Oleh: Al Jupri
“Mau cari apa De?” tanya seorang penjaga toko ke saya, saat masuk ke sebuah toko perlengkapan (dapur), di Bandung beberapa waktu yang lalu.
“Ini Pak, mau nyari water cooker dan rice cooker,” jawab saya.
Dengan segera, bapak penjaga toko itu mengambil beberapa contoh barang yang saya cari. Barang yang pertama dia ambil adalah water cooker.
“Ini harganya berapa, Pak?”
“Dua puluh sembilan ribu.” (Maksudnya dua puluh sembilan ribu rupiah)
“Dua puluhan aja ya, Pak?” (Maksudnya dua puluh ribu rupiah)
“Iya, itukan dua puluhan. Dua puluh sembilan ribu!”
Mendengar jawaban bapak penjaga toko itu saya tersentak, kaget! Betapa tidak, beliau dengan baik menggunakan pengetahuan dan kemampuan matematikanya. Ya, beliau dengan tepat mengerti bahwa harga dua puluh sembilan ribu (rupiah) itu termasuk nilai dua puluh (ribu)-an.
Dalam hati, saya sungguh malu! Saya malu karena keliru dalam berkata-kata. Saya malu kurang berhati-hati dalam menggunakan perkataan. Harusnya, ketika sang penjaga toko itu berkata “dua puluh sembilan ribu”, saya tawar harganya “sepuluh ribuan.” Namun, kata-kata yang sudah keluar tak bisa saya ralat, telanjur sudah didahului oleh si bapak penjaga toko tersebut. Saya hanya bisa tersenyum kecut!
Segera untuk menutupi rasa malu dalam hati, saya lanjutkan tawar-menawar harganya. Hingga terjadilah perbincangan menarik antara kami berdua.
Bila dipikir-pikir, walaupun memendam rasa malu, saya beruntung masuk ke toko tersebut. Beruntungnya, setidaknya kejadian memalukan bagi saya tersebut, bisa dijadikan artikel ringan tentang matematika yang sekarang sedang Anda baca ini.
****
Baiklah, pelajaran apa yang bisa dipetik dari kejadian yang saya alami tersebut?
Bicara tentang bilangan dua puluhan, apa yang dipahami oleh si bapak tua penjaga toko tersebut sungguh benar adanya! Bilangan dua puluhan berarti mulai bilangan sampai
. Bilangan
dibaca: “dua puluh”;
dibaca: dua puluh satu”; dan seterusnya.
Lalu bilangan sepuluhan berarti mulai dari hingga
, Bilangan
dibaca: “sepuluh”;
dibaca: “sebelas”;
dibaca: “dua belas”; dan seterusnya.
Dari penjelasan barusan, satu pertanyaan muncul. Kenapa dibaca: “sebelas”? Kenapa bilangan
itu tidak dibaca: “sepuluh satu”? Selanjutnya kenapa
dibaca: “dua belas”, bukan “sepuluh dua”? Kenapa? Dan begitu seterusnya. Bilangan sepuluhan ini (setelah bilangan
) dalam kehidupan sehari-hari kita kenal dengan sebutan bilangan “belasan”.
Pertanyaan tersebut muncul karena untuk kasus bilangan puluhan yang lain (selain bilangan bulat antara 10 dan 20), pola yang dipakai selalu sama. Misalnya, dibaca: “tiga puluh dua”;
dibaca: “empat puluh lima”; dan lain-lain.
Mungkin ada di antara pembaca artikel ini yang tahu alasannya. Kalau iya, silakan bagi informasinya di kolom komentar. Terimakasih!
Sebetulnya, jawaban atas pertanyaan tersebut pernah saya ketahui dulu, sewaktu saya mengikuti perkuliahan penelitian pendidikan matematika dari Prof. Ruseffendi, tapi sayang, saya lupa! (Agak ingat sih alasannya, tapi samar euy, sudah lama! Nyari-nyari alasan! Karena lupa, sebuah sifat manusiawi, saya serahkan pada pembaca yang tahu untuk membagi pengetahuannya. Boleh kan saya lupa?
).
****
“Pak, dua puluh ribu aja ya?” lagi saya menawar harga pada si bapak penjaga toko itu.
“Kalau gitu, dua puluh lima ribu deh, itu pasnya!” penjaga toko mulai menurunkan harga jual barangnya.
