Akibat “Kesombongan”

Oleh: Al Jupri

Cerita Pertama

Dua tahun lalu, September 2005, saya pernah mengikuti pra jabatan pegawai negeri sipil di kota Bandung. Selama hampir dua minggu, beserta ratusan calon pegawai negeri sipil lainnya, kami dikarantina di tempat pra jabatan kota itu.

Tentunya, waktu itu, saya berkenalan dengan orang-orang dari beragam instansi. Tak hanya kenal biasa, bahkan perkenalan itu berujung pada pertemanan atau persahabatan. Mengingat selama masa itu, susah-senang dilalui bersama.

Mulai hari pertama, hingga hari terakhir terasa begitu asyik dilalui. Aktivitas sejak pagi buta hingga malam gulita dikerjakan dengan beragam rasa. Ada senangnya, ada susahnya, ada lucunya, ada juga was-wasnya.

Ada satu hal menarik yang ingin saya ceritakan di sini.

Ceritanya, di hari-hari terakhir, kami akan dites dengan beragam pengetahuan yang sudah diberikan. Untuk menghadapi tes tersebut, tentunya di malam hari, kami belajar bersama. Waktu itu, saya dengan seorang teman yang sudah bergelar doktor, belajar bersama mengenai “sistem ke-administrasian pemerintah” negeri kita.

Bagi saya, topik ini cukup asing. Karena saya memanglah tak begitu tahu-menahu tentang administrasi, selain itu saya pun agak malas mempelajarinya. Sedangkan teman saya, yang doktor itu, sangatlah akrab dengan materi tersebut. Karena beliau adalah doktor di bidang ke-administrasian, yakni administrasi pendidikan.

Sambil becanda kesana-kemari, kami belajar dengan gembira hingga malam larut.

“Kalau saya sih sebenarnya tidak usah belajar masalah administrasi dari buku ini. Semuanya saya sudah tahu, sudah mengerti,” begitu teman saya itu berpendapat.

Kemudian saya pun menimpalinya. “Ya iyalah…, Pak ‘Doktor’ kan ahli di bidang administrasi,” begitu pujian saya padanya. Mendapat pujian dari saya, rupanya ia jadi sangat bangga.

“Pri, kamu kan tadi sudah baca semua isi buku administrasi ini. Coba deh kamu tanya saya, pokoknya apa saja dari buku yang sudah kamu baca ini, saya pasti bisa menjawabnya,” begitu ia berkata dengan sombongnya.

“Bener nih Pak Doktor? Tapi Pak Doktor tidak boleh lihat buku ini ya?” tanya dan pinta saya sambil becanda.

“Iya, ayo silakan tanya saya! Saya tak perlu lihat buku itu. Tak perlu, semuanya saya sudah tahu, sudah ngerti!” tegas iya ke saya.

Kemudian saya pun bertanya tentang yang saya baca dari buku administrasi itu. Ditanya “ini”, ia bisa jawab. Ditanya “itu”, beliau pun dengan pandai menjawabnya.

“Beliau memang benar-benar pandai, ahli di bidang administrasi,” pikir saya.

“Ayo Pri…, tanya lagi. Apapun yang kamu tanya tentang administrasi dari buku ini, saya bisa menjawab kan? Hehehe…,” ledek ia ke saya.

Karena beliau ngeledek saya, walau cuma becanda, akhirnya saya pun bertanya dengan becanda pula.

“Hmmm, ok, saya mau tanya ya, Pak Doktor? Ini sih sebenarnya cuma pertanyaan anak SD. Kalau Pak Doktor bisa, saya akan akui kalau engkau itu benar-benar pandai,” begitu kata saya padanya.

“Hahaha…, mau pertanyaan anak SD kek, SMP kek, SMA kek, mahasiswa kek, professor kek, saya pasti bisa menjawabnya. Asalkan pertanyaan itu sumbernya dari buku administrasi yang kamu pegang itu,” begitu katanya sambil tertawa.

“Ok deh, Pak Doktor. Ini pertanyaan anak SD ya…. Tapi jangan anggap remeh! Apakah Pak Doktor bisa menyebutkan isi dari salah satu pasal tentang Undang-undang keadministrasian di halaman 27 ini? Bila bisa, coba SEBUTKAN dengan jelas dan benar!” begitu tanya saya.

