Oleh Al Jupri
Siapa capres yang berslogan “Lebih Cepat Lebih Baik”? Saya yakin, bila Anda tidak buta informasi, Anda akan menjawab JK alias Jusuf Kalla. Menjelang pilpres 8 Juli 2009 mendatang, kini sang capres makin meroket meningkat popularitasnya. Karena itu, menurut analisa beberapa pengamat politik, JK kini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh para kompetitornya. Bahkan ada yang memprediksi bahwa JK bakal menjadi orang nomor satu di negeri ini. Apa sebabnya?
Salah satu sebabnya adalah keberhasilan tim kampanye JK yang kian hari makin berhasil mengungkap sisi lain di balik suksesnya berbagai macam program dan kebijakan pemerintah (semisal perdamaian di Aceh, Maluku, Poso; program BLT; program konversi minyak tanah ke gas; dll) yang peduli rakyat, yakni ternyata JK lah penggagasnya, JK lah yang lebih banyak bekerja keras serta berani ambil keputusan–yang tentunya diamini oleh sang pimpinan. Makanya tak heran, ada yang bilang bahwa JK is the real president.
Satu cara tim kampanye JK yang menurut amatan saya cukup berhasil adalah kampanye yang ditayangkan salah satu stasiun TV yang berjudul: “JK Pemimpin Bersama Rakyat”. Lewat acara ini, JK tampak amat dekat dengan para calon rakyatnya, bahkan bisa dibilang tak ada jarak di antara mereka. Rakyat dengan bebas berbicara, begitupula JK dengan lugas menjawab berbagai pertanyaan, menampung aspirasi dan keluhan, dan lainnya.
Contoh betapa dekat calon rakyat dengan JK terjadi beberapa waktu lalu, yakni ketika Yohanes Surya memamerkan siswa-siswa SD dari daratan Papua hasil binaannya. Menurut Yohanes Surya, mulanya siswa-siswa yang dibawa ke hadapan JK belum bisa berhitung walau sudah kelas 5 SD. Tetapi, setelah tiga bulan dibina olehnya, kini mereka sudah mahir berhitung.
Rupanya, mendengar penjelasan tersebut, JK tidak begitu saja mempercayai sang profesor fisika tersebut. Karena itu, JK pun mengetes siswa-siswa binaannya.
“5 x 5 berapa?” tanya JK pada seorang siswa dari tanah Wamena.
Mendapat pertanyaan tersebut, sang siswa diam, tampak berpikir. Sepertinya dia akan menjawab 19, tetapi Yohanes Surya menyenggol pundaknya (marah). Maka sang siswa kembali berpikir, kemudian menjawab pertanyaan sang calon presiden.
“Dua puluh lima,” jawab sang anak dari Wamena.
Lalu JK melanjutkan pertanyaannya, “25 x 3 berapa?”
“Tujuh puluh lima,” kembali sang anak menjawab setelah sedikit berpikir.
“75 x 2 berapa?” JK kembali bertanya.
“Seratus lima puluh,” jawab sang anak.
Setelah puas mengetes sang siswa, JK pun bersiap mendengar aspirasi sang Yohanes Surya–yang meminta perhatian JK pada anak-anak berprestasi andaikan dia terpilih menjadi the real president.
Dari cuplikan kampanye tadi, yang menarik bagi saya adalah bahwa JK tak percaya begitu saja dengan apa yang dilaporkan oleh Yohanes Surya. Dia melakukan pengecekan secara langsung. Ini mencerminkan bahwa JK adalah calon pemimpin yang mau bekerja, tak hanya manggut-manggut menerima laporan begitu saja–inilah mungkin yang membedakan JK dengan (beberapa) pemimpin sebelumnya.
Dan yang lebih menarik bagi saya adalah, dalam kampanye tersebut, JK bicara tentang matematika. Makanya, dengan rela, saya pun menuliskan cuplikan kampanyenya tadi, dalam bentuk artikel, di blog tercinta ini.
Catatan penting banget: Artikel ini ditulis untuk seseorang yang kupanggil Cinta. Seseorang yang katanya selalu rindu dengan tulisan-tulisan saya. ![]()
=======================================================
Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin
Sampai jumpa di artikel mendatang!
=======================================================
Catatan yang wajib dibaca:
Saya melarang siapapun Anda yang berminat menerbitkan ulang baik sebagian atau seluruhnya dari karya-karya (tulisan-tulisan) saya di blog ini tanpa seijin dari saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih!
