Oleh: Al Jupri
Entahlah, tidak tahu kenapa saya sering mengingat cerita-cerita yang bagi sebagian orang mungkin tidaklah penting. Baik cerita nyata, cerita fiktif, maupun gabungan keduanya. Salah satu contohnya adalah cerita tentang indeks prestasi (IP). Saya tidak tahu apakah cerita tersebut fiktif atau nyata atau bahkan gabungan keduanya. Yang jelas, cerita tersebut saya dengar dari seorang kakak tingkat semasa belajar di Bandung, sekitar tahun 2003 yang lalu.
Mungkin cerita yang bakal diceritakan ulang berikut ini sudah lazim diketahui oleh banyak orang. Walaupun begitu, saya tetap akan menceritakannya kembali. Dan tentunya dari cerita tersebut, menurut pandangan sempit saya, ada pelajaran yang bisa dipetik. Ada suatu hal penting yang bisa kita diskusikan di sini.
Cerita apaan sih?
Begini ceritanya. Dulu, seperti biasa di akhir semester, setelah ujian berakhir dan nilai-nilai mata kuliah mulai diumumkan, saya pun ikut-ikutan melihat papan pengumuman. Ya, melihat nilai-nilai akhir beberapa mata kuliah yang telah saya tempuh.
Setelah mengetahui hasilnya, saya tak langsung pergi dari area pengumuman. Dengan teman-teman, kebetulan waktu itu ngobrol-ngobrol dulu, duduk-duduk dulu, bersantai dan becanda. Ada yang senang bukan kepalang karena nilainya bagus. Ada yang kecewa karena nilainya tak sesuai harapan. Ada pula yang anteng-anteng saja, menerima hasil apa adanya.
Tiba-tiba ada seorang kakak tingkat yang bisa dibilang suka bercerita walaupun tidak diminta, sebut saja namanya Abdul. Saya suka tersenyum bila melihat dan mendengar beliau bercerita. Dengan gayanya yang khas dan kocak dia bercerita kepada temannya, sebut saja Mamat, seperti berikut ini.
***********************************************************************
Abdul: “Mat, IP kamu berapa?”
Mamat: “Ah biasa, alhamdulillah, nyampe sekitar dua koma tujuh.”
Abdul: “Duh, saya belum nyampe tiga nih IP-nya. Susah euy…”
Mamat: “Mending kamu mah hampir tiga. Saya mah, dua koma tujuh lima saja susah nyampenya!”
Abdul: “Ah nanti juga nyampe dua koma tujuh lima mah!”
Mamat hanya diam saja. Mungkin agak kecewa dengan raihan IP-nya. Kemudian kang Abdul lanjut bicara.
Abdul: “Lha teman saya cerita yang lebih parah. Gini ceritanya.”
Kemudian kang Abdul bercerita panjang lebar tentang cerita kawannya.
“Ada lima sekawan, sebut saja namanya Ade, Budin, Cecep, Dedi, dan Eman. Mereka saling pamer IP mereka masing-masing,” begitu kang Abdul mulai bercerita.
Ade: “Wah sepertinya di antara kita, saya yang paling tinggi IP-nya!”
Budin: “Emang berapa?”
Ade: “Dua koma enam.”
Budin: “Ha ha ha ha…. IP segitu saja dibilang paling tinggi. IP- saya dong dua koma tujuh!”
Cecep: “Berarti saya dong yang paling tinggi! IP saya dua koma delapan!”
Dedi: “Ah kalau segitu sih, saya dong yang paling tinggi! Saya dua koma sembilan!”
Ade, Budin, Cecep melihat Dedi dengan heran. Biasanya IP Dedi jarang sampai dua koma sembilan. Tinggal Eman yang belum cerita tentang IP-nya.
Eman: “Ha ha ha… berarti saya dong yang tertinggi! Ade, cuma dua koma enam. Budin, cuma dua koma tujuh. Cecep, cuma dua koma delapan. Dan Dedi, juga cuma dua koma sembilan.”
