa yang aku harapkan…..
    Tapi apalah dayaku….
    Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi aku….
    Ketika Orang bilang “Tuhan Tidak Ada’ patut dipertanyakan kepada mereka ” siapakah Yang mengadakan Mereka, siapakah yang memberi kehidupan mereka?????apa mereka ada Dengan sendirinya?…..”
    TUHAN SELALU ADA DALAM KEHIDUPAN KITA,MESKI SEBENARNYA TUHAN JUGA TIDAK BUTUH KITA???TAPI KITALAH YANG BUTUH TUHAN

  15. little_@

    kok jadi seru banget sehhh ngebahas TUHAN, ni pelajaran matematika pa Tauhid?atau Teologi? yap! menurutku semua pelajaran da kandungan Teologisnya.
    Tuhan Yang Esa Pencipta semesta adalah Tuhan mutlak, bukan teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. apalagi keilmiahan, jika ilmiah didefinisikan sbg hal yang rasional. karena teori Iman itu ada. dan meskipun Hume yang mengusung filsafat empiris menolaknya, tapi pada akhirnya dia terjebak dengan skeptisimenya sendiri… dan silogisme universal ditolaknya. juga Descartes dengan rasionalismenya…. ternyata diakhir hayatnya dia hendak menyatakan iman itu teori sah.
    Tapi Tuhan Sesembahan manusia… berdasar pengalaman aku pribadi… adalah Tuhan yang telah kita buktikan… selama ini tuhan ada karena…karena…dan karena…,
    So? Yang jadi masalah adalah sudah samakah tuhan yang kita sembah sama tuhan pencipta semesta. dengan teori apa kita membuktikannya? karena ternyata sama “saja” belum cukup, syarat lagi mesti kongruen.
    Ups!!! kalo salah minta koreksinya ya……..

  16. Andreas Sun

    mas Deking sudah menjawab separuhnya. tuhan sesembahan tentunya berbeda dengan tuhan pencipta alam. Kalau dalam Islam, tuhan pencipta/rabb itu bernama Allah. Dan dasarnya orang islam adalah tidak ada sesembahan/ilah selain Allah (tauhid). jadi sepertinya bukan masalah status yang analog dengan presiden RI.

    tuhan sesembahan itu hubungannya dengan agama atau kepercayaan. sedangkan tuhan pencipta mestinya bisa dicari dengan akal. tapi saya memang belum pernah diskusi dengan orang yang atheis sih. paling cuma orang yang lari dari agama karena menurutnya di agama banyak mitosnya. dengan kata laen orang yang anti tuhan sesembahan.

    eh, mas Jupri tadinya cuman mau curhat kan ya? kalo bahasan berat kayak gini kan jatahnya pak agor ya🙂. btw, ternyata kita seumuran loh mas Jupri. tadinya saya kira mas Jupri lebih berumur dari saya🙂

    kita kembali ke matematika lagi aja. kenapa 32 – 23 = 1 23 ?

  17. sepertinya, sang Atheispun bertuhan kok… pada siapa? pada akalnya sendiri. dia pun benar2 menauhidi tuhannya itu.. diberi argumen apapun (selain dalam cerita itu loh yang beriman) pasti si akal yang jadi tuhan itu akal mampu melawannya…
    btw, bagaimana mungkin tuhan agar percaya pada Tuhan yang lain? sebuah pekerjaan sia2 (may be yes may be no)

    btw lagi, tulisan anda hampir2 seperti air mengalir gemericik.. saya jujur, biasanya baca blog teman dengan cepat ini tidak! menikmati aliran kata itu seperti mandi di alam fikir halah… : wis ah komenntya kepanajangan…🙂

  18. @deking: Berarti cuma istilah saja yah?
    @Zainurie: Ya.
    @little:Sudah sama belum yah?
    @Andreas Sun:Ya sih bener, saya cuma curhat doang. Eh seumur yah? Saya juga baru tahu kalo begitu….hehe
    @Mas Kurt:Bener juga yah, sang atheis pun menuhankan akalnya. Ntar deh saya diskusi lagi dengan teman-teman saya itu. Thanks atas komentar terhadap tulisan saya. Padahal saya perlu berguru nih ke Mas Kurt….

    Maaf kepada seluruh para komentator bila komentar saya cuma pendek-pendek doang….

  19. Satu tamparan untuk 3 pertanyaan
    ——————————————————————————–
    Seorang “Jenius” bertanya kepada kyai:
    1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
    2.Apakah yang dinamakan takdir
    3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
    Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi si Jenius tadi dengan keras.
    Jenius : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
    Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
    Jenius : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
    Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Jenius : Tentu saja saya merasakan sakit.
    Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
    Jenius : Ya!
    Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
    Jenius : Saya tidak bisa.
    Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
    Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
    Jenius : Tidak.
    Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
    Jenius : Tidak.
    Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
    Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
    Jenius : Kulit.
    Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
    Jenius : Kulit.
    Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Jenius : Sakit.
    Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.
    Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah kepada seluruh manusia yang akan bertambah
    bila diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
    Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah berkehendak ilmu itu
    akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.