Mendapat pertanyaan dari saya itu, langsung ia terdiam. Tak bisa menjawab. Diam dan bungkam seribu bahasa. Mukanya memerah. Celingak-celinguk dan tersenyum kecut. :D

“Hahaha… akhirnya Pak Doktor tak bisa menjawab pertanyaan saya. Hahaha…,” begitu tawa saya sambil becanda. Kemudian beliau pun ikutan tertawa, walau agak kecut mukanya.

=======================================================

Cerita Kedua

Dua tahun sebelum masa pra jabatan itu, tahun 2003, saya baru menjadi mahasiswa tingkat tiga di salah satu PTN di kota Bandung. Ada satu cerita menarik, mirip cerita pertama, yang ingin saya ceritakan di sini.

Ceritanya, waktu itu saya mengikuti mata kuliah Evaluasi Pembelajaran Matematika. Kuliahnya sangatlah menarik. Karena sang dosen begitu asyik menyampaikannya. Penyampaiannya enak dicerna, mudah dipahami, dan asyik untuk diikuti. Saya termasuk menyukai mata kuliah ini.

Suatu hari, entah mengapa, sang dosen rupanya sedang dihinggapi sedikit sifat “sombong”.

“Sebelum bapak ini jadi dosen, sebenarnya bapak pernah menjadi guru di SMP dan SMA, agak lama juga, beberapa tahun lamanya,” begitu katanya.

“Karena pengalaman jadi guru itu, bapak sudahlah tahu beragam bentuk tes, beragam bentuk soal yang cocok untuk mengevaluasi siswa. Soal apapun bisa bapak buat. Soal bagaimana pun bisa bapak jawab, ” lanjut beliau dan berkata seperti ini.

“Nah, sekarang pun kalau ditanya soal-soal matematika SMA atau yang di bawahnya, bapak masih bisa menjawabnya. Bagaimana pun sulitnya!” begitu katanya.

“Betul pak?” tanya salah seorang mahasiswa ke beliau itu.

“Iya dong. Ayo, sekarang bapak tantang nih, coba kalian masing-masing buat satu contoh soal apapun tentang matematika sekolah, bapak pasti bisa menjawabnya,” begitu tantangan beliau ke kami-kami, mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia.

Mendapat tantangan itu, mulanya kami terdiam, berpikir, mencoba membuat pertanyaan tersulit. Saya pun waktu itu ikut berpikir, mencoba membuat soal yang relatif sulit.

Tak berapa lama, tiba-tiba, ada seorang teman saya yang sangat cerdas, langsung mengajukan pertanyaan ke beliau.

“Pak, 1000 faktorial* berapa?” tanya teman saya itu.

Mendengar pertanyaan itu, sang dosen langsung merah mukanya. Tak bisa menjawab!!!

(Ketika mendengar pertanyaan teman saya itu, kami hanya bisa cekikikan, menahan tawa**) :mrgreen:

=======================================================

Nah, hikmah dan pelajaran apa saja yang bisa kita ambil dari kedua cerita di atas?

Saya yakin para pembaca dapat menyimpulkannya sendiri.

Yang pasti, kita selaku manusia (apalagi pendidik) tidak boleh sombong. Dengan siapapun, di mana pun, dan kapan pun. Di dunia ini, tidaklah ada manusia yang sempurna, tidaklah ada manusia yang benar-benar pandai. Manusia pada hakekatnya adalah sama, ya sama-sama mahluk yang sangat terbatas akan pengetahuan dan kecerdasannya. Karena itu, kenapa kita berani-berani sombong?

Pepatah pernah berkata, di atas Bumi ada langit dan di atas langit masih ada langit.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari kedua cerita di atas. Amin.

=======================================================

Ya sudah, segitu saja ya untuk artikel kali ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin.

Catatan:

* 1000 faktorial ditulis 1000! = 1000 \times 999 \times 998 \times 997 \times...\times 2 \times 1.

Contoh lain tentang faktorial, misalnya, 3 faktorial, ditulis 3! = 3\times 2 \times 1 = 6.

