Oleh Al Jupri
Siang itu suasana ruang seminar yang semula gaduh–campuran suara-suara orang ngobrol, para pembicara yang asyik berceramah, ponsel yang bergetar dan berdering, atau suara-suara gaduh lain–tiba-tiba hening setelah terdengar moderator acara mengumumkan bahwa pembicara berikutnya adalah salah seorang presenter terkenal Indonesia, Helmi Yahya. Ya, Helmi Yahya si “raja” kuis dan reality show yang juga sebagai calon wakil gubernur Sumatera Selatan, tahun 2008, waktu itu. Saat itu dia menjadi salah seorang pembicara dalam Konferensi Nasional Matematika (KNM) di Palembang, 24-26 Juli 2008 lalu.
Diundangnya Helmi Yahya dalam acara tersebut, menurut moderator acara, selain karena beliau adalah salah seorang putra daerah kebanggaan Sumatera Selatan juga karena semasa sekolah dia sangat pandai dan berhasil dalam belajar matematika serta prestasi akademisnya secara keseluruhan selalu menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Dalam ceramahnya yang menarik, Helmi Yahya membeberkan secara blak-blakkan mengapa kebanyakan orang-orang pintar–orang-orang yang pandai semasa sekolah, pandai secara akademis–kurang berhasil dalam kehidupan, kurang berhasil dalam meraih sukses hidup, khususnya dalam dunia bisnis. Menurutnya, ada beberapa sebab, tiga di antaranya seperti berikut ini.
Sebab yang pertama: orang pintar cenderung tidak percaya pada orang lain. Karenanya, kebanyakan orang pintar sulit jadi pemimpin karena tak berani memberi kepercayaan pada orang lain. Padahal untuk sukses dalam hidup, untuk berhasil dalam bisnis misalnya, kita butuh bantuan orang lain. Kita tidak bisa mengerjakan segala sesuatu secara individual, dengan sendiri saja.
Sebab yang kedua: orang pintar cenderung sombong. Ya, biasanya karena merasa lebih bisa dalam belajar, lebih mampu memahami pelajaran, sifat sombong itu hinggap lekat-lekat pada orang-orang pintar. Mereka merasa lebih baik, merasa lebih mampu ketimbang orang-orang di sekitarnya. Padahal sifat merasa lebih bisa atau bahkan sok bisa ini tidak disukai oleh semua orang. Pendeknya sifat sombong itu tak disukai oleh orang yang tidak sombong, bahkan orang-orang sombong sekalipun tidak menyukai orang yang sombong. Tak heran bila orang sombong itu tidak berhasil dalam hidupnya, tak sukses dalam berbisnis misalnya.
Dan sebab ketiga, masih menurut Helmi Yahya, bahwa orang pintar itu terlalu lama berpikir, terlalu lama membuat “perhitungan”. Akibatnya dalam hidup, khususnya dalam berbisnis, mereka tak berani ambil resiko. Mereka lebih nyaman ada dalam zona aman. Padahal salah satu cara untuk maju, dalam berbisnis misalnya, adalah dengan berani mengambil resiko: makin tinggi resiko, makin besar rizki yang akan diperoleh, begitu katanya.
Sungguh beruntung bagi kita yang tidak memiliki ketiga sifat yang dikemukakan oleh Helmi Yahya tadi. Itu tandanya kita tidak termasuk orang-orang pintar.
Dan sungguh pula sangat beruntung bagi kita yang termasuk orang-orang pintar tetapi ketiga sifat tadi tidak tercermin dalam prilaku keseharian kita.
Karena itu apapun keadaan yang melekat pada diri kita–baik termasuk orang pintar (yang tidak mempunyai sifat-sifat tadi) atau pun bukan–kita wajib selalu mensyukurinya. Setuju?
Nah, sekarang pertanyaannya, apa pelajaran yang dapat kita petik dari uraian tadi? Silakan kemukakan pendapat Anda di kolom komentar! Okey?
=======================================================
Ya sudah, segitu saja ya perjumpaan singkat kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin. Semoga kita berhasil dalam hidup–baik di dunia ini atau di akhirat kelak.
Sampai jumpa di artikel mendatang!
Catatan:
*Yang dimaksud dengan orang-orang pintar di artikel ini tidak mencakup: dukun, paranormal, magician, mentalist, tukang santet, atau profesi lain yang terkait dengan hal-hal yang berbau mistik alias kegaiban.
** Artikel ini ditulis atas permintaan seorang teman, yang meminta saya untuk menulis hal-hal yang katanya tidak boleh terkait dengan matematika. Dan saya sudah berusaha, walau ada sangat sedikit uraian dalam artikel ini yang terkait dengan matematika. Karena itu saya mohon maaf sebab tak dapat memenuhi permintaannya secara utuh. Maaf ya?
