Cara Mengkritisi Puisi, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

 
  Tuhan…
berikan aku mimpi malam ini
Tentang matematika
Yang diujikan besok pagi
(Puisi ini karangan Zul Irwan yang saya kutip dari GusDur.Net)
 
 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Akhirnya, saya bisa menemukan juga contoh puisi yang terkait dengan matematika. Ternyata, tak “jauh” saya menemukan puisi yang saya kutip tersebut. Ya, saya temukan ketika membaca-baca aneka anekdot yang terkait Gus Dur di GusDur.Net.

Baiklah, apa yang mau saya lakukan terhadap puisi hasil kutipan tersebut?

Pertama. Harus saya akui, saya bukanlah seorang penyair yang pandai bikin puisi. Bukan pula orang yang gemar berpuisi. Dan saya pun sangat jarang sekali membaca puisi. Selain karena belum mengerti, juga karena “bahasa” yang dipakai dalam puisi itu, katanya, biasanya harus mengandung nilai seni dan sastra yang hebat dan multi-tafsir. Karena itulah, hingga kalimat ini diketik, saya belum pernah menulis puisi. (Seingat saya, semasa sekolah dulu dalam pelajaran bahasa, tugas yang sering saya terima itu hanyalah membaca puisi dan mengapresiasinya. Bukan membuat puisi!)

Yang kedua. Sebagai orang Indonesia, untuk menutupi kelemahan diri yang belum bisa berpuisi ini, saya akan mengkritisi puisi tersebut. Ya, yang akan saya lakukan berikut ini bisa dikatakan mirip komentator olah raga di TV. Yang pandai bicara “ini-itu”, tapi belum tentu bisa melakukan bila ia itu turun sebagai pemain dalam olah raga yang dikomentarinya.

Kata Gus Dur, puisi tersebut menggambarkan suasana hati seorang anak kecil, usia di bahwa 15 tahun, yang begitu jujur dalam mengungkapkan keinginannya. Ya, keinginannya agar bisa mengerjakan ujian matematika yang akan dihadapi keesokan harinya.

Ketika saya membaca puisi tersebut, sepertinya kali ini, saya sependapat dengan Gus Dur. Ungkapan hati yang jujur lewat puisi itu ternyata tak perlu menggunakan kata-kata sulit yang banyak tafsiran. Cukup dengan kata-kata sederhana apa adanya. Tak berbelit-belit, mudah dipahami, enak dibaca, dan jelas maksudnya.

Puisi tersebut bisa saya katakan cukup sederhana, tapi luar biasa. Terdiri dari satu bait, empat baris, tiga tanda baca, dan dua belas buah kata yang berbeda. Makna puisi ini pun cukup mudah kita pahami. Kita tak perlu lelah kerutkan dahi, tak perlu coba-coba buat tebakan maknanya, sekali baca langsung paham. Kelebihan lainnya, puisi ini pun bisa bikin pembacanya mengekspresikan beragam rasa sepuasnya. Lucu, unik, aneh, tapi jujur pengungkapannya.

Lucunya puisi ini bisa bikin kita tertawa sepuasnya. Terbahak-bahak, terkekeh-kekeh, atau cuma senyum simpul yang manis saja. Ya terserah selera humor kita. Hahaha…. :mrgreen:

Uniknya puisi ini, selain berbeda juga karena terkait dengan matematika. Sangat jarang dan karenanya tak mudah kita temukan puisi semacam ini. Puisi tentang cinta, itu mudah kita cari. Puisi tentang perjuangan, itu mudah kita dapatkan. Puisi tentang keresahan hati, itu bisa gampang kita temukan. Tapi, puisi tentang matematika?

Anehnya puisi ini karena isinya yang meminta mimpi. Apalagi mimpi tentang matematika. Biasanya mimpi yang kita idam-idamkan itu, menurut primbon kuno yang belum tentu kebenarannya, adalah mimpi kejatuhan bulan, mimpi ketemu artis pujaan, atau mimpi-mimpi indah lainnya. Sedangkan dalam puisi ini, aneh tapi nyata, minta mimpi tentang matematika.

Jujurnya puisi ini karena menggambarkan rasa sang penulis puisi yang apa adanya, tak pura-pura, tak malu-malu, dan langsung pengungkapannya. Tak menggunakan kata-kata bersayap yang memungkinkan orang salah tafsir dalam memaknainya.

Selain “kritisasi (?) = komentar” yang sudah saya tuliskan tersebut. Saya ingin sedikit “bertanya” tentang pilihan kata yang tertuang dalam puisi tersebut.

