Oleh: Al Jupri
“Papah, Papah… Mamah minta disuapin dong maemnya?” rengek seorang istri pada suaminya dengan sangat manja, saat makan malam yang syahdu dan romantis.
“Enggak mau ah, Papah dong yang disuapin….” kata suami, sengaja sedikit menggoda istri yang sangat disayanginya.
Sontak saja, sang istri cemberut, dengan bibir sedikit manyun—namun terlihat anggun.
“Mmm…. iya deh, ntar Papah suapin, tapi kita suit (adu jari) dulu. Kalau Mamah menang, Papah suapin. Nah, kalau Papah menang, Mamah yang nyuapin… bagaimana?” demikian akhirnya sang suami memberi tawaran sederhana, demi menyenangkan hati istrinya yang sedikit cemberut [Padahal cuma pura-pura saja, sekedar menunjukkan kemanjaannya pada suami yang sangat dicintainya itu].
Maka, suit pun dilakukan.
Papah: “Horeeeeeee Papah menaaaaang….”
Sang istri makin cemberut. Tapi, dia tidak kehilangan akal.
Mamah: “Menang bagaimana? Papah kan tadi pake jari kelingking, mamah pake jempol! Mamah dong yang menang!”
Papah: “Iiih, Mamah bagaimana sih? Kan aturannya begitu: semut bisa kalahkan gajah.”
Mamah: “Apa buktinya kalau semut bisa kalahkan gajah?” 
Papah: “Iya, semut bisa masuk telinga gajah, nanti gajahnya digigit…”
Mamah: “Enggak bisa… itu tidak pernah terjadi!”
Sang suami bingung. Berbagai cara dilakukan untuk membuat istrinya gembira, dengan rayuan dan ciuman, bahkan mencoba menyuapi istrinya. Tapi sayang, sang istri tidak mau. Sang istri malu, karena suitnya kalah, seharusnya dia yang menyuapi suaminya tercinta.
Mamah: “Ok, Mamah akan ngaku kalah kalau Papah bisa buktikan secara matematis kalau semut bisa kalahkan gajah! Selain itu, Mamah enggak mau makan, enggak mau nyuapin Papah!”
Demikian gertakan sang istri. Dia membiarkan makanan yang ada di hadapannya. Sementara sang suami bingung dibuatnya, berpikir bagaimana meyakinkan istrinya—yang sarjana (pendidikan) matematika itu. Hingga, akhirnya sang suami menemukan cara “pembuktian”nya.
Papah: “Mamah, Mamah… Papah bisa buktikan!”
Mamah: “Bagaimana? Udah jangan ngomong doang Papaaaaah, mana buktinya? Kalau Papah enggak bisa buktiiin, Papah harus nyuapin Mamah…”
Kemudian dengan segera sang suami mengambil pensil dan kertas. Dan berikut ini adalah “bukti” bahwa “semut” bisa mengalahkan “gajah”.
Misalkan berat gajah adalah x, berat semut adalah y, dan jumlah kedua berat mahluk tersebut adalah 2z. Oleh karena itu, kita bisa menulis sebagai berikut: x + y = 2z.
Dari persamaan tersebut, maka kita peroleh x = – y + 2z atau x – 2z = – y. Dengan menggunakan persamaan-persamaan tersebut dan sedikit “manipulasi” aljabar, maka diperoleh x – z = y – z atau x = y.
Jadi, berat semut sama dengan berat gajah.
Kali ini, sang istri dibuat terperangah. Namun masih sedikit berpikir, belum percaya seratus persen tentang bukti tersebut!
Papah: “Nah, karena berat semut sama dengan berat gajah, serta semut bisa masuk telinga gajah, maka bisa dibayangkan, betapa sakitnya gigitan semut hingga gajah kalah dan meminta ampun pada semut! Begitu Mamaaaaah….”
Mamah: “Ah, pembuktian Papah ada yang keliru… Pokoknya Mamah minta disuapin!!!”
