Cara Mencari Kebenaran melalui “Dongeng”

Oleh: Al Jupri

“Salah satu cara untuk mencari kebenaran yaitu melalui dongeng,” begitu seorang professor memulai kuliahnya. Kemudian ia bertanya ke mahasiswa-mahasiswa yang hadir mengikuti perkuliahannya. Beberapa mahasiswa ia tunjuk untuk dimintai pendapatnya tentang dongeng.

Mahasiswa A berkata, “Dongeng adalah suatu cerita yang di dalamnya terkandung nasihat yang baik bagi anak-anak. Contohnya dongeng Si Kancil dan Buaya,” begitu ia berpendapat.

Mahasiswa B berkata, “Dongeng adalah cerita rakyat yang mengisahkan legenda suatu tempat. Misalnya legenda gunung Tangkuban Perahu,” begitu ia berpendapat dengan mantap.

Mahasiswa C berkata, “Dongeng itu sebenarnya cuma cerita buatan orang jaman dulu untuk membodohi anak-anak. Karena dongeng adalah akronim dari perkataan ngabobodo anak cengeng…” Belum sempat ia melanjutkan pendapatnya, suara tawa pun menggelegar, mengguncang ruang kuliah tersebut. Sang professor pun ikut-ikutan tertawa. Dan begitu seterusnya, masih ada beberapa pendapat mahasiswa lainnya.

“Yang dikatakan Anda-anda tadi ada benarnya. Tetapi saya tidak sepenuhnya setuju bila dongeng itu diartikan seperti pendapat-pendapat tadi,” begitu tanggapan sang professor atas pendapat-pendapat mahasiswanya tersebut. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya.

“Saya berpendapat, yang kalian katakan tentang dongeng tadi itu hanya termasuk ceritera-ceritera saja dan hal itu hanya sebagain kecil dari arti dongeng yang akan kita bahas pada perkuliahan kali ini,” begitu sang professor berpendapat. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa sudah mulai tampak tenang, mereka mulai tampak mengantuk mendengar ceramah sang professor.

“Pada perkuliahan kali ini kita akan membahas tentang dongeng sebagai cara untuk mencari kebenaran. Perlu kalian ketahui, selain dongeng, cara untuk mencari kebenaran itu ada beberapa yaitu melalui: pengalaman, kewewenangan, berpikir induktif, berpikir deduktif, dan metode ilmiah,” lanjut sang professor berceramah. Sementara beberapa mahasiswa sudah ada yang mengangguk-anggukan kepala, karena mengantuk. Sebagian yang lain ada yang serius menyimak. Sebagian lagi ada yang asyik bermain game lewat ponsel yang dibawanya. Ada pula yang matanya menatap sang profesor tetapi telinganya asyik mendengarkan lagu-lagu melalui hands free yang tersembunyi di balik kerudungnya.

“Dongeng sebagai salah satu cara mencari kebenaran itu dapat kita ambil beberapa contohnya,” begitu kalimat yang keluar dari sang professor. Kemudian beliau menghidupkan overhead projector dan menampakkan slide yang sudah dipersiapkannya. Di layar tampak tertulis kata-kata “Contoh dongeng: Jimat penyembuh kanker; Cara aman melewati hutan agar tak dimangsa harimau.” Selanjutnya dengan bersemangat ia bercerita tentang dongeng.

“Contoh dongeng itu begini misalnya. Pak Anu punya jimat yang bisa menyembuhkan penyakit kanker. Cara penyembuhannya pun sederhana yaitu hanya dengan menempatkan jimatnya itu ke dalam mangkok lalu disiram air, nah airnya itu diminum, maka siapapun yang terkena penyakit kanker akan sembuh bila meminum air jimat tersebut,” begitu sang professor mendongengkan contoh yang pertama.

“Contoh lain tentang dongeng itu begini misalnya. Siapapun yang ingin selamat melewati hutan larangan dan tidak akan dimangsa harimau adalah dengan cara menghentakkan kaki dengan keras di atas tanah di depan masuknya hutan sebanyak tiga kali,” begitu sang professor memberi contoh yang kedua tentang dongeng versinya.

“Dari kedua contoh dongeng tadi, apakah kalian percaya kalau dongeng itu benar?” tanya professor ke mahasiswa-mahasiswanya. Beberapa mahasiswa tersentak, terbangun dari mimpinya. Sedangkan yang mendengar lagu-lagu tampak menatap kosong-melompong tak mengerti pertanyaan professor. Beberapa mahasiswa tampak ingin berpendapat, tapi seperti ragu-ragu. Sebelum mereka membuka mulut hendak berpendapat, sang professor sudah keburu melanjutkan ceramahnya.

