Category Archives: Humor

‘Abu Nawas’ Bingung Memilih Capres

Cerpen oleh Al Jupri

Sebentar lagi, untuk yang kedua kalinya, negeri kita akan mengadakan pemilihan umum pasangan presiden dan wakilnya secara langsung. Para capres-cawapres sudah mulai aktif berkampanye. Dengan beragam cara: iklan di media masa, pencitraan lewat survey-survey, dan sebagainya. Mereka pun tiap hari  sangat rajin berkeliling negeri ini. Menebar janji-janji manis bagi calon rakyatnya. Namun, saat berkampanye, tak jarang antar pasangan saling menjelek-jelekkan.

Ada yang mengklaim bahwa hanya pasangannya saja yang layak dipilih karena pasangan-pasangan lain belum  memberi bukti, belum berpengalaman, hanya menebar janji, hanya menghembuskan angin surga, tidak bersih, tidak santun, dan lainnya. Sementara pasangan lain secara gamblang mengatakan bahwa kalau bukan karenanya maka perdamaian di negeri ini bakal sulit tercapai, pemerintah tidak mungkin berjalan dengan baik dan cepat, keputusan-keputusan tidak mungkin cepat dilakukan sebab penguasa utama yang saat ini ada tidak berani ambil keputusan (peragu), dan lain-lain.

Karena sebab tersebut,  rakyat kita banyak yang bingung dibuatnya. Tak terkecuali dengan ‘Abu Nawas’ yang pusing  tujuh keliling karenanya. Siapa Abu Nawas yang dimaksudkan di sini? Ya dia hanyalah seorang sopir angkot biasa–yang kebetulan disebut dengan panggilan itu. Para teman sesama sopir memanggil dengan sebutan itu karena tingkahnya mirip Abu Nawas–tokoh humoris dalam kisah-kisah klasik Timur-tengah yang termasyhur. Salah satu kisah sang “Abu Nawas” terkait pemilu presiden mendatang terurai berikut ini. Continue reading

26 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra, Tokoh

Budi Anduk Cawapres? Yes!

Oleh Al Jupri

Say NO to BudioNO, Say YES to Budi Anduk

Ya, itulah bunyi spanduk yang beberapa hari ini lalu ramai diberitakan. Spanduk tersebut muncul beberapa hari sebelum pendeklarasian salah satu pasangan capres-cawapres di negeri kita–menjelang pemilihan presiden bulan Juli 2009.

Sebagai warga negara yang netral, saat membaca berita tentang hal tersebut, tentu saya tertawa dibuatnya. Bukan karena mentertawai Budiono sebagai cawapres, tetapi karena teringat tingkah polah Budi Anduk–sang komedian yang sering saya tonton di TV. :mrgreen: Mungkin sudah begitu garis hidup sang Budi Anduk: tak hanya di TV dia menjadi obyek bulan-bulanan lawan mainnya, di dunia nyata pun dia mengalami hal yang sama.

Menurut pandangan awam saya, spanduk tersebut sifatnya menguntungkan: baik bagi Budiono ataupun Budi Anduk. Alasannya? Continue reading

69 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Harapan, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra, Tokoh

Menguji Kecerdasan Anak

Oleh Al Jupri

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu. Mana yang salah?” tanya seorang bapak pada anaknya beberapa waktu yang lampau. Diberi pertanyaan demikian, sang anak tampak berpikir, lantas berseru menjawab, Mangga!”

Saat memperhatikan kejadian tersebut, saya tersenyum dan kagum. Sang anak–yang saya perkirakan berusia enam tahun–bisa membuat kesimpulan yang benar dari serangkaian data yang diberikan padanya. Masih dalam kekaguman tersebut, tampak sang bapak kembali memberi pertanyaan lain. Continue reading

27 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Curhat, Harapan, Humor, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SD, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Tokoh

Untukmu yang Kupanggil Cinta

Oleh Al Jupri

Cerpen ini merupakan lanjutan dari kisah “Romantis dengan Matematika (Part1 + Part 2)”

Sabtu siang, sekitar pukul 13:00-an, seperti biasanya Pak Zero menuju toko buku langganannya. Setiba di tempat tujuan, Pak Zero langsung ke tempat buku-buku yang menyangkut matematika.

Sayang seribu sayang, ternyata, setelah mencari-cari dan bertanya-tanya–pada petugas di toko buku tersebut, buku-buku matematika yang dicarinya tidak ada. Kecewa rasanya, tapi Pak Zero tak bisa berbuat apa-apa. Untuk mengganti kekecewaaannya, Pak Zero menuju tempat buku-buku sastra. Sekedar refreshing, mencari bacaan ringan kesukaannya.

Sebetulnya Pak Zero tidak begitu suka dengan sastra. Dia cuma suka membaca-baca buku-buku  sastra, seperti: kumpulan cerita, novel, atau kumpulan dongeng. Jadi, bisa dibilang, Pak Zero cuma sebagai seorang penikmat karya -karya sastra.

Dari sekian karya-karya sastra yang ada di toko buku tersebut, Pak Zero tertarik pada sebuah novel yang judulnya: Continue reading

23 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Humor, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra, Tokoh

Cara Matematis Selesaikan Pertengkaran Rumah Tangga

Oleh: Al Jupri

Peringatan: Artikel ini cocok dibaca oleh Anda yang sudah berumur 17 tahun atau lebih. Bagi yang di bawah umur, silakan minta bimbingan orang tua atau  guru Anda! Selamat membaca!