Akhirnya, demi menyenangkan istri, sang suami pun mengalah. Pada akhirnya mereka saling menyuapi.
Catatan Khusus: artikel ini ditulis khusus untuk istri saya, manusia tercantik di dunia, orang yang sangat saya sayangi. Mudah-mudahan ini menjadi obat rindu di antara kami—yang terpisah ribuan kilometer jauhnya. I do miss you Mamaaah… I do love you Mamaaaaah…. :*:*:*
Artikel ini bisa juga dibaca di sini: website matematika UPI.
Catatan Penting: Dilarang mempublikasikan ulang artikel ini tanpa seijin dari saya.
Aturan “biar adil” dan si istri ngga penasaran karena kalah, diadakan suit babak ke-2, kalau babak ke-2 suami kalah, maka diadakan tie-break babak ke-3 mirip seperti permainan badminton. Jadi yang kalah diberi kesempatan untuk membalas di babak (set) ke-2, kalau kalah juga ya harus sportif dong. Seperti itulah juga kehidupan suami istri, biar manja tapi harus sportif juga… hehehe…
Btw, kalo suit emang nggak masuk akal, tapi ya begitulah peraturannya kan? Orang (telunjuk) sama gajah (jempol) kok menang gajah? Padahal orang bisa ambil senapan terus menembak si gajah. Atau si gajah bisa saja diracuni. Huehehe…. ya kan?
Iya, seharusnya diadakan suit babak selanjutnya, tapi agar menarik, jadinya enggak dilakukan Pak.
He222 iya, suit tidak masuk akal, itu hanya sekedar aturan.
hehehe.. Lucu, Romantis, Matematis.
Si suami emang pinter bikin “manipulasi”. Hehe… Si istri juga percaya aja dengan manipulasinya suami.
@bangpot: He he…
lucu nih.. hahaha
tak praktekin sm pacar aq jg bisa nih.. wkwkwkwk
ini tema blognya apa pak??
kapan2 kunjungi blog saya ya?
http://elnicovengeance.wordpress.com/
Tema blognya: Bicara Matematika.
hahahaaha… mantap pak.. main 2 ya ke blok saya….
hmmmm, tapi bagaimana bisa x – 2z = – y menjadi x – z = y – z
bagaimana cara memanipulasinya pak?
tambah pusing nih…? hehehe….
Lho lho, pertanyaan saya, mengapa persamaannya harus “berat gajah ditambah dengan berat semut”?
Itu pertanyaan mendasar saya….
Persamaan pertama
.
(ini masih diterima, kedua ruas persamaan dikurangi
)
(masih benar, kedua ruas dikurangi
)
. Di sini letak kesalahannya. Dengan kedua ruas ditambah
, persamaan menjadi



Dimanipulasi jadi
Kemudian diutak-atik lagi menjadi
Trus, diubah lagi menjadi
Ini yang betul, bukannya $x-z=y-z$.
CMIIW
Yah, yang persamaan terakhir lupa nambahin latex
udah ngantuk nih
saya tdk mengerti.
bagaimana maksud manipulasi aljabar itu.
hitungan saya rasanya spt ini:
X+Y=2Z
X=-Y+2Z
X=-Y+Z+Z
X-Z=Z-Y
bagaimana ceritanya bisa jadi:
X-Z=Y-Z
X=Y
saya tdk mengerti.
bagaimana maksud manipulasi aljabar itu.
hitungan saya rasanya spt ini:
X +Y = 2Z
X = -Y +2Z
X = -Y +Z +Z
X -Z = Z -Y
bagaimana ceritanya bisa jadi:
X -Z = Y -Z
X = Y
mimin , kepo dikit dong , memang istri mimin ada dimana ?
udh ane liat ada 2 pos yg buat istri mimin , semoga nanti bisa ketemu lagi yah min , salam , keluarga besar smpn 11 tangerang selatan