Jangan “Seperti” Ilmu Padi

Oleh: Al Jupri

Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk.

Ya, demikian pribahasa yang sering diungkapkan untuk menggambarkan seseorang yang makin tinggi ilmunya, makin banyak pengetahuannya, maka dia makin rendah hati, tidak sombong, dan tidak membangga-banggakan dirinya. Sifat-sifat seperti ini tentunya sangat terpuji, disuka oleh (hampir) semua orang, dan tentunya pula sesuai tuntunan ajaran agama (Islam). Karenanya perlu kita saya contoh.

Hampir bertolak belakang artinya dengan pribahasa tadi, ada juga pribahasa yang tak kalah populernya yaitu:

Tong kosong nyaring bunyinya.

Pribahasa ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang banyak bicara matematika tetapi sebetulnya miskin ilmu, fakir pengetahuan, sempit wawasan, tetapi suka sombong dan sering membangga-banggakan dirinya. Sifat-sifat seperti ini selain tidak disukai oleh kebanyakan orang, tidak terpuji, tentunya juga tidak layak kita saya teladani.

Terkait dengan kedua pribahasa tersebut, ada satu pertanyaan yang mengusik saya. Apakah yang selama ini saya lakukan, yaitu menulis tentang matematika atau pendidikan matematika di blog ini, termasuk mengamalkan “ilmu padi” atau “ilmu tong kosong“?

Mendapat pertanyaan itu saya merenung, berkaca diri, introspeksi diri, atau dalam “bahasa” para santrinya saya bermuhasabah diri, bener ga ya? Kemudian berusaha menjawabnya.

Setelah direnung sebentar dan dipikir-pikir seenaknya, maka jawaban saya atas pertanyaan tersebut seperti berikut ini.

Menulis tentang matematika atau pendidikan matematika idealnya dilakukan oleh orang yang mumpuni di bidangnya. Idealnya dilakukan oleh mereka yang ilmu atau pengetahuan matematikanya tinggi. Idealnya dilakukan oleh mereka yang sudah banyak pengalaman, sudah banyak melahap asam-garam di bidang ini. Tetapi, saya mengamati sepintas lalu di dunia maya ini, ternyata yang mau menulis tentang bidang ini tidaklah banyak alias jarang banget. Padahal bila saya tak salah tahu, sebetulnya di negeri kita itu sarjana matematikanya relative banyak (baik sarjana doang, master atau bahkan doktor yang pintar-pintar itu). Saya tidak tahu alasannya kenapa bisa terjadi begini?

Mungkinkah karena mereka mengamalkan ilmu padi? Makin berisi ilmu, makin merunduk dan tidak mau menonjolkan diri dengan cara menulis, begitukah? Mungkinkah karena mereka pelit akan ilmu dan ingin pinter sendiri? Mungkinkah mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan tidak sempat menebar ilmunya? Atau mungkin karena mereka takut dikritik oleh orang lain?

Berkaca pada diri sendiri: Ilmu yang saya pelajari hingga saat ini tidaklah tinggi; pengetahuan yang saya tahu pun relative sedikit. Apalagi bila dilihat dari pengalaman, jelas saya masih miskin! Tetapi kenapa tetap saja menulis? Apakah tidak malu bila ada yang mengatakan saya ini cuma tong kosong? Apakah tidak malu bila dikatakan cuma banyak bicara matematika doang? Apakah tidak takut dikritik oleh orang yang mumpuni di bidang (matematika atau pendidkan matematika) ini?

Bila memang ada yang mengatakan demikian, mengatakan tulisan-tulisan saya cuma omong kosong belaka, saya sih tidak ambil pusing! Biarkan saja!!! Bila ada yang mengkritik tulisan-tulisan saya di blog ini, ya saya biarin juga…, “Gitu aja repot!” :mrgreen: Bagi saya, orang yang memberi kritik terbaik, terhadap setiap tulisan saya, adalah mereka yang menulis lebih bermutu ketimbang apa yang saya tulis. :D

Bila ada yang mengatakan saya seperti “tong kosong”, biarlah saya terima saja! Yang saya lakukan adalah: mengisi tong itu dengan padi sampai berisi! Sehingga bila tong itu dipukul, dia tetap bisa bersuara. Tidak hanya seperti padi berisi yang bisanya (cuma) merunduk, bila dipukul atau ditumbuk hanya bisa diam, pasrah lalu (jadi beras yang) bakal disantap. :D :mrgreen:

Jadi, jangan cuma “seperti” ilmu padi saja, ok?

Ok, deeeeeeeeeh….

Baiklah, mari kita kembali bicara matematika! Hal matematika apa saja yang bisa dibicarakan mengenai pembahasan kedua pribahasa di atas? Apakah ada kandungan matematikanya?

Seperti yang sudah saya utarakan di atas, saya sebagai “tong kosong” akan mengisinya dengan padi. Nah, padi itulah sebagai perlambang dari ilmu atau pengetahuan yang akan saya isikan dalam diri ini. Do’akan yaaaaaaaaaaaa? :D

Bila diameter tong pada gambar di atas adalah 60 cm dan tingginya adalah 140 cm, berapa liter padi (gabahnya aja ya…) kira-kira yang bisa ditampung oleh satu tong tersebut?

Jawab:

Volume tong kosong (V) = Luas alas x tinggi

Karena alasnya berbentuk lingkaran, maka luas alasnya sama saja dengan luas lingkaran yang berjari-jari r = 30 cm (karena diameter tong itu 60 cm, maka jari-jarinya adalah r = \frac{1}{2} \times 60 = 30 cm).

Sehingga, V = \pi \times r^2 \times tinggi. Dan bila dipilih \pi = \frac{22}{7}, maka

V = \frac{22}{7} \times 30^2 \times 140 = 396000 cm ^{3}.

Nah, karena 1 liter = 1000 cm ^{3}, maka volume padi yang bisa ditampung tong tadi adalah V = 396 liter.

Nah, sekarang bila 1 liter padi itu kira-kira massanya adalah 800 gram, maka massa padi dalam satu tong itu adalah 800 \times 396 = 316800 gram. Karena massa dan volum padi dalam tong ini kita ketahui, maka dengan mudah kita dapat mengetahui massa jenis padi, yaitu seperti berikut ini:

\rho = \frac{massa}{volume} = \frac{316800}{396000} = 0,8 gram/cm^{3}. Dengan \rho menyatakan massa jenis padi.

Menurut ilmu fisika, bila massa jenis suatu benda kurang dari massa jenis air (murni), di mana massa jenis air (murni) adalah 1 gram/cm^3, maka benda itu akan terapung di air. Dengan demikian, karena massa jenis padi tadi kurang dari massa jenis air (murni), maka tak heran bila (sebutir) padi kering dicemplungkan ke air, maka dia akan mengapung alias ngambang. :D

Nah, bagaimana, menarik bukan kaitan dua pribahasa tadi dengan matematika dan fisika? Bagaimana menurut Anda?

(Kepada para saintis atau siapa saja yang tahu tentang fisika, khususnya mengenai massa jenis benda, mohon koreksinya bila ada kekeliruan. Terimakasih!) :D

Duh, kok bisa sampai ke fisika segala ya? Aneh! :D Padahal cuma gara-gara dua pribahasa tadi. Apa saya ngelantur? Saya sendiri sebelumnya tidak kepikiran bakal nulis artikel ini terkait dengan fisika segala. Ajaibnya, alhamdulillah, ketika sedang menulis, ide-ide seperti tercurah dengan deras begitu saja, sehingga jadilah artikel seperti ini. :D

=======================================================

Ya sudah segitu saja perjumpaan kita kali ini. Sampai jumpa pada artikel berikutnya. Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa dipetik dari artikel ini. Amin.

Catatah: Gambar padi diambil dari sini. Sedangkan gambar tong diambil dari situ.

About these ads

26 Comments

Filed under Bahasa, Curhat, Fisika, Harapan, Indonesia, Iseng, Matematika, Matematika SD, Matematika SMP, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sains, Sastra

26 responses to “Jangan “Seperti” Ilmu Padi

  1. Wew…. Pertama lagi….
    Duhh,… Pak Al nulis blog ini bukan tong kosong kalii.
    Itung2 shadaqah. Ngasih kuliah gratis. hehehehe
    dengan ilmu padi, merunduk itu bukan berarti diam aja. menyimpan ilmu.
    *waduhh sok tau banget*
    _______
    Al Jupri: Iya nih, kamu lagi yang pertamax… :D Kamu suka liat-liat blog saya terus ya? :mrgreen: Jadi, ilmu padi itu yang kayak gemana dooong? Kasih contoh dooong?

    • Tri sianna W

      Saya pernah bertemu dengan seorang pengawas, usianya masih muda tapi beliau sudah memiliki jabatan tinggi dan berpendidikan tinggi. Suatu hari beliau memonitoring sekolah tempat saya mengajar. ketika beliau berjalan melewati ruang guru, ada beberapa guru yang tengah duduk di depan meja masing-masing. Dengan kerendahan hati Pengawas muda ini membungkukkan badannya (kebiasaan orang jawa, anak kecil/orang muda yang melewati orang yang lebih tua harus mengucap permisi dan membungkukkan badan).
      Menurut paham saya, (sekali lagi …Anda tidak menurut paham saya jg tidak apa2) ini salah satu contoh “ilmu padi”

  2. Brarti makin tinggi ilmu, makin bongkok dunx pak :mrgreen:
    blog ini baguz banget pak, sangat bermanfaat buat nambah pengetahuan
    _________
    Al Jupri: Wakakakakakak… makin bongkok ya? :D Ya makasih… :D

  3. Ilmu padi? Belum pernah belajar ilmu padi :) , yang saya tahu barulah samudra itu laksana kumpulan ilmu, saat ini baru melihat permukaannya yang luas dan sedikit tercelup di sana-sini, tapi begitu mulai menyelam, baru tahu ternyata ilmu itu sangat dalam. Tapi anomalinya bukan hanya pada suhu 4C saja seperti air tapi pada segala situasi semakin ilmu itu diamalkan insyaAllah makin banyak pula ilmu yang kita dapat.

    Satu lagi, massa jenis atau berat jenis Mas Al Jupri?
    ________
    Al Jupri: Iya, ilmu itu memang luas. Yang kita pelajari dan kuasai, mungkin cuma setetes kecil saja atau bahkan lebih kecil lagi…. :D

    Oh, iya. Mengenai massa jenis ya? Memang dalam dunia kimia, katanya, lebih dikenal dengan istilah berat jenis, padahal sejatinya (seharusnya) disebut massa jenis. :D

    Seperti halnya, dalam kehidupan, kita sering bicara berat (padahal itu adalah massa). Contohnya, berat 1 kg beras (padahal itu adalah massa). Ingat satuan massa adalah kg, sedangkan satuan berat adalah Newton.

    Cuma karena sudah kebiasaan salah kaprah, makanya begitu… :D

  4. wew… siapa bilang tulisan di blog pak jupri seperti “tong kosong”? itu penilaian yang sanagt keliru kalau menurut saya. di blog ini saya juga bisa belajar ttg matematika yang disajikan dalam bentuk cerita khas pak jupri, tak sekadar bicara angka2 yang sejak dulu memang membikin kepala saya pusing :mrgreen: tapi pak jupri menyajikannya dalam bentuk lain, dalam bentuk cerita, sehingga saya mulai suka itu. komentar pengunjung itu hal yang biasa, pak, kita terima saja. ndak usah dijadikan sebagai beban. yang penting tunjukkan *walah kok jadi sok tahu* bahwa blog matematika milik pak jupri ini tetap :istikhomah” pada khittah-nya. kritik pengunjung tetap kita terima dg lapang dada sbg masukan buat kita. Bravo, pak jupri! semangath!
    ________
    Al Jupri: Iya Pak terimakasih. :D Kriitk mereka juga bermanfaat, apapun bentuknya. Bahkan bisa jadi bahan untuk dijadikan tulisan :D

    Btw, saya belum bisa bikin cerita2 lagi nih Pak.. :D

  5. adipati kademangan

    bagi saya ndak penting orang ngomong (dan nulis) banyak ato tidak. yang penting omongannya (dan tulisannya) bermanfaat bagi orang lain. Meskipun omongan dan tulisannya buaannyyaakkk tetapi bisa bermanfaat bagi khalayak umat dan kehidupan, apa salahnya toh ?!
    tulisan yang mencerahkan, omongan yang memotivasi, bermanfaat, “migunani”, dan membuat orang bergumam ” o iya ya ” itu sangat mahal harganya.
    tidak banyak lhoh mereka yang berilmu mau ngomong dan menuliskannya *dan gratis lagi* seperti pak jupri dalam blog nya ini.
    _________
    Al Jupri: Iya, terimakasih. Lebih baik bicara banyak dan bermanfaat, daripada ga bicara dan ga ada manfaatnya. :D :mrgreen:

  6. Menurut saya peribahasa ‘Tong Kosong Nyaring Bunyinya” perlu disempurnakan lagi!! Emangnya EYD?? :mrgreen: Sekarang itu Tong Kosong ada dua jenis, tong kosong kalau dibunyikan ada yang suaranya nyaring tapi sengau atau fals (vals ) ada juga yang nyaring tapi nggak fals alias merdu **halaah**. Nah walaupun kita semua masih menjadi tong kosong kita usahakan yang penting suara kita merdu, ya nggak?? agak maksa! Hehehe…..

    Daripada yang udah mengaku “tong isi” biarpun suaranya merdu kalau tidak terdengar ya buat apa?? Betul nggak?? Hehehehe…. :mrgreen:
    ____________
    Al Jupri: Iya juga ya, “tong kosong merdu bunyinya”… pribahasa baru niiiiiiiiiiiiiiiih. :D

    Dan lebih baik lagi, “tong isi merdu bunyinya… “… :D Pribahasa baru juga niiiiiiiiiiiiih… :D

  7. Waaaaak…. nama pengomentarku masih terbalik!! Wakakakak… lupa dibalikin kembali!! :lol:
    __________
    Al Jupri: Wakakakakakakak… … biarin aja aaaaaaah… :D

  8. Kenapa gak disebut sebagai density saja ya, daripada timbul ambiguity dalam bahasa kita…
    _________
    Al Jupri: Kenapa ya? Ada yang tahu? Mungkin karena density itu bahasa Inggris… hahahahaha… jawaban si “tong kosong” :mrgreen:

  9. Kalau ngaitin ama fisika, sekalian aja itung tekanan tong
    tadi (P=F/A), tapi pak Al kok bisa ampe ngaitin ke
    Matematik & fisika segala, kreatif banget, boleh berbagi ilmu lebih banyak ga ? Kalau boleh kirim e-mai dong ke diaz_dal@yahoo.com !!! Hehe…

  10. Kalau ngaitin ama fisika, sekalian aja itung tekanan tong
    tadi (P=F/A), tapi pak Al kok bisa ampe ngaitin ke
    Matematik & fisika segala, kreatif banget, boleh berbagi ilmu lebih banyak ga ? Kalau boleh tau e-mail pbk Al apa ?
    ______
    Al Jupri: Terimakasih atas masukannya. Email saya: y_saeda@yahoo.com (bisa juga dilihat di halaman Siapa Saya?). :D

  11. kalo dah disebutkan satu liter padi massanya 800 gram berarti ya udah ketauan density-nya ya mas. nah density yang dibawah itu juga harus dijelaskan juga apa bulk atau true density. hehe.. kan ada void fractionnya di dalam tong yang diisi padi.

    blognya mas al jupri ini berguna sekali, buat saya iseng2 kalo lg pengen ngutak atik angka, hehe…

    eniwe, temen saya punya quote baru sehubungan dengan ilmu padi dan fenomena kebosanan di kantor selama internship,

    seperti ilmu padi, perut makin berisi, kepala makin merunduk (alias ngantuk setelah kenyang makan)

    ________
    Al Jupri: Terimakasih atas tambahan dan koreksinya. Iya juga ya… :D

    Tentang density (massa jenis), saya sebetulnya tidak tahu lebih lanjut, makanya saya tidak tahu apa itu true density atau bulk segala. Ini bagian para saintis untuk menjelaskannya. Ayo dong jelaskan… :D

    Yang saya tulis dalam artikel ini, hanyalah mengunakan pengetahuan fisika tingkat SMP saja. Makanya, ga tahu true density and bulk segala… :D (Ha ha ha… inilah tong kosong yang belajar berbunyi… wakakakakakak… :mrgreen: ).

    Oh, iya. Bagus juga tuh ilmu padi yang dari temenmu itu. Nambah wawasan juga bagi saya, terimakasih… :D

  12. Johan

    Sebelumnya saya mohon maaf untuk kritik ini. Tapi saya sedikit terganggu dengan banyaknya kode strikethrough, coretan-coretan pada tulisan. Menurut saya, yang masih amatir, kode itu tidak perlu terlalu sering dipakai. Saya sebagai pembaca merasa kurang nyaman.

    Maaf jika saya salah, salam
    Johan
    ________
    Al Jupri: Iya gpp. Terimakasih atas kritik dan masukannya. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya. Salam juga. :D

  13. arrrasyid

    aslm, jangan berprasangka yang buruk pada diri sendiri. kalo kita sudah berprasangka buruk pada diri sendiri, bagaimana dengan prangsangka orang lain kepada kita? bisa dibayangkan…kan???
    saya seneng dengan cerita2 matematika yang khas dari kang Jup.
    o…ya sekalian saya mw jujur ‘n minta ijin….kadang-kadang kalo saya ada acara trus acaranya kosong…saya pake tebak-tebaknnya kang Jup, boleh kan? itung-itung ngisis waktu gitu sexian amal…insyaAllah Kang Jup dapat gantinya…
    katanya kalo kita menyebarkan ilmu, ilmu kita bakalan tambah ya?betul ga’?
    Oke..deh saya tunggu cerita matematika kang Jup ama analisinya yang Good!Good!Good.
    ___________
    Al Jupri: Terimakasih atas masukannya. Iya silakan, diijinkan. Asal tidak diakui sebagai tebak-tebakan milik pribadi saja. :D Terimakasih sudah membantu nyebarin ilmunya. Mudah-mudahan ilmu kita makin bertambah dan semoga bernilai ibadah. Amin. Terimakasih. :D

  14. kalo ada ilmu walaupun hanya sedikit baiknya dibagi, sama siapa saja, siapa tahu dari ilmu yang sedikit itu akan melahirkan kebaikan yang lain.
    _______
    AL Jupri: Iya betul. Setuju. :D

  15. tidaaaaaaaakkkk, lagi – lagi matematika…..
    ____________
    Al Jupri: Iyaaaaaaaaaaaaa.. :D

  16. cK

    menurut saya setiap blog pasti ada gunanya, entah itu cerita sehari-hari, peristiwa, ilmu ataupun informasi.

    dan blog ini berbobot kok. tapi saya aja yang kadang ga mudeng ama isinya.. :lol: :lol:

  17. Kayaknya setiap pribahasa memiliki arti dan semangat khusus, ga mlebar. Lagian kl padi melawan, lha apa jadinya he he…
    Faktanya, blog ini banyak pengunjung dan slalu ada respon. Artinya, tulisannya menarik dong! Jadi, jalan terus aja, Insya Allah bermanfaat.
    Mungkin sudah dipikirkan untuk menulis buku pelajaran matematika (SD, SLTP, SMA atau PT) ? Untuk SD-SMA, kayaknya, kl pake bahasa keseharian, kayak di blog ini, rame tuh. Saya pasti beli, ok!
    ___________
    Al Jupri: Menulis buku pelajaran ya Pak? :D Insya Allah. Terimakasih atas dukungannya Pak….. :D

  18. waluyo

    JANGAN “seperti” = yang di garis bawahi “anakku”

    Secara singkat setuju aja, tulisan itu sepertinya mennggambarkan apa yg ada dipikiran anda. Saya tidak melihat sisi itung-itungannya….yang sudah pasti benar (karepe dewe). Tapi Sisi Ilmu Padi dan Tong Kosong. Saya lebih dalam memberitahukan bahwa yang mungkin di maksud ilmu padi dan tong kosong itu dalam arti harfiah…..berkoar atau sombong secara nyata………..kalo orang lain jarang yang nulis seperti yang anda inginkan…itu bukan berarti amalan ilmu padi……loch….tapi memang ilmu itu mungkin sangat sulit di tulis atau banyak kendala untuk menulisnya……jadi jangan merubah peribahasa ,,,,jika dalam kondisi emosi. Thankss…

  19. Bukan berarti orang yg menulis itu lebih tahu dari orang yg membacanya dan bisa jadi juga sebaliknya. Dalam menulis, terlebih di BLOG, menurut saya, disana terdapat proses belajar, berbagi, terlebih sebagai bahan untuk mengingatkan diri sendiri [tidak tertutup kemungkinan org lain] yg lebih banyak lupa serta berusaha menyelamatkan sedikit harta karun dan ilmu hal yg diketahui agar tidak menguap begitu saja, lebih-lebih hanya untuk dinikmati sendiri. Dan tentu, berbagi dalam hal-hal ilmu yg baik punya nilai yg baik pula di sisi-Nya..insya Allah :)

    Mohon maaf utk salah kata.

    Salam

  20. pake rumus begitu ya..

  21. bad mun

    Iya betul ustadz, (maaf ikut nimbrung)
    Bukan berarti yang gak nulis itu karena tidak mau berbagi ilmu. (karena banyak faktor yang menyebabkan itu).
    Mungkin cara berbagi ilmunya berbeda, ada yang menulis di dunia maya, ada yang di sekolah atau perguruan, ada juga yang langsung dalam aplikasi keseharian.
    Alangkah hebatnya bangsa kita kalau dari semua lini memang sudah ada yang menggarap dengan proporsional dan profesional. (Ikhlas, Akhsan dan Amanah)
    Toh semua nanti ada per”tanggung jawab”annya di sisi Tuhan YME.

  22. nur syam

    very deep… jadi semangat buat belajar, abisnya “apa gunanya bagiku”belajar mat dah ketemu, makasi..om Jupri…

  23. Ahmaddani

    Mungkin untuk hal-hal tertentu banyak bicara memang diperlukan.
    Tapi terkhusus kasus tong di sini yang menggunakan perhitungan ‘sok’ matematis, sebanarnya nggak ada isinya. Alias emang bener-bener kosong.
    Mengapa?
    Inti dari perhitungan ini sebenarnya ada pada tulisan yang dicetak warna merah, ” Nah, sekarang bila 1 liter padi itu kira-kira massanya adalah 800 gram. Ya, nggak usah njelimet. Karena jelas massa jenisnya 0,8 gram/cm3. Kalau angka kira-kira ini diganti, ya beda pula analisanya.

    Trus isinya ? nggak ada. lah wong cuma kira-kira..

  24. Anonymous

    ilmu padi itu aplikasinya lebih ke dalam diri, kalau ilmu padi sudah bersemayam dalam diri kita maka apa yang kita suarakan insya Allah bukan suara tong kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s