Oleh: Al Jupri

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,* kata narsisme memiliki dua arti. Arti yang pertama, narsisme adalah hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan. Sedangkan arti yang kedua, narsisme adalah hal (keadaan) mempunyai kecenderungan (keinginan) seksual dengan diri sendiri.
Di artikel ini, seperti yang sudah biasa dilakukan para bloger lain, saya akan bercerita narsisme sesuai arti pertama. Sedangkan untuk arti narsisme yang kedua, saya tidak punya cerita.
Baiklah, saya mulai saja ceritanya ya? Cerita tentang apa? Kalau mau tahu, teruskan bacanya dooong…
Ya, saya akan bercerita masa kecil saya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ceritanya begini.
Mmmm… aaaa… mmm… duh kok jadi salah tingkah begini ya?
Entahlah, tiba-tiba jemari tangan saya jadi kaku untuk mengetikkan kata dan kalimat di layar monitor ini. Tidak tahu sebabnya. Apakah karena saya akan bercerita sesuatu hal yang tidak pantas diceritakan? Ataukah cerita berikut ini tidak layak ditampilkan? Ataukah karena hal ini tidak sesuai dengan karakter saya yang hampir tak pernah bercerita narsisme?
Bila judul artikel ini dibaca, mungkin Anda akan bertanya. Sebenarnya hal apa sih yang akan saya ceritakan terkait dengan bilangan 15? Apakah ada cerita istimewa tentang diri saya terkait dengan bilangan 15 ini? Jawabannya: ada!
Ya, dulu semasa SD, saya mencatat rekor yang mungkin tak pernah dialami oleh orang lain. Saya menorehkan sejarah secara berturut-turut meraih peringkat kelas kedua alias selalu menjadi runner-up sejak kelas 1 sampai kelas 5 SD. Sebuah prestasi yang tentunya membanggakan bagi saya. Hahahaha… malu-maluin ga ya? Masa peringkat kedua saja bangga!
Betapa tidak, selama 15 catur wulan, saya berhasil bertahan menjadi penghuni “abadi” peringkat kedua di sebuah kelas yang jumlah siswanya tak kurang dari 50 orang, di sebuah SD yang dapat dikatakan berkualitas di kampung saya.
Saya berhasil mempertahankan posisi tersebut, tak tergeser oleh teman-teman yang berperingkat di bawah saya, dan juga tak tergeser oleh sang peringkat pertama.
Waktu itu, walaupun cuma peringkat kedua, saya tetap bangga. Saya selalu senang dan rajin belajar. Rajin membaca, apalagi kalau membaca cerita. Hehehehehehe….
Bagi saya, waktu itu, peringkat kedua sudahlah cukup!
Apakah saya tidak ingin mendapat peringkat pertama?
Ya, tentu ingin! Tapi bagaimana ya? Teman saya yang selalu dapat peringkat pertama itu, sepertinya lebih pintar dari saya. Selama 15 catur wulan saya tak mampu mengungguli prestasi belajarnya.
Walaupun cuma peringkat kedua, ternyata eksistensi saya tetaplah diakui oleh guru-guru dan tentunya juga oleh teman-teman saya. Hahahahaha… PD abis nih….
Secara popularitas, menurut perasaan saya, saya sama populernya dengan teman yang peringkat pertama. Entahlah, lagi-lagi menurut perasaan saya, kami berdua begitu populer waktu itu. Populernya mungkin karena prestasi belajarnya yang selalu stabil, selalu duduk di peringkat pertama dan kedua, di mana hal ini sangat jarang terjadi. Biasanya peringkat satu, dua, dan tiga itu selalu berubah! Tak heran bila tiba waktu pembagian rapor, teman-teman selalu sudah bisa menebak siapa yang bakal menjadi peringkat pertama dan siapa yang bakal menjadi peringkat kedua. Hal yang mungkin bikin mereka bosan yang sebosan-bosannya.
Lalu, apa yang terjadi di kelas 6? Apakah prestasi saya membaik? Ataukah memburuk? Sabar ya….
Bilangan menurut amatan saya sangatlah istimewa! Apa istimewanya?
Dalam matematika, adalah bilangan ganjil yang terdiri dari dua faktor prima, yakni
dan
(sebab
di mana
dan
adalah bilangan prima).
Selain itu, juga merupakan bilangan yang terdiri dari dua angka, yakni angka
dan angka
. Bila kedua angka ini dijumlahkan, maka hasilnya adalah
. Ya,
dalam matematika adalah salah satu contoh dari bilangan sempurna alias perfect numbers. Bilangan
dikatakan sempurna karena jumlah faktor-faktor sejatinya** sama dengan dia sendiri, yakni
. Contoh lain dari bilangan sempurna itu adalah
, sebab jumlah faktor-faktor sejati dari
ini sama dengan dirinya, yakni
.
Lebih lanjut, selisih dari dan
adalah
. Bilangan
ini tentu sangat istimewa dalam matematika. Ada yang tahu? Bahkan di dunia kampus, bilangan
adalah sesuatu yang “kramat”! Sebab prestasi prestigius seorang mahasiswa adalah bila meraih indeks prestasi
. Betul?
Okey, kita kembali ke cerita masa SD saya!
Akhirnya, dengan sangat menyesal, saya harus ceritakan bahwa di kelas 6 prestasi saya berubah! Ya, saya tak lagi menghuni peringkat kedua. Saya tergeser! Saya tak mampu bertahan di posisi kedua lagi!
Saya berhasil menduduki peringkat pertama, dan alhamdulillah lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi.
Dan selanjutnya, cerita pun berubah.
=======================================================
Ya sudah segitu saja ya perjumpaan kita kali ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya. Dengan segala ketulusan hati Anda, saya mohon maaf bila cerita dalam artikel ini terkesan sombong dan membanggakan diri. Tak lain dan tak bukan cerita ini dimaksudkan untuk memotivasi diri saya dan juga pembaca sekalian, khususnya yang sedang belajar di bangku sekolah. Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa diambil dari cerita ini. Amin.
Tulisan ini saya hadiahkan untuk sang teman yang dulu selalu peringkat satu itu. Mudah-mudahan dia bisa tersenyum bangga dan bahagia membaca cerita ini.
=======================================================
Catatan:
*Diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, 22 February 2008. Jam 7:21 PM.
**Faktor-faktor sejati dari sebuah bilangan adalah faktor dari bilangan yang bukan dirinya sendiri. Contohnya, faktor dari adalah
dan
. Sedangkan faktor sejatinya hanyalah
, dan
saja.
Apa sih faktor suatu bilangan itu? Faktor suatu bilangan adalah pengali dari bilangan itu. Contohnya, maka
dan
adalah faktor dari
. Dan,
, makanya
dan
adalah juga faktor dari
.
17 Comments
February 23, 2008 at 1:32 am
Wedeww… kok bisa jadi yang pertama ya?
Ups! Hebat. =D>
kalo cuma cerita peringkat se ga hebat, tapi yang hebat adalah analisis bilangan-bilangan tersebut.
Smart. (siapapun tau pak Al so smart), ga narsis kok…
_________
Al Jupri: Terimakasih.
February 23, 2008 at 2:06 am
Huahahaha… narsisis habis deh!! Tapi ok nggak apa2 sih kalau narsisis prestasi,
daripada di blogger lain ada yg narsisis merasa ganteng habis, padahal kegantengannya masih kalah oleh kegantenganku! Wakakakak….
.Ya udah kembali ke topik deh, Angka 4 istimewanya apa ya?? Mungkin ia mempunyai faktor bilangan ‘2′, di mana bilangan ‘2′ ini jika dikwadratkan akan menjadi empat namun juga jika angka dua ini ditambahkan pada dirinya sendiri juga menghasilkan angka 4, begitu yaa?? Nggak tahu deh!
Kalau saya sih dulu di SD prestasinya biasa2 aja, dan orangnya waktu kecil males belajar, tapi itu istimewanya!! Biarpun males dan nggak mau belajar tapi tetap masuk ranking 10 besar walaupun nggak pernah jadi juara 2.
Yah, maklum deh namanya juga masih anak2, hobbynya main sama berantem waktu itu.
Bahkan sempet diajarin guru2 bule beberapa tahun di belahan bumi lain sampai bingung juga, ini anak kulitnya agak hangus, males belajar tapi kok ada yang bisa dibanggain yaa??!!Ya udah, pendek kata begitulah prestasiku waktu kecil yang “suram”. Masih syukur deh, gedenya bisa jadi
satpamorang! **emangnya sebelumnya apaan??**Postscript:
Good kids, please do not read this comment unless you are under your parents’ supervision!
