<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Haruskah Ilmuwan Indonesia Sok Tahu  Segala Hal?</title>
	<atom:link href="http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/</link>
	<description>Mathematics for All</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Nov 2009 13:13:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Fuad</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-5469</link>
		<dc:creator>Fuad</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 15:32:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-5469</guid>
		<description>Jwablah sesuai dengan kemampuanmu !
Jgn memksakn !
Sebisa,n sekuat mgkin d jwb !
Tp? Jgn d pksakn !
Xey cuy !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jwablah sesuai dengan kemampuanmu !<br />
Jgn memksakn !<br />
Sebisa,n sekuat mgkin d jwb !<br />
Tp? Jgn d pksakn !<br />
Xey cuy !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3899</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 07:01:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3899</guid>
		<description>Ilmuwan sebaiknya (harus) tahu segala secara umum (untuk mengetahui prinsip umum) namun ahli hal tertentu (untuk mengerti ketentuan khusus)  (QZ)
 (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
(Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).  

KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of  Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana. 

Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008  di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris). 

Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4),  menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya. 

KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?  

Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru. 

Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya). 

Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner,  terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive   terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat  sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak  ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap  masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi.  Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi?  (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.  

KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmuwan sebaiknya (harus) tahu segala secara umum (untuk mengetahui prinsip umum) namun ahli hal tertentu (untuk mengerti ketentuan khusus)  (QZ)<br />
 (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)</p>
<p>Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III<br />
(Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).  </p>
<p>KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of  Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana. </p>
<p>Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008  di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris). </p>
<p>Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?</p>
<p>PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).</p>
<p>Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.</p>
<p>Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4),  menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya. </p>
<p>KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).</p>
<p>Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?  </p>
<p>Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru. </p>
<p>Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya). </p>
<p>Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner,  terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive   terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat  sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.</p>
<p>MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak  ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).</p>
<p>Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap  masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi.  Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi?  (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).</p>
<p>Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.  </p>
<p>KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: deean</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3703</link>
		<dc:creator>deean</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 06:52:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3703</guid>
		<description>Assalaamu alaikum... Kang Jupri.
  Saya jadi inget sama Pakde saya. Mentang-mentang saya otaknya lumayan encer (narsis dikit gpp kan?he he) dan dianggap pandai, maka saya harus bisa segala hal. Bisa menyelesaikan soal matematika, bisa mencangkul di sawah, bisa nebang pohon, bisa adzan di musholla, bisa diba&#039;an, bisa qiro&#039;ah dan sebagainya-dan sebagainya. Padahal gak mungkin saya melakukan semua itu. 
      Orang itu pasti punya yan namanya spesialisasi, nggak ada orang yang bisa segala hal. Dan dari sinilah konsep bahwa tidak ada orang bodoh itu berasal. Bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, semua pasti punya kepandaian dalam suatu hal. Cuma mungkin aja dia belum menemukan dimana kepandaiannya itu.
       Mempelajari segala hal itu baik, karena wawasan kita jadi luas, bermanfaat bagi orang lain dan tentunya menambah kebijaksanaan kita. Yang tidak baik kan, merasa tahu dan ahli segala hal. Orang pintar itu baik, tapi merasa pintar??sugguh akan melahirkan kesesatan umat.  Tapi itulah penyakit hati manusia, selalu ingin dipandang lebih oleh yang lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu alaikum&#8230; Kang Jupri.<br />
  Saya jadi inget sama Pakde saya. Mentang-mentang saya otaknya lumayan encer (narsis dikit gpp kan?he he) dan dianggap pandai, maka saya harus bisa segala hal. Bisa menyelesaikan soal matematika, bisa mencangkul di sawah, bisa nebang pohon, bisa adzan di musholla, bisa diba&#8217;an, bisa qiro&#8217;ah dan sebagainya-dan sebagainya. Padahal gak mungkin saya melakukan semua itu.<br />
      Orang itu pasti punya yan namanya spesialisasi, nggak ada orang yang bisa segala hal. Dan dari sinilah konsep bahwa tidak ada orang bodoh itu berasal. Bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, semua pasti punya kepandaian dalam suatu hal. Cuma mungkin aja dia belum menemukan dimana kepandaiannya itu.<br />
       Mempelajari segala hal itu baik, karena wawasan kita jadi luas, bermanfaat bagi orang lain dan tentunya menambah kebijaksanaan kita. Yang tidak baik kan, merasa tahu dan ahli segala hal. Orang pintar itu baik, tapi merasa pintar??sugguh akan melahirkan kesesatan umat.  Tapi itulah penyakit hati manusia, selalu ingin dipandang lebih oleh yang lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adikhresna</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3673</link>
		<dc:creator>adikhresna</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 09:53:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3673</guid>
		<description>Kejujuran itu segalanya. Nggak di londo, nggak di mana; kalo nggak tahu, ya bilang aja nggak tahu. Islam kan sudah mengajarkan begitu, tul kan mas?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kejujuran itu segalanya. Nggak di londo, nggak di mana; kalo nggak tahu, ya bilang aja nggak tahu. Islam kan sudah mengajarkan begitu, tul kan mas?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Citra Dewi</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3671</link>
		<dc:creator>Citra Dewi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 08:52:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3671</guid>
		<description>Hallo Kang Jupri,
Ade dimana sekarang? apa masih di londo tah?
Saya setuju dgn ilmuwan Belanda, klo ngga tau mendingan bilang ngga tau. Mungkin juga cultur dan sejarah mempengaruhi cara berpikir kita. Disini mereka ngga sok2an dan justru sederhana dan apa adanya dan kalau kita justru kebalikannya kenapa yah?
apa karena politik divide at impera yg di tanamkan dulu dan bekasnya belum juga hilang2?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo Kang Jupri,<br />
Ade dimana sekarang? apa masih di londo tah?<br />
Saya setuju dgn ilmuwan Belanda, klo ngga tau mendingan bilang ngga tau. Mungkin juga cultur dan sejarah mempengaruhi cara berpikir kita. Disini mereka ngga sok2an dan justru sederhana dan apa adanya dan kalau kita justru kebalikannya kenapa yah?<br />
apa karena politik divide at impera yg di tanamkan dulu dan bekasnya belum juga hilang2?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bagindo</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3669</link>
		<dc:creator>Bagindo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 05:41:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3669</guid>
		<description>Oy Uyo aja contohnya...
:mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Oy Uyo aja contohnya&#8230;<br />
 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Al Jupri</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3666</link>
		<dc:creator>Al Jupri</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 12:37:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3666</guid>
		<description>@Ivan: Kalau melihat definisi kamus sih, ya jelas ada yang namanya ilmuwan di indonesia ituh.... ;d
@cK: iya kali ya? Kalau bilang tidak tahu takut dianggap bodoh...

