Catatan Pinggir
Oleh: Al Jupri
Di halaman ini, saya niatkan untuk menuliskan beragam tulisan seputar hidup dan kehidupan, tentunya tak terkait secara langsung dengan matematika. Isinya bisa berupa: cerita-cerita, curhat, keluh-kesah, pengalaman, humor, cerpen, atau apapun sesuka saya. Karena tak terkait secara langsung dengan matematika dan demi menjaga kekonsistenan isi blog ini, maka tulisan-tulisan saya di sini dibuat di halaman terpisah. Mudah-mudahan dengan cara seperti ini tak mengganggu kenyamanan Anda sebagai pembaca. Dan yang terpenting, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Catatan 7: Ditulis pada hari Rabu 1 Agustus 2007
Caranya “Katakan Cinta”
Oleh: Al Jupri
Pengantar
Pernah nonton acara yang namanya “Katakan Cinta”? Ya acara tersebut merupakan acara yang dikhususkan untuk anak-anak remaja. Acara yang didesain khusus untuk mewadahi “kreativitas” remaja pria atau wanita yang akan menyatakan cinta pada calon kekasihnya. Caranya lucu-lucu, unik, namun terkadang berlebihan karena dibuat-buat.
Dengan menonton acara tersebut, bisa jadi banyak remaja yang menconteknya, meniru-niru cara yang sudah dipertontonkan. Padahal kalau dipikir-pikir, acara tersebut hanya tontonan, bukan tuntunan.
Walaupun cara yang dilakukan para remaja dalam acara tersebut beragam, unik, lucu-lucu, tetapi bila kita hanya tahunya dari tontonan itu saja rasanya tidak lengkap. Karena cara-cara yang dipertontonkan itu sudah dapat dikatakan merupakan cara anak jaman sekarang, cara yang dianggap “modern”. Lalu, baiknya bagaimana?
Saya pikir baiknya begini. Kita baca “lembaran sejarah” bagaimana orang-orang jadul (baca: jaman dulu) menyatakan cinta, kita bicarakan duluan. Baru kemudian cara-cara modern kita bicarakan.
Cara-cara Jadul untuk “Katakan Cinta”
Dulu, sewaktu saya masih SD, ketika rajin-rajinnya senang membaca, secara tak sengaja saya membaca buku “Menulis Surat Cinta buat Kekasih”* milik paman saya. Maklum karena minim bacaan, makanya buku begituan pun saya lalap juga. Daripada tidak ada buku yang saya baca.
Namanya juga waktu itu masih anak-anak, belum mengerti yang namanya cinta-mencintai seorang kekasih, ketika membaca buku tersebut saya sih merasa biasa-biasa saja. Saya cuma merasa senang karena buku tersebut habis saya baca. Lalu, bagaimana isinya?
Tentang buku itu, saya baru mengertinya ketika saya beranjak remaja, ketika saya mulai menyukai lawan jenis saya. Dari buku itu pula, saya jadi tahu bahwa salah satu cara untuk menyatakan cinta adalah dengan menulis surat, disebut surat cinta. Isi dalam surat cinta tersebut pada dasarnya sama. Yaitu mengungkapkan perasaan kita bahwa kita suka, seneng, sayang, dan cinta pada sang calon kekasih.
Karena jadul, surat cinta yang dibuat pun biasanya berupa tulisan tangan. Tulisan tangan yang indah, dengan kata-kata yang indah meluluhkan hati, kata-kata jujur dari lubuk hati yang terdalam, dan terkadang kata-kata penuh rayuan yang gombal.
Seingat saya, pilihan kata yang tersurat dalam buku itu bisa dibilang sangat kuno, kampungan, katro, dan ndeso. Contohnya, “Tuk adinda tercinta-ku”, “Tuk kakanda tersayang”, “Salam hormat kuhaturkan”, “Salam cinta kuberikan”, “Bersama datangnya surat ini…”, “Salam sayang dan rindu untukmu”, “Kutunggu untaian kata-kata manis darimu”, “Dari sang perindu, yang sedang merindukan cintamu”, dan kata-kata lain yang tentunya tak perlu saya tulis semuanya di sini.