Dalam puisi teresebut, tertulis kalimat “Yang diujikan besok pagi”. Padahal penulis puisi itu adalah anak-anak usia di bawah 15 tahun, yang tentunya masih sekolah. Yang ingin saya tanyakan adalah kenapa pilihan kata yang dipakai itu adalah kata “diujikan“? Saya bertanya karena, setahu saya, di sekolah itu kata yang biasa dipakai adalah kata “ulangan” bukan “ujian”.

Ah, atau karena sang penulis itu berjiwa seni, sehingga pilihan katanya pun enak dibaca dan pas penempatannya?

Entahlah. Sepertinya ini karena saya tak paham tentang seni penggunaan kata saja. Iya, engga? Hehehe…. :D

Yang ketiga. Supaya saya tak seperti komentator TV beneran yang bisanya cuma berkomentar “ini-itu”doang, saya beranikan diri ini untuk menulis sebuah puisi seperti berikut ini. Karena puisi di bawah ini adalah puisi pertama saya, artinya ini adalah langkah awal saya belajar berpuisi. Jangan ditertawakan ya kalau puisi ini cara pembuatannya nyontek seperti puisi kutipan di atas….. hehehe… :D

 
 

Ya Allah…

Berikan saya

kekuatan

kemampuan

kefasihan dan

kemudahan

membuat artikel-artikel matematika

yang mudah dipahami

enak dibaca dan

bermanfaat

bagi siapapun pembaca blog ini

Amin

 
 

=======================================================

Ya sudah, sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin.

Catatan:

-Mengkritisi puisi berarti bukan hanya mencari kelemahan-kelemahan puisi saja, tapi juga mengungkapkan kelebihan dan karakteristik puisi yang kita kritisi itu. Betul tidak ya? :D

- Kritik puisi di artikel ini belum tentu sesuai dengan kaidah keilmuan dalam mengkritisi puisi. Tapi, saya berusaha menggunakan “metode umum” dalam mengkritisi “sesuatu”. Mudah-mudahan tidaklah menyimpang. Bila ada kekeliruan atau kekurangan, mohon koreksinya ya. Terimakasih. :D

-Saya tunggu kritik dan komentar dari Anda khususnya para ahli bahasa, ahli matematika, kritikus seni, penikmat seni puisi, seniman puisi, dan pembaca sekalian. Silakan kritik tulisan ini. Dengan senang hati saya akan menerimanya. :mrgreen:

About these ads

29 Comments

Filed under Bahasa, Curhat, Harapan, Iseng, Kenangan, Matematika, Menulis, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan, Sastra

29 responses to “Cara Mengkritisi Puisi, Bagaimana?

  1. kenapa pake kata diujikan?
    ya jelas..
    jadinya nanti aneh kalo pake kata ulangan

    masa diulangankan… (aneh)
    atau,
    diulangkan (maknanya berubah)
    :D
    __________
    Al Jupri says: Iya ya…, makasih nih mas. Salam kenal. :D

  2. Kang Jupri mungkin sudah lupa acara TVRI awal tahun 1990-an Square One TV, acara khusus tentang matematika buat anak2 yang disponsori oleh IBM. Acaranya keren banget, di sana banyak nyanyian (yang pasti kang Jupri nggak suka :D ), dan juga puisi. Salah satu yang paling mengesankan saya adalah lagu The Mathematics of Love, yang mengajarkan anak-anak tentang sistem bilangan Romawi. Liriknya begini: (Maklum ini acaranya ‘bule’ jadi walaupun buat anak2, tapi udah diperkenalkan dengan love huehehehe… :D )

    Mathematics of Love

    One night….the stars were glowing..
    two hearts….were overflowing….
    three words (I love you) hit like a bolt from above..
    four arms… were hugging tightly…
    five times.. I kissed you tightly…
    So goes the mathematics of love!!
    One two three forever I’ll keep on counting the ways
    One thousand night…. I’ll hold you….

    It’s the mathematics of love….!!

