Matematika dan Keimanan, Apa Hubungannya? (Petualangan 1)

Oleh: Al Jupri

Cerita berikut ini merupakan sambungan dari cerita: Wawancara yang Aneh (Petualangan 1)

(Kemudian Tom duduk di hadapan Nasrudin, dan terjadilah…)

Nasrudin: “Baiklah Tom, tadi kamu sudah diwawancara sama kyai Gus Dur, nah sekarang giliran saya.”

(Tom hanya tersenyum saja, duduk di depan Nasrudin sambil malu-malu. Maklum, Nasrudin ini merupakan tokoh kegemaran Tom, yang sering dibacanya di buku-buku kisah teladan dan humor. Sebenarnya, dalam pikiran Tom cukup bertanya-tanya, apa iya yang sedang duduk di hadapannya itu benar-benar orang yang namanya Nasrudin, seorang sufi humoris yang terkenal itu).

Nasrudin: (Sambil tersenyum dengan lembut, kemudian memulai pembicaraan) “Sudah kelas berapa sekolahnya?”

Tom: “Kelas 2 SMP…”

Nasrudin: “Sudah bisa apa saja?”

Tom: “Apa ya? Di sekolah sih banyak pelajarannya Pak kyai…., ada Agama, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Biologi, Fisika, dll. Tapi, baru dikit-dikit doang bisanya. Itu juga banyak yang lupa…. “

Nasrudin: “Ya…lupa mah wajar. Eh, ngomong-ngomong tiap hari bahasa yang kamu pakai apa saja?”

Tom: “Di rumah dan lingkungan rumah (wilayang tempat Tom dilahirkan) pake bahasa Jawa-Banten, di sekolah pakai bahasa Indonesia. Terus dikit-dikit ngerti bahasa Sunda, soalnya sebagian teman-teman saya berbahasa Sunda” (katanya sih relatif lebih “kasar” dibanding bahasa Sunda-nya orang-orang priangan timur).

Nasrudin: “Bukannya tiap hari kamu pakai bahasa Arab juga?”

Tom:”Bahasa arab?” (Tom sedikit mengkerutkan dahinya…., sementara Nasrudin hanya tersenyum. Dan kemudian….)

Tom:”Oh iya betul Pak kyai… Tiap hari memang saya menggunakan bahasa Arab. Setiap saya sholat, tiap saya berdo’a, dan tiap saya baca ayat-ayat Al Qur’an. ”

Nasrudin: “Alhamdulillah, ternyata kamu faham pertanyaan saya. Bagus, bagus, bagus…..Eh iya, tadi kan, waktu kamu diwawancarai kyai Gus Dur, kamu bisa melewati beliau gara-gara kamu bertanya matematika. Nah, sekarang saya yang giliran nanya matematika ke kamu.”

Tom: “Ah kebetulan saja Pak kyai…. saya hanya tahunya sedikit, itu juga yang udah diajarin sama Pak Harun, guru matematika saya.”

Nasrudin: ” Coba kamu jumlahkan 2 + 1 + 1/2 + 1/4 + 1/8 + 1/16 + 1/32 +…. ” (Jumlah deret Geometri tak hingga. Materi ini belum diajarkan di tingkat SMP).

Tom tampak tenang saja walau soal tersebut bukan untuk level anak SMP. Beruntung, Tom punya kakak yang sudah duduk di bangku SMA, ia waktu itu iseng-iseng membuka catatan kakaknya itu. Seingat Tom, di catatan kakaknya itu ada gambar seperti berikut ini.

(Gambar yang menunjukkan 1 + 1/2 +1/4 + 1/8 + 1/16 + 1/32 + …. yang jumlahnya adalah 2)

Kemudian, atas dasar pemahaman itu, Tom pun dengan sedikit berfikir, mampu menjawab pertanyaan Nasrudin seperti berikut.

Tom: “Jumlahnya 4 Pak kyai. Nah begini buktinya” Kemudian Tom menggambar seperti berikut ini.

deret.jpg

Nasrudin: “Bagus Tom, benar apa yang kamu kerjakan. Saya bangga jadinya. Eh, ngomong-ngomong kamu suka baca buku-buku humor buatan saya ya?”

Tom: “Lho kok, pak kyai tahu sih?”

Nasrudin: “Iya dong, kan saya baca curiculum vitae kamu…. Nah, sekarang saya mau denger dari kamu. Coba kamu ceritakan beberapa dongeng humor karangan saya! Kalau bisa sih, sampai saya bisa tersenyum atau tertawa….”