31 Comments
September 14, 2008 at 1:25 am
wiuuh bener banget…pak di tempat saya ada orang yang pintar dalam pengoperasian kerja komputer tapi, aduh …gayanya yang angkuh , kadang bikin takut, kalo g kepepet buanget…seperti nya g usah,,, minta tolong…cuma kalo orang pintar sombong mungkin wajar, karena ada yang disombongkan (mungkin,???.. meski dalam hal ini, kita ga diperbolehkan memiliki rasa sombong meski seberat biji dzahroh)
September 15, 2008 at 1:19 am
Waduh, requestnya beneran dikabulkan. Nggak nyangka nih… Thanks Mas Al. Sekali-sekali menulis diluar konteks matematika nggak pa-pa kan? Syukur-syukur keterusan, tapi nanti para penggemar matematika bisa sebal sama penghasut yang satu ini
Saya nggak sepenuhnya sependapat dengan isi pemikiran Helmy Yahya, khususnya bagian yang ketiga. Bagi saya dalam berbisnis tetap dibutuhkan seseorang yang pandai (berpengetahuan), cerdas dan cerdik, walaupun dalam aplikasinya dikenali ada tiga sifat pebisnis, yaitu mereka yang low risk (konvensional), moderate, dan high risk.
September 15, 2008 at 3:38 am
Menurut saya orang yang pintar adalah bukan orang yang merasa pintar, tetapi adalah orang yang terus merasa bodoh sehingga ia mau terus menerus belajar, tetapi bukanlah orang yang merasa bodoh tapi putus asa dalam kebodohannya…. huehehe….
Yang jelas orang pintar juga harus dapat melihat kapan dia harus bekerja sendiri dan kapan pula ia harus
memanfaatkanbekerjasama dengan orang lain. Tanpa itu, ya belum bisa disebut pintar dong!September 15, 2008 at 3:54 am
O iya… kesoktahuan Helmy Yahya pernah terjadi ketika dia mencoba melantunkan lagunya Nena yang judulnya ‘99 red balloons’. Ketika itu ia mencoba untuk melantunkan lagu tersebut dalam versi aslinya yang berbahasa Jerman di acara Kuis siapa berani. (Kang Jupri pasti kemungkinan besar nggak tahu lagunya hehehe….
)
Nah…. di situ dia menyanyikannya “neunty-neun luftballon…….”. Padahal seharusnya “neunundneunzig luftballon………”. Mana ada neunty-neun = 99 dalam Bahasa Jerman. Mbok ya kalau nggak tahu diem aja…..!! Huehehe….. Kesalahan kecil tapi cukup memilukan…..
September 15, 2008 at 3:57 am
Weekz…. puasa2 ngomongin orang…. nggak baik euy…. wakakakakak…. sorry deh…. astaghfirullahaladzim….. Sekalian hetrik!
September 16, 2008 at 4:24 am
sayah mah ngak pinter tapi gagal terusssss
salam
September 17, 2008 at 8:11 am
bagus!bagus!setuju banget tuch.Bang Al!Kapan dongks ke maen lagi ke UPI?Nak matematiklagi pad sibuk bikin soal bwt GMM.PAda pengen ditengokin??He..he..
September 17, 2008 at 4:50 pm
waduh, kalau begitu, ndak baik jadi orang pinter, ya, pak, hehehehe
mungkin apa yang disampaikan helmy yahya itu utk memberikan motivasi kepada mereka yang kebetulan punya kapasitas otak pas2an agar mereka ndak gampang putus asa dan terus2an menyesali diri.
September 17, 2008 at 4:57 pm
Ya, pertanyaannya susah saya jawab Kang Jupri kalau disain blog ini dalam rajutan matematika, saya kan ngak paham rumus-rumusnya he he. Kalau secara logika, itu betul, tetapi belum tentu benar. Ah ngak jadi ngebahasnya, soalnya matematikanya masih belajar. Salam ramadhan.
September 18, 2008 at 3:32 pm
Kalau menurutku pinter itu karunia. Hanya saja tempat dimana ilmu itu bersarang, kadang tidak tepat. Jadilah pribadinya yang disebut dimuka.
Pengalaman, waktu saya masih mahasiswa awal di UIN, ada mahasiswa S3 lewat di depan saya, begitu sopan, bicaranya santun padahal dia tahu saya masih bau kencur… Jadi pintar ternyata harus disikapi dengan kepintaran, jika disikapi dengan bodoh, ya mungkin sama dengna (+) x (-) = (-) gitu tah kang Jupri.
Aduh kepanjangan.. kangen soalnya lama tak main kemari… selamat puasa kang, gimana study dah selesai belum. Lebaran mudik ke Banten tidak?