_______
Al Jupri: Wah, terimakasih juga nih
pengalaman narsismenya..February 23, 2008 at 8:31 am
wew…. postingan ini sama saja kalimat iklan: “masak jeruk minum jeruk sih!” wakakakakaka … tapi ndak apa2 kok pak jupri. kenangan pak jupri yang selalu meraih prestasi runner up di kl 1-5 kemudian peringkat 1 di kelas 6 sebuah inspirasi yang luar biasa. ini menandakan bahwa setiap saat perubahan itu pasti terjadi. *halah, kok jadi sok tahu nih*
Wah, tuh kan Pak Sawali juga hebat nih, terimakasih atas tambahan utak-atik bilangannya Pak. Saya senang…
BTW, tentang angka 15 itu kalau diotak-athik ternyata ada hubungannya dg angka 6 yang sempurna dan angka 4 yang kramat dan istimiewa. nah, misteri hubungan angka 6 dan 4-nya kok belum diungkap, pak, hehehehe … misalnya, kalau ditambahlan menjadi 10, apa arti bilangan 10? lalu, kalau 6-4=2. terus perlu diungkap lagi, pak, apa hubungan antara angka 10 dan 2? kalau ditambahkan menjadi angka 12, kalau 10-2=8. lalu, apa hubungan antara angka 12 dan 8? kalau ditambahkan jadi 20, kalau 12-8, eh kembali lagi ke angka 4. apa hubungan antara angka 20 dan 4? kalau …. *halah* … sampek zaman akhir ndak ada habis2, yak Pak, kekekekekeke … *ngaco* matematika memang luar biasa. salut buat pak jupri. Barangkali bisa dijadikan postingan mendatang, pak, hubungan dari angka ke angka! hiks.
________
Al Jupri: Jeruk makan jeruk ya, Pak?
February 23, 2008 at 11:01 am
kenapa angka yang sama dengan penjumlahan faktornya dianggap sempurna??
_______
Al Jupri: Kenapa ya? Mmmm… mungkin karena bilangan lain jarang yang memiliki sifat seperti ini. Mungkin juga, karena bilangan sempurna tersusun oleh bilangan-bilangan yang merupakan faktornya sendiri (ah, mungkin karena matematikawan terlalu terpesona dengan bilangan yang punya sifat semacam itu, makanya disebutlah dengan bilangan sempurna… )
February 23, 2008 at 1:16 pm
Mas Jupri layak bangga. Saya saja yang membaca ikut bangga.
BTW, ada hal yang menarik. Yaitu pertanyaannya Spitodsaurus Rex. Mengapa dianggap sempurna? Apakah karena ada unsur ketuhanannya?
Oh ya, itu mah nggak narsis Mas Jupri. Narsis itu majang foto sendiri di blog anda lalu anda komentari “Wahh betapa tampannya aku”. Hehehe. Itu baru narsis. Hehehe
Mmmm… unsur ketuhanan ya? Kok saya ga mikir sampe segitu ya?
________
Al Jupri: Aduh jadi malu dibaca Bang Aip nih…
Btw, saya majang foto diri sendiri nih, hahahahahahaha…
*narsis abis… hahahahahaha… *Btw, lagi, ketika baca tulisan bang Aip yang tentang kenapa orang Indonesia membaca? Saya terinspirasi untuk menulis kenapa orang Indonesia menulis?
Ntar deh saya nulis…
February 23, 2008 at 3:15 pm
Perasaan dah komen deh … hilang apa kena sensor nich, atau kenapa ya? Padahal, dari tulisan ini saya terinspirasi menulis: Menulis, Narsisme atau atau Hikmah?
________
Al Jupri: Kapan Pak? Kok ga ada komennya? Belum kali… atau ketangkep Akismet? Oh, iya. Mana tulisan tentang narsismenya?
February 23, 2008 at 4:29 pm
enak bener bisa rangking satu. saya aja paling mentok cuma rangking 3.
kalau narsis versi saya, narsis itu biasanya henpon si narsis penuh dengan foto diri sendiri..
