Dilarang Kencing dan Mandi di Sini

Oleh: Al Jupri

Ada seorang kawan saya yang mengaku pernah mengajukan pertanyaan, yang kalau saya tak salah, begini pertanyaannya “Bila Tuhan maha kuasa, apakah Tuhan sanggup membuat batu yang sangat besar sehingga Tuhan sendiri tak sanggup mengangkatnya?” Sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya tak komentar banyak. Yang terpikir oleh saya, ini merupakan pertanyaan high level (baca: kelas tinggi alias pertanyaan orang yang pinter katanya). Rupanya ia mengajak saya untuk bermain “nalar” (baca: penalaran), bermain ilmu logika. Tidak berkomentar banyaknya saya itu tentu ada alasannya. Saya sangsi, apa benar pertanyaan ini benar-benar pertanyaan hasil pemikiran kawan saya itu tadi? Bila benar, berarti kawan saya itu orang yang hebat alias luar biasa.

Bicara tentang logika memang menarik. Kata orang, ini adalah dasarnya filsafat. Ada juga yang mengatakan bahwa logika itu masa bayi dari matematika. Dengan perkataan lain, matematika itu adalah bentuk dewasa dari logika. Makanya wajar saja topik logika itu, khususnya logika matematika, diajarkan di tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) dan yang sederajat sebagai bagain dari pelajaran matematika.

Saya sendiri termasuk orang yang tertarik dengan logika. Iya sih, sekedar tertarik saja, tapi tak benar-benar menguasai. Cuma sekedar mengenal kulitnya saja, itupun mengenalnya jarak jauh. Bila diibaratkan, saya kenal logika itu sama halnya seperti saya kenal bintang yang sangat jauh, kenalnya juga lewat bantuan teleskop. Begitu kira-kira perbandingannya.

Terkait dengan topik “logika matematika”, untuk tingkat SMA, ada yang namanya konjungsi. Konjungsi itu adalah suatu pernyataan yang terdiri dari dua pernyataan atau lebih yang dihubungkan dengan kata “dan”. Contohnya: 1 + 2 = 3 dan 3 + 4 = 7. 1 + 2 = 3 adalah pernyataan yang nilainya benar. Juga 3 + 4 = 7 adalah pernyataan yang bernilai benar. Dengan menggabungkan dua pernyatan ini dengan kata penghubung “dan”, jadilah pernyataan baru yang disebut konjungsi, yang juga bernilai benar. Konjungsi dikatakan bernilai benar, jika dan hanya jika dua pernyataan yang dihubungkan dengan kata “dan” bernilai benar, selain itu bernilai salah.

Buat apa belajar konjungsi segala? Mari kita lihat sebuah contoh. Saya sering melihat aturan tertulis yang terpampang di Masjid atau Mushola, yang kira-kira begini tulisannya, “Dilarang kencing dan mandi di sini”. Bila dibaca sepintas, kalimat ini sepertinya wajar-wajar saja, dan dianggap benar. Padahal menurut pemahaman saya, dengan sedikit pengetahuan konjungsi tadi, kalimat ini sebenarnya keliru. Kenapa keliru? Kelirunya begini: bila seseorang melakukan kencing saja, tapi tidak mandi, berarti orang tersebut tidak bersalah (karena tidak melanggar aturan yang tertulis itu); juga bila seseorang mandi saja, tapi tidak kencing, berarti orang tersebut tidak bersalah (karena tidak melanggar aturan yang tertulis itu). Nah, seseorang baru dikatakan bersalah bila ia melakukan kencing dan mandi sekaligus di tempat itu.

Saya jadi berfikir begini. Mungkin karena aturan yang tertulis di Masjid atau Mushola itu keliru, makanya tak heran masih banyak orang yang melanggarnya. Ingin sebenarnya saya memberi tahu, cuma saya ragu. Ragunya karena khawatir dibilang sok-tahu atau malah dianggap “saya yang salah”. Tapi, lewat media inilah mudah-mudahan ada pengurus Masjid atau Mushola yang nyasar dan membaca tulisan saya ini.

Lalu, bagaimana supaya aturan tertulis tadi menjadi benar? Mudah saja, tinggal mengganti kata “dan” dengan kata “atau”. Aturan yang tadi menjadi, “Dilarang kencing atau mandi di sini” Sehingga bila ada orang yang kencing saja (tapi tidak mandi), maka ia bersalah. Begitu juga bila ada orang yang mandi saja (tapi tidak kencing), maka ia bersalah. Dan, bila ada orang yang kencing sekaligus mandi di tempat yang dilarang itu, maka ia jelas-jelas bersalah. Apa alasannya? Untuk mengerti ini, perlu sedikit tahu juga tentang pernyataan yang disebut disjungsi.

Disjungsi adalah suatu pernyataan yang terdiri dari dua pernyataan atau lebih yang dihubungkan dengan kata “atau”. Disjungsi dikatakan salah jika dan hanya jika dua pernyataan pembentuknya bernilai salah, selain itu bernilai benar. Contohnya: 1+ 2 = 3 atau 3 + 4 = 5. Pernyatan yang saya tulis tebal ini termasuk disjungsi yang bernilai benar, sebab 1 + 2 = 3 adalah pernyataan yang bernilai benar; walaupun 3 + 4 = 5 adalah pernyataan yang salah. Sedangkan contoh disjungsi yang salah begini misalnya: “1 + 2 = 4 atau 3 + 4 = 6”. Pernyataan yang saya tulis dengan tanda petik ini adalah disjungsi yang bernilai salah, sebab 1 + 2 = 4 adalah pernyataan yang bernilai salah dan 3 + 4 = 5 juga merupakan pernyataan yang bernilai salah.

Kembali ke pertanyaan kawan saya tadi. Hebat juga ya pertanyaannya? Saya berusaha memahami pertanyaan teman saya tadi begini saja. KarenaTuhan itu Maha Kuasa, maka Ia Kuasa membuat batu yang sangat besar . Tentu semua orang yang beriman sepakat dengan pernyataan ini (yang saya tulis miring), dan ini benar adanya. Terus, bila batu itu tak sanggup diangkat oleh Tuhan, apa yang terjadi? Jawabnya: berarti Tuhan tidak Maha Kuasa. Dan ini bertentangan dengan ke-Maha-Kuasa-an Tuhan yang sudah disepakati tadi. Jadi, gugur deh pertanyaan teman saya tadi alias pertanyaannya cuma berandai-andai saja.

8 Comments

Filed under Curhat, Matematika, Matematika SMA, Pembelajaran, Renungan

8 responses to “Dilarang Kencing dan Mandi di Sini

  1. DJ

    Saya sangsi, apa benar pertanyaan ini benar-benar pertanyaan hasil pemikiran kawan saya itu tadi?

    Saya tertarik dengan kata yang saya pertebal (kata “sangsi”)karena terkesan ada kesombongan di situ
    Kenapa harus sangsi? Maksud saya apakah salah kalau seandainya teman Anda hanya meniru mengutip?
    Proses belajar orang-manusia pada awalnya hanyalah sebatas meniru, walau mungkin hanya sebatas meniru alam semesta.