@Yari NK: Huehehehe... iya juga sih, terkadang walau keahlian sang ilmuwan, ternyata ilmuwan itu ga terlalu tahu... tapi emang sih, walaupun kita bukan ilmuwan, selama kita tahu dan pengetahuan kita dapat dipertanggungjawabkan, ya gpp sih ngasih tahu (kalau ditanya), asal jangan sok tahu aja... :D
@Yoga:Iya kita harus jujur... dan tidak sok tahu... :D
@Ersis: masa sih Pak perusak mutu pendidikan itu orang pendidikan sendiri?
@Adipati Kademangan: apa ya jawabnya? Ga mau sok tahu ah... :D heheheh
@Imas: setuju... :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Ivan: Kalau melihat definisi kamus sih, ya jelas ada yang namanya ilmuwan di indonesia ituh&#8230;. ;d<br />
@cK: iya kali ya? Kalau bilang tidak tahu takut dianggap bodoh&#8230;</p>
<p>@Yari NK: Huehehehe&#8230; iya juga sih, terkadang walau keahlian sang ilmuwan, ternyata ilmuwan itu ga terlalu tahu&#8230; tapi emang sih, walaupun kita bukan ilmuwan, selama kita tahu dan pengetahuan kita dapat dipertanggungjawabkan, ya gpp sih ngasih tahu (kalau ditanya), asal jangan sok tahu aja&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
@Yoga:Iya kita harus jujur&#8230; dan tidak sok tahu&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
@Ersis: masa sih Pak perusak mutu pendidikan itu orang pendidikan sendiri?<br />
@Adipati Kademangan: apa ya jawabnya? Ga mau sok tahu ah&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  heheheh<br />
@Imas: setuju&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Imas</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3665</link>
		<dc:creator>Imas</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 02:57:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3665</guid>
		<description>Saya sependapat dengan Yoga dan sebagai tambahan, menurut saya ilmuwan tidak harus selalu tahu segala hal karena ilmu itu sangat banyak, apa mungkin bisa tahu semua hal?  Sebagai contoh, tidak sedikit mata pelajaran yang harus diikuti oleh anak sekolah, padahal itu kan cuma kulit luarnya saja. Kalau  saja anak diberi pilihan untuk memilih pelajaran yang diinginkannya (tidak harus semuanya) sehingga ilmu yang dipelajarinya juga bisa sampai ke akar-akarnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sependapat dengan Yoga dan sebagai tambahan, menurut saya ilmuwan tidak harus selalu tahu segala hal karena ilmu itu sangat banyak, apa mungkin bisa tahu semua hal?  Sebagai contoh, tidak sedikit mata pelajaran yang harus diikuti oleh anak sekolah, padahal itu kan cuma kulit luarnya saja. Kalau  saja anak diberi pilihan untuk memilih pelajaran yang diinginkannya (tidak harus semuanya) sehingga ilmu yang dipelajarinya juga bisa sampai ke akar-akarnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adipati kademangan</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3664</link>
		<dc:creator>adipati kademangan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 09:04:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3664</guid>
		<description>postingan ini mengingat saya pada suatu soal
2 + 2 adalah ...
a. 1    b. 2   c. 4   d. tidak tahu