    Huehehehe….. Saya mbaca artikelnya kang Jupri jadi ingat acara Square One TV, terus saya cari videonya di youtube ternyata ada. :D Thanks ya! :D
    __________________
    Al Jupri says: Terimakasih nih, Pak Yari. Saya malah baru tahu kalau ada acara seperti itu. Makasih info puisi matematikanya, nambah referensi nih. Hehehe…. Oh, iya. Awal tahun 1990-an, saya masih anak-anak SD kelas 3-an. Belum ngerti bahasa Inggris (saya baru belajar bahasa Inggris ketika kelas 1 SMP, tahun 1994/1995), makanya kalau ada acara-acara yang berbahasa Inggris langsung ga ditonton. Hehehe….. :D

  3. Hahahaha … ini dia pakar Matematika kita yang senang berpuisi :D . Salut deh! Jarang lho ya, orang yang terbiasa bergelut dengan rumus2, tapi masih menyempatkan diri untuk melakukan refleksi sekaligus mencoba menemukan “katharsis” terhadap berbagai persoalan hidup. Ya, puisi memang sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai hidup dan kehidupa. Sudah so pasti, sebuah puisi diciptakan sang penyair pasti tidak dalam “suasana yang kosong” –ini pinjam istilahnya Prof. A. Teew, lho. Artinya, ada nilai-nilai dan pesan tertentu yang hendak disampaikan kepada pembaca (khalayak). Persoalannya adalah bagaimana mengemas nilai-nilai kehidupan itu menjadi lebih sublim dan matang sehingga tidak terkesan vulgar dan menggurui pembaca. *berlagak kayak ahli sastra nih*. Oleh karena itu, dalam puisi Indonesia mutakhir dikenal adanya puisi diafan (transparan) dan puisi prismatis. Yang diafan itu yang kata2nya jelas, gampang dipahami, tak perlu mengerutkan jidat berulang-ulang. Yang prismatis memerlukan beberapa kode, yaitu kode bahasa, sastra, dan budaya, untuk dapat menafsirkan dan mengapresiasinya.
    Nah, perlu juga dibedakan antara kritikus dan penyair. Seorang kritikus sastra yang baik –ini menurut saya lho, Pak– sebaiknya janganlah seorang penyair. Ada kecenderungan untuk “memaksakan” gaya ucap puisinya dalam memahami puisi orang lain. Ini tentu saja tidak fair. Sebaliknya, seorang penyair janganlah menjadi kritikus –dengan alasan yang sama.
    Nah berkaitan dengan itu, mungkin Pak Al-Jupri bisa mengaitkan kode-kode dalam puisi dengan rumus matematika. Bahkan, mungkin dengan kombinasi angka2 tertentu setelah diberi sandi bisa dirancang menjadi sebuah puisi yang bagus. Selama ini (hampir) belum ada yang melakukannya. Pak Al-Jupri mungkin punya waktu dan kesempatan untuk melakukannya? Wah jika terwujud, ini merupakan sumbangan yang besar bagi perkembangan dunia matematika dan kesusastraan, terutama puisi.
    OK, Pak, mudah2an kita masih bisa terus bersambung rasa, meski sekalipun belum pernah “beradu jidat”. Hehehehehe :mrgreeb: .
    __________
    Al Jupri says: Hahaha…, duh ketahuan nih ketidaktahuan saya akan puisi. Ketidaktahuan saya akan jenis puisi juga jadi ketahuan hehehe (saya baru tahu kalau ada puisi jenis diafan dan prismatis. Jadinya, makasih banget nih, Pak, atas masukan dan juga semangatnya. :mrgreen:

    Oh, gitu ya, Pak. Ternyata, penulisan puisi itu ada kode-kodenya ya? Saya juga baru tahu tuh….

    Oh, iya lagi. Kalau saya disuruh milih jadi penyair atau pengkritik puisi, sepertinya saya ingin bisa membuat puisi aja deh. Tapi kalau tak disuruh milih, saya ingin bisa dua-duanya. Hehe… ( dasar maruk banget saya ini ya… ).

    Ya, udah gitu aja, terimakasih banyak atas semuanya. Mudah-mudahan kita bisa sambung lagi nanti. Walau belum bertemu jidat hehe… :mrgreen:

  4. Saya suka nulis puisi juga, terutama tentang hati kalau lagi kusut…. rada sensian orang nya
    ____________
    Al Jupri says: Coba dong tulis puisinya. Hehe.. :D

  5. …. untuk menutupi kelemahan diri yang belum bisa berpuisi ini, saya akan mengkritisi puisi tersebut …

    Saya pikir Sampeyan dapat kunci Inggris yang benar. Itu penyakit bawaan yang diturunkan langsung oleh guru-guru kita. Mengkritisi puisi Ok, tetapi … menulis puisi lebih penting, lebih membelajarkan diri, karena puisi adalah ungkapan paling beramkna, mendalam, verstehen.

