Cerpen oleh Al Jupri
Cerpen berikut merupakan sambungan dari: Romantis dengan Matematika (Part 1).
Serasa tidak percaya. Berulang-ulang 4 sms berantai tersebut dibacanya dengan saksama. Tapi, tetap saja, jelas bahwa sang gadis dengan cukup halus menolak cintanya. Pak Zero hanya bisa tercenung. Diam dalam kediamannya.
Sepi dalam kesendirian. Tak ada kawan dalam deritanya. “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir,” kata Patkai, dalam film Kera Sakti.
***
Di tempat lain. Tom, Jerry, Ana, Alvi, dan Lidya sedang belajar bersama. Mendiskusikan tugas mata kuliah Kapita Selekta Matematika Sekolah. Satu mata kuliah yang membahas topik-topik penting matematika yang diajarkan di sekolah, tetapi dianggap paling bermasalah: baik dalam memahami materinya ataupun dalam penyampaiannya. Mata kuliah ini merupakan salah satu bekal penting bagi mahasiswa-mahasiswi calon guru matematika sekolah.
“Tom, soal yang ini bagaimana cara penyelesaiannya? Itukan di sekolah tidak diajarkan?” Kenapa Pak Zero menugaskan kita mendiskusikan permasalahan ini?” kata Ana sambil menyodorkan kertas berisi soal matematika, seperti berikut.
Tentukan hasil pencerminan titik A (1,2) yang dicerminkan terhadap garis
.
“Iya, sih. Soal tersebut setahu saya memang tidak diajarkan untuk tingkat sekolah. Tapi, konsep dasarnya jelas diajarkan,” kata Tom beralasan.
“Iya, saya tahu. Tapi yang diajarkan di sekolah hanya pencerminan pada garis-garis yang istimewa saja. Semisal terhadap garis ,
atau terhadap sumbu-sumbu koordinat,” kata Ana membenarkan apa yang dikatakan Tom.
“Ya, berarti kalau begitu, soal tadi merupakan tantangan bagi kita untuk memecahkannya,” Jerry ikut terlibat dalam diskusi.
Sementara itu Alvi, walau bersama teman-temannya, hatinya tidak hadir. Pikirannya tidak fokus. Sepertinya ada permasalahan yang mengganjal. Mengaduk-aduk perasaan. Menggelisahkan jiwanya. Tampak dari raut mukanya. Hal ini menimbulkan tanya pada Tom yang sedari tadi memperhatikannya.
Memang hal tersbut tidak biasa terjadi. Biasanya, tiap kali belajar bersama Alvi selalu dominan dengan segudang ide-ide briliannya. Tapi kali ini dia seperti tak terlibat, tak ada ide yang digagasnya. Alvi walau tampak pendiam dia adalah sosok mahasiswi yang mudah bergaul, ramah, cerdas, berbakti pada kedua orang tua, taat beribadah, dan yang pasti dia cantik–baik hati atau tampilan luarnya. Satu kombinasi sifat yang jarang ditemukan pada seorang gadis di jamannya.
Lidya adalah sosok periang yang berani mengemukakan gagasan: ceplas-ceplos, lugas, nyaris tanpa tedeng aling-aling, tetapi tetap menjunjung tinggi sopan-santun.
Kali ini pun Lidya tampak diam. Menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Jerry, sebagai sahabat ngobrol setianya menyapa. Tapi, tidak berhasil.
***
“Tom, saya ingin cerita ke kamu? Mau minta pendapat,” kata Alvi pada Tom, usai belajar bersama.
“Cerita apa?”
Alvi diam.
“Mmm… jangan sekarang ya? Saya ada perlu nih, buru-buru! Gemana kalau besok aja ceritanya? Besok kan kuliah Bahasa Indonesia. Nah, saya akan duduk di barisan belakang, silakan besok kamu cerita. Ok?” begitu kata Tom sambil siap-siap pulang dari kontrakan Alvi, tempat mereka biasa belajar bersama. Ana, Jery, Lidya, dan Tom pun segera pamit, pulang ke kediaman masing-masing.
***
Pak Zero masih saja melamun. Berhari-hari. Memikirkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Antara malu dan sakit: keduanya mengoyak-ngoyak hatinya. Sudah berulang kali 4 sms berantai dari sang gadis dambaan hati dibaca. Tetap, isinya tidak berubah. Cintanya ditolak!
Seminggu berlalu. Kini Pak Zero mulai bangkit, tak ingin meratapi deritanya. Tapi, tetap saja dia masih penasaran dengan sang mahasiswi yang menolaknya. Kembali dia baca dengan cermat tiap kalimat sang gadis dalam 4 sms berantai yang masih tersimpan rapi dalam memori ponselnya.
Ahaaa, dia menemukan secercah harapan! Dalam 4 sms tersebut tertulis:
Saat ini saya masih ingin menjaga hati dalam bentuk dan warna yang sama….