Tom:”Yang saya ingat sih begini…,”

(Kemudian Tom menceritakan beberapa cerita yang pernah dibacanya. Sesekali Nasrudin tersenyum, sesekali ia pun tertawa. Hingga Nasrudin pun menyatakan rasa puasnya.)

Nasrudin: “Sudah Tom, cukup-cukup…., saya senang kamu bisa bikin saya tersenyum dan tertawa…. Nah, sekarang saya ga akan menanyai kamu lagi. Sebagai penutup, apa kamu ada pertanyaan?”

(Tanpa membuang kesempatan, Tom pun bertanya ke Nasrudin.)

Tom:”Iya nih Pak kyai…, di sekolah itu kan saya belajar matematika. Terus, kata pak guru saya, matematika itu erat dengan kehidupan. Terkait dengan hampir semua aktivitas kita sebagai manusia. Bisa menjelaskan fenomean alam, pun juga bisa menambah yakin dan imannya kita terhadap ke-Maha-besaran Allah SWT. Nah, saya masih belum mengerti, apa kaitannya matematika dan keimanan seseorang itu pak kyai? Apakah makin pandai matematika itu bikin kita makin beriman atau bagaimana? Padahal banyak yang pandai matematika, malah tak beriman, tak mengakui adanya Tuhan…”

Nasrudin: “Hmmmmh, saya bercerita saja ya? Mudah-mudahan kamu bisamenyimpulkan sendiri kaitan matematika dan keimanan itu…”

(Nasrudin pun mulai bercerita. Tom asyik menyimak cerita beliau…..)

Ringkasan ceritanya itu begini.

Sebut saja namanya pak Rohman, ia adalah seorang guru matematika yang sangat disenangi murid-muridnya. Sangat jarang guru matematika seperti beliau ini. Mungkin perbandingannya adalah 1 di antara 1000 guru matematka yang pernah ada. Bukan hanya pandai matematika, beliau pun terkenal akan sifat bijaknya. Penampilannya yang bersahaja, jauh dari kesan sombong, tidak riya, dan berbagai sifat baik lainnya makin membuat orang makin senang padanya.

Suatu hari Pak Rohman ini bertemu salah seoarang teman lamanya di perjalanan sepulang beliau mengajar, sebut saja namanya pak Habib. Karena saking lamanya tak bertemu, tak segan-segan pak Rohman mengajaknya ikut mampir ke rumahnya. Pak Habib ini menurut saja, ikut mampir ke rumah pak Rohman.

Ngobrol ke sana-kemari, akhirnya pak Habib ini bercerita bahwa ia sedang menghadapi persoalan besar yang sangat pelik, rumit, yang ia sendiri rasakan akan sulit terpecahkan. Ia meminta saran ke pak Rohman.

“Sebesar apapun masalah di dunia ini, itu tidak seberapa dibanding ke-Maha-besaran Allah. Seberat dan sebesar apapun masalah yang kamu hadapi serahkan sajalah ke Allah SWT, dengan ke-Maha-Kuasaan dan KebesaranNya, insya Allah semuanya dapat di atasi”, begitu Pak Rohman mulai berkata ke pak Habib.

“Saya belum mengerti …,” begitu Pak Habib berkata.

“Begini saja, kamu kan seorang diri, menghadapi sebuah masalah. Artinya satu masalah dibagi oleh diri sendiri. Secara “matematis” bisa dikatakan kamu membagi 1 dengan 1 (ditulis 1:1). Tentu akan terasa berat bukan? Coba kamu selesaikan masalahmu ini dengan orang lain, misal oleh 2 orang, ini bisa diartikan 1:2 , tentu lebih ringan bukan? Dan bila diselesaikan beramai-ramai, lebih banyak orang lagi, tentu akan semakin ringan. Nah, apalagi bila masalahmu ini kamu pasrahkan dan serahkan kepada Allah dengan tentunya kamu terus berusaha, karena Allah itu Maha-Besar, sederhanyanya, ini bisa diartikan 1 dibagi bilangan yang saaaaaangat besar (misal 1: 100000000000000000000000000000; tentu hasil pembagian ini mendekati 0, bahkan bisa dikatakan sama dengan nol). Artinya masalahmu itu sebenernya sangat ringan, tak ada apa-apanya, sangat mudah di hadapan Allah. Betul begitu pak Habib?” begitu kata pak Rohman.