Walaupun kata-kata tersebut kuno, tetapi saya sering mendengar dari teman-teman saya bahwa kata-kata seperti itu disukai oleh sang kekasih, dirindu olehnya, dinanti kedatangannya. Bila kata-kata semacam itu dipakai, kata-kata tersebut serasa mempunyai magis yang menimbulkan kesan romantis, indah, penuh sanjungan, penuh angan, impian dan cinta yang mendalam. Merupakan bentuk ungkapan tulus yang sulit dicari bandingannya.
Selain dengan surat cinta, cara katakan cinta orang jadul itu bagaimana?
Berdasarkan pengamatan terhadap film-film jadul yang pernah saya tonton, baik di TV (hitam-putih) atau pun di layar tancep, dan juga pengamatan nyata, cara menyatakan cinta orang jadul itu ada dua macam lagi.
Yang pertama, katakan secara langsung di depan sang calon kekasih. Biasanya pria menyatakan pada wanita secara langsung. Cara katakan langsung ini biasanya diistilahkan dengan “tembak di tempat atau tembak langsung”. Untuk melakukan tembak langsung begini diperlukan keberanian, kepercayaan diri yang tinggi. Berani diterima, berani juga ditolak. Percaya akan diterima, tapi seringkali tak percaya akan ditolak.
Dalam mengungkapkan “tembakan” itu biasanya kata-kata yang digunakan juga terpilih, tak asal bicara, tak asal ucap. Biasanya sudah dipikirkan masak-masak. Bahkan bila perlu dilatih sebelumnya. Biasanya, kata-kata yang dipakai pun mirip-mirip yang dipakai dalam surat cinta. Cara ini dilakukan biasanya setelah melalui investigasi yang serius. Investigasi ini biasanya dibantu oleh teman sang calon kekasih, biasanya mereka itu disebut “mak comblang”**. Namun sering terjadi adalah sang mak comblang justru yang jadi kekasih beneran, istilahnya “pagar makan tanaman”.
Yang kedua, katakan secara tidak langsung, tetapi bukan melalui surat***. Caranya yaitu melalui perantara orang yang kita percayai. Perantara ini bukan mak coblang seperti cara pertama, tetapi adalah dari keluarga (paman, bibi, bapak, ibu, nenek, kakek, dll). Biasanya cara kedua ini dilakukan bila benar-benar serius langsung ingin menikah. Atau biasanya juga karena salah satu pihak (prianya atau wanitanya) tak berani karena segan ataupun benar-benar malu karena taat akan aturan agama. Atau ada juga karena keinginan orang tua.
Walaupun cara kedua ini seringkali dianggap oleh anak-anak muda kurang elegan, tetapi tingkat keberhasilannya tinggi. Artinya, setelah mereka benar-benar dijodohkan, menikah, walaupun awalnya tidak kenal dan bahkan tidak cinta, tetapi faktanya mereka mempunyai banyak anak dan rumahtangga yang bahagia. Cinta datang bersemi setelah dalam ikatan pernikahan, sungguh bahagia katanya. Tapi, dengan cara kedua ini ada juga yang gagal.
Dari cara-cara tersebut, biasanya cara langsung atau cara kirim surat cinta lebih disukai (wanita). Namun, karena suasananya jadul, cara-cara seperti ini seringkali gagal karena tak disetujui oleh orang tua. Sedangkan cara tak langsung seperti yang diuraikan di atas, seringkali berhasil, istilah untuk cara ini disebut “perjodohan”.
Cara-cara “Modern” untuk “Katakan Cinta”
Pada prinsipnya cara-cara “modern”, yang dilakukan oleh remaja jaman sekarang, itu sama saja dengan cara-cara jadul.