Tapi saya tetap teguh menawar dengan harga dua puluh ribu rupiah. Saya menawar dengan harga segitu karena saya tahu harga pasarannya, kata adik saya kalau beli di Toserba, harganya tidak jauh dari dua puluh ribu rupiah. Agak lama terjadi tawar-menawar harga. Sampai terjadi perbincangan lain di luar tawar-menawar harga.
Rupanya, ketika terjadi tawar menawar harga itu, si bapak penjaga toko itu memperhatikan saya.
“Mmmm, maaf De, kamu warga keturunan ya?” (Maksudnya keturunan Chinese)
Mendapat pertanyaan itu, saya hanya senyum-senyum saja.
“Menurut bapak gemana? Apa saya seperti warga keturunan?”
“Ya, pasti kamu warga keturunan! Mata kamu sipit, kulitnya juga kuning, seperti kami (warga keturunan).”
Belum sempat saya mengaku. Si bapak penjaga toko tersebut bercerita panjang lebar sejarahnya. Cerita tentang keluarga dan anak-anaknya. Sampai cerita pula tentang keyakinannya. Saya hanya setia mendengarkan, sambil senyum-senyum, mengangguk-angguk, dan seterusnya.
“Kalau bapak sih menganut agama Budha, kamu apa? Sama?”
“Bukan, Pak! Saya muslim! Sejak dalam alam rahim saya muslim! Kedua orang tua saya juga muslim! Kakek-nenek dan buyut saya juga muslim!” begitu penjelasan saya dengan tegas.
Belum sempat juga saya mengaku bahwa saya adalah orang pribumi aseli Indonesia, bukan warga keturunan, si bapak penjaga toko itu kembali nyerocos bercerita tentang dirinya, tentang warga keturunan. Dia dengan sangat yakin bahwa saya pun adalah warga keturunan seperti dirinya.
Sambil mendengar ceritanya, ya sudah saya diam saja! Tak jadi menjelaskan bahwa saya bukan warga keturunan seperti dirinya.
Tak jadinya menjelaskan tentang diri ini, karena saya merasa tidak enak sudah mendengar segala rupa tentang warga keturunan, sedikit sejarah terbeber, beberapa keluhan terungkap lewat ceritanya. Saya berpikir, toh saya tidak berbohong! Dan saya pun berpikir, karena memang sesungguhnya, penduduk pribumi yang saat ini mendiami kepulauan Indonesia sebagian besarnya, menurut sejarah, adalah juga berasal dari daratan Asia, katanya dari suku Indochina. Jadi, keyakinan si bapak penjaga toko tersebut tidak terlalu keliru, dan saya pun tidak berbohong!
“Ya sudah, buat kamu saja, harganya segitu!” begitu akhirnya si bapak penjaga toko tersebut menyetujui harga tawaran saya.
“Terimakasih, Pak!” jawab saya, masih sambil tersenyum.
======================================================
Ya sudah, segitu dulu ya perjumpaan kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin.
Sampai jumpa di artikel mendatang!
Catatan:
Water cooker = alat untuk memasak air = pemanas air.
Rice cooker = alat untuk menanak (beras jadi) nasi.
Toserba = toko serba ada.
13 Comments
May 12, 2008 at 11:59 am
Masalah rasisme memang terkadang menjadi sesuatu yang sering diperdebatkan. Kenapa kita mesti menjadi sama? Walaupun kita berbeda, kita seharusnya bisa saling melengkapi dan menghargai. Karena dengan kita berbeda, maka diri kita akan menjadi ‘ada’. (Halah, ngomong apa saya ini?!)
Ya setuju, kita semua harus saling menghormati, menghargai.
_______
Al Jupri: Makasih komennya.
May 12, 2008 at 12:17 pm
mmm… sama seperti dalam bahasa Inggris, 11 dan 12… kira-kira mengapa ya?
______
Al Jupri: Kok balik nanya sih?
May 12, 2008 at 1:51 pm
hooo…jadi sekarang udah di bandung ya? mana oleh-oleh dari utrecht?
May 12, 2008 at 7:24 pm
Ada untungnya kan dikira Chinese? Hihihi… Oh iya tadi saya dari keukenhof lhooo… Dah sempet kesana blm sblm pulang? Hehehe. Belanda mulai panas pak, kalo siang 25an celcius aja loh.
)
Salam buat toserba (disini cuma terbiasa dengan Albert Heijn
May 13, 2008 at 1:38 am
Semua orang memang rasis, pak.
Tidak ada manusia yang tidak rasis di dunia ini.
