Oleh Al Jupri
Sebagai guru, seringkali kita merasa kesal dengan siswa-siswi kita yang tidak kunjung mengerti dengan apa yang telah kita jelaskan. Padahal kita sudah dengan segenap kemampuan berusaha menjelaskannya. Apa sebabnya?
Hmmm… barangkali karena kita tidak menyadari bahwa antara kita dan mereka–siswa-siswi kita–memiliki tingkat berpikir yang berbeda.
Mudah-mudahan gambar di atas dengan sendirinya mampu mengungkapkan segenap maksud yang ingin saya sampaikan.
Oiya, boleh kan sekali-kali saya menampilkan artikel super pendek begini?
======================================================
Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini? Semoga artikel ini bermanfaat. Amin.
Sampai jumpa di artikel mendatang!
Catatan Penting:
1. Gambar di artikel ini sudah dimodifikasi sesuai kebutuhan. Gambar aslinya diambil dari sini! Silakan klik gambar di atas biar jelas ngelihatnya!
2. Bagi siapa saja yang mempublikasi ulang artikel-artikel tulisan saya dari blog ini, dengan sangat saya mohon untuk mencantumkan sumber dan nama penulisnya, OK? Bila tidak, saya tidak mengijinkannya! Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih! [Saya sering menemukan banyak orang yang mengcopy-paste artikel-artikel dari blog ini, tapi tidak menuliskan sumber dan nama penulisnya].

12 Comments
November 1, 2008 at 11:21 am
Pertamax ! benar. Saya sendiri saja lebih mengerti saat digambarkan. Daripada harus menyetarakan penyebutnya terlebih dahulu.
November 1, 2008 at 1:30 pm
“Apa sebabnya?”
Saya sendiri sebagai mahasiswa yang rada “telmi” juga kadang bingung dengan penjelasan dosen. Banyak sebab.. Bisa karena pendekatan yang kurang tepat, terlalu cepat, terlalu susah, dsb, etc… hehe
November 2, 2008 at 3:35 am
He he ngak bisa dikategorikan artikel tu Kang; masalahnya apa, penyelesainya apa, dan apa kesimpulannya he he.
November 2, 2008 at 4:23 am
Sering juga perbedaan pola berfikir dapat menimbulkan kesalahfaman juga…..
**sekali2 komen singkat juga ngga apa2 kan?**
November 2, 2008 at 7:26 am
@yariNK:
Sekali2 komen one liner gak papa kan ??
November 5, 2008 at 1:11 am
Itulah sebabnya terkadang dibutuhkan alat peraga untuk berhitung… dengan uang misalnya, akan lebih mudah daripada disuruh menghitung di atas kertas…
November 7, 2008 at 2:07 am
kalo udah mentok, capek juga ..
hafalan nggak bisa diajarkan dengan alat peraga,
apalagi kalo rumus diagonal, malah bukunya full coret2an..
November 8, 2008 at 2:04 pm
Klo saya suka bingung kadang karena bahasa guru saya terlalu sulit dimengerti.. =___=
ato terlalu cepat.. baru 5 menit.. 2 buah papan tulis udah penuh dengan rumus2..
pas mau dicatat malah bingung catat dari mana …wkwk…
November 12, 2008 at 4:27 am
Heuheu.. 25 x 99 =
pzti anak itu brfikirnya 2500-99,
tah leureus pak yari
sok seueur slah faham
tina prbedaan pola brfikir teh..
November 16, 2008 at 6:23 pm
Kang, gimana ngatasin kalo anaknya ga bisa jumlahkan pecahan kaya gini: http://adit38.wordpress.com/2008/11/08/lucu-juga-ya-mahasiswa-matematika/
November 22, 2008 at 6:09 am
Ga ngerti-ngerti itu mungkin disebabkan sang anak tertutup mata hatinya Pak, dan mungkin juga kafir
)
November 26, 2008 at 1:43 pm
Bener pak. Dulu wkt sma ada guru kimia sy yg kalo ngajar neranginnya kaya ama anak sd. Tp akirnya sy tau kalo maksud blio adalah menjangkau pemahaman siswa dr yg plg telmi. Jd pelan2 tp semua siswa bs paham. Karena blio mengajar untuk murid bukan dirinya sdr.