Misalnya, kalau dulu untuk menyatakan cinta lewat surat itu perlu tinta dan kertas, ditambah skill menulis indah, maka jaman sekarang bisa diganti dengan surat elektronik (email), atau dengan sms (short message service). Kalau dulu perlu beberapa waktu yang relatif lama, sekarang cukup klik send maka sampai deh ke alamat email sang calon kekasih.
Cara tembak langsung di jaman sekarang ini sangat populer di kalangan remaja, sampai ada acaranya segala di TV, seperti acara “katakan cinta”. Cara tembak langsung katanya lebih gentle, lebih elegan ketimbang cara-cara lain. Juga katanya lebih disuka para wanita. Karena katanya wanita itu maunya yang langsung dihadapannya, tak percaya bila belum diungkapkan di hadapannya.
Untuk cara tembak langsung ini, bila jaman dulu, biasanya laki-laki yang dominan mengambil inisiatif. Jaman sekarang, wanita pun seperti tak sabar dan terpaksa mengambil alih inisiatif tersebut. Wanita menembak pria, pria menerima tembakan itu, atau hanya senyum-senyum saja yang biasanya menandakan cinta sang wanita ditolak.
Sedangakan cara-cara tak langsung, nyaris musnah ditelan jaman. Walaupun ada, itupun hanya sedikit jumlahnya.
Ya sudah, segitu saja dulu. Yang pasti bila kita menyatakan cinta, resikonya itu cuma dua hal. Berbahagia bila diterima, dan menderita seumur-umurlah bila ditolak.
Seperti apa rasanya bila cinta ditolak? Seperti apa rasanya bila cinta diterima? Nantikan tulisan saya berikutnya.
Selamat membaca dan mudah-mudahan bermanfaat! Amin.
Artikel ini saya peruntukkan untuk orang yang saya cintai….****
Keterangan:
*Kalau saya tak salah ingat sih memang judulnya seperti itu.
**Bukan “mak lampir”, biasanya yang jadi mak comblang ini adalah teman dekat sang calon kekasih.
***Cara melaui surat cinta juga termasuk cara tak langsung, tetapi masih ada usaha sendiri.
**** Biasanya orang yang merasa diberi artikel ini, akan senang. Tak peduli apakah ia suka atau pun tak suka ke saya. Iya gitu?
***********************************************************************
PS: Memang, orang-orang yang sedang jatuh cinta itu bisa dibilang “gila”. Tapi, tergantung dari sudut mana kita menyikapi ke”gila”an itu. Mudah-mudahan, bentuk ke”gila”an yang tertuang dalam bentuk tulisan ada manfaatnya. Amin.
=======================================================
Catatan 6: Ditulis pada hari Senin, 30 Juli 2007
Permintaan Terakhir
Oleh: Al Jupri
Suatu pagi yang indah, Nasrudin dan kawan-kawannya sedang minum kopi bersama. Mereka ngobrol kesana-kemari dengan asyiknya. Dari masalah biasa hingga masalah kematian. Kemudian ada seorang kawannya yang bertanya, “Bila saat ini kamu-kamu ini akan dibungkus kain kafan, untuk disholatkan. Dan seluruh keluarga dan teman-teman kamu menyaksikan, turut bersedih akan keadaan kamu saat itu, kata-kata apa yang paling ingin kamu dengar dari mereka?”
Teman Nasrudin yang pertama berkata, “Saya ingin mendengar mereka mengatakan bahwa saya adalah seorang dokter yang hebat, dan saya adalah seorang lelaki terbaik di keluarga saya.”
Teman Nasrudin yang kedua berkata, “Saya ingin mendengar mereka mengatakan bahwa saya adalah seorang suami yang luar biasa, saya adalah seorang guru yang sangat hebat, sangat berpengaruh, seorang guru yang tiada duanya, seorang guru yang membuat murid-muridnya hebat dan sukses.”
Nasrudin berkata, “Saya ingin mendengar mereka berkata… LIHAT!!! DIA BERGERAK!!!”
