Oleh Al Jupri
Pengumuman: Artikel kali ini bisa disebut sebagai sambungan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Sifat Komutatif”. Tapi untuk membacanya, sebetulnya, tidak begitu perlu membaca artikel sebelumnya itu. Namun kalau Anda ingin tahu, silakan klik saja yang ini ya jangan malu-malu. Okey?
Selamat membaca!
***
“Begini, Pak. Dalam kesempatan yang langka ini, saya ingin bertanya pada bapak apa bedanya dan
. Saya bertanya begitu, karena berdasarkan pengalaman mengajar bertahun-tahun, saya sering kesulitan menjelaskan perbedaan keduanya, khususnya bila dikaitkan dengan masalah sehari-hari. Masalah sehari-hari yang saya maksudkan begini: seringkali kita dapat resep obat dari dokter bertuliskan
, nah kenapa dokter menulis begini? Kenapa bukan
? Apa beda keduanya bila dikaitkan dengan konteks sehari-hari tersebut, bukankah dalam matematika keduanya mempunyai hasil yang sama?” begitulah, kira-kira, serangkaian pertanyaan seorang guru matematika pada seorang pembicara dalam acara Konferensi Nasional Matematika (KNM), yang berlangsung 24-26 Juli 2008 yang lalu di Palembang, Sumatera Selatan.
Setelah pertanyaan tersebut ditampung oleh moderator acara, dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta KNM lainnya. Sedangkan saya–dan juga banyak hadirin lain tampaknya–sambil sedikit ngobrol dan diskusi (seketemunya) dengan teman-teman duduk sebelah tetap memperhatikan jalannya acara sebisanya.
(Sebetulnya ini merupakan kebiasaan buruk yang tidak layak untuk diteladani).
Sementara selain sedikit ngobrol dengan teman-teman dan juga menunggu sang pembicara menjawab serangkaian pertanyaan tadi, saya berpikir mencari jawab sendiri atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan pengetahuan matematika yang saya ketahui.
Berdasarkan konsep matematika berarti
, atau ditulis
. Sehingga bila dikaitkan dengan resep obat yang sering ditulis oleh dokter–biasanya tertulis
sehari– ini berarti obat harus diminum sebanyak 3 tablet–atau sendok atau lainnya–masing-masing 1 kali.
Sedangkan berarti
saja, atau ditulis
. Sehingga bila dokter menulis resep obat
sehari, misalnya, maka obat tersebut harus diminum sebanyak 3 tablet (atau sendok atau lainnya) sekaligus, dalam sekali minum.
Jadi, walaupun hasil dari dan
sama, tetapi secara konseptual berbeda. Begitupun dalam penerapan sehari-harinya, bisa jadi berbeda, seperti yang sudah saya utarakan barusan.
***
Setelah pertanyaan-pertanyaan ditampung, kini giliran sang pembicara menjawab serangkaian pertanyaan tadi.
“Bapak-ibu dan para hadirin sekalian, untuk pertanyaan yang pertama. Tentang dan
, saya pikir begini perbedaannya, “ begitu kata sang pembicara, sambil sedikit terdiam, berpikir mencari kata-kata yang pas untuk menjawabnya, sepertinya.
“Secara perhitungan matematis, dan
adalah sama hasilnya. Itu dalam matematika bapak-ibu…” lanjut sang pembicara dengan cepat dan penuh semangat berapi-api, dengan logat Sumatera Utara yang cukup kental.
“Nah…,” sengaja terdiam, untuk menarik perhatian hadirin rupanya.
“Nah, terkait dengan resep obat dari dokter, apa perbedaan antara dan
? Secara matematis, keduanya mempunyai hasil sama. Yang kita garis bawahi, bapak-ibu, adalah hasil. Ingat hasil!” masih dengan penuh semangat yang nyaris tiada banding.
“Begitupula, bapak-ibu, dalam penerapannya, yang kita perhatikan juga hasilnya. Ingat hasilnya! Kalau dokter memberi resep obat lalu kita patuhi, maka hasilnya–biasanya– adalah kita akan sembuh dari sakit yang kita derita. Tetapi, bila kita tidak mematuhinya, misalnya kita balik resep tersebut menjadi
, maka apa hasilnya bapak-ibu sekalian?”
“Overdosis!”
Hua ha ha ha ha ha ha ha ha… serentak hampir semua yang hadir, di situ, tertawa terbahak-bahak. Tidak ketinggalan saya pun ikut tertawa.
=======================================================
Ya sudah segitu saja ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin ya rabbal’ alamin.