    Berpegang teguhlah pada kata-kata Sampeyan sendiri … untuk menutupi kelemahan diri yang belum bisa berpuisi ini, saya akan mengkritisi puisi tersebut … Amin
    ___________
    Al Jupri says: Ya betul, Pak. Berkarya dulu itu jauh lebih penting dan bermanfaat, ketimbang banyak omong ini-itu tapi tanpa karya. Hahaha…, saya sudah melakukannya sekaligus di artikel ini. Sebagai pengkritik bohong-bohongan , sekaligus sebagai penyair pemula yang masih kacangan . Hehe…

  6. Puisi apa yang paling sempurna? Al Quran. Bukan untuk dikritisi … tetapi dipelajari, dinikmati, dilakoni muatan perintah dan nilai-nilainya …

    Ketika membuat antologi puisi Surat Buat Kekasih (simak: http://www.ersis07.wordpress.com) di provinsi saya banyak orang (seniman?) mengkritisi. Padahal, saya diundang seorang kawan untuk membacanya di TIM (saya tolak karena bukan seniman). Banyak pujian dan bagi saya angin lalu saja. Maunya saya kan menulis puisi.

    Saya bikin antologi, kemudian banyak seniman Nusantara bergabung dan bikin Kolaborasi Nusantara dari Banjarbaru, lalu Tajuk Bunga , lalu … lalu bikin antologi lagi.

    Pesan saya, perkaya dulu karya, kritisi belakangan. Karya karya … menulis … menulis … menulis puisi.

    Bagainman menurut Sampeyan?
    _______________
    Al Jupri says: Ya, betul Pak. Al Qur’an memang bisa dipandang sebagai Maha Karya Sastra terbesar di alam ini. Mampu merontokkan keindahan sastra arab jahiliyah yang dibangga-banggakan itu. BAhkan hingga sekarang, dan kemudian hari, tak akan ada karya sastra yang akan mampu menandinginya.

    Betul juga, Pak. Insya Allah, saya akan berkarya dulu. Banyak menulis puisi (mudah-mudahan bisa). Nanti mengkritik (itu juga bila saya bisa. Hehehe…) :D

  7. Kali ini tidak perlu mengerutkan dahi lagi.Hanya berdecak kagum, ck, ck,ck ! Hebat euy ! salut !
    ________
    Al Jupri says: Biasanya juga ga mengkerutkan dahi kan? :D Terimakasih ya… :D

  8. jadi cara mengkritisinya bagaimana ??? ehmmm gimana kalau dibandingkan dengan distribusi normal umpamanya … kekekeke
    ___________
    Al Jupri says: Caranya seperti yang sudah saya uraikan di artikel ini. Hehehe… :D Kalau dibandingin dengan distribusi normal, maksudnya gemana nih Kang? :D

  9. tak pernah ada puisi ‘final’ artinya : puisi yang sudah jadipun jika ‘di peram’ untuk kemudian dibaca lagi, akan ada kemungkinan bujukan untuk merubah puisi itu. penambahan atau pengurangan kata, diksi, atau bahkan merubahnya secara ekstrim.

    jadi, bisa ‘diujikan’ di ganti :

    Tuhan…
    berikan aku mimpi malam ini
    Tentang matematika
    Pada ujian besok pagi

    maaf kalo puisinya jadi rusak begitu, saya cuma menempatkan kata dari pak jupri (ujian atau ulangan) dan saya rasa bisa cocok (atau dicocok-cocokkan?) untuk mengganti kata ‘yang diujikan’.

    maaf kalo salah ^^v

    ahh saya memang kadang suka sok tahu :mrgreen:
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih nih usulannya. Menarik! Hehehe…. :DS Iya juga ya, kalau kita terus-terusan mengkritisinya, puisinya malah ga jadi-jadi, selalu pengen diubah-ubah. :D

  10. little_@

    di penat senja,
    dilangkah-langkah yang berat
    matahari terlalu cepat tenggelam ku rasa
    banyak hal yang belum terangkai
    untuk melingkari bilangan jam
    yang tak pernah menengok ke kiri
    semakin banyak saja nafas berlalu
    sementara angin tak sempat menghitungnya
    ketika ku temukan matematikawan bersajak di sini
    neraka angka-angka serasa tersiram,
    padam
    ***

    Hwaa… pak jupri berpuisi? boleh juga.
    menurutku puisi tu bentuk tulisan paling merdeka. apapun yang tertulis kalau kita ngotot nyebut itu puisi, orang lain tak menggugat . paling2 ngasih apresiasi sesuai kapabilitasnya.
    kalo aku se… nyebut puisinya zul irwan sebagai Do’a… he2.. ni terserah aku juga kan.
    _________
    Al Jupri says: Wah, puisimu bagus euy…, saya mah belum bisa buat kayak gitu…. Ajarin dong… :D