Diadaptasi dari: Last Wishes
=======================================================
Catatan 5: Ditulis pada hari Senin, 30 Juli 2007
Dunia yang Seluas Daun Kelor
Oleh: Al Jupri
Pernah jatuh cinta sama seseorang? Siapapun Anda, saya yakin pernah merasakannya. Seperti apa rasanya? Bisa jadi rasanya seperti rasa coklat, strawbery, susu, vanilla, atau rasa-rasa yang lainnya.
Berdasarkan pengamatan + pengalaman, ada tiga kelompok orang yang sedang jatuh cinta itu. Yang pertama, adalah orang-orang yang cintanya diterima oleh orang yang dicintainya dan saling mencintai. Yang kedua, adalah orang-orang yang cintanya diterima oleh orang yang dicintainya tetapi tak saling mencintai, hanya bertepuk sebelah tangan saja. Dan yang ketiga, adalah orang-orang yang cintanya jelas-jelas ditolak oleh orang yang dicintainya.
Bagi orang-orang yang termasuk kelompok pertama. Dunia itu terasa sangat indah. Dunia serasa nyaman untuk ditempati. Dunia untuk sementara menjadi surga bagi mereka. Dan mereka pun bisa jadi merasa dunia itu miliknya. Sedangkan katanya, orang lain hanyalah pengontrak saja.
Bagi orang-orang yang termasuk kelompok kedua. Dunia adalah tempat yang indah, nyaman, tentram, dan membahagiakan. Pokoknya dunia ini adalah anugrah yang harus dinikmati. Tetapi rasa seperti ini hanya dirasakan oleh yang mencintai saja. Sedangkan yang dicintai, tetapi tak mencintai, dunia ini serasa musibah. Musibah yang harus dihadapi dan dilewati dengan tegar, dan tawakal.
Bagi orang-orang yang termasuk kelompok ketiga. Dunia itu tak lagi terasa indah. Dunia tak lagi terasa lapang. Dunia serasa cuma seluas daun kelor, sempit rasanya. Dunia itu bisa jadi bagai neraka baginya. Mereka benar-benar merasakan bagaimana rasanya sedih, menderita, sengsara, malu, dan segala jenis rasa menyakitkan lainnya.
Lantas, bagaimana menyikapinya?
Untuk orang yang termasuk kelompok pertama, bersyukurlah dan berbahagialah Anda. Selamat, dunia adalah bagian kecil surga Anda. Untuk yang di kelompok kedua, sabar dan berserah dirilah pada ke-Maha-Besaran Sang Pencipta, Allah swt. Sedangkan bagi Anda yang ada di kelompok ketiga bagaimana?
Tenanglah, janganlah khawatir. “Dunia yang seluas daun kelor” itu hanya ada di dongeng-dongeng cinta saja. Di dunia nyata, itu jelas-jelas tidak ada. Tegarlah, yakinlah bahwa dunia itu adalah juga surga bagi Anda. Bisa jadi yang menolak cinta Anda itu tidaklah baik bagi Anda, menyengsarakan Anda di kemudian hari. Janganlah menyesal, yakinlah bahwa ada 1000.000.001 pilihan lain, yang sangat mungkin jauh lebih baik daripada yang sekarang menyakiti hati Anda.
Terus, bagaimana sikap Anda pada mereka yang menolak cinta Anda? Do’akanlah, mudah-mudahan mereka merasa bahagia. Merasakan bahwa dunia adalah surga. Do’akan juga mudah-mudahan mereka tak pernah menyesal karena pernah menolak Anda. Tak pernah menyesal dengan pilihannya, yang bisa jadi tak baik baginya. Hanya Allah yang Maha tahu. Betul?
Memang dunia yang seluas daun kelor itu hanya ada dalam “dongeng-dongeng cinta” saja.
Menurut Anda bagaimana?
=======================================================
Catatan 4: Ditulis pada hari Senin, 30 Juli 2007
Orang Cerdas tapi “Busuk”
Oleh: Al Jupri
Alkisah terjadilah perselisihan antara dua orang memperebutkan “sesuatu”. Sebut saja mereka adalah A dan B. Untuk menentukan siapa yang berhak atas “sesuatu” itu, mereka sepakat untuk mengundi dengan melempar uang logam (Satu sisi berisi angka, sisi lain berisi gambar).