**Sebetulnya, cerita kedua ini ada lanjutannya. Lanjutan yang sangat menarik, bikin saya malu di depan teman-teman. Karena saya menuliskan cerita ini untuk evaluasi perkuliahan, rupanya tulisan ini dibaca oleh beliau. Karena ada nama saya-nya, akibatnya saya langsung disindir, yang memerahkan telinga saya (malu saya dibuatnya). Untuk mengenang sindiran itu, sekarang saya tuliskan lagi ceritanya. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Bermanfaat bagi kita semua, khususnya para pendidik matematika. Mohon maaf perlu saya ucapkan pada beliau, bila cerita ini kurang berkenan. Maaf ya, Pak? Sekali lagi, saya mohon maaf. Saya sengaja menuliskan cerita ini, karena saya pikir ada hikmah dan pelajaran yang bisa kami ambil (khususnya bagi saya).

About these ads

17 Comments

Filed under Agama, Cerita Menarik, Curhat, Iseng, Kenangan, Matematika, Matematika SMA, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika, Renungan

17 responses to “Akibat “Kesombongan”

  1. hmmm…. aturan nggak usah ditanya 1000! Coba aja tanya hafal nggak π (Pi) sampai 10 angka signifikan! :D Atau tanya konstanta matematika ‘e’ sampai 10 angka signifikan, kira2 ada yg tahu ngga ya? :D
    Kalau diadakan survey kira2 terhadap 30 orang, kira2 berapa ya, yg bisa menjawabnya? :D Hehehehe…..
    ________
    Al Jupri says: Hahaha… iya ya, gak kepikiran sih waktu itu, Pak. Waduh belum tahu tuh survey itu…? :D

  2. jangan congkak jangan sombong sesungguhnya kita tak tahu apa apa…. :sad:
    _________
    Al Jupri says: Ya, saya setuju, mas. :D

  3. zulidamel

    Pada awal saya belajar komputer dbaseII 20 th lalu, waktu itu saya merasa hebat sekali, tapi setelah saya belajar, belajar dan belajar lagi ternyata semakin banyak yang saya pelajari, saya merasa, apa yang saya miliki tidak ada apa-apanya!
    _________
    Al Jupri says: Ya, makin kita tahu banyak hal, sebenarnya makin banyak lagi hal yang tidak kita ketahui. Terimakasih atas kunjungannya. Salam kenal. :D

  4. Yung Mau Lim

    Kecerdasan hanyalah titipan yang Kuasa semata untuk memudahkan kehidupan manusia.Dengan kecerdasan yang ada manusia menjadi berbudaya,berwawasan luas dan semakin sadar dirinya semakin kecil,semakin membutuhkan bantuan orang.Jika kita ada kelebihan,anggaplah itu anugrah dan amanat dari yang Maha Kuasa agar kita dapat lebih berguna untuk kehidupan makhluk hidup di dunia ini.Justru dengan inteligen yang lebih kita harus merasa lebih bertanggung jawab terhadap kemajuan semua umat manusia,memelihara pemberianNya.Kesempurnaan hanya milik Dia semata, kekhilafan adalah milik manusia.Kesombongan adalah akar dari kehancuran dan kegagalan.Marilah dengan segala kerendahan hati kita saling belajar,mengajar,dan membangun watak yang terpuji untuk merajut ikatan kasih sayang diantara umat manusia,semoga kita akan maju bersama-sama.
    ________
    Al Jupri says: Setuju, Pak. Mari kita maju bersama. Terimakasih, atas komentar dan masukannya. :D

  5. alex

    Wahahaha… saya sendiri baca ini baru ingat lagi faktorial itu. Padahal dulu udah pernah diajar di SMA.
    Apa karena ngilang ya faktorial di kuliahan saya (fisika)… ?? :?