Ade: ” Emang IP kamu berapa?“
Eman: “Dua koma sepuluh!“
Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha …
Ade, Budin, Cecep, dan Dedi ngakak bareng-bareng dibuatnya.
Oh, my doooooooog. Begitu kata Ade sambil terus tertawa
.
***********************************************************************
(Sebetulnya cara bercerita kang Abdul itu khas, kocak banget! Tapi saya tak mampu menyajikannya dalam bahasa tulis seindah bahasa lisannya, makanya begini deh ceritanya jadinya.)
=======================================================
Saya yang kebetulan mendengar cerita kang Abdul itu pun ikut tertawa. Senyum-senyum sendiri. Lucu!
Saking lucunya, cerita beliau itu terngiang-ngiang hingga sekarang. Bila sekarang teringat cerita kang Abdul tersebut, saya pun tetap masih tersenyum. Aneh!
Makanya, daripada saya senyum-senyum sendiri dan dianggap gila, mendingan saya jelaskan makna di balik senyum saya itu. Wakakakakakakakakak….
Lalu, apa ulasan matematis dari cerita kang Abdul tersebut?
Sebetulnya, saya mau saja mengulasnya. Tapi, kebetulan waktu sudah larut. Dan saya pun harus tidur! Masih banyak urusan yang sudah menanti esok hari. Karenanya saya memutuskan biar pembaca saja yang mengulasnya.
Silakan tuliskan ulasan matematis dari cerita kang Abdul di atas di kolom komentar berikut ini! Atas ulasannya saya ucapkan terimakasih!
21 Comments
March 6, 2008 at 4:15 am
hehehe…..
dulu pernah juga kek gitu. gara2 IP tidak memuaskan, untuk menyenangkan diri sendiri, klo ditanyain IP-nya berapa, aku bilang aja : tiga koma enam.
Yang denger pada heran, tapi trus aku jelasin lagi : maksudnya 3,06 …. bener kan ???
hahahaha……
March 6, 2008 at 4:43 am
dua koma sepuluh *ngakak dulu* wakqkqkkkqqkq
kalo cerita di kampusku lebih tragis lagi
seumpama ada yang nanya
“berapa IP mu ?”
“Nasakom … ”
tidak ada kata-kata lagi yang keluar, sedih dech
nasakom : nasib satu koma
March 6, 2008 at 6:16 am
2,10 itu kan angka desimal. bener ndak ya, pak jupri? hehehehehe
kalau dibuat pecahan, *halah* menjadi 2 1/10. Kalau diubah menjadi angka penanggalan *walah kalo ini komen ngawur, ah* bisa dibaca 2-1-2010. Kalau dihitung secara matematis menjadi= -2009. Kalau tanda minus diubah menjadfi + = 2009. Wah, kayaknya ini tahun yang sangat pas untuk Pak Jupri nih dalam menentukan calon pilihan hidup, wakakakakaka …. *walah, kalo ini komen lebih ngawur… * *digampar pak jupri pakek sepatu*
*kabuuur *
March 6, 2008 at 6:25 am
Salam kenal dulu dari putra pertamaku…
Mungkin saja kang Eman IP-nya 2,1 dan dia berhak jika dia menyatakan IP-nya terbesar, karena:
jika 2,1 dinyatakan “peratus” jadi 2,10 dibaca “dua koma sepuluh” (yang bener kan dua koma satu nol?) dan sepuluh (bukan 10 dalam basis 2) lebih besar dari 9, 8, 7, 6, …1.
Dan mungkin benar kang Eman dapat IP-nya NASAKOM
March 6, 2008 at 7:29 am
Hahaha
. Lucu banget tu orang, cerita nyata bukan sih?
March 6, 2008 at 10:08 am
wakakakakakakakaka
)
)
)
=))
=))
=))
=))
ga berhenti-berhenti ne pak ketawanya …………………………………………………………..