“Mari kita lempar uang logam ini dan kita tentukan siapa yang berhak atas ’sesuatu’ tersebut?” Ucap B pada A.
“Tentu,” ujar A, “Bila muncul angka maka saya menang, dan bila muncul gambar maka kamu kalah.”
“Baiklah, mari kita lempar uangnya” ujar B dengan terburu-buru (tanpa menyadari kalimat yang diucapkan A).
Apa tafsiran dari sepenggal kisah tersebut? Biasanya kebanyakan orang akan menafsirkan bahwa: si A sangat cerdas, lebih cerdas daripada B dan B adalah orang yang ceroboh. Akibatnya si A mengungguli si B.
Menurut saya tafsiran semacam itu tak sepenuhnya benar. Kenapa? Tafsiran semacam itu hanya berdasarkan segi kognitif semata, namun tak memperhatikan segi-segi yang lain. Tafsiran tersebut tak memandang dari segi nilai-nilai: agama, moral, dan kemanusiaan.
Secara agama ataupun moral dan juga kemanusiaan, si A itu tidaklah adil, hanya ingin menang sendiri. Ia menggunakan kecerdasannya dalam “bersilat lidah” untuk membodohi si B. Ia memanfaatkan kelengahan B untuk mencapai maksudnya. Ia berhati “busuk”, tak bersih, menghalalkan segala cara. Dengan kata lain, si A secara licik membodohi si B.
Nah, mungkin sepenggal kisah tadi hanyalah sebuah dongeng. Tetapi dalam kehidupan kita saat ini, seringkali kita menjumpai orang-orang semacam ini. Mereka biasanya memanfaatkan kekurang”cerdasan” orang lain, memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk meraup keuntungan pribadinya. Memanfaatkan kelebihannya untuk dianggap lebih baik daripada yang menjadi saingannya itu. Padahal cara yang dilakukannya adalah suatu cara yang keji dan busuk, sebusuk bau mulutnya. Tentunya kita bisa mengambil contohnya di sekitar kita, mudah-mudahan sih tidak ada.
Semoga kita semua terhindar dari orang-orang semacam ini. Amin.
=======================================================
Catatan 3: Ditulis pada hari Minggu, 29 Juli 2007
Kebetulan
Oleh: Al Jupri
Beberapa hari yang lalu, melalui email, saya pernah bertanya pada beberapa penulis terkenal. Saya tanya pada mereka tentang trik dan tips menulis. Sengaja saya lakukan untuk meningkatkan kualitas tulisan saya tentunya. Alhamdulillah saya dapat tanggapan yang positif dari mereka. Selain trik dan tips yang mereka berikan, mereka pun memotivasi saya untuk terus menulis.
Anehnya, pada hari yang sama saat saya mengirim email tadi, saya juga dapat kiriman beberapa email dari orang-orang yang ingin belajar menulis. Mereka bertanya hal yang serupa seperti yang saya tanyakan pada penulis-penulis terkenal tadi.
Saya jadi bingung dan merasa tidak enak untuk menjawab email-email tersebut. Tapi akhirnya, saya balas juga setelah saya dapat tanggapan dari beberapa penulis terkenal tadi.
Ah… ada-ada saja. Aneh! Ah kebetulan!
=======================================================
Catatan2: Humor
Siapa yang Meninggal?*
Oleh: Al Jupri
Alkisah ada seorang musafir lewat di suatu desa di tanah Arab. Kebetulan waktu itu ada acara pemakaman di suatu kuburan, ramai disaksikan orang-orang. Menyaksikan hal itu sang musafir ingin tahu siapakah gerangan yang meninggal. Tergerak rasa ingin tahu, sang musafir pun mendekat. Bingung mau bertanya ke siapa, akhirnya ia menemui seseorang yang ada di belakang kerumunan orang-orang tersebut.
