Bertepuk Sebelah Tangan

Oleh: Al Jupri

Sore itu, setelah urusan dapur dan anak-anaknya beres, Bu Jerry seperti biasanya melakukan persiapan mengajar untuk esok hari*. Kebetulan pelajaran untuk besok adalah bahasa Indonesia, Matematika, dan IPS. Beliau selalu berusaha mengajar sebaik mungkin, makanya persiapan ini selalu dilakukannya. Apalagi, murid-muridnya di kelas 5 SD yang diajarnya itu ia perhatikan rada-rada nyeleneh. Contohnya si Tom, siswa yang suka bandel, suka gangguin teman-temannya, walau sedikit rajin, seringkali menyebalkan, tapi kadang juga menyenangkan.

Bu Jerry berfikir, bagaimana caranya mengkombinasikan antara tiga pelajaran tersebut, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Untuk beberapa saat, Bu Jerry masih berfikir, merenung memikirkan strategi pembelajaran untuk esok. Tak berapa lama, akhirnya ia pun merasa sudah menemukan strategi yang ia anggap cocok untuk ketiga pelajarannya tersebut.

Untuk pelajaran bahasa Indonesia, topiknya “membaca dan bercerita“. Untuk pelajaran IPS, yang akan dibahas tentang sejarah perjuangan pangeran Diponegoro. Kedua pelajaran ini, oleh Bu Jerry dirasa strateginya sudah mantap. Sedangkan, untuk matematika, walau sudah ada panduan kurikulum dan materi yang akan disampaikannya jelas, Bu Jerry ingin melaksanakan kurikulum tersebut sesuai kreativitasnya. Ada sih strategi yang tadi terpikir, tapi setelah dipikir-pikir rupanya kurang cocok. Jadinya, beliau ini masih memikirkan strategi apa yang akan ia lakukan untuk pelajaran matematika tersebut.

Setelah beres membaca tantang bahasa Indonesia dan IPS yang akan diajarkannya, Bu Jerry pun segera bersiap untuk matematika. Buku yang dibaca selanjutnya yaitu tentang sejarah matematika. Ya, sejarah tentang seseorang yang dikemudian hari menjadi matematikawan terbesar di jamannya. Siapa ya?

Yang dibaca oleh Bu Jerry itu kira-kira begini.

Alkisah, ada seorang guru SD yang memberi soal matematika pada murid-muridnya. Soalnya itu begini:

1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 +…+ 97+ 98 + 99 + 100 =… (Jumlah seratus buah bilangan asli pertama).

Sang guru mengira, murid-muridnya akan butuh waktu yang lama untuk menjawab soal semacam ini. Ia menuliskan soal tersebut, mungkin ingin santai sejenak, membiarkan siswa-siswanya sibuk bekerja, sementara ia bisa agak sedikit santai.

Tak berapa lama setelah ia menuliskan soal tersebut di papan tulis, seorang siswanya dengan cepat dapat menjawabnya dengan benar. Sang guru jadi heran, serasa tak percaya, mana mungkin siswa SD bisa dengan cepat menghitung/menjawab soal tersebut, padahal ia sendiri mengerjakannya cukup lama, dan melelahkan. Dipanggilah sang siswa untuk diminta penjelasannya.

Penjelasan sang siswa itu begini. Ia menghitung penjumlahannya seperti berikut.

1 + 100 = 101

2 + 99 = 101

3 + 98 = 101

4 + 97 = 101

…….

50 + 51 = 101

Nah, penjumlahan di atas sama saja dengan perkalian 50 x 101 = 5050. Karena 101 nya ada 50 buah, makanya penjumlahan tersebut ditulis 50 x 101.

Cara yang dilakukan siswa dalam cerita tersebut kemudian dibuat generalisasinya, lahirlah rumus deret aritmetika** (sekarang sudah mulai dipelajari di tingkat SMP). Sang siswa tersebut, tak lain, katanya adalah Carl Friederich Gauss, matematikawan dari negeri Jerman di abad 18 hingga 19.

Setelah membaca kisah tersebut, Bu Jerry berencana mencobakan soal tersebut ke siswa-siswanya. Bu Jerry berharap, siapa tahu ada siswanya yang bisa melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh matematikawan di cerita tadi. Atau bahkan, ada siswanya yang mnemukan cara baru. Benar-benar Bu Jerry penuh harapan.

Keesokan harinya, setelah pelajaran sejarah usai, tibalah pelajaran matematika. Bu Jerry berkata, “Anak-anak ibu punya soal mudah nih, silakan nanti dikerjakan ya…” Bu Jerry pun setelah sedikit bicara kesana-kemari kemudian menuliskan soal penjumlahan seperti pada cerita sejarah yang dibacanya tersebut (jumlah seratus bilangan asli pertama). Dalam pikirannya, Bu Jerry harap-harap cemas, berharap siswa-siswanya bisa menemukan cara yang bagus dan baru, lebih cantik daripada yang sudah ditemukan pada cerita sejarah tadi.

Selesai menuliskan soal tersebut. Bu Jerry menunggu siswa-siswanya bekerja. Ditunggu-tunggu, hingga 15 menit, siswanya belum pada selesai menjawab. “Anak-anak, siapa yang sudah selesai?” tanya Bu Jerry. “Belum Bu…,” serentak kebanyakan siswa berkata seperti itu. “Baiklah ibu tunggu 10 menit lagi ya…,” begitu beliau berkata. Semenit kemudian, Tom berkata, “Bu saya sudah beres, sudah tahu jawabannya.” Bu Jerry pun merasa lega dan bangga. Beliau berprasangka baik “Wah, biasanya kalau si Tom bicara, ia menemukan cara baru nih….”

“Tom, berapa jawabannya?” tanya Bu Jerry. ” Lima ribu lima puluh Bu…,” jawab Tom. “Ya betul Tom…, bagaimana caranya kamu bisa menyelesaikan soal secepat itu?” tanya lagi Bu Jerry. Tapi, Tom diam saja. “Coba kamu ke depan, jelaskan pada ibu dan kawan-kawanmu!” begitu perintah Bu Jerry. Bu Jerry merasa sangat puas, “Wah rencana pembelajaran yang dipikirkan kemarin rupanya berhasil nih, sepertinya sejarah akan berulang,” pikir Bu jerry.

Tom maju ke depan. Dengan wajah yang penuh kebahagiaan dan dengan senyum bangga, Bu Jerry menyambut Tom. Tom mulai berkata, “Begini Bu caranya…,” sambil kemudian mengeluarkan kalkulator dari kantung bajunya.

Gubrak!!! Bu Jerry pun ???

Dari cerita Bu Jerry tadi, selaku guru, apa yang bisa kita ambil hikmahnya?

Ya, persiapan mengajar itu perlu dilakukan oleh guru sebelum mengajar. Saya yakin siapapun Anda, faham kenapa persiapan itu perlu dilakukan. Tanpa persiapan, tujuan pembelajaran yang akan dicapainya pastinya kurang jelas, kabur. Walaupun cerita tadi berakhir tak sesuai rencana Bu Jerry, kita bisa ambil pelajaran. Guru yang sudah melakukan perencanaan pun terkadang tak bisa menjalankan sesuai rencana pembelajarannya. Apalagi yang tak melakukan perencanaan?

Biasanya, guru yang sudah “merasa?” berpengalaman, merasa sudah mengerti betul dengan semua kondisi yang akan dihadapinya di kelas. Jadinya, persiapan pun jarang dilakukan. Mungkin, yang dilakukan oleh guru semacam ini banyak benarnya. Tapi, saya yakin juga tak sedikit salahnya. Betul?

Kebanyakan di sekolah, katanya, guru benar-benar serius melakukan persiapan pengajaran hanya ketika akan disupervisi oleh kepala sekolah atau pengawas saja. Selain itu, hampir tak terencana dengan baik. Iya gitu?

Catatan:

* Menurut gossip yang pernah saya dengar, kebanyakan guru, hampir tak pernah melakukan persiapan mengajar. Yang pasti, saya tidak tahu benar-tidaknya tentang gossip ini. Mohon maaf pada bapak-ibu guru sekalian, khususnya guru matematika. Saya juga ikut tersinggung nih.

** Sn = n/2 (2a + (n-1)b); Sn berarti jumlah n-suku pertama deret aritmetika; a berarti suku pertama; b artinya beda dari suatu deret; dan n artinya banyaknya suku. Contoh, untuk soal pada cerita di atas, suku pertamanya adalah a = 1; bedanya adalah b = 2-1 = 3-2 = 4-3 =…; dan banyaknya sukunya adalah n = 100.

7 Comments

Filed under Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Matematika, Matematika SD, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Sastra

7 responses to “Bertepuk Sebelah Tangan

  1. persiapan sebelum mengajar? wah memang benar-benar perlu banget mas, kalo tidak ada persiapan yakin deh pasti kelabakan didepan kelas, maaf itu bagi guru yang memang punya hati untuk mengajar, tapi bagi mereka yg tidak, lain cerita kan mas?

    Al Jupri says: Waduh, saya ditanya itu? No koment aja deh hehe..

  2. Ehh ternyata berhitung itu mudah yaa… jika tahu ilmunya. bagiamana cara melatih anak2 kecil biar cinta matematik

  3. riza

    wah jadi teringat pas es em ep, eh es em pe. pas bu guru cerita tentang rumus deret, kami juga dites kayak gitu. cuman waktu itu ga ada yang secerdas gauss dan sekreatif tom. hehe

  4. aku juga terkadang bingung, gimana yah caranya supaya anak-anak suka matematika, baru dengar matematika saja udah pada ketakutan, heran yah. selama ini sich kalo aku liat guru punya peran sekali, gimana caranya penyampaian materi itu menarik dan tidak membuat siswa tertekan.yah itu dia guru harus punya rencana pembelajaran itu salah satunya.
    buat guru matematik, jagan pernah memaksa siswa untuk tahu, tapi gimana caranya seorang siswa mengembangkan apa yang dia tahu.

  5. Tommy

    Di sekolah saya,sungguh prihatin.Ada guru yang mengajarkan maematika tak peduli muridnya bisa/tidak.Alhasil semuanya tak mengerti asal usul akar-akaran dll.

  6. nugroho

    Wah seandainya negeri kita banyak anak-anak seperti si carl yang begitu cerdasnya kemungkinan kedepan nggak ada manusia mbebek seperti sekarang ini yang jadi penguasa ha ha ha, nggak cerdas dan nggak kreatif

  7. brain06

    boleh nanya?
    mengapa muncul ilmu matematika? sejarah kok bisa ada matematika itu seperti apa? apakah ada kaitannya dengan munculnya ilmu astronomi, fisika, dsb?
    terima kasih atas jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s