September 18, 2008 at 3:34 pm
Ohya maaf kang AL Jupri nitip pesan buat kang Sawali, selalu saja kalau saya klik Pak Guru Sawali, gagal maning – gagal maning… page not available…
September 20, 2008 at 8:32 pm
Masih tentang kegagalan orang pinter nich ye
September 21, 2008 at 10:14 pm
hai jup,gmn kabrnya.baik2 aja kan!.gmn studynya dah selesai blm. Ga nyangka kmu dah pandai nulis skr. Sy ska bca artikel2 kamu.sy rasa itu byk skali manfaatnya terutma bgi sy yg mengajr mtk.
September 21, 2008 at 10:22 pm
eh lupa blm ngash komentarnya*mnrt sy ada benarnya jga yg dikatakan “helmi” diatas. Kenytnnya d lingkungn sepert itu,org yg merasa dirinya pintar enggan menrma kritik dan saran dr yg lain,shg susah untk dia maju!.
September 22, 2008 at 4:58 pm
Orang pintar yg kurang berhasil dalam hidupnya, apa msh bs disebut pintar… semoga sj kita termasuk golongan orang pintar yg ga pny ke3 sifat di atas ya, hehe… Btw, blognya bagus, aku link ya Pak..trims..
September 22, 2008 at 10:36 pm
Pada semua komentator blog ini saya ucapkan terimakasih. Mohon maaf saya tak sempat melayani tiap komentar yang masuk. Insya Allah lain kali, bila mungkin, akan saya komentari.
Maaf yaaaaaaa…….
September 23, 2008 at 8:52 am
ass A’ Aljupri..
nama saya Isnaini Mahuda, saya alumni SMAN 1 Anyer, satu angkatan dengan adik Aa, Hafidulloh. Sekarang saya sudah menjadi mahasiswa UPI jurusan P.Mtk 2008. saya masuk lewat jalur PMDK.
Saya banyak mendengar cerita tentang Aa dari guru-guru di SMA dan juga dosen-dosen di UPI.
Aa benar-benar orang yang hebat ya..
Seandainya saya bisa seperti Aa yang bisa membuat suatu Catatan prestasi yang bisa dibanggakan oleh semua orang…
Saya mo minta tips-tips dari Aa, supaya suatu saat saya bisa hebat seperti Aa..
oya, satu lagi A, menurut Aa karakteristik untuk menjadi guru matematika yang baik itu apa aja? mohon di jawab segera ya A,.. Soalnya saya ada tugas membuat artikel tentang “menjadi guru matematika yang baik”… terima kasih sebelumnya ya A.. Ni no.kontak saya 085281555332.
_______________
Al Jupri: Wa’alaikum salam. Salam kenal ya… Nih, artikel yang mudah-mudahan membantu: Menjadi Guru Matematika Impian. Klik aja, and baca sendiri ya. Oh, iya. Nih juga artikel yang terkait. Memperbaiki Citra Buruk Guru Matematika. Klik lagi aja ya.
Ya udah segitu dulu. Selamat belajar.
September 23, 2008 at 5:17 pm
maaf ni jup,hanya lewat ni sy bsa mengatkn sesuatu m kmu sjk 2 thn kmrn.sy cma mau blg “sy minta maaf atas smua perlakuan sy ma kmu baik yg dsengaja atau ga(kmu past ngert apa yg sy mksd),sy slalu berdoa smg kmu selalu sukses dan dberi kebahagian slalu”.lega rasanya hati ini bsa mengutarakn itu…kalo kmu mau mau bls berart kmu maafn sy.thank.
September 23, 2008 at 5:20 pm
maaf ni jup,hanya lewat ni sy bsa mengatkn sesuatu m kmu sjk 2 thn kmrn.sy cma mau blg “sy minta maaf atas smua perlakuan sy ma kmu baik yg dsengaja atau ga(kmu past ngert apa yg sy mksd),sy slalu berdoa smg kmu selalu sukses dan dberi kebahagian slalu”.sy slalu merasa bersalah,lega rasanya hati ini bsa mengutarakn itu…kalo kmu mau mau bls berart kmu maafn sy,walaupn cma sepath kata.thank. Salam dri teman2″Ikay,wida,inay,windi,…”
________
Al Jupri: Oiya, salam lagi ya ke teman-teman. Iya ga apa-apa, sudah saya maafkan. Terimakasih atas do’anya.
September 24, 2008 at 5:33 am
wew… memang harusnya pinter itu nggak sesempit dpt juara dikelas, ranking I, dpt apa-apa …
tapi justru orang-orang yg pinter itu yg bisa memanfaatkan peluang, berani mengambil resiko, pintar memanage….