“Siapa yang meninggal itu?”, tanya sang musafir. “Saya tak tahu pasti,” jawab Nasrudin, “tapi saya pikir seseorang yang ada di peti mati itu.”
*Diadaptasi dari * Who died?
========================================================
Catatan 1: Cinta
Tahi Ayam Serasa Coklat
Oleh: Al Jupri
Pernah denger atau baca pribahasa “Tahi ayam serasa coklat”? Wah kalau belum, ketinggalan banget, kasihan sekali. Ya pribahasa ini dipakai untuk menggambarkan bagaimana perasaan seseorang ketika jatuh cinta pada lawan jenisnya, pria jatuh cinta pada wanita atau sebaliknya.
Entah saya tak tahu siapa yang mulai menciptakan pribahasa ini. Kedengeran lucu, aneh, tapi diterima dan diakui begitu saja oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Tentunya diterima dan diakuinya pribahasa ini bukan arti yang sebenarnya, cuma kiasan saja. Saya yakin, mereka yang jatuh cinta itu belum tahu rasanya tahi ayam itu seperti apa, kecuali bagi yang pernah mencoba.
Dari beberapa kali ngobrol dengan mereka-mereka yang pernah jatuh cinta + pengalaman pribadi, peribahasa tadi banyak benernya. Bagaimana tidak. Ketika kita sedang jatuh cinta pada seseorang, apapun yang terkait dengan si dia, terasa indah, menakjubkan, mengagumkan, bikin kita penasaran ingin tahu, istimewa, spesial, dst, dst. Dari hal-hal yang sepele, sampai yang ga sepele, rasanya kita itu ingin tahu saja.
“Logika kita” pun seperti tak berfungsi bila jatuh cinta itu datang ke kita. Kita tak peduli dengan fakta si dia. Tak peduli apakah si dia itu berkulit gelap atau terang, berbadan gemuk atau pun kurus, tinggi atau pendek. Semuanya terlihat sempurna di mata kita yang sedang dimabuk cinta, dimabuk asmara. Kita juga inginnya deket-deket saja dengan si dia. Bahkan kalau pun jauh, kita akan selalu berkontak ria dengannya, tak peduli pulsa menghanguskan uang kita. Berbagai usaha pun dilakukan. Mulai dari kirim lagu-lagu romantis (kata teman saya), kirim puisi-puisi cinta, kirim email-email cinta. Bahkan bila si dia tampak religius, kita pun berusaha mem”bunglon” ikut-ikutan religius, biasanya dengan menggunakan bahasa-bahasa yang ke”arab-arab”an untuk menarik hati si dia (untuk yang beragama Islam). Pokoknya kita kejar-kejar terus si dia, tak kenal lelah, tak kenal waktu, tak kenal jauh-dekat. Kejar, kejar, dan kejar! Bahkan bila ada orang lain menjelek-jelekkan si dia pun, dengan tak malu-malu kita pun mati-matian membelanya.
Yah begitulah cinta. Tahi ayam pun serasa coklat…
Catatan: Tulisan ini dibuat untuk Anda yang sedang jatuh cinta.
13 Comments
July 22, 2007 at 9:16 am
pengalaman pribadi ya?
*kabuuur*
__________
Al Jupri says: bukan cuma pengalaman pribadi, tapi juga pengalaman temen-temen. Hehe…
August 4, 2007 at 7:24 am
Wuihh
Banyak banget catatan pinggirnya, sampai catatan pinggirnya ke tengah.
_________
Al Jupri says: hehe…
August 4, 2007 at 2:20 pm
Menurut hemat saya, menulis adalah sebuah dunia panggilan. Kualitas tulisan akan sangat ditentukan oleh rutinitas kita dalam menulis, menulis, dan menulis. Nah, setuju?
______
Al Jupri says: ya setuju pak… kualitas tulisan terpengaruh karena rutinits dan kebiasaan, juga ditambah input yang berkualitas…
August 8, 2007 at 10:20 am
mas ali jupri puitis, romantis, melankolis n “borjuis” deh…hehehe
______
Al Jupri says: Makasih sudah berkunjung.