18 Comments
June 28, 2009 at 3:29 am
Alasan yang tepat untuk memilih
June 28, 2009 at 12:16 pm
June 28, 2009 at 6:11 am
Huehuehuehuehue….. lah kok…. Yohannes Surya dan anak2 SD Papuanya kok mau aja sih dites sama JK?? Bukannya sebaliknya si JK yang harus dites
dengan soal2 matematikaapakah ia layak jadi presiden atau nggak, agar tidak percaya begitu saja….**itu mah kurang ajar yah namanya** huehuehue….
June 28, 2009 at 12:16 pm
Hue he he…
June 28, 2009 at 8:10 am
Hmm … terlalu ringan aja tu bagi anak-anak binaan Yohanes … artinya, bisa jadi, JK ngak kurang paham tingkat kepemahaman … jangan-jagan kalau jadi presiden UN ‘model kurang rasional’ seperti sekarang tetap dilanjutkannya … UN bukan sebagai educational mapping … tapi ‘penentu’ kelulusan; terpola, terkateria, tai ngak paham kondisi obyektif dan sosiologis …
June 28, 2009 at 12:18 pm
Iya, harusnya JK ngasih pertanyaan yang relatif sulit.
Memang mungkin para pemimpin negeri ini kurang paham kondisi obyektif dan sosiologisnya, makanya UN disalahgunakan.
June 28, 2009 at 12:45 pm
saya pikir isi artikel ini ingin menerjemahkan slogan kampanye “lebih cepat lebih baik” dalam konteks matematika…..artinya berapa kombinasi yg bisa dibuat dari slogan tsb….dalam prakteknya ditambah dengan tema kampanyenya maka paling tidak ada empat kombinasi: “lebih cepat lebih cepat gagal” karena terburu-buru,terlalu bernafsu,dan tanpa telaahan mendalam…..”lebih lambat lebih baik”,karena prinsip kehati-hatian dan telaahan mendalam…..”lambat-lambat asal selamat”…….boleh juga ditambah “cepat-cepat bakal dapat”……
June 29, 2009 at 9:41 am
Wah, iya, Prof, bagus juga tuh kalau dibahas berbagai kemungkinan dari slogan tersebut.
Gemana kalau Prof aja yang ngebahas?
June 28, 2009 at 4:56 pm
Siapapun yang terpilih mudah2an mereka benar2 memikirkan kesejahteraan rakyat.
June 29, 2009 at 9:48 am
Amin.
June 28, 2009 at 7:36 pm
seperti yang saya tulis di catatan FB pak jupri, entah kenapa menjelang pilpres mulut saya kok jadi alergi ya, nyebut2 nama para politisi, hehe … masih belum punya pilihan yang mantab sih soalnya, haks.
June 29, 2009 at 9:49 am
Kenapa alergi, sih, Pak?
June 29, 2009 at 8:16 am
Wah, ni blog udah mulai mihak kepada salah satu (bukan tiga) pasangan capres-cawapres. Nyata-nyatanya Bapak masih golput gak? Masih kan?
@Al Jupri: Utangnya pak…
June 29, 2009 at 9:52 am
He he…
Utang? Kan udah saya bayar, mana kembaliannya? :-p
July 5, 2009 at 6:59 am
Nih buktinya, bapak masih nyisa Rp 931,46
http://mathematicse.wordpress.com/2009/04/29/daur-ulang-soal-soal-matematika/#comment-5238
June 29, 2009 at 2:27 pm
Kenapa bisa berpikir dari 5 x 5 jadi 19 anak itu ya?
July 1, 2009 at 2:54 am
di awal membaca artikel saya malah membayangkan kalau murid SD itu akan bertanya balik kepada pak Capres
“Pak … “ini dikali itu” berapa pak? soalnya kemarin pas ulangan saya salah”
itung-itung ngetes pak capres hihihihhihiii …
July 2, 2009 at 8:17 am
Ada yang kurang.
Saya juga lihat acara itu, dan ada pertanyaan matematika lain yang dilontarkan Pak JK.
“25×25 berapa???”
Tidak hanya sekedar bertanya, tapi penanya juga harus tahu jawabannya.
Perkalian dua digit dengan dua digit ini butuh cotretan (temporary variable) bagi orang awam, tapi sudah menjadi keseharian bagi pedagang.
Misal, kalau sering main angka biner, harus hapal angka-angka dua pangkat x: 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256, 512, 1024, 2048, 4096, 8192, 16384, dst