“Iya yah pak Rohman, ternyata dengan penjelasan matematis begitu, saya jadi mengerti kenapa Allah itu Maha-Besar dan Maha-Kuasa akan segala sesuatu. Matematika benar-benar dapat membuat saya mengertiakan kebesarannNya, bagi saya ini menambah semakin yakin dan keberimanan kita. Alhamdulillah…,” itulah kata-kata pak Habib, sambil manggut-manggut.

Belum sempat Nasrudin menceritakan kelanjutan ceritanya, eh Tom bangun deh dari mimpinya.

Sampai jumpa lagi ya di cerita berikutnya…. (Bersambung).

Catatan: Tulisan ini sebagiannya terinspirasi oleh beberapa sumber bacaan, komentar orang, dan beberapa ceramah yang pernah saya dengar sebelumnya. Bila ada kekeliruan, mohon dimaafkan. Saya hanya mendokumentasikan saja, dengan sudut pandang pribadi. Kekhilafan itu semua dikarenakan akan ketaksempurnaan saya saja. Terimakasih.

9 Comments

Filed under Agama, Cerita Menarik, Cerpen, Matematika, Matematika SMA, Matematika SMP, Pendidikan, Sastra

9 responses to “Matematika dan Keimanan, Apa Hubungannya? (Petualangan 1)

  1. little_@

    huaaaaaaaaaa……… iya ya?!!
    tapi jika diartikan yang maha besar itu paling besar, dan bilangan itu ada yang paling besar, hingga simbol ~ bisa diwakilkan dengan bilangan n, maka sebenarnya the existence ga pernah tebukti. karena itu kontradiksi. matematika adalah proses logis yang bisa dibuktikan oleh logika tetapi keimanan adalah jembatan dimana ketika ternyata logika kita tidak bisa membuktikan hal-hal yang transenden hingga dibutuhkanlah apa yang namanya iman itu.

    Al Jupri says: Setuju. Untuk memahami hal-hal yang transenden begitu, seringkali, lebih mudah kita fahami lewat logika.

  2. yayayayaaa… betul sekali! bahan ajar yang sangat mengena….
    logis, sederhana dan tidak katrok lagi… ini mestinya menjadi acuan dan visi pembangunan sebuah bangsa… mestinya ktergantungan kepada YANG MAHA
    btw… ada dua tema di sini, sebaiknya dipisahkan jadi tema yang pertama pun bisa diingat pembaca seperti saya ini loh bos…๐Ÿ™‚

    ________________

    Al Jupri says: Iya ya Mas, harusnya ada dua tema. Makasih banget atas koreksinya….

  3. Yang tak kalah penting, jangan lupa memakai “ilmu padi”, makin berisi semakin merunduk. Dengan begitu kita bisa mengenali diri sendiri yang sebetulnya memanglah sangat kecil berbanding dengan ke-maha Besar-an Allah. Sehingga semua ilmu yang kita miliki akhirnya bermuara kepada keimanan kita.

  4. AL Reno

    Alhamdulillah!!! Akhirnya ada juga humor, matematika, dan ilmu Islam yang digabungkan menjadi hikmah yang sangat luar biasa. Subhanallah!! sangat bagus sekali!! saya hanya minta agar kisah seperti ini lebih diperbanyak lagi.

  5. Dhiedhie

    Wah oke banget deh kalo bisa ngajar mat dengan humor, bisa bikin murid ‘ga bete, kalo ada trik2 ngajar mat yanq kaya gitu bisa dong bagi2 ilmunya (apalagi pas materi yang bkn murid pusing) please kirim via email dunk!

  6. Nizar AL-Kadiri

    bagus memang bisa membawa matematika ke realita,apalagi buat meneguhkan iman seperto ini. tidak semua guru bisa melekukan ini.
    saya mengharapkan artikel macam ini akan semakin banyak dan saya akam mentranspormasikannya kepada siswa sewaktu mengajar nanti, terimajasih.

  7. Basis agama memang banyak bersandar pada matematika.

    Coba perhatikan kalimat Bismillahir al-Rahmaan al-Rahiim yang jumlahnya 19 huruf, total nilai hurufnya:

    168+618=786

    618 adalah inverse bilangan irrasionmal Golden Rasio 1,618….yang dikali 100 (binernya 4) .

    Nilai golden ratio mencapai stabil 1,618…pada iterasi ke-19.

    618 juga bilangan yang berhubungan dengan matriks 3×3 Magic Square Loshu (dari China Kuno).

  8. fibti

    setelah membaca cerita yang anda tulis rasanya menyenangkan menjadi guru… saya semakin bersyukur kuliah di jurusan matematika saya harap anda mau membagikan tips yang dapat membangkitkan semangat mengajarrrr………….terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s