August 12, 2007 at 7:09 am
hmm…ternyata pak Aljupri bukan hanya pandai berbahasa matematika. bahasa cintanya juga oke. sip…otak kiri dan otak kanannya setimbang.
________
Al Jupri says: Terimakasih. Salam ke teman-teman mantan mahasiswa Jurdik matematika UPI ya…
August 20, 2007 at 6:42 am
Ternyata Kang Jupri pengamat film remaja juga to. Kapan ya Kang ada film dengan pemain pake costum abu2 putih, tapi yang dibahas bukan hanya cinta-cinta dan cinta picisan, tapi juga bisa cinta metamatika…. Kayaknya indah ya Kang… Acara gituan dah basi banget… Mbok ya sekali-kali film nya yang mutu gitu… Coba deh Kang diusulin ke meja Komisi Penyiaran, heheheh
August 24, 2007 at 9:47 am
Panggil akang aja ya, soalnya kebiasaan dikampus dulu.Mungkin k’Aljufri lupa ma Aisyah atau ga knl sama sekali, dulu kita pernah skampus dan pernah blajar brg jg. Akhir-akhir ni saya sering baca tulisan k’Aljuf, keren-keren banget. Ais suka ni jd inspirasi buat Ais. Jangn berhenti menulis ya kang. Smangaaaaaaaat…..
_______
Al Jupri says: Silakan aja teh…. Hmmm Aisyah ya? Duh maaf ya, kalau lihat orangnya sih, insya Allah saya inget. Terimakasih. Mudah-mudahan terus terinspirasi. Salam ke teman-teman ya…
September 13, 2007 at 11:46 am
[...] Tulisan saya yang lain: (1) Orang Cerdas tapi “Busuk”; (2) [...]
October 2, 2007 at 6:18 am
mas jupri pripun kabare suwe ora jamu jamu pisan durung kenal mas kenal ke aku dwi wahyu asli sragen HP : 085293182162 umurku 22 tahun aku komandan menwa uty lho kenalan dong e-mailku tetuko_dwi@yahoo.com he kenalan yuk
October 31, 2007 at 7:58 am
salam kenal, om..

*berjabat tangan
December 4, 2007 at 9:43 pm
HUfqzy gfb7n0ghn60s9d7f34n30bnit5
December 27, 2007 at 6:24 am
WAH HEBAT NICH…SEJAK KAPAN URUS DUNIA PERCINTAAN ANAK MUDA JAMAN SEKARANG..
YANG AKU TAHU AL JUPRI DARI SMA DAH BERCITA-CITA UNTUK MENCINTAI MATEMATIKA….
TAPI SARAN & MASUKAN BUAT AL JUPRI JANGAN HANYA MATEMATIKA…
JADI KAPAN MAU BIKIN UNDANGAN….
seplinco@yahoo.com
Bikin undangan ya? Nanti aja deh… masih sekolah nih… Salam ya ke teman-teman SMA (Kelas 1F, 2F, 3 IPA 1 dulu + teman2 yang lain juga… ) .
__________________
Al Jupri says: Hei Linco, apa kabar nih?
June 11, 2008 at 1:51 pm
wah, hebat nih kang jupri yah…soal menembak aja kudu caranya dibagi 2, langsung dan tak langsung. nah saya punya pengalaman tak langsung alias lewat surat, tetapi karena dulu kebanyakan porsi organisasi dibanding kuliah makanya suratnya berbentuk ‘proposal cinta’ isinya yah lengkap daftar isi, abstrak, latar belakang ampe visi dan misi. untungnya yang ditembak mau… dan udah jadi istri tuh. karena udah jd istri yah proposalnya masih ada disimpan dilemari. tapi malu juga ingetnya. huahaha..
nah kang jupri, kembangkan soal ‘katakan cinta’ ini klo perlu bikin flowcart-nya ampe filosofinya.
sekian deh….
Leave a Reply