May 13, 2008 at 1:51 am
Kalau saya sering dikira polisi oleh polisi sendiri! Huehehe…… Tiga kali saya ‘disangka’ perwira polisi padahal bukan. Entah kenapa, saya sering dibilang tampangnya mirip polisi, mungkin karena kumisnya kali dan rambutnya agak cepak hehehe…
Pertama waktu perpanjangan SIM, ketika mau pulang ada dua polisi yang satu pangkatnya bripda yang satu briptu yang senyum2 sambil menundukkan kepala sama saya, saya juga heran kenapa mereka begitu padahal saya jalan sendiri waktu itu…..
Kedua, polantas di persimpangan jalan merdeka sama jalan RE Martadinata, waktu ingin nyeberang jalan, si polantas tersebut membantu saya menyeberang jalan sambil mengatakan “selamat siang pak” dengan gesture hormat. Atau memang polantas zaman sekarang sopan2 sekali ya?? Ah… nggak tahu deh…. egp!
O iya…. gimana selama di Bandung?? Apa ada kesulitan dengan koneksi Internet?? Atau sekarang udah ada koneksi Internet sendiri nih di rumah?? Kalau udah….. sering2 ngeblog ya!!
Dan lupakan tugas penelitiannya!Huehehe…. just kidding!May 13, 2008 at 3:00 am
Analisis Anda soal puluhan dan dua puluhan sangat menarik. Jarang terpikirkan dan lebih sering terpinggirkan. Prinsip komunikasi verbal dengan ragam pasar tak pernah membuat kesepakatan kode, tetapi berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Permasalahan timbul ketika ada perubahan lokatif yang berbeda kode bahasa. Apalagi menyangkut kode hitungan.
Apa yang Anda alami jadi perhatian bagi siapa pun dalam berkomunikasi dalam berbagai tempat berbeda.
Gimana, Koh?
Tabik!
May 13, 2008 at 6:59 am
Saya yang hanya mengenal wajah pak Al lewat avatar blog ini, juga sempat bilang kok chiness ya? tapi namanya Al jupri … hehehehe.
Di jawa malah rumit lagi pak … kalo orang jawa menyebut bilangan belasan dengan welasan, dua puluhan dengan likuran. Terus kalo 21= selikur, 22=rolikur dst.. tapi kalo 25=selawe. Terus ada lagi untuk bilangan puluhan, 50 bukan limo puluh tapi seket, 60 bukan enem puluh tapi suwidak, gimana dong?
Waktu kecil saya nanya itu sama guru SD saya tapi cuma diketawain, gitu aja kok nanya?
May 13, 2008 at 7:59 am
Waktu saya lihat foto mas Al Jupri, saya kira mas juga Chinese.
May 13, 2008 at 9:12 am
@cK: iya, saya udah di Bandung neeh…


) wakakakakakakakak..
pakai fasilitas negara… duh makanya kalau ngeblog harus yg bermanfaat, biar impas, ga menghamburkan uang negara… 
Tabik juga! Btw, tabik itu = salam ya, Pak? 
Btw, emang betul untuk bahasa Jawa lebih kompleks lagi masalahnya, seperti yang kamu katakan (tuliskan)
@Christin: met summer aja deh…
@Ivan: Ooo gitu ya?
@Yari NK: Wah, iya betul, sy liat avatarnya juga Pak Yari itu mirip Polisi…. Btw, di Bandung, sy pake fasilitas kampus (belum pasang internet sendiri, masih ngontrak sih…
@Zul… : terimakasih Pak! Jadi menurut aturan bahasa Indonesia bagaimana nih Pak Zul…?
@mezzalena: ooo gitu ya, kamu juga ngira saya begitu…
@Johan: Ooo, bukan! Saya orang Banten (Cilegon).
May 15, 2008 at 4:15 am
dari fotonya ni om..
memang mirip ko..
cakepnya juga,
May 23, 2008 at 10:47 pm
Mungkin terpengaruh budaya jual beli orang Jawa. Setiap beli 10 barang diberi tambahan yang disebut ‘welasan’(belasan?). Jika welasannya 1, yang didapat pembeli menjadi ’sewelas’ (sebelas), jika tambahannya 2, yang didapat pembeli menjadi ‘rolas’(dua belas), dst.
May 24, 2008 at 5:16 am
@petak: Makasih..
@Tarminto, Nganjuk: Terimakasih atas informasinya, Pak.