Oleh: Al Jupri
“Papah, Papah… Mamah minta disuapin dong maemnya?” rengek seorang istri pada suaminya dengan sangat manja, saat makan malam yang syahdu dan romantis.
“Enggak mau ah, Papah dong yang disuapin….” kata suami, sengaja sedikit menggoda istri yang sangat disayanginya.
Sontak saja, sang istri cemberut, dengan bibir sedikit manyun—namun terlihat anggun.
“Mmm…. iya deh, ntar Papah suapin, tapi kita suit (adu jari) dulu. Kalau Mamah menang, Papah suapin. Nah, kalau Papah menang, Mamah yang nyuapin… bagaimana?” demikian akhirnya sang suami memberi tawaran sederhana, demi menyenangkan hati istrinya yang sedikit cemberut [Padahal cuma pura-pura saja, sekedar menunjukkan kemanjaannya pada suami yang sangat dicintainya itu].
Maka, suit pun dilakukan.
Papah: “Horeeeeeee Papah menaaaaang….”
Sang istri makin cemberut. Tapi, dia tidak kehilangan akal.
Mamah: “Menang bagaimana? Papah kan tadi pake jari kelingking, mamah pake jempol! Mamah dong yang menang!”
Papah: “Iiih, Mamah bagaimana sih? Kan aturannya begitu: semut bisa kalahkan gajah.”
Mamah: “Apa buktinya kalau semut bisa kalahkan gajah?” Continue reading →