  2. kawan jupri

    Maksud aku memunculkan tentang paradox tersebut (pertanyaan tentang Tuhan tersebut bukan hasil pikiranku, tapi aku sengaja mengambil pertanyaan nyeleneh tersebut hanyalah sekedar sebagai contoh lain dari Paradox Russell). Aku menulis tentang paradox bukan untuk “bermain-main” dengan Tuhan…aku sangat sadar siapa dan apa aku ini, aku hanyalah makhluk yang diciptakan oleh sang khalik…
    Mungkin salah satu tujuanku nulis tentang paradox itu adalah untuk menyadarkan menunjukkan keterbatasan kita aku sebagai makhluk Tuhan…
    Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku menulis tentang hal itu…
    Sebenarnya paradox selalu mengarahkan pada KONTRADIKSI atau istilah gampangnya pernyataan yang memuat hal-hal yang saling bertolak belakang…
    Nah…kontradiksi itulah yang sebenarnya menjadi alasanku yang lain.
    KONTRADIKSI=BERTOLAK BELAKANG
    MUNAFIK=BERTOLAK BELAKANG
    Jadi KONTRADIKSI=MUNAFIK
    Aku senang dan hampir selalu memakai kata “orang yang KONTRADIKTIF” sebagai pengganti kata “MUNAFIQIN”.
    Jadi selain untuk menunjukkan keterbatasan kita sebagai makhluk, aku juga berharap tulisanku itu mampu mengajak dan menyadarkan kita aku sendiri untuk belajar tidak menjadi makhluk yang MUNAFIK…
    Berkaca pada pertanyaan tentang Tuhan tsb kita sudah menyadari dan mengalami kalau ternyata kita bisa dibuat begitu bingung oleh paradoks (yang pada intinya adalah tentang kontradiksi). Jadi pemahaman tentang paradoks dan kontradiksi harapannya bisa memberikan pemahaman betapa rumitnya sesuatu yang kontradiksi (baca: munafik dan kebohongan). Memang BENAR kalau ada yang berkilah bahwa ada juga KEBOHONGAN UNTUK KEBAIKAN. Jadi saya tidak akan mempermasalahkan kebohongan untuk kebaikan, saya definisikan kebohongan di sini adalah kebohongan untuk selain kebaikan.

  3. kawan jupri

    demikian sedikit penjelasan dariku…
    Ttd
    seorang kontradiktif

  4. kawan jupri

    Sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya tak komentar banyak.
    Saya sangsi, apa benar pertanyaan ini benar-benar pertanyaan hasil pemikiran kawan saya itu tadi?
    Hebat juga ya pertanyaanya?

    Hahahaaha pernyataan dan pertanyaan yang khas…Jupri banget gitu lho…
    Tahu maksudku kan?😀

    BTW sudah terjawab kesangsianmu kan?
    O ya, nice story…
    jadi ingat celetukanku kemarin pas Aad kasih PR…
    “kenapa number 2 or 3?, kenapa bukan number 2 and 3?”

  5. kawan jupri

    Sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya tak komentar banyak.
    Saya sangsi, apa benar pertanyaan ini benar-benar pertanyaan hasil pemikiran kawan saya itu tadi?
    Hebat juga ya pertanyaanya?

    Hahahaaha pernyataan dan pertanyaan yang khas…Jupri banget gitu lho…
    Tahu maksudku kan?😀

    BTW sudah terjawab kesangsianmu kan?
    O ya, nice story…
    jadi ingat celetukanku kemarin pas Aad kasih PR…
    “kenapa number 2 or 3?, kenapa bukan number 2 and 3?”

  6. kawan jupri

    Uppss…salah klik, dihapus saja yang pertama ya…
    Thanx before…

  7. For DJ:
    Saya pernah terpesona oleh sebuah puisi (saya lupa puisi karangan siapa itu?), yang judulnya kalau tidak salah: “Ragukan …”. Mungkin gara-gara puisi ini, bila ada sesuatu yang mengagetkan pikiran saya, maka saya biasanya berprasangka negatif sama sesuatu tersebut (sebelum saya saksikan atau rasakan buktinya). Saya sendiri agak menyesal mengenal puisi tersebut. Sebelumnya, saya berprasangka baik saja terhadap segala sesuatu.

    Karena saya meragukan sesuatu (yang bikin pikiranku kaget itu), makanya beberapa orang mengatakan bahwa “Sombong luh…”.

    Mohon maaf, bila kalimat yang saya tulis (dan oleh kawan DJ dipertebal itu) terkesan sombong. Sekali lagi mohon maaf ya…

  8. For kawan Jupri: Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih telah membaca tulisan saya.

    Karena di paragraf pertama, saya menyangsikan pertanyaan kawan saya itu tadi. Makanya, di akhir paragraf, untuk menjaga konsistensi (keajegan) saya tulis kalimat yang oleh “kawan Jupri” dipertebal itu dengan tanda tanya. Mohon maaf, bila ini juga dianggap kurang berkenan.

    Btw, saya tidak bisa melacak dengan mesin pencari di internet, siapakah “kawan Jupri” itu? Mudah-mudahan “kawan Jupri” bersedia memberi tahu saya.

    Salam kenal dan terimakasih sudah mampir di blog ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s