Oleh: Al Jupri
Cerita berikut ini adalah lanjutan dari cerita: Jawabannya 4 dan 9
Di ruang guru, Pak Syahrudin mendiskusikan pertanyaan yang diajukan Tom dengan guru-guru matematika yang lain.
Oh, iya. Pertanyaan dari Tom itu begini:
Bilangan berapa saja yang bila dijumlahkan hasilnya
tapi bila dikalikan hasilnya
? Atau bila ditulis dengan simbol begini soalnya.
dan
“
Sebetulnya pertanyaan tersebut mudah dijawab oleh Pak Syahrudin, tetapi jawabannya mencakup content matematika di luar cakupan matematika tingkat SMP. Makanya Pak Syahrudin tak langsung menjawabnya di kelas. Beliau perlu masukan dari guru matematika lain bagaimana menjawab pertanyaan yang diajukan salah satu murid terbaiknya itu.
Bila dijawab dengan cara yang sudah biasa diketahui, caranya seperti berikut ini (bagi yang tidak berminat tidak usah membacanya).
Since
, then
. Substituting this to
, we obtain
. Doing a little computation we obtain
. Using the quadratic formula, we have solutions
and
.
For
then 
For
then 
(Mohon maaf bagi penutur bahasa Indonesia tulen, saya lagi ingin menulis jawaban ini dalam bahasa wong bule.… ).
Jawaban pertanyaan Tom itu dalam bentuk bilangan complex, makanya tidak langsung dibahas di kelas oleh Pak Syahrudin.
“Iya nih, kalau saya jawab dengan cara biasa, maka hasilnya adalah bilangan complex,” begitu kata Pak Syahrudin pada Pak Bangun salah seorang guru matematika lainnya.
“Iya juga ya,” Pak Bangun setuju, sambil melihat pertanyaan dan hasil perhitungan Pak Syahrudin.
“Kalau begitu, menurut bapak, cara penyampaiannya bagaimana nih? Jawaban soal ini dalam bentuk bilangan kompleks (biasa dikenal dengan jawaban yang imajiner) itukan setidaknya mulai dikenal sejak tingkat SMA, bahkan umumnya baru dikenal di tingkat perguruan tinggi,” lanjut Pak Syahrudin.
Pak Bangun tampak berpikir, diam! Pak Syahrudin, juga berpikir, tapi sepertinya menunggu pendapat Pak Bangun.
Guru-guru matematika yang lain ikutan nimbrung. Melihat permasalahan yang diajukan si Tom yang sedang dibahas oleh Pak Syahrudin dan Pak Bangun.
Terjadilah diskusi yang ramai. (Ini jarang-jarang lho, biasanya di ruang guru itu banyaknya ngegosip… sok tahu ya saya ini?
)
[ Bersambung...]
Ya sudah, segitu dulu ceritanya ya. Nanti saya sambung lagi deh…. Mudah-mudahan cerita ini ada manfaatnya bagi para pembaca pada umumnya, bagi guru pada khususnya, dan bagi para guru matematika (sangat) khususnya. Amin.
=======================================================
Oh, iya. Ada yang menarik nih! (Menarik engga ya?)
Sambil menulis artikel ini, saya chatting sama beberapa teman. Salah seorang teman saya bertanya sambil becanda. Begini pertanyaan dan jawabannya.
Teman saya: “Menurutmu: bagaimana suara orang bertepuk dengan satu tangan?”
Jawaban saya: “Eeeeuh eeeuh eeeuh eeeuh.”
Teman saya: “Kok bisa?”
Jawaban saya: “Ya iya laaaaaaah, kan suara orangnya, bukan suara tepukannya.”
Teman saya:”
“