Belum saatnya saya mengiris hati ini, membelahnya untuk orang lain. Hanya waktu yang akan menjawab: kapan dan untuk siapa hati ini saya berikan.
Dua kalimat tersebut, walau bernada menolak, tetapi bila dicermati sebetulnya memberi setitik harapan. Menawarkan tantangan. Demikian yang terpikir oleh Pak Zero.
“Ah, berarti saya masih punya harapan. Masih ada peluang untuk mendapatkan cintanya! Jelas peluangnya tidak nol! Saya harus memperjuangkannya! Ga boleh menyerah!” gumam hati Pak Zero dengan penuh optimis.
Bersambung…
=======================================================
Ya sudah, segitu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan cerpen ini ada manfaatnya. Amin.
Sampai jumpa di artikel berikutnya!
Catatan: Cerpen ini segera ditulis sambungannya setelah banyak permintaan dari para pembaca setia blog ini: baik melalui kolom komentar, email, YM, sms, atau bentuk komunikasi lainnya.
Karena itu cerpen kali ini saya hadiahkan untuk mereka.
32 Comments
October 18, 2008 at 1:16 pm
SMS-nya paradoks ya……. belum saatnya membelah untuk orang lain sekaligus belum menetapkan untuk siapa hati ini diberikan. Hmmm… memang setitik harapan. Kuncinya adalah pada “….membelah untuk orang lain”, tetapi orang itu siapa selain orang lain itu?? Kalau orang itu adalah Pak Zero peluangnya jadi 1 ya. Tetapi kalau orang itu bukan Pak Zero ya berarti Pak Zero mempunyai peluang zero atau zero point zero zero zero zero zero……. one. Huehehehe…..
October 18, 2008 at 2:19 pm
Ini yang saya suka dari blog matematika yang satu ini.. Meskipun situsnya matematika, tapi gaya bahasanya udah seperti Andrea Hirata…
Kapan mo bikin novel Pakk??
October 19, 2008 at 5:43 am
ini cerpen tentang perjalanan cinta seorang matematikawan, cinta mampu melanda siapa saja ga pandang bulu……..sekalipun ama pak zero yang keliatan ne serius gitu………………………………..
kata guru geometri sih,”jangan pandang dalam satu sudut saja, liat dari sudut lainnya, banyak kemungkinan yang didapat dari salah satu sudut tersebut”……………………..
October 19, 2008 at 5:50 am
Cerpennya jadi rame nih. Ada Tom dkk. Btw gadis yang ditaksir Pak Zero itu Alvi atau Lidya nih? kok ga dijelasin
Nunggu sambungannya lagi deh
October 19, 2008 at 7:24 am
matematika dan romantisme, ternyata memiliki korelasi yang cukup signifikans, haks. dosen naksir dama mahasiswinya, tapi kok ada sinyal bertepuk sebelah tangan, yang pasti masih ada lanjutannya, kan, pak. semoga pak dosen ndak sampai kecewa berat.
October 19, 2008 at 12:28 pm
lanjtnnya seru tp bkn penasaran. Mau ampe part berp Pa?..
Kayanya kisah asmara seorang dosen ma mahasiswanya dah biasa dikalangn kampus. Terus berjuang Pa Zero, cinta itu indah,jd harus diperjuangkan. Tp asal tetap berpikir logis dan rasional shg terhndr dri cinta buta he he.
Pa jupri,boleh ga sy minta no hp bp,kali aja bisa seperti cerita pa ZERO he he
October 20, 2008 at 1:09 am
Masih blm pusing. Peluang Pak Zero saat ini tdk nol, masih ada kesempatan tuk berbenah, membangun kepercayaan diri. Saran tuk Pak Zero, jangan menyerah (sekarang), trus berjuang, cari strategi lain, tp jangan pernah gunakan “nilai” mata kuliah sbg strategi.
Mengapa puisi matematikanya ga muncul lagi? episode 3 munculin ya…ditunggu…
October 20, 2008 at 3:49 am
Sama sekali ngga ngerti, but a very interesting story!
Looking forward to read for some more on this mathematical point of view of romance.
October 20, 2008 at 3:54 am
You might be interested to read also about Butir-Butir Cinta: http://www.hitmansystem.com/blog/butir-butir-cinta-81.htm
October 20, 2008 at 6:32 am
@ Yari NK: He he he… benar, Pak. Sekecil apapun, peluang Pak Zero masih ada, belum nol! MAsih ada harapan.
@hendry: Terimakasih apresiasinya. Bikin novel? Mmmm… kita lihat ya nanti…. apakah saya bakal jadi penulis novel atau tidak?
@nurs:
@mezzalena: Selamat menunggu! Yang sabar ya….
@Sawali Tuhusetya: Iya, Pak. Kalau disambung-sambungin, ternyata nyambung.
@Bunga_46: Terimakasih apresiasinya. No HP?