“Tentu kalian tidak begitu saja percaya bukan? Untuk contoh pertama kemungkinan benarnya itu sangat kecil sekali, kalaupun ada mungkin melalui keajaiban, kebetulan saja. Tetapi keajaiban itu jarang-jarang terjadi. Saya sendiri tidak percaya dengan dongeng yang pertama tersebut,” begitu sang professor berujar sambil tersenyum.

“Untuk contoh kedua, saya berpendapat kemungkinan benarnya itu kecil dapat terjadi. Kenapa? Bila contoh dongeng kedua ini benar, tentunya banyak orang (yang bukan pawang harimau) berani masuk dan selamat tak dimangsa bila masuk ke kandang harimau yang ada di taman safari atau kebun binatang. Syaratnya yaitu dengan menghentakkan kaki tiga kali di depan kandang harimau tadi. Tetapi hingga saat ini saya belum pernah mendengar cerita orang yang membuktikan kebenaran dongeng contoh kedua ini,” begitu penjelasan sang professor untuk contoh dongeng yang keduanya.

Selanjutnya sang professor kembali asyik bercerita menambahkan contoh-contoh dongeng dan cara mencari kebenaran. Kemudian di sela-sela ceramahnya ada seorang mahasiswa yang bertanya, “Apakah dongeng dapat digunakan untuk mencari kebenaran dalam matematika? Bila dapat, caranya bagaimana? Contohnya seperti apa?” begitu pertanyaan-pertanyaan beruntun sang mahasiswa.

Mendapat pertanyaan tersebut professor dengan gaya khasnya sedikit berfikir, mencari-cari contoh topik matematika yang dapat dicari kebenarannya melalui dongeng. Sementara ia berfikir, ada mahasiswa lain yang dari tadi mengantuk tiba-tiba nyeletuk/nyelonong bertanya, “Apakah dongeng dapat digunakan untuk mengajar matematika? Bagaimana caranya?” Mendengar celetukan itu professor hanya menggerakan kaca matanya, membenarkannya ke posisi yang benar.

=======================================================

Ya sudah sampai di sini dulu saja ceritanya, saya jadi ngantuk nih untuk menyelesaikannya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Catatan: Artikel ini terinspirasi dari kisah nyata sewaktu kuliah Penelitian Pendidikan Matematika, waktu itu saya adalah salah seorang mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sang professor tersebut.

About these ads

12 Comments

Filed under Cerita Menarik, Kenangan, Pembelajaran, Pendidikan, Pendidikan Matematika

12 responses to “Cara Mencari Kebenaran melalui “Dongeng”

  1. Ketidaksengajaan dalam bentuk trial-and-error apakah bukan suatu cara untuk mencari kebenaran pula?
    _________
    Al Jupri: ya termasuk, ini termasuk pada pola berfikir induktif…. :D

  2. Makasih, oom! bejodoh juga dongeng dg matematika, ternyata!
    ________
    Al Jupri says: Hehe… :D Terimakasih sudah berkunjung and berkomentar…

  3. ngebacanya jadi malah gak kayak dongeng euy….hehehe…
    _________
    Al Jupri says: hehe.. :D Kayak apa dunk?

  4. Pingback: lah, yg 100 lagi kemana? « buku [bekas] untuk anak INDONESIA

  5. cK

    Sementara ia berfikir, ada mahasiswa lain yang dari tadi mengantuk tiba-tiba nyeletuk/nyelonong bertanya, “Apakah dongeng dapat digunakan untuk mengajar matematika? Bagaimana caranya?”

    jangan-jangan mahasiswa yang mengantuk itu kamu ya? :mrgreen:
    _________
    Al Jupri says: Hahaha… :D Bukan dong, klo ngantuk mah artikel ini kemungkinannya ga akan saya tulis. Hehe…

  6. Kalo gitu, mahasiswa C itu ….yg nulis artikel ini kan ? :D
    ______
    Al Jupri says: Hehehe… maaf Bu, mahasiswa C itu bukan saya. :D

  7. lorenzo

    wow jimat gila

  8. Hasan eL kyubi

    Percaya melahirkan swatu kyakinan,shingga trciptalah swatu sugesti,berakhir dgn aura yg dibiaskan jd nyata,hehe..

  9. Yudi

    Wah posting @H.Imam Syaifudin S.H itu sudah menjurus promosi lho, sesuai perjanjian ya direject kan.

  10. winda

    era dongeng matematika bisa digalakkan lho

  11. lidya situmeang

    yah….
    kog nanggung bangat.
    bisa gak yah dongeng tuh digunakan untuk mencari kebenaran dalam matematika ?????????????????

  12. uda lama tidak mampir di blog bapak.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s