*teringat postingan lama*
________
Al Jupri: Oooo gitu ya Chik? Mentoknya di ranking 3? Saya juga mentoknya di ranking 2 (kalau ga 2 ya 1)
February 24, 2008 at 12:27 am
ah.. masa sd emang indah jup..
Atau berapa nih aaqq?
setelah smp dan selanjutnya.. rangking di rapot selalu berisikan dua digit angka. nasib.. nasib..
________
Al Jupri: Ranking dua digit itu bisa 10, 11,…, 20, 21,…, 30, 31,…,
February 24, 2008 at 12:51 pm
saya ranking 1 pas sd 12 kali…
bosen…
______
Al Jupri: Wah hebat… selamat!!!
February 25, 2008 at 12:59 pm
I am too sleepy to read now… whoaah…
*nguap ceritanya*
komentarnya nanti saja ya
______
Al Jupri: Iyaaaaaaaaa…
February 25, 2008 at 11:01 pm
mmm.. rata-rata yang punya Blog mestinya punya jiwa narsis biarpun cuma sepersekian persen…
Kalau orang China, mereka tidak menyukai angka-angka yang mengandung angka 4…. ciong katanya
Kenapa angka 4 itu? Ciong itu artinya apa?
_______
Al Jupri: Gitu ya mba?
February 26, 2008 at 6:02 am
Hitung2an matematika nya saya lewatin mas! Bingung bacanya! Salam kenal..
____
Al Jupri: Salam kenal juga…
February 27, 2008 at 9:16 pm
Wah kok mirip pengalaman saya pas SD ya Mas…
n NEM temen saya yang slalu dapet pringkat 2 itu malah jadi NEM yang tertinggi…
Tapi kbalikan Mas Jupri c…
Dari klas 1 cawu 2 sampe klas 6 saya slalu dapet rangking 1 n temen saya slalu dapet rangking 2 , eh pas Ujian ternyata NEM saya peringkat 2 alias bukan yang tertinggi
kalah diakhir, rasanya menyakitkan Mas
______
Al Jupri: Tapi kamu hebat…
Iya sih, juara di akhir itu memang manis…. paling manis kalau juara terus-terusan…
February 29, 2008 at 3:35 am
Nggak hoki Mas Al… katanya begitcu
_______
Al Jupri: Oooo itu ya artinya. Terimakasih.
March 2, 2008 at 1:01 am
saya senang dengan cerita ini……upaya meraih unggulan patut ditiru….jangan seperti saya….mulai dari SD (awal ‘50an) sampai PT (awal ‘60an), saya kurang memiliki spirit itu…….mungkin eranya tidak bernuansa kompetitif……bahkan pernah tidak naik ke kelas tiga SMP……kunaon?….biasa bandel, malas belajar, n main sepak bola melulu dlsb yang sejenis……….tapi fenomena itu ahamdulillah menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk mendorong saya berprestasi akademik yang lebih baik…..
_______
Al Jupri: Terimakasih Prof. Kapan-kapan saya ingin bapak juga bercerita tentang masa kecilnya. Biar kami yang masih junior ini bisa menimba pengetahuan dan wawasan dari Prof. Ok Prof? Saya tunggu deh ceritanya yaaaaaaaaaaaaaaaaaa…
March 2, 2008 at 6:34 am
aslam, kang jupri..
wah lama nggak buka blog ini jadi telat ya..
ngomonong-ngomong rangking pas SD, dari kelas 1 mpe kelas 2 saya pernah dapat rangking 11 dari 12 siswa. tapi anehnya mulai kelas 3 mpe kelas 6,saya selalu alhamdulillah slalu dapet peringkat 2 begitu juga NEM saya dapet peringkat 2.(saya nggak narsis lho)….
saya seneng kang Jup kalo cerita pasti ada analisisnya. Analisisnya Good!good!good! aq suka.Jadi ga’ cuma cerita-cerita kosong tak bermakna. Kalo gini kan…otak kita jadi senam lagi…tambah sehat eeeuy….
_______
Al Jupri: Iya terimakasih. Terimakasih juga sudah bercerita
narsismenya….April 12, 2008 at 6:48 am
Kenangan ma matematika di SD, aq baru tau caranya 1900-1873 pas duduk di kelas 5. menyedihkan……