March 6, 2008 at 10:50 am
Huahahahaha……… yang lebih heran lagi, menurut saya, kok si Eman itu bisa jadi mahasiswa ya dengan berkomentar seperti itu?? Hehehe…….
Tapi emang bener sih, banyak orang yang terkadang melakukan kesalahan dasar seperti itu, bukan hanya di bidang matematika tapi juga di bidang lainnya.
Ini fakta
Saya punya teman chatting orang Malaysia (sampai sekarang saya masih chatting dengan dia walaupun tidak tiap hari), dia seorang asisten dosen fisika, tapi aneh bin ajaib, dia tidak tahu kalau Jupiter itu adalah sebuah planet !!!!!!!!! Believe it or not. Udah pendidikannya tinggi, jurusan fisika, asisten dosen pulak!! Tapi nggak tahu kalau Jupiter itu adalah sebuah planet!!
Ya udah deh, ntar disangkanya nge-ghibah lagi hehehe…. tapi itulah, aneh tapi nyata, terkadang orang yang “pandai”pun sering khilaf mengenai pengetahuan dasar!!
March 6, 2008 at 12:47 pm
Kenapa dia gak bilang dua koma seratus atau dua kome seribu aja sekalian
March 6, 2008 at 12:49 pm
Maksud ane dua “koma” seribu bukan dua “kome” seribu ya
March 6, 2008 at 1:38 pm
Wuahaaaaaaaaaaaaaha
March 7, 2008 at 3:13 am
gyakakakakak…
emang dua koma sepuluh ada ya?
*belagak pilon*
March 8, 2008 at 8:38 pm
Ha ha ha
Lucu banget, lebih lucu dari sms iseng yg saya pernah terima dan saya tulis ulang di blog saya.
Ok, salam kenal.
March 8, 2008 at 8:43 pm
wah ip saya juga cukup
cukup untuk makan, minum n jalan2
March 8, 2008 at 11:35 pm
Untuk semuanya, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya. Silakan ngakak sepuasnya… tapi jangan berlebihan ya…
March 9, 2008 at 2:41 pm
Hahaha…
Enggak heran ip-nya segitu. Malah, heran ip-nya segitu
_______
Al Jupri:
March 10, 2008 at 7:28 am
Salam Damai …
BLOG anda bagus, semoga bermanfaat untuk kita semua!
jika berkenan silahkan kunjungi BLOG kami di :
http://tanpabendera.wordpress.com
terima kasih …
March 10, 2008 at 5:25 pm
Hehehe…
Asyik deh ada IP begituan…
Sekarang IP udah jadi Mall…
Istana Plasa yang di Pasir Kaliki itu.
Gak nyambung kan???
Nuhun
_______
AL Jupri: Oya? Yang di PAsir Kaliki itu kan? Iya saya pernah ke sana…
March 11, 2008 at 9:53 am
lucu juga mas, eh IPK yang standar tu berapa sih mas? Trus diitungnya melalui apa? Bentar lagi saya kuliah neh…
______
Al Jupri: Tentang IP ya? Mmmm… sabar aja ya, ntar kalau udah kuliah insya Allah ngerti dengan sendirinya…
March 13, 2008 at 6:03 am
malu2 ah kang kl ngomongin ipe
_______
AL Jupri: Ya jangan ngomongin ipe dong, IP aja..
March 17, 2008 at 6:42 am
waduh saya ikutan jadi pemeran nya neh, kekekeke
_______
Al Jupri: Maksudnya setelah A, B, C, D, E, baru H ya? Kekekekekekekekekeke…
April 20, 2008 at 8:06 am
HA HA HA HA HA wk wkw wkwk wkw kwwkw wwkkw wkwkwkw
Keren abis nih cerita, awalnya saya g ngerti eh stelah di ulang bacany baru deh dapat humornya, saya ngakak banget, bahkan ada yang bilang “sabar pak, ‘nyebut’ gitu” HA HA HA HA HAH AHA HAHA HAHA HAHAH