  11. cK

    yay! ada yang bikin puisi lagi hohoho…

    yes! masukin ke bulan puisi! :mrgreen:

    *bangga merasa berhasil menghasut orang-orang untuk membuat puisi* :lol:
    _________
    Al Jupri says: Hahaha…. ga kok saya ga terhasut. Yang saya bikin cuma kritik-kritik bohongan puisi saja. Beda bukan? Hahaha…. :D

  12. zainurie

    Bagaimana kalau di adakan lomba bikin puisi saja?….pasti menyenangkan,..tapi siapa nanti yang akan jadi jurinya ya?….
    _______
    Al Jupri says: Mas Zainurie aja yang jadi jurinya. Gemana? Hehehe… :D

  13. Payah tuh anak, kebanyakan orang kan kalau bangun akan lupa mimpinya.
    kenapa enggak doa pengawasnya rabun aja? :D
    ________
    Al Jupri says: Haha…, ga boleh gitu dong kang. Kasihan pengawasnya. :D

  14. Ass, semakin tertarik nih sama blog bapak. Tidak hanya jago matematika tapi bisa membuat puisi juga ternyata.Salut pak… Wassalam.

  15. Eny D. Setiawan

    SURAT BUAT MAMA

    Mama, tadi di sekolah pak guru marah-marah, karena aku kurang suka pada apa yang diajarkannya.
    Pak guru mengajariku matematika.
    Pak guru memaksaku menghafal rumus phytagoras sampai logaritma.
    Tapi sayang, ia tak beri tahu apa manfaatnya. Mama, apa belajar matematika cuma perkara angka dan logika?
    Tanpa bisa disentuhkan dengan cinta?

    (He…he…, jadi pengin bikin puisi juga nih!)

  16. sultanhabnoer

    Wah..analisisnya jitu Bung. Komentator TV pasti kalah deh…Puisinya bagus tuh..!

  17. Jangan mendekat jika kau taku tertangkap. Jangan berlari jika ingin kau dapati. hari datang kemudian pergi. Kau tak’kan pernah menyesal, jika kau turuti putihnya kata hati.

  18. Jangan mendekat jika kau takut tertangkap. Jangan berlari jika ingin kau dapati. hari datang kemudian pergi. Kau tak’kan pernah menyesal, jika kau turuti putihnya kata hati.

  19. maaf neh mas2/mba’k kalo saya langsung nyelonong saja. soalnya dah lama banget saya pengin kirimin karya2 puisiku di media, tapi ga PeDe. (Salam kenal dari saya).

  20. oia, aku juga mo berkomentar neh,,,bolehkan,,,? kalo menurut saya jika memang ada puisi matematika itu
    ya,,,mungkin bukan berarti puisi yang ada kata2 “matematika”-nya. contohnya : empat kali empat sama dengan enambelas. Sempat tidak sempat harus di balas. Upps,,,,itu pantun apa puisi ya, ko jadi bureng gini seh…….. aduh,,,,,,,,,,,,,,,,,kesandung gunung dech,,,,,,

  21. Biruku biru langit
    Tak sama jika lautan dekat
    Hidupku terlalu Pekat
    Menatap haripun tak dapat

  22. Lihatlah diatas bukit sana….
    Seorang Matematikawan sedang menghitung bintang
    Mungkin akan membagikan satu2 kepada kita
    Mungkinkah cukup…?
    Ataukah kita harus membantu menghitungnya
    lalu kita mengambil satu sebelum dibaginya…?
    Tapi aku rasa berlebihan jika aku melihat, kemudian menyentuhnya, dan mengharapkannya.

  23. supriman

    wahyu yudi:

    Seorang matematikawan sedang menghitung bintang

    saya (nambahin):
    Bintang yang tak berhingga jumlahnya
    Sang matematikawan berpikir
    Gunakan saja limit
    Hingga yang tak berhingga dapat dihitung
    Hingga yang tak diketahui menjadi jelas

  24. Ass.
    Salam kenal dari saya, cara menganalisis puisi di atas memang lumayan bagus karena ada seninya juga sih.
    sangat bermanfaat bagi saya karena saya sedang mengembangkan / men post kan Puisi dengan Analisisnya.

  25. KangBoed

    Waaaaah.. sekali kali berkunjung tempat saya sekalian di nilai puisinya yaaaa
    Salam Sayang

  26. q mumet lo uruh apalan rumus matematika,rumus dipuisikan bisa ga ya

  27. Ani

    Kak tlong dong puisi q di esai kan
    judul : petaka di kelahran badai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s