soal  diatas bukan seperti soal biasa yang selalu diakhiri dengan tanda &quot;sama dengan&quot; / (=). nah disini uniknya pertanyaan ini bahwa kalimat matematika tidak selalu sama dengan kalimat bahasa, apalagi dicampur kayak soal diatas.
kalo Al - Jupri njawabnya apa ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>postingan ini mengingat saya pada suatu soal<br />
2 + 2 adalah &#8230;<br />
a. 1    b. 2   c. 4   d. tidak tahu</p>
<p>soal  diatas bukan seperti soal biasa yang selalu diakhiri dengan tanda &#8220;sama dengan&#8221; / (=). nah disini uniknya pertanyaan ini bahwa kalimat matematika tidak selalu sama dengan kalimat bahasa, apalagi dicampur kayak soal diatas.<br />
kalo Al &#8211; Jupri njawabnya apa ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ersis Warmandyah Abbas</title>
		<link>http://mathematicse.wordpress.com/2008/05/14/haruskah-ilmuwan-indonesia-sok-tahu-segala-hal/#comment-3662</link>
		<dc:creator>Ersis Warmandyah Abbas</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 00:40:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://mathematicse.wordpress.com/?p=232#comment-3662</guid>
		<description>Mungkin disitulah letak hebatnya (ilmuwan) Indonesia ... semakin banyak sarjana, magister, doktor bidang kependikan, pendidikan semakin melorot kualitasnya. Kenapa? Mungkin karena, mungkin lho, tidak paham yang dipelajari, apalagi memahamkan anak bangsa. Cona nanti kalau Kang Jupri full mengajar dan meneliti hal-hal pendidikan. Perusak mutu pendidikan ya ahli-ahli pendidikan dengan tidak berbuat apa pun. Buktikan saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin disitulah letak hebatnya (ilmuwan) Indonesia &#8230; semakin banyak sarjana, magister, doktor bidang kependikan, pendidikan semakin melorot kualitasnya. Kenapa? Mungkin karena, mungkin lho, tidak paham yang dipelajari, apalagi memahamkan anak bangsa. Cona nanti kalau Kang Jupri full mengajar dan meneliti hal-hal pendidikan. Perusak mutu pendidikan ya ahli-ahli pendidikan dengan tidak berbuat apa pun. Buktikan saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