    *ingat2*
    ________
    Al Jupri says: Iya mungkin mas/kang. Salam kenal aja kalau gitu ya… :D

  6. Cerita nonfiksi yang menarik. Kesombongan ternyata tak hanya milik Syetan, ya, Pak? Padahal, sejatinya, kesombongan hanyalah bentuk “kebodohan” dan “kekonyolan” yang paling nyata. Eeeh, dengan ngomong begini, jangan-jangan saya sudah masuk kategori sombong, hehehehe … Ok, salam, Pak.
    __________
    Al Jupri says: Terimakasih, Pak. Iya, dalam diri manusia juga ada sifat sombong (mungkin karena itulah manusia banyak yang membangkang, seperti syetan). Ya, salam kembali, Pak. :D

  7. Kesombongan adalah awal sebuah Petaka.. Benar kang! diatas langit masih ada langit.
    _______
    Al Jupri says: Ya, saya setuju. Kita ini kan cuma ada di atas Bumi, belum ada di langit. Makanya ngapain kita sombong ngaku-ngaku hebat. Rupanya, pepatah di atas langit masih ada langit itu benar ya…? :D

  8. cK

    betul sekali. nggak boleh sombong. entah kenapa banyak manusia yang silau akan kemampuan mereka :-?
    ___________
    Al Jupri says: Ya, setuju. Banyak manusia yang merasa dirinya hebat karena ia merasa lebih cerdas dari manusia lainnya, lebih tahu daripada yang lainnya, akibatnya ia merasa hebat dan ujung-ujungnya sombong deh… :D

  9. Luar biasa … dalam versi lain banyak kisah sedemikian … tapi tidak usah cemas atau mengecam … hal-hal sedemikian adalah pelajaran buat semua agar kita lebih arif … lebh paham manusia … Jangan dicaci, kalau tidak ada yang demikian bagaimana kita bisa ‘belajar’ yang sesunguhnya. Percayalah, teori saja tidak cukup.
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih, Pak. Setuju, Pak, saya tidak mengecam mereka, makanya saya tuliskan cerita ini agar kita semua bisa mengambil pelajaran darinya. :D

  10. @Ersis Warmansyah Abbas

    … Jangan dicaci, kalau tidak ada yang demikian bagaimana kita bisa ‘belajar’ yang sesunguhnya ..

    Setuju pak Ersis .. saya malah kawatir .. setelah kita menunjuk seseorang itu sombong, kemudian menceritakan kesana kemari – dengan harapan orang itu menjadi lebih rendah dari kita. Alangkah lebih rendahnya diri kita sendiri. Audzubillahiminzaliq.

  11. Good posting ..

    Lebih baik kita mengambil pelajaran dari pengalaman Kang Jufri tersebut. Dan mudah2an pak Dosen ga dendam .. karena Kang Jufri sudah minta maaf ..

    Lanjut kang ..
    ________
    Al Jupri says: Terimakasih, Pak. Iya, semoga Pak dosen saya itu tidak marah karena “kejadian itu” saya ceritakan di blog ini. Mudah-mudahan amal baik beliau bertambah karenanya. Amin.

  12. sangat menyentuh
    _________
    Al Jupri says: Terimakasih kang… :D

  13. Sebenarnya siapa sih bapak dosen yang dimaksud? hehe… boleh tau gak? Maaf bukan bermaksud apa-apa.

  14. Nyoba latex
    1000! ya seribu factorial.

  15. Assalamu alaikum. . Saya ini paling bodoh kalau seputar matematika. Makanya saya memilih kuliah jurusan bahasa inggris, biar tidak ada matematikanya. Akhirnya saya tak pernah lulus saat tes CPNS, mungkin karena saya sangat kesulitan untuk menjawab soal matematika. Bolehkah saya bertanya contoh mengerjakan soal faktorial, kalau bisa yang paling mudah karena saya bodoh dalam matematika trus sudah lupa hampir semua pelajaran waktu di Sekolah lanjutan dulu apalagi matematika yang seperti makhluk menakutkan di mata saya.

  16. Assalamu alaikum warahmatullah…. Saya akui Saya ini paling bodoh kalau seputar matematika. Makanya saya memilih kuliah jurusan bahasa inggris, biar tidak ada matematikanya. Akhirnya saya tak pernah lulus saat tes CPNS, mungkin karena saya sangat kesulitan untuk menjawab soal matematika. Bolehkah saya bertanya contoh mengerjakan soal faktorial, kalau bisa yang paling mudah karena saya bodoh dalam matematika trus sudah lupa hampir semua pelajaran waktu di Sekolah lanjutan dulu apalagi matematika yang seperti makhluk menakutkan di mata saya. Wassalam

  17. roy

    jangan pernah sombong ingat semuanya ngga ada yang kekal betul ngga??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s