@endsu: He he he… tenang Pak! Insya Allah dilanjutkan dengan kisah yang lebih seru lagi… selamat menunggu.
@hitmansystem: Terimakasih atas informasinya.
October 21, 2008 at 11:56 pm
Wah … kisahnya makin seru aja nih … makin bikin penasaran. Kata dosen statistik sekecil apapun peluang itu, tetap ada harapan … kecuali memang probabilitasnya betul-betul nol atau limit mendekati nol … hehehe
October 22, 2008 at 3:05 am
Matematika cinta, antara peluang dan takdir. Postingan yang mantabz Kang.
October 22, 2008 at 8:38 am
hmm.. bikin penasaran aja nih.
tapi emang kuliah masih dapet pelajaran bahasa indonesia ya?
he.he..
jadi hasil pencerminan titik A apa??
October 22, 2008 at 10:01 am
Hehehe… banyak request dari penggemar ya? Yang jelas karakter Pak Zero ini… hmmm seperti….
October 22, 2008 at 10:26 am
Hmmm… Akan adakah kelanjutan dari kisah ini?
October 22, 2008 at 11:56 am
lam kenal mau ikut nimbrung belajar matematika
October 23, 2008 at 12:15 pm
lucu banged neee……..P:
October 23, 2008 at 1:57 pm
@ Oemar Bakri: Iya, Pak Seuju! Selama masih ada peluang, maju terus…
@adikhresna: Terimakasih!
@wahyu: Iya, ada kuliah bahasa Indonesia 2 sks.
@Yoga: seperti siapa?
@Alias: Ada!
@fefen dwi ardianto: salam kenal juga, silakan dengan senang hati!
@Muth: terimakasih!
October 24, 2008 at 12:22 am
He kumaha budak bandung?
Inget teu ka bapak nu nganterkeun ka Iran?
Ditunggu nya e-mailna ka abdi.
Malang
_________
Al Jupri: Ini dengan Pak Toto yaaaaaaaaaaaaaaaa…? Apa kbr Pak? Waaaaaaaaaah udah lama kita ga jumpa: 5 tahun yang lalu. Ok deh tunggu bentar sy kirim deh email ke bapak…
October 24, 2008 at 12:35 am
Cerita dinikmati … muatan matematikan dikulun-kulun aja he he
_____
Al Jupri: Terimakasih, Pak! Selamat menikmati…
October 24, 2008 at 2:03 pm
wah, telat baca nih kayaknya..
msh bikin pnasaran..sbnrnya siapa seeh yg ditaksir mr zero?Alvi ato Lidya?ato ini cerpen ttg cinta segitiga yak..
“mll 3 titik berbeda cintaku tergambar
terjebak di dalam bidang
tersungkur di 3 sudut
sementara 2 sudut itu…”
Sejak dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir..
Aku tunggu deh sambungannya
October 25, 2008 at 2:12 am
Pak lanjutan ceritanya kapan neh?
October 26, 2008 at 1:36 pm
ugh…, Asyik kang… dilanjut atuh…
Ini kayaknya pengalaman pribadi khan ?
he he
October 29, 2008 at 11:20 am
Cerpennya cukup membuat fresh…

, tapi karena radha2 nyerempet kisah pribadi, spt novelnya Andrea, maka cerpennya menjadi menarik.
setelah jutek menulis thesis.
Saya sudah bertahun-tahun tidak baca cerpen apalagi cerbung, sebab kadang2 ceritanya terlalu tidak membumi
Walaupun dari pengakuannya beberapa scene dimanipulasi-namanya juga cerita…! kalau asli banget namanya kesaksian di pengadilan
Btw, bag. 1 lebih menarik drpd bag.2 …just opini subyektif, jngn dianggep
selamat berkarya !
November 1, 2008 at 3:47 am
Kang Jupri, kok belum dilanjutin lagi sich kang ?
udah berkali-kali nih saya bolak-balik ke mathematicse demi menunggu kelanjutan ceritanya.
November 3, 2008 at 7:48 am
ditunggu kelanjutannya pak sebagai pencerahan rasa suntuk setelah bergerumul dengan thesis..
November 15, 2008 at 2:14 pm
Klo q mah pilih lidya aja,hehe..
Pendiam ama bawel kan bisa jd cair,huhu..
Ga nyambung ya..
November 20, 2008 at 2:41 am
Aduh bang Jupri…cerpen abang bikin saya ngebuka kenangan lama.
sama-sama ditolak he he he
Terima kasih ya Bang
November 26, 2008 at 1:47 pm
*taksabarmenantikelanjutanceritanya*
December 16, 2008 at 2:32 pm
trusss…..???
December 28, 2008 at 12:34 am
Kapan kisah ini berlanjut?
December 28, 2008 at 4:55 am
@Uuntuk semuanya: makasih atas komennya.
Bagi yg minta lanjutannya, sabar yaaa…