Sampai jumpa di artikel mendatang. :-h
Tak lupa, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1429 Hijriah, bagi Anda ummat Islam di seluruh dunia, khususnya para pembaca blog ini. Semoga ibadah puasa kita mendapat ridho-Nya, ridho Allah swt. Amin.
**Duh, untuk yang kedua kalinya, puasa kali inipun jauh dari negeri tercinta, jauh dari orang-orang yang saya cinta dan mencintai saya (orang tua, adik-adik, kakak, dan saudara-saudara lainnya). **
19 Comments
September 3, 2008 at 1:01 am
Saya pikir kalau guru matematika se Indonesia ketemu yang terjadi adalah diskusi yang sangat serius, ternyata …
September 3, 2008 at 1:57 am
Kayaknya kalau 3 x 1 berarti tiga kali satu tablet kalau 1 x 3 berarti satu kali tiga tablet. Sebab kalau nggak salah efek dari pemberian obat 1 x 3 berbeda dengan 3 x 1, walaupun secara matematis tetap aja sama satu hari yang ditelan 3 tablet juga. Huehehe….
Kira2 hampir sama nggak ya, dengan 3a (misalnya) dalam matematika, kenapa nggak a3? Kan sama aja sebenarnya… huehehe…….
September 3, 2008 at 5:00 am
whew… Betul tuh..
Adik membeli 5 permen.. Masing2 permen harganya Rp100,00..
Jadi, mestinya tuh begini: 5 x 100.. Bukan 100 x 5.. Coz, konstanta selalu di depan, sedangkan bilangan yang mempunyai satuan selalu diletakkan dii belakang..
Seandainya nulisnya 100 x 5, hasilnya 500 permen donkx..
)
=.=”.. pembicaraan yang uanehh..
September 3, 2008 at 8:37 am
seeep seep, seharusnya mengajarkan sesuatu memang secara konseptual seperti ini
andai guru saya dulu seperti anda …[apa bedanya wong suka bolos]
September 4, 2008 at 3:32 pm
wah, sudah lama sekali saya ndak berkunjung ke sini. mohon maaf lahir dan batin, pak jupri. ini sudah hampir memasuki puasa hari ke-5. semoga ramadhan tahun ini membawa banyak hikmah dan berkah, pak, amiin.
September 5, 2008 at 3:51 am
Jadi perbedaannya adalah pada konsep cara pencarian hasilnya, bukan pada hasil yang dihasilkannya… begitukah?
*garuk-garuk kepala*
September 5, 2008 at 4:34 pm
nice ^^ keren juga tuh
September 5, 2008 at 11:12 pm
Hallo pak Jupri,
Salam kenal…
)
Saya liat web anda lewat google, trus search ’soal cerita matematika SD’. Menarik sekali pak
Saya lagi ngelatih anak untuk solving math story in his school pak.
Apakah bapak punya contoh cerita – cerita untuk anak SD?
Terima kasih atas perhatiannya.
Regards,
Rino
____________
Al Jupri: Saya sudah menulis beberapa cerita semacam itu. Silakan klik yang ini, di halaman Lumbung di blog ini, silakan cari-cari sendiri ceritanya. Atau langsung ke Lumbung. Salam juga.
September 6, 2008 at 8:30 am
sip. pengalaman yg bagus.
di sinilah letak pentingnya pemodelan matematika.
terimakasih.
September 7, 2008 at 7:49 am
wah baru tau ada blog keren semacam begini…salam hangat mas
September 7, 2008 at 4:33 pm
isn’t it obvious? :-/
September 8, 2008 at 2:07 am
mungkin pak Al jupri bisa menanyakan masalaha saya berikut : apa bedanya antara seribu 3 dengan 3 seribu ?
September 8, 2008 at 7:59 am
tukeran link mas…
http://rasyid14.wordpress.com
September 8, 2008 at 8:00 am
maklum baru belajar bikin blog
September 8, 2008 at 8:03 am
yg diatas itu blog bersama dari kelas kami…
ini blog saya mas,,,
kita saling tuker pendapat ya
September 8, 2008 at 4:08 pm
Walah waah pemaran bermuatan joke dalam kebenaran logika, kali. Kog bisa-bisa merajut perumpmaan begitu bagus dan nyaman dinikmati. Selamat berpuasa di rantau. Salam.
September 10, 2008 at 1:51 pm
selamat berpuasa, semoga barokah…
September 26, 2008 at 12:53 pm
a. 3 x 1 sehari…porsi hemat….
b. 1 x 3 sehari…porsi boros…
heheheheheeeee…..
hasil a…hemat waktu ajal…
hasil b…boros waktu ajal…
heheheheheheheeeee…..
November 8, 2008 at 2:01 pm
hahahhaa…’overdosis’… XD