    ___________________
    Al Jupri says: Terimakasih Mas/Kang/Pak Joy’z atas cerita yang sudah ditulis ini. Saya senang membacanya. Membaca cerita ini saya teringat buku yang pernah saya baca juga teringat sinetron yang pernah saya tonton, Lorong-Waktu (Seingat saya pernah dipakai di sinetron ini).🙂

  20. agorsiloku

    Dulu dan sampai sekarang, saya punya beberapa teman yang seperti ini. Mereka kerap memperolok-olokan tuhan. Entah apa yang mereka pikirkan tentang tuhan. Mereka juga enggan membayangkan atau memikirkan Allah yang maha menciptakan dan tidak perlu merasa takut kepadaNya. Pertanyaan paling akhir, selalu pada akhirnya adalah siapa menciptakan tuhan… atau karya klasik bilang, apakah tuhan bisa menciptakan batu yang dia sendiri tidak bisa mengangkatnya.
    Kalau ingat kisah Fir’aun, sebuah kejadian luar biasa dari keangkuhan manusia… bahkan segala bentuk mujizat yang diberikan Allah sampai ke akhirnya laut dibelah oleh Nabi Musa, masih juga melakukan pengejaran. Hanya detik terakhir sebelum laut membenamkannya, Firaun mau mengakui bahwa Allahnya Musa adalah Allah maha pencipta. Jadi, pembuktian atas akal dan penciptaan, seperti yang disampaikan kyai, sama sekali jauh dari jaminan untuk mengakui keberadaan Allah.
    Keangkuhan tidak memiliki batas-batas, bahkan terhadap penciptaNya sendiri. Contoh seperti itu sudah berkali-kali dikisahkan dalam Al Qur’an.
    Maka bisa menjadi orang beriman, di tengah kemakmuran dan kemewahan hidup, segala ada, namun memahami bahwa segalanya menjadi mudah juga binasa adalah hidayahNya yang membuat kita merasa perlu angkuh berjalan di muka bumi.
    Hanya yang mencari kebenaran dan berserah diri, seperti Nabi Ibrahim yang bertanya siapa engkau Rabb yang maha menciptakan…..
    Entah berapa kali saya membaca cerita sejenis… menggetarkan hati dan semoga Allah membimbing jalan kita selalu agar tidak terpedaya oleh prasangkaan.
    22. Al Hajj 8. Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.
    Betapa kita… apalagi, bahkan paman Nabi, bisa juga sampai tidak mau beriman. Padahal, apa yang tidak lengkap dari Nabi, kekasih Allah…. Mengapa sampai bisa terjadi begitu. Betapa kerasnya hati manusia yang tersesat dan disesatkan dari petunjuk yang sama hanya karena satu label : keangkuhan…
    Berbeda dengan yang menolak tuhan dan mencari Tuhan….
    ________________
    Al Jupri says: Ya benar, karena keangkuhanlah yang menjadi sebab mereka tak mengakui keberadaan Tuhan. Masalah keimanan, keyakinan kepada Tuhan, hanya Allah yang bisa mengubahnya, dengan hidayahNya. Terimakasih atas ulasannya, menambah cakrawala saya.

  21. jardeeq

    saya pernah baca kalimat begini.
    lebih baik percaya bahwa tuhan itu ada lalu menghadapi kenyataan bahwa tuhan itu tak ada. daripada menganggap tuhan tak ada tapi menghadapi kenyataan bahwa tuhan memang ada.
    _______
    Al Jupri says: Hmmmh, mungkin kalimat itu baik. Tapi saya tidak tahu pasti kebenarannya. Hehehe…😀

  22. andrean Laigha

    saya sering sekali berubah pikiran dan selalu mencari jati diri saya.apakah saya bisa pintar??
    adakah rumus genius yang jitu buat saya???
    _______
    Al Jupri says: Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang pintar, paling sempurna dibanding mahluk lainnya. Rumus jenius yah?😀

  23. andrean Laigha

    kalau anda ada suatu rumus pintar buat saya,tolong kirim ke alamat email saya di andrean_laigha@yahoo.co.id

  24. zal

    … “AKU sebagaimana persepsi hambaKU”,
    Jika repot menerjemahkan keberadaan Tuhan apa sesembahan, ataupun apa itu pencipta, ( yg mungkin pengenalan sebagai sebutanNYA untuk diriNYA, yg kiranya ada saatnya diperlukan entah kapan) , mungkin bisa diawali dengan mempertanyakan keadaan diri sendiri…”apakah tidak bingung mengenali diri sendiri….????”,
    “apakah tegak ini karena ada tulang dan daging kaki…” kenapa ada ketak berdayaan saat lemas datang pada kaki…meskipun darah masih mengalir ditubuh, meskipun nafas masih keluar-masuk, meskipun mata dapat melirik kesana kemari, meskipun telinga mendengar pembicaraan…”
    siapa tahu jika kita mengenali keberadaan diri ini, maka Tuhanpun mengizinkan diriNYA sendiri untuk mengenaliNYA…

  25. d

    jashdhasdjashdjhcjdshfuyhsdjfhsdjhfjsdfdsf

  26. 1oo^2-99^2= (1)100^(1)(2)-(1)(99)^(1)(2)=(1)(199).
    identitas 1 jika diganti 0 maka tak ada artinya karena tidak ada eksistensi apapun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s