September 24, 2008 at 3:39 pm
Halo kang, lama tak berkunjung. Nah, jadi orang sukses tidak harus pandai secara akademis khan ?, karena beban pendidikan di Indonesia terlalu berat…
Kalaupun ada tinggi IQ eh EQ nya kurang, atau sebaliknya. Yg ideal sich IQ Tinggi EQ juga tinggi.
September 29, 2008 at 3:11 pm
Seorang guru mtk memberi soal kepada murid2nya…soal itu mudah bagi anak yg pintar..tapi terlalu sulit bagi yg blm cukup pintar…
Saya, sayalah slh seorang yg blm mampu mengerjakan soal itu…(dulu)…
Betapa….oh betapa…mengapa…oh mengapa kalian tidak mengajariku lebih awal tidak hingga aku belajar sendiri…teganya….
October 8, 2008 at 2:10 am
hayoooo…berarti kita ora papa melu organisasi kampus(UKM)>1.
Tapi embuh,ding! kitamah ora terlalu berambisi. Tapi kayaknya asyik kalo ikutan UKM semacan UKDM,KOPMA,UPTQ,dll.
Eh,artikele olih gawe dewek,kang?Bagus,euy!
Eh, weruh ora, ada beberapa hal yang saya rasakan yang termaktub dalam artikel itu (Especially @ 3rd cause)
Hiiiiiiiiiii
_________
Al Jupri: Buktikan dulu bisa dapat IP > 3,75 baru boleh ikutan organisasi kampus yang bener. Ok? Kalau belum mampu ngerjain yang ‘wajib’, ngapain ngerjain yang ’sunah’?
Iya, kabeh geh artikel sing nana ning kene olih gawe kakang, olih ngarang dewek. Bukan copy-paste, original…
October 15, 2008 at 4:07 pm
Wah… sebenarnya tidak ada orang bodoh….
Karena kepintaran itu banyak sisinya….
Ada kepintaran memasak, kepintaran menyanyi, kepintaran bahasa/linguistik dan sebagainya…
Kalau ada istilah kepintaran emodional, tentu ada juga kebodohan emosional…
Nah yang anda tuliskan itu bukan ciri-ciri orang pintar…, tapi ciri-ciri “kebodohan emosional”…
Salam.
Ps. Tidak perlu ganti judul kok…
Thanks ya sering berkunjung dan berkomentar di blog imankristen.wordpress saya. Sudah dipelajari belum isi tulisan di blog saya?
_______
Al Jupri: Terimakasih atas kunjungannya….
October 26, 2008 at 4:38 pm
memang sih kalau seseorang sudah merasa pintar dan lebih secara akademis maka org tsb cenderung sombong dan tidak percaya dengan orang lain.lha gimana mau percaya klo dy ngerasa orang2 sekeliling nya kurang hebat dibanding dirinya.
posting kali ini benar2 sangat membangun, saya jadi sadar kalau kadang2 juga saya punya sikap seperti nomor 1 dan 2 walaupun saya gak pintar2 amat,hehe
November 11, 2008 at 1:23 am
Membahas tentang bodoh, saya ingat ada cerita bagus Pendekar Bodoh karangan Kho Ping Ho. Dan mengenai sombong ada cerita iblis yang di usir dari surga & jadi makhluk terkutuk & buruk rupa karena kesombongannya di Al Quran.
November 21, 2008 at 2:42 am
terim ksih, dan cukup bermanfaat bagi pembaca. Memang yang mampu menanggung resiko yang besar pasti hasil yang didapatkan biasanya besar juga, sama dengan ilmu hukum kekekalan alam. Tapi masalahnya tidak semua orang berani berinvestasi besar dengan resiko besar dan hasilnya belum pasti di tambah bila berakibat stres dan depresi,….intinya berani tapi dengan perhitungan yang matang. K lo belum berhasil selalu harus coba dan coba lagi,….
tx.
HP
November 22, 2008 at 6:19 am
duh… baru sadar, saya sombong dan sulit percaya orang lain, padahal tidak pintar….
mengerikan…
*mulai membelah cermin*
December 21, 2008 at 6:24 pm
Jmad
December 21, 2008 at 6:27 pm
Ifado.com
January 31, 2009 at 2:04 pm
ass.wr.wb
salam hangat tuk kang jupri, wah saya telat bgt ya. baru tau nih alumni sma 1 anyer ada yg hebat kaya kang jupri. padahal saya adik kelas kang jupri waktu sma.emang waktu sma kang jupri jempol bgt euy, dua jempol tuk kang jupri. dulu tuh kang jupri waktu istirahat bukannya ke kantin malah ke perpus, kalo datang tiap pagi posisinya ke-2 setelah kepsek. terus rajin mangkal di masjid lagi. oh iya kang jupri skrg tinggal dmana? udah berkeluarga ya? salam tuk alumni sma 1 anyer th.2001 wassalam.