“Sayang, Aa sudah di perjalanan nih! Udah sarapan belum?” begitulah kata-kata yang terucap oleh salah seorang teman saya lewat telepon genggamnya pada kekasihnya.

“Halah, sayang-sayang, pas udah nikah nanti, pasti enggak bakal romantis gitu!” komentar seorang bapak, yang juga teman saya, yang kebetulan sudah mempunyai istri dan anak.

Mendengar komentar tersebut, saya yang ikut dalam rombongan perjalanan, tertarik berkomentar. “Begitu ya, Pak? Emang bapak juga dulu saat masih pacaran begitu?” Continue reading

31 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

Cara Matematis Menghitung Rambut

Oleh Al Jupri

Beberapa waktu lalu seorang bloger memberi komentar berikut ini:

“Di keluargaku aku punya kakak dan adik. Jumlah rambut uban aku dan kakakku 300 helai. Jumlah rambut uban aku dan adikku 250 helai dan jumlah rambut uban adikku dan kakakku 275 helai. Pertanyaannya: Berapakah jumlah rambutku yang belum beruban??” :mrgreen:

Saat membaca komentar itu, saya mengerti bahwa sang komentator hanya main-main, tidak serius.  Sebab antara permasalahan yang diketahui dan pertanyaan yang diajukan kurang  nyambung. Tapi bagi saya hal tersebut tidak masalah. Justru di situlah menariknya komentar tersebut! :D

Gara-gara komentar nyeleneh itu, saya jadi teringat sebuah kisah humor yang beberapa tahun lalu pernah saya baca. Humor sang Nasrudin Hoja yang ditantang, adu kepintaran, oleh orang-orang  pandai di jamannya. Singkat kisahnya terurai sederhana berikut ini. Continue reading

26 Comments

Filed under Agama, Bahasa, Cerita Menarik, Daftar Blogger, Humor, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra, Tokoh

Apa Kabar *****?

Oleh Al Jupri

Assalamu’alaikum wr. wb.

Apa kabar *****?

Bila kita dikirimi pesan seperti barusan, kemungkinan besar kita akan bertanya apa makna tanda lima bintang ***** tersebut. Ada beberapa kemungkinan yang bisa kita tafsirkan. Continue reading

22 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Curhat, Harapan, Humor, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SMA, Matematika SMP, Matematika Universitas, Menulis, News, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

Di Balik “Surat Matematis”

Oleh Al Jupri

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak Al, tolong jawab pertanyaanku ini ya!

Di keluargaku aku punya seorang kakak dan seorang adik. Umurku dan adikku jumlahnya 35 tahun, umurku dan kakakku 48 tahun. Dan umur kakakku dan adikku 39 tahun.

Pertanyaannya: selisih umurku dan umur Pak Al berapa?

Wassalam

Dari seseorang yang ingin mengenalmu (Pang-orangenik)

NB: Email ini ditulis setelah membaca postingan Pak Al yang ini. Continue reading

19 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Curhat, Humor, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

Paradoks Cinta: Jarak antara Dua Hati

Oleh Al Jupri

Seringkali antara dua kekasih, antara dua insan yang saling mencintai, terpisahkan oleh jarak. Gara-gara jarak hubungan bisa jadi perlahan melemah, bahkan purna, berakhir karena tidak ada titik temu.

Satu cara yang sering dilakukan oleh mereka yang saling mencintai namun terpisahkan oleh jarak adalah dengan saling berkomunikasi sebaik mungkin. Komunikasi adalah usaha untuk merekatkan hati yang dipisahkan oleh jarak.

Dalam budaya Indonesia, bila dua orang yang saling mencintai, maka pihak prialah yang cenderung aktif, mengejar pihak wanita yang dicintainya. Dan itu sudah lumrah, lazim di negeri kita yang menjunjung budaya ketimuran yang terkenal santun. Namun seringkali sang wanita seringkali malu-malu, dia akan sengaja lari minta dikejar. :mrgreen:

Hal tersebut berlaku pula saat jarak memisahkan dua hati yang saling mencintai tersebut. Pihak pria harus lebih aktif mengejar wanitanya. Ya, mengejar sang wanita dengan cara mengambil inisiatif untuk berkomunikasi. Seintensif mungkin, seberkualitas mungkin! Agar dia mampu mengejar hati sang wanita dan  tetap mendapatkannya. Tapi hal ini tidak mudah! Seringkali walau sang pria  sudah  berupaya, tapi sepertinya sulit menggapainya. Apa sebabnya? Adakah penjelasan matematisnya? Continue reading

28 Comments

Filed under Curhat, Fisika, Harapan, Humor, Iseng, Matematika, Matematika SMA, Matematika Universitas, Menulis, News, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

Romantis dengan Matematika (Part 2)

Cerpen oleh Al Jupri

Cerpen berikut merupakan sambungan dari: Romantis dengan Matematika (Part 1).

Serasa tidak percaya. Berulang-ulang 4 sms berantai tersebut dibacanya dengan saksama. Tapi, tetap saja, jelas bahwa sang gadis dengan cukup halus menolak cintanya. Pak Zero hanya bisa tercenung. Diam dalam kediamannya. :mrgreen: Sepi dalam kesendirian. Tak ada kawan dalam deritanya. “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir,” kata Patkai, dalam film Kera Sakti.

*** Continue reading

32 Comments

Filed under Bahasa, Cerita Menarik, Cerpen, Harapan, Humor, Indonesia, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SMA, Matematika Universitas, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra